Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 12


__ADS_3

Di Halaman belakang rumah vania berjongkok ringan


"Aku masih belum tahu namamu, siapa namamu?" Vania mengusapkan tangannya kebulu-bulu lembut anjing kampung yang sekarang sudah sangat akrab dengannya, setiap hari anjing itu datang di jam yang sama. Sehingga Vania sudah sangat hapal kapan tepatnya anjing itu akan berkunjung


"Aku akan memberikanmu makanan ini jika kau mau menyebutkan namamu padaku" Vania memegang piring yang berisikan makanan anjing ditangannya.


"Apa namamu blacky?" tanya Vania. anjing itu bergeming, matanya menatap penuh harap kearah piring ditangan Vania


"Eddy...?" tanyanya lagi seperti nama anjing film kucing Garfield kesukaannya, anjing itu tetap bergeming


" Ck.. aku sudah menyebutkan semua nama yang bisa kupikirkan.. albert?" anjing itu masih bergeming


"Eeeiiisshhhโ€ฆ"


" Lessie.."


" Guk.." Vania tersentak kaget mendengar suara lembut dari arah belakangnya yang disambut dengan salakan dari anjing itu. Vania melihat Julian berjalan menghampirinya, mengambil piring dari tangan Vania lalu meletakkan makanan itu diatas lantai, yang langsung disambut gembira oleh anjing itu


"Namanya Lessie.." ujar Julian, Vania mengerjapkan matanya dua kali sebelum menyadari maksud dari ucapan Julian


" Nama anjing itu Lessie..?" Julian tersenyum


" Aku menamainya seperti nama anjing di film Lessie, berharap anjing ini akan menjadi sehebat anjing difilm itu" Vania menggelengkan kepalanya kesamping, ia ingat film itu, menceritakan tokoh anjing yang sangat menyayangi majikannya dan sangat melindungi majikannya. Sungguh manis sekali impian bocah kecil itu, pikir Vania


"Aku tidak tahu kau dekat dengannya, sudah berapa lama kalian akrab?" tanya Julian, sambil mengusap kepala anjing itu


"Sudah sejak aku tiba dirumah ini"


"Benarkah..?" Julian merasa takjub, ia tidak pernah tahu jika Vania sering bermain bersama Lessie sebelum ini. baru tadi ketika ia mencari keberadaan gadis itu ia menyadarinya


"Lessie jarang suka pada manusia" ujar Julian


"Dia suka padaku karena aku membawa makanan" Julian tersenyum lalu berdiri


"Kau ingin melihat sesuatu yang lucu?" tanya Julian tiba-tiba


"Lessie duduk" perintah Julian, anjing yang sedang mengunyah makanannya itu seketika langsung duduk manis, lidahnya keluar masuk menjilati mulutnya sendiri


"Berdiri dengan satu kaki" anjing itu menaikkan satu kaki depannya keatas


"Keluarkan lidahmu dan merengeklah" Anjing itu mengikuti semua yang Julian perintahkan bahkan mengeluarkan suara lengkingan pelan


Julian tertawa detik itu juga. Vania terpana, bukan karena melihat anjing itu patuh begitu saja mendengar perintah dari Julian tapi karena Pria itu tertawa begitu renyah, suara tawanya terdengar merdu dari segi manapun juga


Tidak pernah ada yang mengatakan padanya bahwa Julian bisa sangat mempesona jika sedang tertawa. Julian menggaruk kepala anjing itu sambil tertawa pelan


"Good boy.. teruskan makanmu.." Vania tersenyum melihat pemandangan itu, benar-benar kejadian yang sangat langka. Pikir Vania


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Bulan ke tujuh


Hamil diusia kandungan ke enam bulan membuat Vania sedikit lebih gendut, gadis itu makan dengan sangat lahap dan mengunyah apapun yang dihadapkan padanya. Membuat Pak Norman terus merasa kegirangan karena Vania terlihat sangat sehat


Begitu juga dengan nyonya Granger yang berkunjung kerumah itu seminggu sekali. Karena hamil dengan diam-diam, Vania harus bertemu dengan dokter pribadi sebulan sekali dirumah itu. setelah trimester pertama dan mual-mual dipagi hari menghilang, Vania jadi lebih segar dan wajahnya merona karena terlalu sehat


Kegiatan berjalan-jalan agar Vania bisa berolahraga dilakukan hanya dengan mengelilingi rumah itu. semua dilakukan secara hati-hati dan tetap menjadi rahasia


"Vania harus dibawa keluar, tidak baik untuknya tetap dirumah ini" seru nyonya Granger memandangi Vania yang saat ini sedang berjalan bolak-balik dari ruangan tamu ke dapur lalu balik lagi dari dapur keruang tamu lagi


"Tapi disini cukup sehat nyonya, jauh dari polusi kota" jawab Pak Norman yang ikut memperhatikan gerakan Vania


"Aku tahu, hanya saja jika aku menjadi Vania aku akan mati kebosanan"


" Aku juga" jawab Pak Norman, kali ini menyetujui

__ADS_1


"Apa Julian tidak berinisiatif membawanya keluar ? hanya untuk berjalan-jalan?" tanya Rianty, yang langsung dijawab dengan gelengan kepala dari Pak Norman


"Eeii.. anak itu, tidak kah dia memperhatikan Vania?"


"Tuan muda terlalu sibuk dengan pekerjaannya nyonya"


"Tapi tetap saja, ini kan anaknya" Rianty menghembuskan nafasnya


" Apa aku bawa saja dia keluar?"


"Jangan nyonya.. tuan muda bisa sangat marah padamu"


"Iya kau benar.. tapi kasihan sekali gadis ini, memangnya kau tidak lihat dia seperti anjing yang berjalan mondar-mandir didalam kurungannya"


"Nyonya, apa baru saja anda bermaksud mengatakan Nona Vania seperti peliharaan?"


"Bukan itu.. oh Ya ampun.. kau ini" Pak Norman tertawa pelan


" Saya paham maksudnya nyonya, maafkan saya"


"Oouh..." seruan kaget Vania dari arah dapur membuat kedua orang diruang tamu menolehkan kepalanya waspada, cepat-cepat mereka berlari menghampiri Vania


"Kenapa?" tanya Rianty dan Pak Norman bersamaan. Vania memamerkan cengiran kebahagiaan diwajahnya, membuat kedua orang itu semakin bingung


" Ooh.. sepertinya bayinya baru saja menendangku.. ooh.. datang lagi" Rianty dan Pak Norman terdiam sejenak lalu tertawa bersama-sama, Rianty menghampiri Vania sambil mengulurkan tangannya keperut gadis itu. Merasakan satu pergerakan, kemudian satu lagi. Rianty tertawa ringan


" Dia bukan menendang tapi sedang cegukan"


"Benarkah?" seru Vania takjub


"Eum.. Julian juga selalu cegukan ketika masih didalam perutku. Aah tapi mungkin semua bayi juga sama" Vania mengerutkan alisnya lalu mengusap perutnya pelan


" Apa dia baik-baik saja jika cegukan?"


"Gadis malang, kau pasti merasa bosan didalam rumah ini terus kan?" Vania tersenyum malu


"Tidak apa-apa, aku cukup sehat disini"


"Kau ingin kubawakan sesuatu ketika aku mengunjungimu kesini lagi?"


"Tidak perlu nyonya, aku tidak ingin merepotkan"


" Eeyy.. ini tidak merepotkan" Nyonya Granger mengusap lembut lengan Vania


"Nanti kubelikan kau baju hamil yang cantik-cantik, cemilan yang sehat, ooh.. juga alat merajut, kau pasti senang jika bisa menghabiskan waktu dengan merajut"


" Anda baik sekali nyonya. Terima kasih" Rianty tersenyum dengan tulus. Ingin sekali rasanya ia mendengar Vania berhenti memanggilnya nyonya dan berganti menjadi Mama(mertua).


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


"Aku tidak mengerti tapi aku melihat sedikit perubahan dari tuan Granger" suara Mira terdengar bingung sekaligus penasaran


"Dia jarang sekali marah-marah akhir-akhir ini" Vania mengerutkan alisnya bingung. Apa benar Julian selalu marah-marah?, yang ia kenal Julian adalah pria yang sangat perhatian dan begitu lembut, mudah tersenyum dan tertawa.


Memang diawal-awal Julian terlihat menakutkan, tetapi setelah selama 7 bulan hidup bersama Vania bisa melihat sisi lain dari pria itu


Setiap kali ia menelpon Mira, temannya itu selalu mengeluh karena Julian benar-benar menyebalkan ditempat kerja, selalu secara langsung menegur Mira, sejak kejadian dimana Mira meninggalkan meja resepsionis dan bertengkar didapur, Julian benar-benar menaruh pengawasan pada gadis itu. Sedikit saja kesalahan yang Mira buat akan memancing kemurkaan dari Julian Granger


"Dia benar-benar seperti dijinakkan oleh sesuatu, apa kira-kira yang mengubahnya?" Mira kembali mengungkapkan rasa penasarannya.


Vania mengigit bibirnya, ingin sekali rasanya ia mengatakan bahwa itu semua karena 4 bulan lagi Julian akan mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan. Seorang bayi dan Vania yang bertugas memberikan bayi itu padanya


"Van.. kau mendengarkan aku?"


"Eum.. tentu saja.. bagaimana kabar Ibuku?"

__ADS_1


"Ibumu sehat,dia terus mengatakan padaku dia merindukanmu, bagaimana keadaanmu disana? Bagaimana perutmu? Apa sudah membesar" Vania tersenyum, mengusap perutnya pelan


" Eum.. aku juga semakin gendut"


"Aku ingin sekali melihatnya. Sudahlah, sekarang kau istirahat saja, aku akan mencari tahu apa yang membuat Julian granger terlihat begitu jinak" Mira menutup teleponnya sebelum Vania mengajukan protes, ia tidak bisa melarang Mira untuk menghentikan rasa penasarannya, sedikit saja dia memberikan clue, sahabatnya itu bisa langsung mengerti.


Vania menyandarkan punggungnya disandaran sofa matanya menatap kosong kedepan, ia merasa bosan terus-terusan terkurung dirumah ini. Memang Julian, Pak Norman dan Nyonya Granger selalu membawakan buku-buku baru atau hal-hal baru dari luar untuk menghibur Vania, tetapi Vania tetap merasa bosan. Ia ingin keluar, melihat dunia luar. Berbelanja ke mall atau berkunjung ke taman bermain


Vania menghembuskan nafasnya, ia sudah tidak dibolehkan lagi bermain dengan Lessie, mengingat anjing itu tidak begitu baik untuk kehamilan Vania. Ditambah lagi, musim Hujan sudah hampir tiba, menggantikan musim kemarau. Membuat Pak Norman sibuk dirumah besar, begitu juga dengan nyonya Granger yang disibukkan dengan acara-acara yang sering diadakan diperusahaan


Vania sering mendengar dari Pak Norman bahwa nyonya Granger selalu menjadi nyonya rumah untuk acara pesta-pesta


"Vania..." Vania menolehkan kepalanya kearah pintu, itu suara Julian. Matanya melirik kearah jam, hari masih sore dan pria itu sudah pulang. Cepat-cepat Vania berdiri dan berlari menghampiri Julian.


Julian melebarkan matanya terkejut melihat Vania berlari kearahnya.


"Hei.. apa yang kau lakukan..? jangan berlari" Vania menghentikan langkahnya kemudian tersenyum, tidak pernah ia merasa sebahagia ini melihat Julian pulang


"Tuan sudah pulang?" ujarnya, senyum sumringah terkembang diwajahnya, melihat Julian secepat ini membuat rasa bosan yang tadi menghampirinya lenyap begitu saja


" Eum.. aku harus menghadiri pesta perayaan dikantor, aku pulang untuk berganti pakaian"


"Ooh.." Julian menangkap sedikit nada kekecewaan dari suara Vania


"Kenapa..?" tanya pria itu khawatir


"Tidak..." Vania menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum. Meskipun begitu Julian bisa melihat sedikit ekspresi kesedihan diwajah itu


" Anda mau disiapkan pakaian yang mana?"


" Pilih yang mana saja" jawab Julian, berjalan kekamarnya.


Seperti biasa Vania pun mengikuti Julian sampai ke kamar, setelah hamil Vania tidak diizinkan oleh Julian untuk mengikutinya sampai ke kamar mandi lagi


Vania hanya akan mengeluarkan baju bersih dan pakaian kotor untuk dicuci. Selagi Julian mandi, Vania mulai memilih-milih baju pesta diantara deretan bleazer berwarna-warna gelap. Vania menghentikan tangannya di jas berwarna abu-abu. Kemudian mengambil kemeja berwarna putih dan dasi berwarna biru tua. Serta sapu tangan putih yang terlipat disaku jas itu


Vania selalu bisa melihat Julian dengan balutan pakaian-pakaian mewah tetapi tidak pernah melihat Julian berada ditengah-tengah orang banyak. Vania yakin pria itu akan terlihat sangat mengagumkan diantara orang-orang tersebut.


Vania menyentuhkan tangannya dipermukaan lembut jas itu kemudian meletakkannya diatas tempat tidur, menghembuskan napasnya sedih, sebesar apapun keinginannya untuk melihat pria itu ditengah-tengah pesta,itu tidak akan pernah terwujud. Baik itu sekarang ataupun nanti


Julian memang selalu memakai apapun yang Vania siapkan, meskipun warna yang dipadu oleh Vania terkadang tidak sesuai dengan kesukaan pria itu, Julian tetap memakainya. Itu semua sebagai bentuk menghargai apa yang sudah Wanita itu lakukan padanya, tidak lebih. Pikir Julian


Vania menyimpulkan dasi Julian dalam diam, sesekali matanya menoleh kearah Julian dan tersenyum kecil ketika matanya bertemu dengan mata Julian


Julian tidak menyadari tangannya bergerak menyentuh dagu gadis itu lalu mendongakkan kepala gadis itu menghadap padanya. Ada yang salah dengan ekspresi gadis ini, seperti perasaan kosong dan kesepian


"Mama tidak kesini?" tanya Julian


"Nyonya sedang mengurusi pesta"


"Paman?"


" Paman Norman juga sibuk, sudah.." Vania tersenyum sebagai tanda ia telah selesai meyimpulkan dasi Julian


Julian mengusap dasinya lalu memakai jasnya. Vania mengantar Julian sampai kehalaman rumah, melambaikan tangannya ketika mobil Julian menjauh.


Gadis itu menghembuskan nafasnya sedih, ia ditinggal sendirian lagi dirumah yang sepi itu, seperti sebelumnya Julian akan pulang larut malam setelah menghadiri pesta, dan Vania dilarang untuk menunggunya. Tetapi, tanpa Julian ketahui Vania selalu menunggu didalam kamarnya, setelah mendengar Julian masuk kedalam kamarnya sendiri Vania baru bisa tidur dengan nyenyak.ย 


.


.


.


Mohon saran dan kritiknya๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2