Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 7


__ADS_3

Dalam keadaan bingung Vania menoleh kearah Julian, pria itu menggerakkan tangannya agar Vania segera pergi ke kamarnya


Vania pun berjalan ke arah kamarnya dengan sesekali menoleh kebelakang, apa Julian akan mengikutinya?. Yaa. Pria itu mengikutinya, berjalan dibelakangnya dengan tatapan mata yang tidak lepas dari Vania


Melewati ruang tamu Vania berpapasan dengan Pak Norman, Vania hendak menghentikan langkahnya ketika Julian memerintah lagi


" Terus berjalan ke kamarmu" Vania pun hanya menundukkan kepalanya kepada Pak Norman


"Selamat malam Paman"


"Selamat malam Nona, mimpi indah" balas Pak Norman,tersenyum kepada gadis itu


"Pulanglah kerumah Mama" kali ini Julian memberikan perintah kepada Pak Norman. Langkahnya tidak berhenti mengikuti Vania sekalipun sedang berbicara kepada Pak Norman


"Apa kau ingin aku kesini besok pagi untuk membangunkanmu seperti biasa?"


" Ya.. jangan terlambat, ada rapat besok pagi"


"Baiklah" Pandangan Pak Norman tidak lepas dari Vania dan Julian. Majikannya terang-terangan berjalan mengikuti gadis itu ke kamarnya


Pak Norman memutar tubuhnya berjalan kearah luar, senyum terus terukir diwajahnya sepanjang perjalanannya pulang kerumah utama


Vania melirik kearah Pak Norman yang menghilang dibalik pintu lalu menoleh kebelakang kearah Julian yang masih mengikutinya, wajahnya memerah seketika sadar bahwa Julian bermaksud mengikutinya sampai kekamarnya


Vania membuka pintu kamarnya lalu masuk, memutar tubuhnya sambil memegang pintu. Melihat Julian berjalan masuk melalui pintu yang terbuka, Julian mengambil alih pintu itu dari tangan Vania lalu menutupnya. Ada jeda beberapa detik saat mata mereka bertemu, Vania menekankan kedua tanganya didepan dada menjaga agar jantungnya tidak melompat keluar dari tubuhnya


Tatapan Julian mematikan dan membuatnya tidak berkutik, Vania mundur selangkah ketika Julian maju selangkah, lalu mundur lagi ketika Julian terus melangkah maju hingga akhirnya kaki Vania berbenturan dengan tepian tempat tidur, membuat Vania limbung dan hampir jatuh jika Julian tidak menahannya cepat dengan melingkarkan tangannya dipinggang gadis itu


Julian menunduk cepat sebelum Vania sadar dari keterkejutannya yang dipeluk tiba-tiba, ia mencium bibir Vania dengan keahlian yang memabukkan. Vania memejamkan matanya dibawah tekanan bibir dan lidah Julian, ia mengerang ketika Julian mengigit bibir bawahnya dan lidahnya menjelajah mulutnya


Tangan Julian bergerak cepat menarik kaos Vania. Julian melepaskan ciumannya hanya agar ia bisa melepaskan kaos itu melalui kepala Vania. Julian melemparkan kaos itu kesembarang tempat kemudian kembali mencium Vania


Tangannya meraih benda kenyal didepan gadis itu, merem**nya pelan, membuat Vania mendesah. ******* Vania membuat Julian menjadi gila, ia berusaha bertahan dari desakan tubuhnya yang meminta untuk langsung dipuaskan, tetapi ia harus bersabar karena ini pengalaman pertama Vania


Julian melepaskan ciumannya, lalu turun mencium puncak benda kembar Vania yang telah ia bebaskan dari kurungan bra. Vania semakin mende**h nikmat dibuatnya, ia tidak pernah tahu dicium dan digerayangi seperti ini akan membuatnya melayang dan mabuk kepayang


Julian mengigit pelan puncak Benda kenyal itu, membuat Vania memekik pelan, mencengkeram rambut Julian


Julian mengerang mendengar Vania menjerit nikmat, membuat pertahanannya runtuh

__ADS_1


"Berbaringlah" Julian menurunkan Vania ditempat tidur, mengatur posisi gadis itu agar nyaman ditempat tidur, lalu membebaskan Vania dari sisa pakaian yang melekat padanya


Julian membungkuk diatas Vania mengecup pelan pelipis gadis itu lalu turun keleher putih gadis itu, melewati aset kembarnya dan berhenti diperut Vania


Vania melebarkan matanya terkejut, mendapati Julian berada diatas perutnya, begitu dekat dengan daerah kewanitaannya


" Tuan, kau mau ap..."


"Sssttt.." Julian menyentuhkan jari telunjuknya dibibir Vania, dengan tangannya yang lainnya me*****kan kaki Vania. terkejut Vania pun berusaha menyatukan kakinya menutup daerah kewanitaannya


" Jangan takut, lepaskan kakimu"


"Tapi ini memalukan" Vania bertahan dari tangan Julian yang berusaha me****kan lagi kakinya


" Tidak perlu malu, percayalah padaku" Julian naik, mengecup pelan bibir Vania


" Lepaskan kakimu" bisiknya. Vania memejamkan matanya malu lalu membuka tautan kakinya pelan-pelan, Julian kembali pada tujuan awalnya dibawah sana, lalu mulai bekerja


Vania melengkungkan tubuhnya keatas merasakan sensasi aneh, menyiksa dan nikmat. Ia mencengkeram seprai dengan kuat, dan mendesah. Tiba-tiba tubuhnya merasakan sesuatu yang mendesak untuk segera dicapai, kakinya melengkung, cengkraman tangannya diseprai semakin kuat lalu gelombang kenikmatan itu datang.Vania memekik lagi sebagai jawaban dari pencariannya


Nafas Vania tersengal-sengal. Julian kembali membungkuk diatasnya sambil mengusap tepian bibirnya yang basah


" Sekali lagi"ujar Julian. Belum selesai Vania mengatur nafasnya Julian kembali bermain dengan daerah paling sensitivenya


"Kau harus melemaskan tubuhmu jika kau tidak ingin merasa sakit ketika aku mema****mu nanti"


"Tapi bagaimana?"


"Jangan menahannya" Julian mengusap pelipis Vania pelan, menguraikan kerutan yang ada disana


" Nah.. begitu" Julian tersenyum menunduk dan mencium Vania. Tahu sebentar lagi gadis itu akan mendapatkan kenikmatan untuk kedua kalinya, tepat ketika Julian meraub bibir Vania gadis itu menjerit lagi


Julian menarik tangannya lalu duduk melepaskan baju dan celananya dengan cepat, ia sudah tidak bisa bertahan lagi, setelah memberikan kepuasan kepada gadis itu, bagian dari tubuhnya juga minta dipuaskan


Julian duduk diantara kedua kaki Vania lalu membungkuk diatas Vania lagi. Gadis itu masih berusaha mengatur nafasnya ketika Julian mendekatkan inti tubuhnya pada milik Vania.


"Sudah saatnya tubuhmu menerimaku" Julian mendorong pelan pusakanya masuk. Vania mengernyitkan hidungnya, rasanya berbeda dengan ketika Julian memasukkan ****nya. Ini lebih besar dan lebih sakit


" Jangan menahannya Vania, biarkan aku masuk" bisik Julian, mengusap pelan kepala Vania

__ADS_1


Vania berusaha sebisa mungkin untuk melemaskan tubuhnya


"Tapi ini sakit" jawabnya


"Aku tahu, sedikit lagi"Vania berusaha sebisa mungkin untuk menahan desakan dibawah tubuhnya, matanya bertemu dengan mata Julian, melihat betapa lembutnya wajah Julian ketika mencoba meredakan rasa sakit itu


Vania memejamkan matanya, memasrahkan diri kepada Julian, ia percaya Julian tidak bermaksud menyakitinya. Julian lega karena Vania sudah tidak menahan diri lagi, ia mendorong pelan hingga masuk seluruhnya


Vania terkesiap kaget sambil menahan nafasnya, ketika rasa sakit itu lebih kuat dari sebelumnya. Julian berhenti sejenak, memberikan waktu kepada Vania untuk menyesuaikan tubuhnya, setelah Vania tidak lagi mengerutkan alisnya, Julian mulai bergerak perlahan


Vania mengerang sakit, lalu men****h nikmat. Rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuhnya. Vania memegangi lengan Julian yang berada dikedua sisi tubuhnya, terus men****h nikmat, membuat Julian semakin bergerak cepat


Rasa Vania ternyata jauh lebih nikmat dari gadis-gadis yang sering ia kencani sebelum ini. Julian belum akan puas jika ia belum mendapatkan pelepasan, ia bergerak cepat, membuat seluruh tubuhnya berguncang bersama dengan Vania.


Julian mencari-cari bibir Vania dan menciumnya lagi, dalam satu gerakan iapun sampai bersamaan dengan Vania. Julian melepaskan bibirnya dari Vania lalu menyandarkan kepalanya dibantal yang berada dibelakang Vania. Bernafas dengan tersengal-sengal.


Julian berdiam diri untuk sejenak, ini pertama kalinya ia merasa begitu kelelahan dan puas. Tidak ada yang pernah membuatnya gila seperti ini, Julian menolehkan kepalanya kearah Vania yang juga sedang mengatur nafasnya. Mungkinkah karena gadis ini adalah gadis yang menyerupai Angel? Pikir Julian. atau ada hal lain dari dalam diri gadis ini yang membuat Julian bisa merasakan kepuasan yang seperti ini


Julian melepaskan tautan tubuh mereka dan menjauh dari Vania, bermaksud untuk kembali ke kamarnya, tetapi tubuhnya terlalu lelah untuk berjalan ataupun berdiri dari tempat tidur, karena itu Julian memutuskan untuk membaringkan dirinya sejenak ditempat tidur itu


Julian berbaring menelungkup dengan kepala memandangi wajah Vania. matanya pelan-pelan terpejam dan tertidur detik berikutnya.


Vania menoleh kearah Julian yang berada disebelahnya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, setelah memastikan Julian memang tertidur, Vania beranjak dari tempat tidur dan berjalan kekamar mandi mengabaikan rasa ngilu di daerah kewanitaannya


Vania membersihkan dirinya dengan air hangat, mengelap bagian-bagian tubuhnya yang terkena cairan tidak berwarna dan juga noda merah yang menandakan bahwa keperawanannya telah hilang. Jadi ini sudah selesai? Ia sudah tidak gadis lagi, Vania perlahan mendudukkan diri di toilet duduk, memandangi dirinya dari cermin besar yang berada didepannya. Airmata bergulir turun dipipinya menerima kenyataan itu. Dia sudah tidak gadis lagi, pikiran itu terus melayang-layang dikepalanya, ia sudah benar-benar melakukannya


Setelah ini Vania akan hamil dan mengandung selama sembilan bulan, melahirkan dan akhirnya pergi meninggalkan bayinya dan juga Julian. Vania menoleh kearah pintu yang menghubungkannya dengan pria itu


Ia tidak pernah tahu bahwa Julian bisa selembut itu memperlakukannya, mungkinkah karena ini adalah pengalaman pertamanya?. Vania mengusap airmata dipipinya, meskipun ia harus kehilangan keperawanannya. Vania tetap bersyukur karena ini tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya, awalnya memang terasa sakit tapi setelahnya Julian membawanya kesurga yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. dan Vania merasa bersyukur bahwa Julianlah yang pertama untuknya, Karena pria itu begitu lembut dan tidak memaksanya


Vania menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Akhirnya setelah ini semua terjadi ia hanya tinggal menunggu dirinya hamil.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Keesokan paginya Vania bangun pagi-pagi sekali, ini bukanlah kebiasaan Vania untuk bangun pagi, tapi ada sesuatu yang mengganggunya hingga ia harus bangun lebih pagi


Hari sudah menunjukkan pukul enam pagi dan Julian belum juga bangun. Vania sedang berdiri disisi tempat tidur memandangi sosok Julian yang bagian punggungnya tertutupi oleh selimut, tadi ketika ia bangun ia dikejutkan dengan penampilan Pria itu yang masih telanjang, cepat-cepat Vania menyelimuti Julian lalu mandi


Setelah mandi Julian tetap belum bangun dari tidurnya. Tidak masalah jika Julian ingin bangun lebih lama, hanya saja Pak Norman akan segera datang untuk membangunkan Julian dan Vania tidak ingin Pak Norman menemukan Julian ditempat tidurnya, Vania tidak akan pernah bisa menatap Pak Norman karena malu setelah ini

__ADS_1


Vania mengulurkan tangannya hendak memanggil Julian tapi mengurungkan niatnya, pria itu tidur seperti bayi, wajah tampannya terlihat seperti malaikat ketika sedang tidur, membuat Vania atau siapapun tidak akan tega membangunkannya.


Mohon kritik dan sarannya๐Ÿ™


__ADS_2