Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 22


__ADS_3

Vania berjalan dengan hati-hati sambil memegang susu hangat itu, agar tidak tumpah, mencapai ruang kerja Julian. Vania tersenyum, Julian mungkin terkejut tetapi Vania tetap akan masuk dan menyerahkan susu ini padanya


Vania berhenti diambang pintu, pintu itu terbuka lebar dan Vania melebarkan matanya terkejut, lagi-lagi ia melihatnya, melihat Julian mencium Angel dengan penuh nafsu, Vania hendak menjauh dari tempat itu ketika ia mendengar kalimat yang membuat dadanya sesak


"Tidak.. jangan. Sudahlah"


"Apa kau mencintai gadis itu?"


"Tidak"


" Kau akan menikahinya?"


"Ya Tuhan, tidak"


"Aku akan menerima anak itu, meskipun ia bukan anakku, aku akan merawatnya dengan baik Lian.."


" Aku tahu kau pasti bisa merawatnya"


Vania membekap mulutnya dari suaranya yang tercekat, jadi Julian akan membiarkan bayi ini dirawat oleh Angel, jadi mereka akan menikah?. Tiba-tiba bayangan Angel menggendong dan membesarkan anaknya terlihat jelas dikepalanya


Airmata menyeruak jatuh kepipinya. Bayangan itu terlihat mengerikan untuk Vania, karena ia sadar anaknya tidak akan pernah mengenalnya, atau memanggilnya ibu. Melainkan Angel


Vania berjalan perlahan-lahan kearah kamarnya, ia meletakkan gelas yang berisi susu hangat itu diatas meja yang berada dilorong itu. Airmata terus jatuh dipipinya, tidak.. ia tidak akan mengizinkan wanita itu menjadi ibu anaknya, tidak akan pernah


"Ini bayiku.. bayiku.." Vania masuk kedalam kamarnya langsung membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan tas miliknya, Vania juga mengeluarkan baju-baju miliknya. dengan tangan gemetar menyimpan baju-bajunya kedalam tas


CEKLLEEEKKK…


Pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok tinggi Julian.Vania mengusap airmatanya, membalas tatapan kebingungan Julian yang melihatnya sedang berkemas


"Apa yang kau lakukan?" Julian mendekatinya dengan mata tidak lepas dari tas dan baju-baju Vania


"Sudah cukup tuan, aku akan pergi"


"Pergi?, apa maksudmu pergi?"


"Aku akan pergi, aku tidak sanggup melakukan ini semua. Aku akan mengembalikan semua uang yang telah kugunakan, semua fasilitas yang kau berikan ketika aku disini, tetapi aku tidak akan pernah menyerahkan bayi ini padamu. tidak akan pernah" dengan suara yang bergetar namun terdengar yakin Vania menyuarakan isi hatinya


"Apaaa..? kau melanggar janjimu?" teriak Julian marah


"Iya… kau bisa memenjarakan aku karena aku melanggar janji, aku tidak takut, aku tidak akan pernah mengizinkan Angel merawat bayiku. Dia anakku" nafas Vania memburu cepat, ini pertama kalinya ia merasa begitu marah, merasa begitu tidak diperlakukan adil


Ia berhak untuk menuntut haknya, bayi ini bayinya, sebagian darahnya mengalir didalam tubuh bayi ini


"Kau lupa? Perjanjiannya adalah kau melahirkan bayi itu untukku, aku sudah mengatakannya padamu dari awal bukan? Dia milikku bukan milikmu?"


"Tapi dia ada dirahimku.. aku yang merasakan mual selama hamil, aku yang merasakan keram, aku yang merasakan tendangan pertamanya, aku yang tahu keadaannya hari ini lebih besar atau tidak. karena itu aku juga berhak untuknya"


" Sial.. kau sudah kuperingatkan untuk tidak pernah jatuh cinta pada bayi itu"


"Dan kau tidak pernah mengingatkan aku untuk tidak jatuh cinta padamu kan?" Julian terdiam, apa baru saja gadis itu secara tidak langsung mengatakan ia mencintai Julian, setelah semua yang Julian lakukan padanya? Gadis itu mencintainya?

__ADS_1


"Aku tidak akan mengizinkanmu untuk pergi"


"Aku tidak meminta izinmu, aku akan pergi"


"Tidak akan pernah kuizinkan kau membawa anakku"


"Tapi dia juga anakku" suara Vania terdengar serak dan memilukan, terlebih lagi airmatanya kembali mengalir membasahi pipinya. Julian, mengeraskan rahangnya. Vania terlihat rapuh, seolah-olah ia bisa jatuh kapan saja


"Dengar, kau sedang kalut. Tenangkan pikiranmu"


"Tidak.. aku baik-baik saja"


"Perjanjiannya sudah jelas bukan?, kau tidak bisa membawa bayi itu. dia milikku. Kau sudah menyetujui itu sejak awal"


"Aku tahu, tetapi aku tidak bisa mengingkari perasaanku sendiri, tuan.. aku juga menyayangi bayi ini. aku akan rela meninggalkan bayi ini padamu jika kau akan merawatnya seorang diri. Kau bilang kau tidak akan menikah seumur hidupmu"


"Vania Anastasha"


"Apa tuan akan menikahi mba Angel?"


"Itu bukan urusanmu"


"Urusanku jika dia yang akan menjadi ibu dari anakku"


"Aku menikahi Angel atau tidak, tidak akan ada yang berubah, aku tetap menginginkan bayi itu"


"Lalu bagaimana denganku?" Julian terdiam lagi, bagaimana dengan Vania? ia belum mengambil keputusan untuk masalah ini. Julian pun belum mengerti perasaan seperti apa yang ia miliki terhadap Vania


"Hal itu sudah jelas dipersyaratan yang kubuat bukan?"


"Tetapi kau tidak bilang bahwa kau akan mengubah pikiranmu ditengah-tengah kesepakatan ini dengan menikahi Mba Angel, karena itu aku juga berhak mengubah pikiranku. Aku tidak akan menyerahkan bayi ini padamu"


"Ya Tuhan, memangnya kau bisa apa setelah pergi bersama bayi itu?. kau bahkan tidak memiliki pekerjaan, apa yang akan kau berikan padanya?"


"Cinta.., aku akan mencintainya dengan sepenuh hatiku"


"Kau pikir aku tidak bisa mencintainya juga..?"


"Tetapi dia lebih membutuhkan aku"


"Tidak, dia lebih membutuhkanku. Aku bisa memberikannya semuanya, cinta, rumah yang nyaman, mainan yang banyak dan kebahagiaan yang sudah pasti. Dan kau? Apa yang bisa kau berikan padanya?, rumah tua, dengan keuangan yang sedikit, belum lagi hutangmu padaku. Dan satu hal lagi, apa kau ingin bayi ini sepertimu? Tidak berpendidikan lalu melakukan hal bodoh seperti ini juga?" Julian menghentikan kalimatnya ketika melihat ekspresi terluka diwajah Vania saat itu juga, ya Tuhan. Kata-katanya begitu kejam. Terluka karena dihina seperti itu membuat Vania semakin yakin akan meninggalkan rumah ini


"Ya.. meskipun begitu, setidaknya anak ini tidak akan menjadi kejam sepertimu karena harta yang kau miliki" Vania menghapus airmatanya


"Kau kejam tuan Granger, aku salah menilaimu.. kau benar-benar tidak memiliki hati" Vania membersitkan hidungnya lalu menatap angkuh Julian


"Aku tidak mau uangmu, aku akan pergi" Vania mengambil tasnya dan bergegas pergi. Julian menahan lengan Vania dengan tangannya


"Tidak. Kau tetap disini"


"Aku tidak akan mematuhimu lagi, uangmu akan kukembalikan"

__ADS_1


"Bagaimana caranya kau mengembalikan uangku?"


"Apa saja.. bekerja serabutan, mengandung bayi orang lain lagi atau melacurkan diri"


"VANIA ANASTASHA…!!!"Bentakan Julian membuat Vania terdiam, Vania lalu terisak oleh tangisannya sendiri, apa yang baru saja ia katakan? Begitu rendah dirinya jika ia melakukan itu. Vania merosot jatuh kelantai dengan hati-hati memegang perutnya yang besar. Gadis itu menangis dengan membekap mulutnya.


Julian duduk berjongkok dihadapan Vania, menyentuh lengan Vania dan memanggilnya dengan nada yang lebih lembut


"Vania.."


"Lepaskan aku" Vania menepis tangan Julian, tidak ingin disentuh oleh pria itu sama sekali. Julian menatap Vania nanar, gadis itu terluka karena dirinya tetapi Julian juga tidak tahu harus berbuat apa


"Kita bicarakan lagi ini besok ya..? kau sedang dalam emosi yang labil"


"Aku ingin pulang" Julian mengeraskan rahangnya


"Kau tidak boleh pulang"


"Aku ingin pulang, tuan.. tolong.."


"Lalu apa yang akan kau katakan pada Ibumu eoh? mengenai kondisimu?"


"Ibu pasti mengerti"


"Kau tidak akan pulang, tidak akan kuizinkan"


"Tuaan.."


"Tidak.." Julian berdiri dan berjalan kearah pintu lalu berteriak


"PAMAN AWASI VANIA" tidak peduli jika dia dibilang egois, ia tidak akan pernah mengizinkan Vania pergi. Tidak akan


Pak Norman datang tidak lama kemudian melihat kondisi Vania yang sedang duduk menangis dilantai. Pak Norman berjongkok disebelah gadis itu, tangannya menepuk-nepuk punggung Vania , bermaksud untuk menenangkan gadis itu


"Nona Vania..Anda kenapa..?"


"Paman, aku ingin pulang.. kumohon, antarkan aku pulang" Vania mengusap airmatanya lalu menatap Pak Norman dengan pandangan memelas. Pak Norman meringis melihat ekspresi itu


"Tapi tuan muda" Pak Norman menoleh kearah pintu, Julian sudah pergi, mungkin sudah kembali ke kamarnya. Majikannya itu bukannya menenangkan Vania malah pergi dan meninggalkan gadis ini sendirian


Pak Norman menoleh lagi kearah Vania, apa ia harus mengabulkan permintaan Vania. Pak Norman tidak tega melihat kesedihan diwajah Vania, bagaimana pun juga Vania terlihat seperti anaknya sendiri.


Tapi bagaimana pun juga Vania tidak bisa pergi dalam kondisi sedang dalam keadaan seperti ini


"Kau lelah, sebaiknya tidur saja" ujar Pak Norman lembut


"Aku bantu ke tempat tidur" Pak Norman membantu Vania berdiri dan duduk ditempat tidur. Gadis itu masih menangis ketika Pak Norman keluar dari kamar itu.


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏


__ADS_2