Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 39


__ADS_3

Setelah hari itu, Julian tidak lagi membuntutinya atau mengganggunya, diam-diam Vania merasa bersyukur tetapi ia tetap merasakan kekecewaan. Ia sudah tahu bahwa Julian tidak serius dengan apa yang dikatakannya karena itu Vania tidak terkejut ketika keesokan harinya, lalu esoknya lagi dan lagi Julian tidak mencarinya lagi


"Aku bilang juga apa, dia sudah menemukan akal sehatnya lagi" Vania menghembuskan nafasnya, rasa sesak didadanya tetap ada disana, Vania sadar ternyata jauh dilubuk hatinya ia memang merasa bahagia karena tahu pria itu mencintainya dan tanpa disadarinya, alam bawah sadarnya mengharapkan semua itu menjadi kenyataan, maka ketika semua itu memang tidak benar, Vania merasakan rasa sakit didadanya. Vania membuka pintu rumahnya dan melangkah masuk dengan gontai


"Bu aku pulang" Hening.. kesunyian menyambut Vania dirumah, Vania membuka sepatunya lalu masuk dengan menyeret kakinya


"Ibu? Kau dirumah?" Vania menghentikan langkahnya kemudian terdiam melihat seseorang berada dilantai ruangan istirahat sekaligus ruangan tamu itu. Tidak, bukan seseorang lebih tepatnya adalah seorang bayi perempuan sedang bermain dengan balok-balok kayu yang berserakan dilantai, ada boneka beruang menemaninya bermain.


Bayi perempuan itu menoleh kearahnya kemudian berpaling lagi kearah mainannya


"Raah.." bayi perempuan itu menunjuk kearah balok mainannya, entah apa yang diinginkan olehnya. Vania mendudukkan dirinya memandangi bayi perempuan itu, wajahnya memang berubah ketika ia masih sangat bayi tapi Vania tidak mungkin melupakan ikatan batin yang ada diantara ia dan bayi itu


"Sierra..?" bisiknya..


"Raa.." ulang bayi perempuan itu menunjuk dirinya lalu balok kayu lagi. Vania menyeret duduknya agar mendekat kepada bayi itu, namun sepertinya bayi itu tidak suka didekati oleh Vania dan merangkak menjauh.


Vania berhenti mendekatinya, airmata menggenang di matanya, setelah merindukan dan terus memimpikan Sierra akhirnya ia bisa melihat putrinya lagi?, yah meskipun Sierra tidak mengenalnya Vania tetap merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika bertemu lagi dengan putrinya. Vania menghapus airmata yang jatuh dipipinya lalu mengambil balok kayu berwarna hijau


"Kenapa kau disini?" Vania akhirnya sadar kenapa Sierra berada disana, apa Julian tidak menginginkan Sierra lagi dan menyerahkannya kepada Vania?. Bayi perempuan itu mendekati Vania karena mainannya dipegang, Sierra pun mengulurkan tangannya meminta kembali balok mainannya


"Aaah.. maaf.." Vania menyerahkan balok itu kepada Sierra. Sierra dengan cepat meletakkan kembali balok mainannya disusunan yang sudah ia bangun


"Apa yang sedang kau bangun? Apa aku boleh membantumu?"


"Tiidaa.. daa.." bayi perempuan itu menggerakkan tangannya kekiri dan kanan, menolak tawaran Vania. Vania tertawa sambil menghapus airmata yang kembali jatuh dipipinya. Sungguh, apa sekarang ia benar-benar sedang bermimpi?.


Vania hanya bisa duduk diam memperhatikan Sierra bermain, ia sama sekali tidak diizinkan untuk menyentuh apapun milik bayi perempuan itu, jelas terlihat Sierra tidak suka ada orang asing yang menyentuh mainannya.


Waktu terus berjalan, bayi perempuan itu pun mulai bosan, ia mengucek matanya dan merengek. Vania terdiam, apa yang harus ia lakukan? Vania memang melahirkan Sierra tapi masalah mengurusi bayi atau membujuknya Vania belum berpengalaman


"Kau kenapa?" tanya Vania cemas


Sierra mulai menangis dan memanggil seseorang. Vania mencoba mengulurkan tangannya hendak menggendong Sierra tapi bayi itu menghindar dan memukul tangan Vania


"Bagaimana ini..?"


"Dia hanya mengantuk" suara lembut Julian menyahut dari balik punggung Vania, Vania memutar tubuhnya melihat Julian tersenyum kepada Vania.


Julian duduk disebelah Vania lalu mengulurkan tangannya menggendong Sierra. Bayi perempuan itu langsung diam sambil menyandarkan kepalanya dibahu Julian. mengecap jarinya sendiri lalu memejamkan matanya. Melihat pemandangan itu membuat Vania tersentuh, Julian benar-benar tahu bagaimana caranya mengurus seorang bayi. Dan Vania lega, bahwa keputusannya tidak salah, Sierra terlihat bahagia, gemuk dan semua kebutuhannya terpenuhi


"Dia masih merasa asing padamu, tapi nanti akan terbiasa" Vania menatap Julian bingung

__ADS_1


"Kenapa kau membawanya kemari?"


"Kenapa..? kau tidak ingin bertemu dengannya?" Vania menggelengkan kepalanya


"Maksudku, kenapa kau mempertemukan kami?"


"Vania-ku tersayang.. karena kau ibunya, dan Sierra adalah putrimu"


"Sierra..? kau menamainya Sierra..? kenapa..?"


"Karena kau memanggilnya Sierra.."


"Tapi.. kupikir kau tidak mendengarnya, aku memanggilnya diam-diam"


"Aku memang tidak mendengarnya, Paman Norman yang mendengarnya" Vania kembali diliputi oleh perasaan haru. Jadi Julian memang peduli padanya? Menamai putrinya dengan nama yang sering Vania bisikkan padanya


"Itu nama Nenekku"


"Oo benarkah..?, nama yang cantik.." Vania tersenyum


"Terima kasih.." Julian membalas senyum itu lalu menelengkan kepalanya kearah Sierra


"Tidak.. biarkan dia tidur"


"Pelan-pelan dia akan mengenali ibunya sendiri" Julian mengulurkan tangannya dan mengusap lembut rambut Vania


"Kau ikut bersamaku ya"


"Kemana..?"


"Kerumahku.. Ibumu juga sudah disana"


"Ibu? Ya Tuhan, apa yang kau katakan padanya?"


"Tenang.. aku tidak mengatakan kau hamil karena uang untuk biaya operasinya"


"Lalu..?"


"Aku bilang, kau menghilang saat itu karena kau hamil, seharusnya kita menikah tapi karena ada kesalahpahaman aku marah dan membawa kabur bayinya"


"Mengambil peran antagonis dari cerita karanganmu sendiri?" sindir Vania. Julian menaikkan bahunya, tidak peduli dengan sindiran itu

__ADS_1


"Jadi, kau mau ikut aku kan?" Vania melirik kearah Sierra yang tertidur lelap dipundak Julian, lalu menatap wajah Julian yang berubah serius. Vania menganggukkan kepalanya, ia salah karena berfikir Julian mungkin tidak serius dengan apa yang ia katakan, karena itu Vania mencoba untuk mempercayai apa yang Julian katakan padanya.


Julian membuka pintu penumpang untuk Vania dengan tangan sebelah dan tangan sebelahnya lagi masih memeluk Sierra. Setelah Vania setuju untuk ikut bersamanya Julian langsung mengajak gadis itu pergi kerumahnya, ia tidak ingin Vania mengubah pikirannya jika ia berlama-lama


"Vania.." panggil Julian, ketika gadis itu hendak masuk kemobil


"Aku tidak bisa mengemudi dengan menggendong Sierra, kau bisa menggendongnya?"


"Tapi.. bagaimana jika nanti dia bangun dan melihatku?"


"Tidak apa-apa, selama aku ada didekatnya dia tidak akan menangis" Vania ragu untuk mengambil Sierra dari gendongan Julian, tapi ia tidak bisa mengingkari keinginannya yang sudah sangat mendesak untuk memeluk Sierra. Tapi apa ia bisa menggendong Sierra?. Melihat keragu-raguan diwajah Vania, Julian pun memberikan dukungannya


"Kau pasti bisa, kau kan ibunya" Vania menganggukkan kepalanya lalu menerima Sierra kedalam gendongannya, Julian meletakkan kepala Sierra agar bersandar dibahu Vania dan Vania pun meletakkan tangannya dibawah pan*** Sierra agar bayi perempuan itu tetap berada diposisinya, ia menoleh kearah Julian bertanya apakah cara menggendongnya benar?. Julian menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan tidak terbaca itu.


Setelah Vania masuk kedalam mobil, Julian pun menyusulnya lalu mengemudikan mobil itu sambil sesekali melirik Vania yang sangat menikmati kegiatannya yang sedang menggendong Sierra. Vania mengusapkan tangannya kekepala Sierra lalu membelai punggung kecilnya


"Satu tahun empat bulan" bisik Vania


"Eum.., dia sudah sebesar itu"


"Kapan dia mulai berjalan?"


"Kira-kira bulan januari kemarin"


"Apa dia sudah bisa berbicara..?" Julian tertawa


"Hanya bisa menyebut. Ppa.. Raa.. dan tida.." Julian menoleh kearah Vania yang berkerut bingung lalu melanjutkan kalimatnya


"Ppa itu artinya dia memanggilku, Raa itu artinya dia menyebut namanya, atau sedang menunjuk barang yang menjadi miliknya. Tida.. ketika dia tidak suka seseorang mengganggunya bermain atau apa yang dia inginkan itu salah. Mama selalu merasa tidak berdaya ketika ia salah mengambil apa yang Sierra inginkan" Vania tersenyum, menyandarkan kepalanya dikepala Sierra yang bersandar dibahunya


"Dia menggemaskan" Vania memejamkan matanya merasakan hangatnya tubuh Sierra dipelukannya, memeluk Sierra seperti rasanya sangat nyaman dan ia dipenuhi oleh rasa bahagia. Akhirnya ia bisa memeluk putrinya lagi


"Sangat" Julian pun tersenyum menyahuti Vania. Vania membuka matanya lalu menoleh kearah Julian ia tersenyum sambil mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Julian.


.


.


.


Saran dan kritik diharapkan🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2