
Julian keluar dari mobilnya yang terparkir di basement rumah sakit. Langkah kakinya terdengar mengetuk-ngetuk lantai, sedikit terburu-buru karena berjalan dengan langkah yang lebar-lebar
Julian memang sudah lama menyadari ia telah mulai mencintai Vania, sejak ia lebih memilih Vania dari pada bayinya. Tidak ada yang lebih penting dari apapun selain Vania saat itu, mungkin akan terdengar jahat, tetapi ia rela kehilangan bayi itu dari pada Vania.
Julian memberikan kekuasaan kepada Vania untuk memilih apa yang akan terjadi selanjutnya kepada Vania pun berharap gadis itu memilih membawa putri mereka bersamanya. Dan jika itu terjadi, Julian akan mencoba mendekati Vania dengan cara yang benar, mengajaknya berkencan dan sebagainya, lalu mengajaknya menikah. Tetapi jika Vania memilih meninggalkan bayinya, Julian tidak akan pernah memberikan sisa uang yang telah dijanjikan kepada Vania dan sebagai gantinya, Julian akan meminta gadis itu menjadi istrinya
Tetapi setelah berbicara dengan Angel dikantornya tadi membuat pikiran Julian lebih terbuka, ia tidak akan membuat Vania memilih apapun. Karena Julian sendirilah yang akan membuat keputusan. Vania harus menikah dengannya apapun yang terjadi. Julian melihat Pak Norman baru saja masuk ke lobi rumah sakit dengan memegang satu kantung minuman ditangannya
"Paman" panggil Julian
"Tuan muda?" Pak Norman memutar tubuhnya dan terkejut melihat Julian berada dirumah sakit sesiang ini, bukankah majikannya itu sekarang seharusnya berada dikantornya?.
"Kenapa paman tidak menemani Vania?"
"Oo.., Nona Vania memintaku membelikannya minuman jus. Anda mau tuan? Akan kubelikan lagi" Julian mengerutkan alisnya
"Tidak, kemarikan biar aku yang memberikannya, Paman pergi saja"
"Baik"
Meninggalkan Pak Norman dilobi rumah sakit Julian pun melangkahkan kakinya menuju kamar Vania
CEKLEK..
Julian membuka pintu kamar, matanya langsung tertuju pada box bayi yang didalamnya sedang ditiduri oleh bayinya, Julian lalu menolehkan kepalanya melihat seisi kamar, Vania tidak ada dimana-mana
Julian pun melangkah kan kakinya kekamar mandi, pintu kamar mandi terbuka dan tidak ada orang didalamnya.
"Vania.." panggil Julian panik, entah kenapa ia menyadari situasi apa yang saat ini sedang ia hadapi. Julian cepat-cepat melangkah kearah pintu, melirik sekilas kedalam box bayi lalu berhenti, matanya menangkap sesuatu didalam box bayi itu.
Pelan-pelan Julian menarik keluar secarik kertas terlipat yang terletak disamping bayinya. Dengan perasaan takut-takut Julian pun membaca tulisan yang ada disurat itu
_Tuan Granger Sebenarnya sebelum kau memintaku untuk mengambil keputusan aku sudah membuat keputusanku sendiri, aku pergi meninggalkan bayi ini bersamamu. Dia milikmu dan selamanya akan menjadi milikmu. Maaf.. jika aku pergi dengan cara seperti ini, karena aku tidak akan sanggup melihatmu atau Paman Norman menyerahkan sisa uang itu padaku jika aku mengatakannya secara langsung padamu. Aku tidak menginginkan uangmu tuan, cukup buat bayi ini mendapatkan cinta yang melimpah dan aku akan merasa bahagia.. Lalu.. terima kasih karena kau lebih memilih untuk menyelamatkanku malam itu.. Selamat tinggal Vania Anastasha_
Julian mencengkeram kertas surat itu dengan tangan bergetar hebat. tidak.. Vania tidak boleh meninggalkannya seperti ini. tidak.
"Paman.." Julian berlari keluar memanggil Pak Norman yang ternyata masih berada dirumah sakit. Pak Norman langsung menghampiri Julian ketika melihat majikannya terlihat aneh
"Tuan..?"
"Cari Vania"
"Apaa..?"
"Dia pergi, lihat disekitar rumah sakit, aku akan bertanya dengan suster" perintah Julian. Pak Norman langsung mematuhi Julian dan berlari kearah kantin rumah sakit. Julian pun bertanya ke suster manapun yang ia temui, mencari diantara beberapa pasien yang memakai baju yang sama
Tetapi Vania tidak ada dimanapun dirumah sakit itu, para suster pun merasa kebingungan karena Vania menghilang
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa bisa pasien pergi tanpa kalian ketahui?" bentak Julian pada salah satu suster, sebenarnya mereka tidak bersalah, hanya saja Julian butuh seseorang untuk melampiaskan rasa frustasinya
"Aku ingin kalian mencarinya diseluruh rumah sakit ini" ujar Julian lagi.
Merasa bersalah karena seorang pasien menghilang para suster yang tidak bertugas pun mulai mencari, satpam yang menjaga rumah sakit pun ikut membantu mencari Vania. Satu jam berlalu dan hasilnya masih tetap nihil, Pak Norman juga telah kembali sambil menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"Aku tidak menemukannya dimanapun tuan" Julian mengerutkan alisnya, berfikir keras
"Dia masih belum pulih kan? dia pasti masih disekitar rumah sakit ini"
"Jika dia menyuruhku pergi membelikan jus untuk kabur itu artinya sudah lama sekali tuan,Nona Vania mungkin sudah tidak ada dirumah sakit ini"
"Aku tidak mau tahu, cari dia"
"Kemana?"
"Kemana saja. kerumahnya,, tempat kerjanya, kemana saja"
"Kita tidak punya alamat rumah atau tempat kerjanya tuan, anda melarangku untuk mencari tahu tentang gadis itu. jadi kita tidak punya biodata apapun tentangnya. Yang kita tahu hanya namanya saja" Julian menatap ngeri Pak Norman, benar.. apa yang ia ketahui tentang Vania? hanya nama yang ia miliki saat ini, Julian tahu Vania memiliki seorang ibu yang dirawat oleh temannya tapi Julian tidak tahu nama temannya itu ataupun tempat tinggalnya
"Ya Tuhan" Julian mengerang frustasi. Kenapa ia bodoh sekali? Lalu dimana ia bisa menemukan Vania?.
"Kemana saja, cari dia.. tanya polisi atau apapun.. cari dia" Pak Norman ingin membantah Julian, mereka tidak punya data apa-apa tentang Vania, ke kantor polisi pun percuma jika hanya memberikan sebuah nama tanpa foto atau apapun
"Jika saja kita punya nomor KTP-nya akan mudah tuan, tapi hanya nama..?"
"Aku tidak mau tahu.. aku ingin dia ditemukan" bentak Julian marah
"Cepatlah" ia tidak peduli jika pria itu lebih tua darinya, bahkan bisa dibilang pria itu sudah seperti ayahnya sendiri. tetapi Julian terlalu tegang dan takut saat ini. Beberapa hari yang lalu dia hampir kehilangan Vania, tetapi Tuhan berkata lain, ia masih memberikan kehidupan untuk Vania, sekarang ia benar-benar kehilangan gadis itu, tanpa jejak sedikitpun
Pak Norman menganggukkan kepalanya cepat dan bergegas pergi dari rumah sakit itu. Julian mengepalkan tangannya kuat-kuat, seharusnya ia tidak mengulur waktu, harusnya ia langsung mengutarakan perasaannya. Sekarang apa sudah terlambat?.
"Kau memang bodoh Julian Granger"
Disebuah taman bermain seorang gadis sedang berlari dengan membawa beberapa selimut tipis, ia terlihat sangat terburu-buru karena pakaian yang ia pakai seadanya. Nafasnya memburu cepat ketika melihat sahabatnya sedang duduk disebuah bangku taman
"Vaniaa.." gadis itu menghampiri Vania
"Mira.." Vania mendongakkan kepalanya dan tersenyum lega, akhirnya ia bisa bertemu dengan temannya setelah menunggu hampir setengah jam
"Kau pasti kedinginan" Mira menyampirkan selimutnya dipunggung Vania dan menggenggam tangan Vania
"Kau kedinginan?" Mira bertanya begitu dikarenakan hujan rintik-rintik mulai turun membuat udara sangat dingin menusuk kulit ditambah sekarang sudah malam
"Tidak.. aku baik-baik saja"
"Apa yang terjadi? Kenapa secepat ini kau kembali?"
"Bayinya sudah lahir"
"Sudah lahir..?"
"Iya.." Vania menunduk sedih
"Karena kebodohanku aku hampir membuatnya mati. tapi pada akhirnya kami berdua bisa diselamatkan" Mira mengalungkan lengannya dipundak Vania, mengusap lengan gadis itu
"Aku pergi setelah aku pulih, seperti perjanjiannya"
"Pergi begitu saja?"
__ADS_1
"Eum.."
"Kau mendapatkan uangmu?"
Vania menggelengkan kepalanya, airmata kembali jatuh dipipinya
"Aku tidak bisa, aku tidak bisa mengambil uang itu. yang ingin aku lakukan tadi adalah membawa bayi itu bersamaku tapi aku juga tidak bisa melakukannya, itu bayinya"
"Tapi dia juga bayimu"
"Sejak awal bayi itu memang miliknya, dan dia memang hanya menginginkan bayi itu"
"Vania.." Mira menyandarkan dagunya dibahu Vania, memeluk erat sahabatnya
"Aku sudah bilang ini ide gila, pada akhirnya kau pasti akan merasa seperti ini, tapi kita masih punya waktu untuk mengambil bayi itu secara diam-diam. aku bisa membantumu" Vania menggelengkan kepalanya lagi
"Tidak, bayi itu akan bahagia hidup bersamanya, hidup bersamaku ia akan menjadi sepertiku, hidup dalam kemiskinan. Jika ayahnya bisa memberikan tempat yang layak untuk apa dia hidup dirumah kecil bersamaku?"
"Kau memang gadis bodoh" rutuk Mira, ia pun tidak bisa menahan desakan airmatanya
"Tidak apa-apa.. kau pasti bisa melewatinya"
"Saat itu. ketika dia dihadapkan oleh pilihan untuk memilih aku atau bayinya, dia lebih memilih aku. Kau tahu, dia menghalalkan segala cara agar bisa memiliki anak, tapi ia rela kehilangan anak itu hanya untuk menyelamatkan aku. Karena itu aku memutuskan dia lebih pantas mendapatkan anak itu daripada aku" Vania menghapus airmatanya
"Aku mencintainya.." bisiknya lirih
"Siapa..?"
"Bayi dan ayahnya.." Mira memeluk lebih erat, memberikan sedikit kekuatannya kepada Vania
"Sekarang bagaimana?"
"Aku tidak bisa menemui Ibu dalam keadaan seperti ini, aku akan mencari tempat untuk tinggal sementara waktu dan mencari pekerjaan baru. Aku ingin mengembalikan uang yang pernah kupakai untuk operasi Ibu"
"Apa.. kenapa..?"
"Aku tidak bisa memakai uang itu, rasanya sama seperti aku menjual bayiku" Vania tertawa miris
"Aku bodoh ya..? seharusnya sejak awal aku tidak boleh nekat" Mira mendengus pelan
"Kau memang bodoh.. tapi tidak akan ada yang menyalahkanmu, kau sudah melakukan semampumu untuk membantu Ibumu. Semangatlah Vania.." Vania tersenyum
"Terima kasih Mira.. aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan tanpamu" Vania menatap langit gelap yang sedikit diterangi oleh bintang, matanya menerawang jauh… tidak bisa dipungkiri lagi, Vania pasti akan merindukan Julian dan juga bayinya. Meskipun begitu, Vania tidak akan pernah bermimpi untuk bisa kembali melihat mereka lagi. airmata kembali jatuh dipipinya, Vania menarik nafas panjang, membuat dadanya terasa ngilu karena sesak dan perasaan terluka
.
.
.
Bagi yang merasa tulisan ini kurang bagus dari penempatan kata dan huruf tolong di koreksi..maaf🙏 saya baru belajar menulis
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏
__ADS_1