Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 42


__ADS_3

Julian membuka pintu rumah dengan terburu-buru, setelah pintu terbuka ia membawa Vania masuk kedalam rumah yang masih gelap dan hanya diterangi cahaya bulan, tanpa menunggu lagi pria itu kembali mencium Vania. lidahnya menjelajahi bibir Vania. gadis itu hampir kewalahan karena serangan Julian yang benar-benar menggebu-gebu itu, sebisa mungkin ia mengimbangi Julian dengan membalas decapan bibir Julian.


Julian mendorong Vania hingga punggung gadis itu berbenturan dengan tembok dibelakangnya, ia menjauh sedikit hanya untuk melepaskan baju yang dipakai oleh Vania, Vania bergidik ketika udara dingin mengenai kulit tubuhnya, namun suhu tubuh panas Julian langsung mengubah hawa dingin itu menjadi benar-benar panas. Julian bergerak sangat terburu-buru, terlihat jelas ia sudah menantikan hal ini untuk bisa ia nikmati lagi


Vania menjerit merasakan kedua tangan Julian meraup benda kenyal yang berada didepannya. Tidak butuh waktu lama pria itupun melepaskan kaitan bra Vania dan membuangnya begitu saja


Tangan gadis itu mencengkeram kuat rambut Julian ketika pria itu menempelkan tubuh mereka berdua. Saling mencium dan menyesap mencari sebuah kenikmatan


"Mas.. kamarnya.."


"Kamar..?" Julian membeo, pikirannya tidak bisa berfikir jernih


"Ke kamar…" ulang Vania.Mengerti maksud Vania, Julian pun menggendong Vania. sesampainya dikamar Julian membaringkan dirinya dan juga Vania keatas tempat tidur king size miliknya. Julian kembali menarik Vania. Ia menunduk diatas Vania, menepis rambut yang menutupi wajah Vania


"Sudah setahun lebih.. aku tidak bisa menahannya" bisik Julian, dengan sambil mencengkeram bantal yang berada dibawah kepala Vania


"Aku tidak ingin terburu-buru.. tapi.." Vania menangkupkan tangannya diwajah Julian lalu mengusap pelan rahang keras pria itu


"Aku tidak apa-apa mas.." Julian menunduk dan mencium Vania, lalu perlahan kembali mencoba menyatukan dirinya dengan gadis itu


"Lain kali kita akan melakukannya pelan-pelan, tapi hari ini.." Julian terus mendesakkan diri. Vania mengigit bibir bawahnya merasakan Julian mendesak masuk dan keduanya berhasil menyatu dengan sempurna


Penyatuan ini terasa lebih nyata ketika mereka saling mengetahui perasaan masing-masing. Julian mencium Vania lagi.


Julian terus memanggil nama Vania, mengucapkan kata-kata cinta untuk gadis itu. Vania mencengkeram kuat lengan Julian yang mungkin besok akan menimbulkan memar merah disana


Teriakan suara Vania menjadi akhir dari tujuan yang mereka capai, mereka ambruk bersama-sama diatas tempat tidur dengan nafas yang terengah-engah. Julian menepiskan rambut yang menutupi telinga Vania lalu berbisik dengan suaranya yang serak.


" I Love You.." Vania tersenyum, mengalungkan tangannya ditubuh Julian memeluk pria itu erat.

__ADS_1


"I love you too.." Julian tersenyum mengecup lembut pelipis Vania, lalu berusaha bangkit namun kaki Vania masih menahan pinggangnya


"Tidak.. jangan pergi dulu"


"Aku berat.."


"Tidak.. tidak berat, begini saja dulu" Julian mematuhi Vania dengan berhenti menarik dirinya. Julian pun masih merasakan sisa-sisa cairan miliknya masuk kerahim Vania. Jika Vania hamil lagi maka Julian akan memastikan kali itu dia akan memberikan seluruh perhatiannya kepada Vania, tidak seperti sebelumnya


"Sayang.. aku berat kan?"


"Tidak.." Vania semakin mengeratkan pelukannya


"Posisinya tidak enak" Julian menggeser tubuhnya kesamping, sambil melepaskan kontak tubuh mereka, menarik selimut menutupi mereka berdua


" Aku tidak akan membuatmu kurang tidur, tidurlah" Julian mengecup satu persatu dari mata Vania agar mata gadis itu terpejam


"Mas akan terus memelukku?"


"Dulu mas sering melakukannya, itu karena perutku terus sakit karena keram"


"Kali ini aku memelukmu untuk menjagamu dari mimpi buruk"


"Aku benar-benar merasa seperti cinderella, mendapatkan pangeranku sendiri" Julian tersenyum lalu mengusap kepala Vania


"Kau tahu, aku bisa membuatmu benar-benar menjadi seorang cinderella"


🍀🍀🍀


Matahari pagi masuk kedalam kamar melalui celah-celah tirai jendela dikamar, pagi ini Vania terbangun lebih dulu dibandingkan Julian, matanya terbuka dan langsung dihadapkan oleh pemandangan yang tidak asing, ia hapal kamar ini. Vania menoleh ketubuhnya yang masih telanjang, dengan cepat ia menarik selimut menutupi dadanya dan menoleh kebelakang, dimana Julian masih tidur nyenyak. Julian menepati janjinya tidur dengan memeluk Vania sepanjang malam, terbukti dari tangan Julian yang masih berada dibawah kepala Vania dan tangan satunya lagi masih melingkar dipinggang Vania

__ADS_1


Vania kembali menoleh kedepan, menikmati saat-saat pagi yang indah dimulai dengan terbangun dalam pelukan Julian.Nafas Julian yang bertiup pelan dibelakang kepalanya tiba-tiba berubah cepat dan berpindah posisi kepunggungnya, pria itu juga sudah bangun, terlihat dari gerakan tangannya yang melingkar di pinggang Vania tiba-tiba naik kearah dada gadis itu.


"Mas..?" Vania menggeliat ketika sekali lagi ia merasakan sensasi mendebarkan dan hangat tubuh Julian. Julian menarik Vania agar menempel padanya. Tangannya mulai bergerak nakal ke tubuh Vania yang tidak tahan geli. Pria itu menggelitik telinganya, membuat Vania semakin menggelinjang geli


"Sudah kubilang kan aku tahu dimana tempat yang akan membuatmu geli" bisik Julian dengan suaranya yang serak karena baru bangun tidur, membuat itu terdengar seksi dan menggoda. Vania menolehkan kepalanya kebelakang mencari-cari bibir Julian yang langsung ia dapatkan karena Julian langsung menciumnya. Julian kembali mengulang percintaan mereka semalam


Julian menepiskan rambut yang menutupi mata Vania dan mencium gadis itu


"Kau cantik" bisik pria itu, mulutnya menjelajah dimulut Vania, lalu melepaskan ciumannya ketika akhirnya dia dan Vania mencapai puncak kenikmatan mereka. Julian menyandarkan kepalanya dibahu Vania, bernafas dengan tersengal-sengal, Vania memeluk bahu Julian erat, ia tidak ingin pria itu jauh lagi dari dirinya


"Kita harus bangun dan pulang kerumah besar" bisik Julian


"Iya.."


"Sebenarnya, Mama melarangku menyentuhmu sampai kita menikah, tapi maaf.. aku tidak bisa menahan diriku sendiri"


"Aa.. aku yang akan bicara dengan Mama" Vania tiba-tiba ingin melindungi Julian dari kemarahan Mama Rianty. Julian tertawa lalu bangkit dari tubuh Vania


"Tidak apa, aku yakin mama hanya bisa mengatakan. Namanya juga Julian Granger tidak bisa dilarang" Julian menarik tangan Vania agar ikut berdiri bersamanya


"Tapi kau memang tidak bisa dilarang" jawab Vania menyetujui. Julian sekali lagi tertawa renyah, Vania menyukai tawa itu. dulu ia sering melihat Julian tertawa tapi tidak seperti sekarang, pria itu terlihat lebih bahagia. Vania bersyukur karena Julian juga merasakan kebahagiaan yang sama dengannya.


Julian menarik Vania masuk kedalam kamar mandi, menyalakan shower dan mengatur panasnya air yang keluar, lalu mendorong Vania masuk kedalam bawah pancuran


"Saatnya mandi…."


.


.

__ADS_1


Bijaklah dalam memilih bacaan


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏


__ADS_2