Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 20


__ADS_3

Nyonya Granger akhirnya menginjakkan kakinya kerumah itu, matanya menatap tajam kearah Angel dan Rena yang sedang duduk berdua dan bermain dilantai ruang tamu


Wanita itu memang terlihat cantik, kecantikannya memang terlihat alami. Nyonya Granger tidak memungkiri hal itu, semua orang tua pasti akan sangat setuju jika anaknya menikah dengan wanita itu, tetapi masalahnya adalah nyonya Granger tidak pernah mengampuni wanita itu karena telah membuat putranya berubah menjadi pria yang tidak berperasaan.


Meskipun wanita itu kembali untuk membuat Julian kembali seperti dulu, nyonya Granger tetap tidak akan menerimanya begitu saja, karena baginya Vania lah yang layak berdampingan dengan Julian. Karena ia bisa melihat dengan sangat jelas Vania bisa membuat Julian merasakan kebahagiaan yang baru


"Mama.. anda datang?" Angel yang melihat kedatangan Rianty langsung berdiri dan menyambut wanita itu


"Eum.. tolong jangan panggil aku Mama" jawab Rianty ketus. Angel mengerutkan alisnya lalu menganggukkan kepalanya


"Baiklah.. maafkan aku" dulu nyonya Granger tidak pernah bersikap seperti ini padanya.Rianty mendecakkan lidahnya, ia melirik Rena yang saat ini memeluk kaki ibunya sambil menatap waspada padanya. Ia ingin memaki Angel tetapi sepertinya saatnya tidak tepat, melihat ada gadis kecil itu disana


"Apa kabarmu Angel?"


"Setelah bersama dengan Rena lagi, aku merasa sangat bahagia" jawab Angel, mengusap kepala putrinya yang bersembunyi dibelakang kakinya.Nyonya Rianty duduk disofa lalu menyuruh Angel ikut duduk bersamanya


" Ada yang ingin kubicarakan denganmu" ujarnya , sambil menatap Rena


"Oo.. Rena sayang, kau kekamar dulu ya.." bujuk Angel kepada putrinya. Rena yang merasa takut dengan melihat nyonya Granger pun langsung menyetujuinya dengan berlari ke kamar yang ditempati olehnya dan ibunya. Setelah memastikan gadis itu pergi nyonya Granger pun mulai pembicaraan


" Setelah kau bersama dengan putrimu lagi apa yang ingin kau lakukan Angel"


"Karena pekerjaan menjadi artis akan menyita waktuku dan aku tidak ingin meninggalkan Rena lagi, aku mungkin akan beralih dengan membuka bisnis saja" jawab Angel


" Bukan itu maksudku" cegat Rianty


"Maksudku adalah, setelah kau mendapatkan putrimu mungkin sebaiknya kau pergi dari rumah ini dan menjauh dari kehidupan putraku" Angel terkejut dengan keterusterangan nyonya Granger. Ia tahu nyonya Granger pasti akan sangat marah padanya karena ia telah melukai perasaan Julian, tetapi ia tidak pernah tahu bahwa nyonya Granger akan terlihat sangat tidak menyukainya seperti ini


" Maafkan aku nyonya Granger,mengenai meninggalkan rumah ini, Julian lah yang membawaku kesini, karena itu aku akan pergi setelah Julian yang menyuruhku pergi"


" Dia tidak akan menyuruhmu pergi, jika kau tidak berinisiatif sendiri"


" Kalau begitu aku tidak akan memintanya" Nyonya Granger menatap Angel dengan ekspresi penuh amarah, begitu juga dengan Angel yang membalas tatapannya dengan begitu sama kuatnya


Wanita itu terlihat tidak takut sedikit pun, karena ia yakin Julian akan membelanya mati-matian. Setelah ia menderita selama usia pernikahannya yang pertama Angel memutuskan untuk tidak akan pernah melepaskan Julian lagi. Dan ia akan memanfaatkan waktu yang diberikan oleh Tuhan saat ini untuk kembali kedalam pelukan Julian


"Apa kau tidak melihat ada seorang wanita yang sedang hamil dirumah ini?"


" Yaa. Aku melihatnya"

__ADS_1


" Kau tahu siapa ayahnya?"


"Aku tahu, Julian menceritakan semuanya padaku" bohong Angel, Julian belum menceritakan apapun, tetapi Angel memutuskan untuk membuat dirinya begitu penting sehingga Julian menceritakan apapun itu kepada Angel


"Dan aku tidak keberatan dengan adanya gadis itu, karena Julian tidak pernah berniat menikahinya,Julian sendiri yang mengatakannya padaku"


"Dasar kau wanita ******, aku tidak pernah tahu bahwa kau benar-benar wanita tidak tahu diri"


"Jangan salahkan aku nyonya, keputusan ada ditangan Julian" Nyonya Granger hendak menyatakan protesnya tapi ia tahu Angel memang benar, keputusan memang ada ditangan Julian. Satu-satunya cara adalah menyadarkan Julian tentang tidak baiknya Angel untuk kehidupannya


"Kau tahu, aku akan menentang hubungan kalian sampai aku mati"


"Selama aku memiliki Julian, aku tidak akan pernah takut nyonya" Nyonya Granger mengeraskan rahangnya marah. Wanita ini benar-benar lancang, pikirnya


" Saya harus menidurkan putri saya, permisi" Angel pun pamit dengan meninggalkan Nyonya Rianty sendirian saja. Seandainya saja wanita itu tidak pernah membuat Julian terluka nyonya Granger tidak akan pernah merasa sangat marah seperti ini, bukan hanya itu. Karena wanita itulah saat ini Vania ada dirumah ini dan sedang mengandung seorang cucu untuknya, Nyonya Granger mendesahkan nafasnya. Seharusnya ia tidak pernah mengizinkan Julian bertindak bodoh.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


"Mama disini?" Julian menatap bingung ibunya yang saat ini berada disatu meja makan bersama-sama dengannya. Ia pulang dan berganti pakaian seperti biasanya, dan terkejut melihat ibunyalah yang sedang memasak


"Aku tidak suka melihat ada wanita lain yang menyiapkan makanan untukmu selain Vania. Vania selalu tahu makanan yang enak untukmu" sindir nyonya Granger tajam, sambil melirik Angel dan Rena yang duduk tidak jauh dari Julian. lalu melirik kearah Vania yang duduk sedikit lebih jauh dari mereka


"Vania.. aku buatkan makanan yang bergizi untukmu. Caa.. makanlah" nada suara nyonya Granger pun berubah lebih lembut


"Kamu harus makan yang banyak sayang.." seru nyonya Granger kepada Vania. Julian yang sering melihat kejadian seperti itu tidak merasa jengah, iapun menyantap makanannya dengan santai. Berbeda dengan Angel yang merasa geram, ia merasa nyonya Granger memang sengaja ingin membuatnya marah karena sengaja berpihak kepada Vania


"Mommy.. Rena tidak suka wortel" gadis kecil yang menjadi satu-satunya orang yang bersikap netral itu memecahkan keheningan. Julian menoleh kepada Rena lalu tersenyum


" Dia mirip sekali denganmu, tidak suka wortel" seru Julian


"Eum.. like mother like daughter" jawab Angel


" Sayang sisihkan saja dipiringmu"


" Tapi Rena tetap tidak suka melihatnya" gadis kecil itu menegerutkan alisnya, ia tidak akan berselera makan jika melihat wortel itu dipiringnya


"Sini, berikan saja padaku" Julian menawarkan diri untuk menerima wortel-wortel itu. membuat Angel tersenyum senang kepada Julian


"Terima kasih, kau perhatian sekali" ujar wanita itu lembut sambil meletakkan wortel-wortel dari piring Rena ke piring Julian

__ADS_1


"Tidak apa,hanya hal seperti ini saja pun" jawab Julian santai


"Berikan yang punyamu juga kesini, kau juga tidak suka kan?" Angel tertawa riang, lalu mulai menyisihkan wortel miliknya kepiring Julian. melihat adegan itu membuat Nyonya Rianty geram. Berbeda dengan Vania yang menundukkan kepalanya, berusaha untuk tidak melihat adegan itu.Nyonya Rianty menoleh kearah Vania dan hatinya semakin terbakar oleh amarah


"Lain kali kalian harus memakan apa yang ada dihadapan kalian, wortel baik untuk mata, apa lagi untuk anak kecil" ujar Nyonya Rianty tajam. Matanya menatap kesal Rena yang masih kecil dan tidak mengerti apa-apa


"Ma.." tegur Julian. Rianty menatap putranya geram, apa Julian dan Angel selalu bersikap seperti itu dihadapan Vania?. nyonya Granger menoleh kearah Vania lalu bertanya


"Apa ada makanan yang tidak kau suka Vania sayangโ€ฆ?"


"Apa..? tidak nyonya, aku pemakan segalanya"


" Aah.. syukurlah, aku kira aku merasa sangat keterlaluan jika tidak tahu ada makanan tertentu yang tidak kau sukai" Vania tersenyum, sadar bahwa nyonya Granger berusaha membuat hatinya lebih baik


"Sebenarnya aku tidak begitu suka Lobak, aku lebih suka sayuran selainnya"


" Aah.. kau sama seperti Julian. dia juga tidak begitu suka lobak, kalian mirip sekali" nyonya Granger terdengar jelas berlebihan ketika mengucapkan kalimat itu. Vania tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, ia tahu itu. Karena setelah makan Julian juga selalu menyisahkan lobak sama sepertinya


Julian memperhatikan ibunya yang menatap Angel dengan sorot membunuh, kemudian kearah Vania yang sudah bisa tersenyum ketika ibunya datang. Karena itu ia tidak begitu mendebat ibunya lagi, ketika nyonya Granger terus memberikan sindiran-sindiran pedas kepada Angel


Meskipun Julian melihat jelas kekesalan diwajah Angel, Julian tetap diam. Hatinya merasa lebih damai ketika memperhatikan Vania makan lebih banyak hari ini, karena kehadiran ibunya. Perselisihan Nyonya Rianty dan Angel semakin sengit, dan akhirnya Julian menengahi setelah kegiatan makan itupun menjadi sedikit lebih sengit


"Ma, sudahlah" Rianty mematuhi putranya dan ia menghentikan ocehannya, hari ini hatinya sudah merasa puas, dan ia akan mengulanginya lagi besok, jika perlu dia akan tiap hari mendatangi rumah ini dan memberikan dukungan kepada Vania. Rianty menatap tajam Angel untuk terakhir kalinya lalu beralih ke Vania. Matanya melebar ketika dilihatnya Vania mengerutkan alisnya


"Kamu kenapa sayang?"


" Tidak apa-apa, hanya keram seperti biasanya" jawab Vania cepat


"Aah.. kau harus banyak-banyak beristirahat, dan kau tidak boleh stress, aku akan membawakan banyak sekali buku untukmu besok" ujar nyonya Granger keras, memberitahukan kesemua orang bahwa ia akan datang lagi besok


" Mama tidak capek jika kesini terus?" sindir Julian.


"Aah.. benar, bagaimana jika besok aku juga pindah kesini" Rianty pun memberikan saran kepada Julian


"Rumah inikan sekarang menjadi tempat penampungan" dan berucap tajam lagi kepada Angel membuat Julian mengerang dan berdiri dari kursinya cepat, lama-lama ia akan gila jika berada diruang makan itu terus.


.


.

__ADS_1


.๐Ÿ˜‚


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2