
Disebuah hotel yang cukup mewah terdengar suara langkah kaki yang berlari terburu-buru, Mira tengah berlari sambil menarik tangan Vania bersamanya. Semua yang berada dihotel itu menatap mereka dengan pandangan meremehkan, orang seperti apa yang berlari-lari dihotel mewah?
"Mira.. sebenarnya kau mau membawaku kemana?" Vania menundukkan kepalanya ketika seseorang memberikan tatapan tidak sukanya
"Ikuti saja aku, aku punya pekerjaan besar untukmu. Aah.. liftnya mau tertutup" Mira masuk dengan cepat sebelum pintu lift tertutup, membuat Vania sedikit membentur pintu lift itu
"Aah.. maaf,kau baik-baik saja..?" Vania mengusap lengannya yang sakit dengan alis berkerut selagi Mira menekan tombol lantai yang mereka tuju
"Sebenarnya ada pekerjaan apa sih?, aku bisa dipecat jika aku membolos dari rumah sakit"
"Tenang saja, ini pekerjaan yang sangat besar, dan kau pasti akan menyukainya"
"Pekerjaan seperti apa?"
"Gaji yang cukup besar"
"Kenapa dihotel seperti ini?. Tunggu, kau tidak bermaksud menjualku kepada om-om mesum kan?"
"Eeyy.. jika itu niatku sudah kulakukan sejak dulu"
Vania tertawa lalu meminta maaf, ia terlalu merasa bingung karena itu mengucapkan lelucon untuk menenangkan kebingungannya. Vania menatap nomor digital yang menunjukkan nomor-nomor lantai yang mereka lewati, sebenarnya kemana Mira akan membawanya. Lalu kenapa harus di Hotel? Siapa yang memberikan Mira pekerjaan lain?
"Hotel apa ini?" tanya Vania tiba-tiba. Mira diam tidak menyahuti Vania
"Mira.."
TING.. pintu lift terbuka membuat pertanyaan Vania menggantung diudara
__ADS_1
"Ayo.." sekali lagi Mira menarik tangan Vania agar mengikutinya, Mira berhenti di pintu bernomor 209 lalu menekan bel kamar itu. tidak menunggu lama pintu itupun terbuka, menampilkan sosok beberapa wanita didalam sana
"Aku sudah tiba" Vania masuk kedalam kamar itu karena tangannya terus ditarik oleh Mira, matanya menatap takjup isi kamar itu. Ia tahu dibeberapa hotel pasti akan ada kamar kelas satu, tapi yang ia lihat sekarang bukan sekedar kamar kelas satu biasa, bahkan di hotel tempatnya bekerja dulu kamar sebesar ini tidak ada
"Vania.. kenapa kau tidak mandi dulu? Baumu seperti bau pembersih ruangan" Vania mengendus pakaiannya lalu memberengut menatap Mira
"Aku kan memang bekerja membersihkan ruangan" Mira terkikik sebentar lalu mendorong Vania agar masuk kedalam kamar mandi
"Mandilah.. cepat.." Vania menahan dirinya dengan berpegangan ditiang pintu
"Mira.. jelaskan dulu padaku, sebenarnya apa yang akan kita lakukan disini?. Kau tidak bermaksud menjualku kan?"
"Eey.. dasar bodoh..? mana mungkin aku melakukannya"
"Tapi tetap saja, apa sebenarnya yang ingin kau lakukan"
"Baiklah.. akan ku katakan..hari ini kita akan menjadi waiters, dan harus berdandan cantik agar kita tidak mempermalukan tuan rumah dari pesta itu"
"Sudahlah, cepat mandi" Mira berhasil mendorong Vania masuk dan langsung menutup pintu kamar mandi itu. Vania menatap pintu yang tertutup itu bingung, kenapa sepertinya Mira tidak berkata jujur padanya. Dan Vania pun tidak berani untuk menebak apa yang sebenarnya yang sedang Mira rencanakan.
Tidak ingin memikirkan itu Vania pun memutuskan untuk mandi, seperti yang diperintahkan oleh Mira. Selesai mandi Vania tidak menemukan Mira dikamar yang besar itu, kamar itu terdiri dari ruang tamu yang besar dan dua kamar yang ukurannya lebih besar dari rumahnya dan Mira. Vania bertanya dimana keberadaan Mira kepada beberapa wanita yang terlihat rapih dengan seragam mereka
"Nona Mira sedang dipersiapkan dikamar sebelah, sekarang anda juga harus dipersiapkan" begitulah yang dijawab oleh salah satu wanita berseragam itu.
Vania bertanya-tanya sebenarnya apa pekerjaan wanita-wanita ini, mereka merapikan rambut Vania dan mendandaninya. Dan lagi-lagi Vania merasa sesuatu yang janggal, untuk apa waiters berdandan seperti ini?.
Selesai berdandan Vania diharuskan memakai sebuah dress berwarna pink pastel dengan rok yang mengembang diatas lutut. Meskipun ragu-ragu Vania tetap memakai baju itu dengan patuh. Baju itu terasa pas ditubuhnya, Vania pun berjalan kearah cermin dan terdiam memandangi pantulan dirinya. Rambutnya terurai indah dibelakang punggungnya, bergelombang membentuk ikal-ikal kecil dibagian ujungnya, sebuah sirkam bermutiara tersemat diatas rambutnya.
__ADS_1
"Ini aku..?" bisik Vania terkejut, tidak mungkin dirinya terlihat begitu cantik seperti ini
"Anda sangat cantik nona, kami permisi"
"Tunggu, dimana Mira?"
"Teman anda akan menyusul" setelah menjawab Vania, para wanita itupun akhirnya pergi, meninggalkan Vania sendirian.
Sekali lagi Vania menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya memang terlihat cantik, tetapi jika diamati Vania masih bisa melihat guratan kelelahan dan mata yang lelah. Vania pun tertawa pelan
"Setidaknya aku masih mengenali mata itu" bisik Vania
"Terlihat seperti diriku yang biasanya" Vania memutuskan untuk menunggu Mira sambil mengelilingi ruangan itu, tidak ada salahnya memanjakan penglihatannya dengan melihat benda-benda yang indah dikamar itu, Vania melihat ada tv yang berlayar sangat lebar, kulkas yang berisi penuh oleh makanan dan peralatan dapur yang lengkap. Vania yakin harga kamar ini lebih mahal dari satu apartemen sekalipun
CEKLEEK..
Vania menoleh ke arah suara pintu terbuka, ia melangkahkan kakinya mendekati pintu kemudian menaikkan alisnya melihat roomservise sedang mendorong kereta dorong yang berisikan makanan. Sebenarnya Vania ingin bertanya untuk apa makanan itu, tetapi ia tidak punya hak untuk bertanya. Mungkin untuk seseorang, batin Vania.
Tanpa mempedulikan Vania, para room servise itu pun menghidangkan makanan itu diatas meja bundar yang terletak didekat jendela kaca. Selesai menata meja itu, room servise itu pun pamit kepada Vania lalu pergi. Vania masih tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi, dimana Mira? Dan kenapa ia ditinggal sendirian dikamar itu.
Vania menoleh kearah meja yang sudah tertata rapi itu, makanan mewah tertata indah diatas meja itu, pelayan itu tadi bahkan menghidangkan sebotol wine diatas meja itu.
Vania menelan salivanya pelan, rasa lapar tiba-tiba menghampirinya. Vania menggelengkan kepalanya lalu berjalan kearah jendela, melihat ramainya kota dimalam hari dari balik jendela itu. Vania bisa melihat cahaya lampu dari bangunan-bangunan tinggi disekitarnya, serta lampu-lampu yang menyorot dari mobil-mobil. Sungguh, itu pemandangan yang tidak pernah Vania lihat sebelumnya.
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏