Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 45


__ADS_3

Upacara pernikahan berlangsung dengan penuh rasa haru, semua orang menyelamati Julian dan Vania dalam suka cita. Sierra pun bergembira karena ada banyak orang disekelilingnya, bayi perempuan itu sudah mulai terbiasa melihat Vania.Ia sudah mulai mau dipegang oleh Vania bahkan bermain dengan Vania, meskipun bayi perempuan itu belum mau digendong oleh Vania, Vania sudah cukup berpuas diri karena Sierra sudah mulai terbiasa dengannya.


Julian menggendong Sierra lalu menarik pinggang Vania kedalam pelukannya


"Sierra, tidakkah Mama cantik?"


"Maaa.." seru Sierra pelan, matanya tidak lepas menatap Vania yang berada dipelukan ayahnya. Bayi perempuan itu awalnya tidak suka melihat ayahnya sering memeluk Vania, namun tidak masalah jika ia ikut dipeluk ketika Julian memeluk Vania.


Sierra menyandarkan kepalanya dibahu Julian, begitu juga dengan Vania yang menyandarkan kepalanya dibahu Julian satu lagi. Vania memandangi wajah putrinya yang serius menatapnya, menebak-nebak apa kira-kira yang sedang Sierra pikirkan. Vania menyentuhkan tangannya mengusap kaki Sierra, bayi perempuan itu tidak menolak disentuh, ia tetap menatap wajah Vania


Julian menunduk memandangi keduanya, tersenyum ketika istri dan putrinya saling mencari tahu dengan tatapan mata mereka. Julian mengecup pipi Sierra, kemudian mencium pipi Vania. melihat itu Sierra mengangkat kepalanya dari bahu Julian lalu menatap penasaran kearah Vania. Vania menaikkan kepalanya juga dan terkejut ketika Sierra maju mendekatinya dan mencium pipinya juga. Vania menoleh kearah Julian dengan senyum dan ekspresi terkejutnya, Julian juga tidak kalah terkejut melihat adegan itu


"Mas melihatnya?"


"Eum.." Julian memandangi putrinya yang sedang membalas tatapannya sambil tertawa pelan, merasa lucu dengan kegiatan barusan


"Kita coba lagi" Julian mencium sekali lagi pipi Vania. CUP.. yang selanjutnya diikuti oleh Sierra, ia mencium lagi pipi Vania.. CUP.. Vania tertawa geli membuat Sierra ikut tertawa


"Mas lagi.." pinta Vania dengan sambil tertawa. Julian dengan senang hati mematuhi permintaan Vania, ia mencium pipi Vania yang satunya lagi yang langsung diikuti oleh Sierra


Sierra tertawa bahagia melihat Vania sedikit kegelian, bayi perempuan itu terlihat kegirangan karena kedua orang dewasa dihadapannya itu tertawa bahagia, ia menyukai permainan mencium pipi Vania. Permainan mencium pipi Vania itu selesai dengan tawa bahagia, Vania memandangi wajah Julian karena rasa syukur. Julian membalas tatapan Vania dengan ekspresi yang sama, pria itu mencium kepala Vania lalu berbisik


"Sudah kubilang, ia akan mengenali ibunya sendiri" Melihat ayahnya memeluk Vania lebih erat, Sierra pun mengulurkan tangannya kearah Vania. Vania terpana kemudian mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Sierra, dan tiba-tiba bobot tubuh Sierra berpindah kedalam gendongannya. Sierra menyandarkan kepalanya dibahu Vania, lalu memejamkan matanya


"Dia mengantuk" ujar Julian. Vania tersenyum kemudian menggoyangkan badannya kekiri dan kanan, membuai Sierra didalam gendongannya. Akhirnya, Sierra mau digendong oleh Vania, bahkan bayi perempuan itu pun tidur dipelukan Vania


🍀🍀🍀


"Sierra sudah benar-benar tidur kan?" bisik Julian kembali ke Vania setelah 10 menit berlalu, pria itu kembali dari kegiatannya menyalami tamu-tamu yang datang

__ADS_1


"Eum.."


"Berikan Sierra kepada Mama"


"Apa..?"


"Ayolah.." Julian mendorong punggung Vania kearah ibunya


"Ma.." panggilan Julian menginterupsi nyonya Rianty yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa tamu


"Titip Sierra" Nyonya Rianty pun mengambil Sierra dari gendongan Vania


"Kau mau pergi?" melihat dari gelagat Julian sepertinya pria itu ingin pergi


"Tapi acara belum selesai, masih ada banyak tamu"


"Kami tidak akan jauh" jawab Julian, menarik tangan Vania agar ikut bersamanya. Vania yang tidak tahu kemana tepatnya pria itu akan membawanya pun mengikuti dengan patuh.


"Sebenarnya mas mau mengajakku kemana?" Vania berusaha bertanya disela-sela ciuman mereka


"Bercinta.."


"Tapi.. ini masih ditengah-tengah pesta" Vania berusaha menjauhkan wajahnya dari serangan ciuman Julian


"Sebentar saja" pintu lift terbuka tepat sebelum Vania mengajukan protesnya. Julian menarik Vania kedalam lift lalu kembali meredam protes Vania dengan bibirnya, Vania tidak bisa mengutarakan protesnya lagi melainkan mendesah karena hasratnya sudah mulai naik. Entah apa yang Julian pikirkan saat ini, Vania tidak bisa menolak apapun itu.


Pintu lift terbuka lagi ditempat yang Julian tuju, mereka keluar dengan langkah yang sedikit berlari, Julian harus membantu menarik bagian bawah gaun Vania agar gadis itu bisa berlari menyeimbangi langkahnya. Julian membawa Vania kedalam sebuah rumah kaca yang terletak dilantai paling atas hotel itu. ada banyak berbagai macam jenis bunga di rumah kaca itu, wangi dari bunga-bunga itu pun bercampur menjadi satu. Selain itu ada langit malam yang diterangi bintang yang terbentang diatas mereka (hanya ada didalam khayalan novel semata😁🤭)


"Cantiknya.."

__ADS_1


Julian memeluk Vania dari belakang lalu berbisik


"Kau suka istriku..?" wajah Vania merona mendengar kata 'istriku‘ itu. Vania tergelitik geli ketika Julian mengecup tengkuknya, lalu turun mencium leher dan bahunya, tangan pria itu bergerak naik mebingkai ****dara Vania dibalik gaun putih itu. Vania memutar kepalanya dan menemukan bibir Julian, mereka kembali berciuman panas, dengan saling menjelajahkan lidah mereka dimulut masing-masing. Tangan Julian bergerak tidak sabaran menarik gaun Vania


"Mas.. kita tidak bisa.."


"Bisa" bantah Julian. ia memutar tubuh Vania agar menghadap padanya


"Bajunya terlalu tebal" Vania mendesah ketika Julian mencoba sekali lagi menarik gaun bagian bawah Vania


"Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk bercinta dengan istriku, tidak juga baju ini" Julian menurunkan Vania kelantai bermarmer dan dengan mudah menarik lipatan-lipatan tebal gaun itu keatas dan bertumpu dipinggang Vania. Dengan smirk terkembang diwajah pria itu melepaskan kancing celananya dan mulai melakukan apa yang menjadi keinginannya


Mereka mengerang nikmat, setelah mencapai puncaknya bersama-sama. Nafas Vania tersengal-sengal dibahu Julian. Julian membaringkan tubuhnya dengan membawa Vania serta. Vania menelungkup diatas tubuh Julian lalu mendongak menatap Julian


"Aku rasa kita tidak bisa kembali ke pesta seperti ini mas" Julian melirik Vania, ke jejak merah dileher gadis itu, lipstik yang sudah berantakan dan rambut yang acak-acakan


"Kau benar"


"Mereka pasti berfikir yang tidak-tidak"


"Siapa yang peduli, kita kan pengantin baru" Vania memukul bahu Julian pelan, membuat pria itu tertawa puas. Selalu seperti ini jika berurusan dengan Vania, ia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak bercinta dengannya. Julian harus menahan rindu terhadap Vania selama satu tahun lebih, tapi sekarang gadis itu sudah menjadi miliknya, yang bisa ia panggil 'istriku‘.


"My wife (istriku) I Love You.."


"I Love You too my husband(suamiku)"


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏


__ADS_2