
Pagi hari di mansion Granger
"Huaaa… huaaaa… paaa…"
"Kau pergi saja"
"Tapi Sierra..."
"Sierra akan berhenti menangis jika kau sudah pergi" Julian mengerutkan alisnya menatap putrinya yang menangis digendongan ibunya, tangannya terulur kearahnya minta digendong tetapi neneknya tidak pernah mengizinkan dirinya untuk pergi dari gendongannya. Ini adalah kejadian yang setiap pagi selalu harus dilalui oleh Julian, tetapi tetap membuatnya kewalahan.
Sierra memang selalu menangis jika Julian hendak berangkat kerja, anehnya tangisan itu akan langsung berhenti jika mobil Julian sudah menghilang dari jalanan. Meskipun begitu, Julian tetap tidak tega meninggalkan putrinya
"Apa kubawa saja kekantor?" usul Julian
"Dan membiarkan pegawaimu menggosipkan Sierra. Tidak.. dia akan baik-baik saja, pergilah" Julian menatap Sierra dengan alis mengernyit, Julian selalu bertanya-tanya kenapa putrinya itu memiliki tangisan yang begitu kencang
"Baiklah aku pergi" Julian mendekati ibunya dan mengusap kepala Sierra
"Sayang jangan nangis, papa akan pulang secepatnya.. ya" Tetap tidak mau ditinggalkan Sierra pun masih tetap meraung-raung
"Ya ampun..Cepatlah pergi sana.." teriak ibunya geram..
"Baiklah..baiklah.." Julian pun bergegas menuju mobil dan duduk dikursi belakang, supir pribadinya langsung melajukan mobilnya, Julian menoleh kebelakang, melihat Sierra yang masih menangis. Ia menarik nafasnya panjang, jadi seperti inilah rasanya menjadi single parent.
Julian mengusap wajahnya. Seandainya Vania tidak pergi meninggalkannya, Sierra pasti tidak akan merasa sendirian. Meskipun ibunya selalu menemani Sierra, putrinya tetap membutuhkan sosok seorang ibu
"Dimana sebenarnya dia..?"
🍀🍀🍀
Hari ini terasa lebih hangat dari biasanya, bulan maret telah berlalu dan sisa-sisa udara dingin akibat musim penghujan perlahan-lahan menghilang, matahari pun bersinar lebih terik dari sebelumnya. Julian keluar dari mobilnya yang berhenti didepan pintu masuk sebuah mall
__ADS_1
Seperti jadwal-jadwalnya yang biasa.Julian selalu menyempatkan diri mengunjungi hotel-hotel lain yang dimilikinya termasuk mall yang berdiri tegak dipertengahan kota Jakarta itu.Julian menghentikan langkahnya ketika matanya menangkap sosok seorang wanita yang tidak asing dimatanya. Julian mengernyitkan hidungnya ketika melihat gadis itu lagi-lagi tidak berada ditempat yang seharusnya
"Mira Aurora.. seharusnya kau ada dibelakang meja resepsionis" desis Julian geram. Setelah berhasil membuat hotel itu menjadi salah satu hotel yang kembali terkenal Julian jarang mengunjungi hotel itu lagi, biasanya Julian tidak akan pernah hafal dengan pegawai yang bekerja dengannya, tapi tidak jika itu Mira Aurora, gadis yang selalu membuat masalah
"Akan kubuat dia malu, ya Tuhan, tidak peduli dia kepala keluarga sekalipun aku akan memecatmu langsung Mira Aurora"
"Tuan Granger..?" Julian meninggalkan manager mall yang hendak menyambutnya begitu saja, ia sudah sangat gatal ingin memarahi pegawainya yang satu itu, setelah tahu Vania dipecat dengan sangat tidak manusiawi Julian memutuskan untuk tidak lagi melakukan hal seperti itu. Namun Mira selalu membuat kesabarannya habis. Ia tidak pernah menyukai gadis itu.
Julian menyunggingkan senyum mematikan ketika ia mengikuti Mira, gadis itu tengah berlari terburu-buru dengan seragam kerjanya, rambutnya masih acak-acakan dan terkesan sangat tidak rapi, salah satu alasan yang membuat Julian semakin bersemangat ingin memecat gadis itu.
Julian mengikuti Mira menyisiri trotoar, gadis itu memperlambat langkahnya membuat Julian semakin dekat dengannya, tiba-tiba Julian menghentikan langkahnya ketika matanya melihat seorang gadis yang duduk tidak jauh dari bangku taman itu.
Sudah setahun lamanya hari-harinya diisi oleh bayangan wajah gadis itu, memang gadis itu terlihat berbeda dari kali terakhir yang ia ingat, wajahnya tirus dan tubuhnya yang sempat berisi karena sedang hamil sekarang menjadi sangat ramping, bahkan terlalu ramping. Gadis itu sedang duduk dengan serius menghitung lembar demi lembar lembaran uang dipangkuannya
"Vania.." bisik Julian takut-takut, ia takut jika salah melihat tetapi ketakutannya berubah menjadi rasa terkejut ketika Mira meneriakkan lantang nama itu.
"Vania Anastasha… apa yang sedang kau lakukan..?" Mira mengambil uang-uang itu dari tangan Vania lalu memasukkannya kedalam tas
"Maaf, aku selalu tidak tahan untuk tidak cepat-cepat menghitungnya, tapi kau sudah disini, bantu aku menghitungnya ya. Sisihkan beberapa untuk kebutuhan kita"
"Akan kulakukan nanti, apa koran-korannya banyak yang terjual?" Vania menggelengkan kepalanya
"Sepertinya jaman semakin canggih, orang-orang lebih suka membaca berita online dari pada koran"
"Haah.. sebaiknya kau berhenti mengantarkan koran lagi, itu membuang-buang waktumu"
"Tidak, uangnya lumayan"
"Vaniaa.. aku bisa membantumu"
"Mira.. aku tidak mau merepotkanmu lagi, uangmu adalah uangmu, kau juga harus menghidupi adik-adikmu bukan?" Mira menghembuskan nafasnya pasrah
__ADS_1
"Sudahlah setidaknya kita tinggal bersama, jadi aku bisa mengawasimu agar tidak terlalu kelelahan. Ibumu sudah sering mengeluhkan banyaknya pekerjaan yang kau ambil" Vania tertawa pelan menjawab ucapan Mira
"Ibuku memang begitu, aku pergi dulu. Koran-koran ini harus kukembalikan" Vania merapikan koran-korannya lalu pergi meninggalkan Mira.
Mira menghembuskan nafasnya lalu ikut berdiri dan berjalan kearah yang tadi dilewatinya. Langkahnya berhenti ketika melihat bosnya berdiri tidak jauh darinya. Julian menatap punggung Vania yang menjauh, gadis itu benar-benar terlihat kurus. Apa saja yang dikerjakannya hingga tubuhnya terlihat sangat kelelahan meskipun hari masih sangat pagi seperti ini?. Julian menoleh kearah Mira yang menundukkan kepalanya begitu mata mereka bertemu. Jelas terlihat Mira takut dimarahi di jalanan.Julian bahkan bisa mendengar Mira sedang merutuki dirinya sendiri karena terlalu bodoh hingga tertangkap oleh Julian sedang membolos.
Tetapi ketakuan Mira harus menghilang ketika Julian tidak memarahinya melainkan memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi Mira. Mira sempat bingung tetapi ia mengendikkan bahunya tidak peduli, dan bergegas ke hotel sebelum terlambat
🍀🍀🍀
Julian masuk kedalam mobil yang masih berada ditempat ia turun tadi, melupakan kekhawatiran para manager padanya. Orang-orang mungkin melihat keanehan pada Julian, pria itu berubah menjadi sangat pendiam dan matanya juga tidak fokus
"Tuan kita kemana?" tanya supir pribadi miliknya.Julian menolehkan kepalanya kepada supirnya, lama pikirannya melayang sebelum menjawab supir itu
"Kau keluarlah, aku akan membawa mobil ini sendiri" Julian keluar dari mobilnya dan berjalan kepintu pengemudi, supir itu langsung keluar dengan patuh. Setelah masuk kedalam mobil, Julian pun menjalankan mobilnya. Ia mengambil ponsel dan menekan satu nomor
"Selamat pagi tuan Granger" sambut suara dari balik teleponnya
"Aku ingin biodata pegawai yang bernama Mira Aurora dikirim ke alamat emailku sekarang"
"Apa..? apa Mira melakukan kesalahan tuan?"
"Tidak perlu banyak tanya, aku ingin sekarang"
"Baik tuan.." Julian menutup sambungan teleponnya lalu melempar ponselnya ke kursi penumpang. Ia harus menemui Vania segera, tidak peduli gadis itu akan terkejut atau tidak, ia harus menemui Vania
.
.
.😁
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏