
Julian menghentikan mobilnya tepat dibelokan jalan, matanya tidak lepas dari kaca spion memandangi Vania, gadis itu masih tersenyum ketika melambaikan tangannya tadi, dan langsung berubah tidak lama setelahnya, ia tahu gadis itu pasti bosan berada dirumah itu sepanjang hari.
Ini sudah bulan ketujuh bagi gadis itu tanpa melihat dunia luar sama sekali. Julian tahu itu bukan urusannya tetapi ada perasaan sesak didadanya ketika melihat ekspresi tidak bahagia gadis itu
Julian memutar lagi mobilnya menuju kerumah dan berhenti dihalaman rumah, memanggil gadis itu setelah ia keluar dari mobil. Vania keluar dengan ekspresi bingung
" Ada yang tertinggal tuan?"
"Ya.. kau, ambil jaketmu dan naiklah"
"Apa..?"
"Cepatlah.."
"Oo..Baiklah..tunggu sebentar" Vania berlari cepat masuk kedalam rumah.
"Heii... cepat, tapi tidak berlari" teriak Julian, Vania pun memelankan langkahnya mendengar teriakan itu. mengambil jaket miliknya Vania bergegas menghampiri Julian lagi. Pria itu berdiri dipintu penumpang dan membuka pintunya untuk Vania
Julian melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah, mereka berdua tidak mengatakan apapun selama perjalanan, Vania tidak bertanya kemana pria itu akan membawanya begitu juga dengan Julian. Tidak sedikitpun memberikan petunjuk kemana ia akan membawa gadis itu.
Perjalanan menghabiskan waktu hampir satu jam ketika Vania melihat hamparan luas pemandangan pantai, matahari hampir tenggelam diujung lautan, warnanya yang kemerahan diatas lautan biru membuat siapa saja yang melihatnya berucap kagum. Sungguh indah pemandangan yang dilihatnya saat ini
Vania perlahan menurunkan kaca mobilnya dan mengeluarkan tangannya keluar jendela, menyentuh angin yang bertiup.
Julian menolehkan kepalanya melihat Vania sedang mengeluarkan tangannya keluar jendela, mata gadis itu terpejam ketika kepalanya tertiup angin, rambutnya yang berwarna cokelat pun terkena tiupan angin segar
Julian tertegun lama, betapa damainya wajah gadis itu. Berat badan gadis itu memang naik semenjak usia kandungannya yang ke empat bulan, aura kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya, membuat gadis itu semakin terlihat cantik
"Kau ingin mampir kesana?" tanya Julian pelan Vania membuka matanya lalu menoleh kearah Julian
" Apa..?"
" Kesana" tunjuk Julian, kearah pantai
"Boleh..?"
"Tentu saja.. mau…?"
"Iya.. tuan, mau sekali" Julian tersenyum, kemudian menepikan mobilnya dipinggir jalan, pantai itu tidak jauh dari jalanan, mereka bisa sampai ditepian ombak pantai hanya dengan sedikit berjalan
Vania dan Julian turun dari mobil dan berjalan mendekati ombak pantai, Vania tersenyum lebar ketika kakinya menginjak pasir yang basah. Ia menoleh kebelakang kearah Julian yang sudah melepaskan jas dan dasi nya, hanya memakai celana kain dan kemeja yang sudah terbuka kancing bagian atasnya.
Gadis itu memegang dadanya yang berdegup kencang, Julian selalu bisa membuatnya berdebar-debar hanya dengan menatapnya. bagaimana tidak? Pria itu selalu terlihat mengagumkan, bahkan ketika mereka mulai melakukan proses pumbuatan bayi pun Vania sudah merasakan hal ini, jantungnya berdegup kencang ketika Julian menciumnya, membelainya dan memeluknya
Vania menolehkan kepalanya kedepan, entah kenapa ia merindukan saat-saat itu. Semenjak hamil Julian tidak pernah lagi menyentuhnya. Itu semua karena tujuannya sudah tercapai bukan.
Vania menarik nafas panjang, meredakan debaran jantungnya yang cepat, mungkinkah ia sudah jatuh cinta pada pria itu?. Vania melirikkan ujung matanya kesamping merasakan kehadiran Julian disebelahnya, tangan Julian memegang pergelangan tangan Vania
"Hati-hati" bisik pria itu
"Iya.." Vania menganggukan kepalanya, tangannya mengusap pelan perutnya yang sudah lebih besar
"Apa anda tidak jadi ke pesta?" Julian menggelengkan kepalanya
"Pestanya tidak terlalu penting" jawab Julian
"Kau mau berjalan-jalan menyusuri pantai ini?"
" Iya.."
"Ayo.." Julian membimbing Vania berjalan menyusuri pinggiran pantai, langit sudah gelap, tetapi itu tidak menghentikan Vania ataupun Julian untuk terus berjalan menyusuri pantai
"Sepatu anda jadi kotor" seru Vania memecahkan kesunyian. Julian menoleh ke sepatunya
" Tidak perlu mengkhawatirkan sepatuku"
"Tapi sepatu anda sangat mahal"
__ADS_1
"Semahal apapun itu suatu hari juga akan tetap tidak terpakai"
" Sungguh menyenangkan menjadi orang kaya, tidak perlu khawatir tentang apapun, selama kau punya uang untuk membeli apapun yang baru" Julian menaikkan bahunya
"Memang itulah gunanya uang" Vania mengerutkan alisnya, ya memang seperti itulah teori lama, kau bisa mendapatkan apa saja asalkan kau punya uang, seperti Julian yang bisa mendapatkan apa saja dengan uangnya, termasuk bayi yang ada didalam perutnya saat ini
" Dan orang miskin akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang" bisik Vania, seperti dirinya yang rela mengandung anak Julian hanya untuk mendapatkan uang
Julian menangkap adanya nada kesedihan dari kalimat itu, sebelum ini Julian tidak pernah peduli dengan kehidupan orang-orang yang berada dibawahnya, tapi mendengar kata seperti itu terucap dari bibir Vania membuat dada Julian dipenuhi oleh rasa sesak
"Sebelum ini kau pernah bilang kau dipecat dari tempatmu bekerja, apa yang kau lakukan hingga kau dipecat?" Vania menoleh kearah Julian
"Kesalahanku adalah karena aku hanya lulusan SMA" Julian mengeraskan rahangnya mendengar hal itu, orang macam apa yang tega melakukan hal seperti itu?. Tunggu, Julian melakukan itu pada beberapa pegawai dihotelnya.
Pria itu memejamkan matanya, ibunya benar, Julian tidak pernah memikirkan nasib dari orang-orang yang secara sengaja ia pecat hanya karena pendidikan terakhir mereka
"Aku yakin, orang yang memecatmu tidak punya hati" Julian menyindir dirinya sendiri. Vania menggelengkan kepalanya
"Tidak tuan, dia punya" jawab Vania. Julian menaikkan alisnya
"Bagaimana kau bisa tahu dia punya hati?"
'karena orang itu adalah kau‘ batin Vania
"Aku yakin dia punya alasannya, benar bukan?" seperti apapun yang dilihat oleh orang lain tentang Julian, Vania tahu yang sebenarnya
Seperti yang selalu Mira katakan padanya bahwa Julian adalah pria yang dingin dan tidak memiliki belas kasihan, seperti itulah yang orang-orang lihat, tetapi dimata Vania, Julian adalah pria yang hangat dan lembut, seperti sekarang, pria ini rela meninggalkan acara pestanya untuk menemani wanita yang sedang mengandung anaknya berjalan-jalan dipinggiran pantai. Julian menganggukkan kepalanya
"Mungkin" jawab Julian.
"Ibu selalu bilang padaku, apapun yang dilakukan oleh manusia pasti selalu memiliki alasannya, entah itu mereka mengetahuinya atau tidak"
" Karena itu kau selalu berfikir positif?. Kau tahu orang seperti itu terlihat lemah, dan mereka selalu bisa diperlakukan seenaknya" Vania tertawa pelan
"Itulah kenapa temanku selalu marah padaku karena aku begitu lemah, aku bahkan tidak protes dengan keras ketika aku dipecat, berbeda dengannya yang mati-matian membelaku"
" Justru aku yang merepotkan, Ibuku kutitipkan padanya saat ini"
" Bagaimana kabar ibumu?" Julian hampir lupa, gadis itu memiliki seorang Ibu
"Eum.. dia sehat sekali" Vania senang mendengar Julian bertanya tentang keadaan Ibunya
" Ooh.."
Vania menghentikan langkahnya lalu memegang perutnya
" Kenapa..?"tanya Julian cemas. Vania diam sejenak, memastikan apa yang sedang terjadi
" Bayinya cegukan" Kedua alis Julian naik
" Cegukan..? dia..? didalam perut dia bisa cegukan?"
"Nyonya Granger bilang itu hal yang biasa" Vania tertawa melihat ekspresi terkejut Julian
" Benarkah..?" Julian meletakkan tangannya diatas perut Vania. Gadis itu menahan nafasnya merasakan sentuhan itu, Julian tidak pernah mengelus perutnya atau semacamnya sebelum ini. Tidak merasakan apapun Julian pun membungkuk diatas perut itu, menempelkan telinganya diatas perut Vania, membuat gadis itu semakin menahan nafasnya.
Vania menelan salivanya pelan, dadanya terasa penuh. Nyonya Granger sering mengusap perutnya tetapi rasanya tidak mendebarkan seperti saat ini
" Dia tidak bergerak" suara Julian terdengar sedih, karena tidak bisa menemukan pergerakan didalam perut Vania. Vania tersenyum lalu menyentuh tangan Julian dan membawa tangan itu kesisi kiri bawah perutnya
"Disebelah sini"
" Oo.." Julian terkejut ketika tangannya merasakan sedikit guncangan diperut Vania. lalu merasakannya lagi
"Dia benar-benar sedang cegukan" Julian menaikkan kepalanya menatap takjub kearah Vania, tangannya masih memegang perut Vania, merasakan lagi guncangan disana
"Apa sering seperti ini?"
__ADS_1
"Sesekali, terkadang dia menendang"
"Benarkah..?" Julian lagi-lagi memasang ekspresi takjub
"Eum" Vania tersenyum lagi, ia terlalu senang melihat perubahan-perubahan ekspresi Julian
"Jika aku diam dia selalu menendang"
"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?" Julian mengerutkan alisnya. Benar, kenapa ia baru tahu sekarang padahal Vania sudah sering merasakannya
"Aku pikir tuan tidak ingin tahu" sesal Vania
" Jika ini menyangkut perkembangan bayinya, aku jelas ingin tahu" Julian kembali membungkukkan kepalanya diperut Vania
"Mulai sekarang kau harus memberitahuku tentang perkembangan bayi ini"
"Iya.. aku mengerti"
Dddrrtt…ddrrtt…
Vania memandang ponsel Julian yang bergetar sejak mereka memasuki mobil, Julian menyudahi acara jalan-jalan itu dengan membimbing Vania kembali kemobilnya lagi. Melihat dari nama yang tertera dilayar ponsel itu Vania tahu nyonya Granger yang sedang memanggilnya
Julian berdecak pelan, lalu mengambil ponsel yang ia letakkan didekat rem tangan
" Iya ma..?" jawab Julian
"Julian Granger, kemana saja kau? Pesta tidak bisa dimulai jika kau tidak datang" suara teriakan nyonya Granger terdengar kencang, bahkan Vania bisa mendengarnya
"Mulailah tanpaku, aku tidak akan kesana"
"Apa? Kenapa..? ini acara penting, semua kolega kita datang hanya untuk mendengar kata sambutan darimu" Nyonya Granger terdiam
" Memangnya dimana kau sekarang?" Julian diam, matanya bergerak kekiri dan kanan, apa ia harus menjawab dengan jujur?
"Kami sedang berjalan-jalan ma"
" Kami..? kau pergi dengan siapa?" tanya ibunya curiga. Julian menyerahkan ponselnya kepada Vania
"Jawablah"
" Oo? Baiklah.. Halo nyonya, ini aku Vania"
"Vania..?" suara terkejut nyonya Granger tidak bisa ditutup-tutupi
"Eum.. tuan Granger tadi mengajakku kepantai, aku akan menyiapkan baju pesta yang lain dengan cepat setibanya dirumah agar tuan Granger bisa datang kepesta tepat waktu"
"Tidak.. tidak apa-apa.. kalian teruskan saja jalan-jalannya. Pestanya bisa dimulai tanpa Julian"
"Apa.. maafkan aku nyonya"
" Eey.. tidak perlu meminta maaf, dimana Julian?" Vania menyerahkan ponselnya kembali kepada Julian
"Iya ma..?"
" Heyy.. seharusnya kau bilang dari tadi jika kau sedang mengajak Vania jalan-jalan. Ya sudah, tidak perlu kesini, kau temani saja dia"
" Eum.. sampaikan permintaan maafku karena tidak bisa hadir"
"Eum.."
.
.
.
Kritik dan saran di harapkan🙏🙏
__ADS_1