Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 27


__ADS_3

Satu tahun kemudian…


"Huueeee… paaaa…." suara tangisan bayi perempuan yang baru menginjak usia satu tahun itu terdengar memilukan, bukan karena semua orang tidak memperhatikannya tapi karena malam sudah larut semua orang dirumah itu sudah tertidur. Bayi itu menangis karena terbangun sendirian, biasanya ia terbangun dan menangis ditengah malam karena lapar tapi malam ini ia terbangun karena mimpi buruk


" Ppaaaaa…."


Sosok seorang pria membuka pintu kamar bayi dan melenggang masuk, meskipun hanya memakai celana training dan kaos oblong pria itu tetap terlihat gagah dan mempesona siapa saja, termasuk putri kecilnya sendiri


"Sierra sayang.. kenapa menangis..?" Bayi itu menengadahkan tangannya keatas melihat papanya datang menghampirinya, pria itu langsung mengangkat bayi itu dan memeluknya. Bayi perempuan itu menyenderkan kepalanya dibahu papanya dan berhenti menangis


"Cup..cup..mimpi buruk ya..? papa disini sayang.." Terdengar suara cegukan bayi itu, namun lambat laun sang bayi pun kembali tertidur


"Julian.. Kenapa..?" pria itu menoleh kebelakang kearah ibunya yang terbangun mendengar suara tangisan bayi itu


"Eum.. Mama, sepertinya Sierra mimpi buruk"


"Aah.. sepertinya dia terlalu semangat main siang kemarin hingga bermimpi buruk, caaa.. berikan pada Mama, kau sedang bekerja kan?" nyonya Rianty mengulurkan tangannya memegang pinggang kecil Sierra


"Jangan, Sierra akan langsung terbangun begitu mama mengambilnya" Nyonya Rianty tersenyum lalu mengusap kepala kecil Sierra


"Sierra sayang, seandainya mamamu disini, papamu tidak akan kewalahan seperti ini" Julian mengeraskan rahangnya, selalu seperti itu jika ia diingatkan pada Vania, sampai sekarang pun ia masih belum mengetahui keberadaan gadis itu


Ia benar-benar menghilang tanpa jejak, apa lagi yang harus ia lakukan jika yang ia punya dari gadis itu hanyalah sebuah nama? Ada ratusan orang yang bernama Vania Anastasha di Indonesia ini, belum lagi Julian tidak tahu apakah gadis itu tinggal di Jakarta atau daerah lainnya di Indonesia ini.


Julian memaksakan senyumnya kepada ibunya lalu keluar dari kamar bayi


"Kau mau kemana?" tanya ibunya

__ADS_1


"Sudah malam aku juga ingin tidur"


"Oo baiklah..mimpi indah.."


"Iya.. mama juga" Nyonya Rianty tersenyum lalu kembali kekamarnya, Julian memang sering membawa putrinya tidur bersamanya.


Julian masuk kedalam kamarnya lalu menyusun bantal bantalnya ditempat tidur membentuk sebuah pembatas agar putrinya tidak terjatuh ketika ia tidur. Julian pun meletakkan pelan-pelan Sierra diatas tempat tidurnya dan ikut berbaring disebelah Sierra.


Julian menatap kosong langit-langit kamarnya, sudah satu tahun berlalu, sudah banyak yang bisa Sierra lakukan, selain menangis dengan kencang putrinya tumbuh dengan sangat sehat, cerdas dan pintar merayu. Setiap hari Julian selalu bisa dikejutkan oleh tingkah polah putrinya.


Julian menyaksikan Sierra yang pertama kali menegakkan kepalanya, merangkak bahkan berjalan tertatih-tatih meskipun masih harus berpegangan untuk berjalan. Dan Vania melewatkan semua itu


"Vaniaa,.." bisikan lirih itu terdengar memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya, tidak ada yang bisa menggambarkan betapa besar rasa rindunya terhadap gadis itu, setiap malam ia selalu terbangun bukan karena tangisan Sierra tapi karena tubuhnya merindukan Vania


Ia ingin terbangun dengan Vania disebelahnya dan memeluk gadis itu selagi ia bisa tidur. Tapi nyatanya setiap malam dia hanya terbangun sendiri, karena itu Julian akan pergi kekamar bayi dan membawa Sierra tidur bersamanya. Julian bahkan memberikan nama putrinya Sierra karena Pak Norman mengatakan padanya, Vania sering membisikkan nama itu ketika sedang menggendongnya dulu.


Kemana lagi ia harus mencari gadis itu, ia sudah merasa sangat putus asa ketika enam bulan telah berlalu ia tetap tidak menemukan Vania. Gadis itu menghilang begitu saja,bahkan Julian merasa ragu apakah gadis itu benar-benar nyata atau hanya khayalannya saja.


"Huueee.." Sierra bangun lalu duduk ia sudah hendak menangis namun berhenti ketika melihat papanya berada disebelahnya, Sierra langsung merangkak kearah Julian dan menyandarkan badannya didada Julian dan kembali tidur, seperti hafal bahwa dada papanya memang tempat paling nyaman untuk tidur. Julian tersenyum gemas, tangannya menepuk-nepuk pelan ****** Sierra


"Tidurlah Sierra sayang"


🍀🍀🍀


"Vania Anastasha, apa yang kau lakukan? Kenapa kerjamu begitu lamban?"


"Apa.. maafkan aku"

__ADS_1


" Aku ingin piring-piring bersih itu segera dihadapanku"


"Ya.." Dapur dari restoran itu terdengar riuh seperti biasanya, jam siang adalah jam sibuk karena dijam ini adalah jam orang-orang untuk makan siang, Vania baru memulai kerjanya direstoran ini sekitar sebulan yang lalu, ia sudah banyak mencoba jenis pekerjaan yang bisa ia lakukan, bukan hanya mencuci piring disebuah restoran saja yang ia kerjakan.


Vania bekerja sepanjang hari, lowongan pekerjaan apapun akan ia kerjakan, pagi hari ia mengantar koran kerumah-rumah, menjelang siang ia bekerja menjaga toko yang sekarang sudah beralih menjadi tukang cuci piring disebuah restoran, sore hari ia mengantarkan pakaian orang, hingga malam hari menjelang ia akan bekerja mengantarkan pesanan delivery di restoran lokal


Vania bekerja keras dengan satu tujuan, segera mengembalikan uang yang ia gunakan untuk mengoperasi Ibunya, ia tidak main-main ketika mengatakannya kepada Mira, apapun yang terjadi uang itu akan ia kembalikan. Ia tidak ingin menjual bayinya hanya untuk uang. Selain itu, Vania bekerja sepanjang hari hanya untuk membuat dirinya sibuk dan melupakan semua rasa rindunya kepada bayinya ataupun juga Julian.


Setiap malam pulang dalam keadaan lelah Vania akan langsung tertidur dan tidak akan punya waktu untuk memikirkan Julian dan bayinya, tetapi disaat ia punya waktu senggang dijam-jam istirahatnya bekerja Vania akan kembali memikirkan Julian.


Vania hanya akan tersenyum lalu memejamkan matanya, mengingat-ingat wajah tersenyum pria itu, dan ia akan merasa lega sekaligus tersiksa karena perasaan ingin bertemu dengan pria itu


"Vania, aku tahu kau memang butuh pekerjaan, tapi kerjamu begitu lamban" pemilik restoran itu memanggilnya setelah jam makan siang selesai. Mengevaluasikan kinerjanya


"Aku tahu bos, aku akan memperbaikinya"


"Bagaimana jika kau beristirahat saja" pemilik restoran itu menyerahkan amplop panjang kepada Vania, ragu-ragu Vania mengambil amplop itu lalu membukanya. Sejumlah uang lima puluhan berada didalam amplop itu


"Itu gajimu selama sebulan dan sedikit bonus untukmu" Vania mend*sah pasrah, lagi-lagi ia dipecat, karena ia begitu lamban.


Vania sering merutuki dirinya sendiri karena terlalu lambat, tidak, Vania bukannya lambat hanya saja ia bekerja dengan teliti, tidak mungkin ia bekerja dengan sembarangan


Vania selalu menginginkan hasil yang sempurna, karena itu ia memastikan piring-piring itu tercuci bersih, tidak ingin ada satu noda pun tertinggal di piring itu, tetapi hasilnya ia terlihat bergerak dengan sangat lambat


" Sial" Vania menendang kaleng kosong yang tergeletak dihadapannya, ia keluar melalui pintu dapur restoran itu lalu berjalan dengan lesu


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏


__ADS_2