Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 35


__ADS_3

Gadis itu sudah berlari kearah lift, dan sialnya pintu lift terbuka. Vania masuk kedalam lift dan menekan tombol menutup lift beberapa kali, Vania bisa melihat Julian sudah semakin mendekat, dan terlambat untuknya keluar dari lift itu dan berlari ke tangga darurat. Julian menahan pintu lift dengan kedua tangannya, matanya menatap geram Vania


"Gadis licik, kau menipuku" sebuah senyuman menakutkan tersemat diwajah Julian. yang membuat beberapa orang didalam lift itupun bergidik ngeri. Vania menelan salivanya melihat senyum itu


"Aku harus pergi, anda bersikap aneh"


"Aku hanya mencoba menjelaskan padamu tentang perasaanku"


"Tuan, aku yakin kau sudah gila"


"Ya.. aku sudah gila.. gila karenamu. Kemarilah" Julian menarik tangan Vania agar keluar dari pintu lift. Vania menahan dirinya dan mencoba melepaskan pegangan tangan Julian, tangannya memegang pegangan pada lift yang menempel didinding dalam lift itu


"Aku tidak mau, anda bersikap aneh. Tolong aku" Vania menatap seorang pria yang memakai seragam hotel yang berada didalam lift itu. pria itu terkejut sejenak lalu mencoba untuk menengahi pertengkaran Vania dan Julian


"Tuan.. wanita ini tidak ingin ikut bersamamu" ujar pria itu. Julian menatap marah kearah pria itu. Menyadari siapa yang ada dihadapannya pria itu pun diam dan menundukkan wajahnya Julian kembali menoleh kearah Vania, baiklah jika gadis ini bersikeras ingin tetap didalam lift.


"Kalian semua keluar" perintah Julian yang langsung dipatuhi oleh pria dan beberapa orang yang didalam lift itu. Vania melebarkan matanya terkejut melihat Julian masuk kedalam lift dan orang yang menjadi harapannya untuk menolongnya pergi dari lift itu.


Pintu lift tertutup dibelakang Julian, sekarang Vania tidak bisa berkutik lagi karena Julian mendorong tubuhnya hingga punggung gadis itu berbenturan dengan tembok dan mengurungnya dengan kedua lengannya, tidak ada jalan keluar untuknya kabur


"Kumohon, lepaskan aku"


"Kau yang memilih cara seperti ini untuk berbicara, aku sudah menawarkan makan malam mewah tapi kau malah kabur" Julian menengadahkan wajah Vania yang menunduk dengan mengangkat dagu Vania


"Apa masalahmu Vania.. kenapa kau jadi takut seperti ini padaku?"


"Aku tidak takut, aku hanya tidak suka berdekatan dengan anda"


"Kenapa..?"


"Karena itu merusak cara kerja jantungku" pekik Vania dalam hati


"Aku hanya tidak suka, tolong menjauhlah" Vania mendorong dada Julian dengan kedua tangannya, dari situlah Vania bisa mendengar debaran jantung Julian yang juga berdetak cepat.


Vania menatap Julian bingung. Apa itu karena ia habis berlari atau.. Mereka terdiam lama dan hanya saling bertatapan, pintu lift terbuka menampilkan beberapa orang yang hendak masuk, namun melihat mereka berdua orang-orang tidak berani untuk masuk, bagi mereka yang melihat, Julian dan Vania sedang terlihat seperti sedang bermesraan.


Pintu lift kembali tertutup dan bergerak turun lagi. Vania yang pertama kali memutuskan kontak mata mereka, gadis itu menolehkan matanya kesamping dengan canggung


"Tuan Granger, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi aku yakin kau sedang tidak dalam kondisi yang bagus.. anda mungkin.."

__ADS_1


"Aku mencintaimu.." Vania terdiam, kalimatnya menggantung begitu saja ketika Julian mengucapkan kata yang selalu ia bisikkan setiap malam ketika ia merindukan Julian dan bayi mereka


"Apa..?" Julian mengusap pipi Vania lembut


"Aku bilang aku mencintaimu, apa masih tidak terdengar jelas? Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu.. harus berapa kali aku mengatakannya? Aku mencintaimu.."


"Kau tidak mungkin mencintaiku" Vania memotong ocehan Julian


"Kenapa aku tidak mungkin mencintaimu?"


"Karena kau mencintai Mba Angel" Julian kembali menjadi geram


"Sudah lama aku berhenti mencintainya, Vania.. sekarang hanya ada dirimu dihatiku"


"Tidak mungkin, aku tidak percaya.."


"Kalau begitu percayalah.." Julian menundukkan wajahnya, menempelkan kepalanya dikepala Vania


"Ya Tuhan, aku benar-benar merindukanmu" Julian melingkarkan tangannya dipinggang Vania lalu sekali lagi memeluk gadis itu. Vania masih menekan dada Julian dengan tangannya mencoba menjaga jarak diantara mereka berdua.


Mengabaikan hal itu Julian semakin menundukkan wajahnya, menyentuhkan hidungnya dipermukaan lembut pipi Vania kemudian turun keleher dan bahu Vania yang terbuka. Sudah lama ia merindukan saat-saat seperti ini menghirup aroma Vania dan mencium setiap jengkal tubuh Vania


"Vania.." bisikan itu terdengar lembut dan membuai siapa saja yang disebut namanya dengan suara itu


Julian berhenti diatas bibir Vania yang terbuka, mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum benar-benar mempertemukan bibir mereka dalam sebuah ciuman. Julian mengecup pelan bibir Vania, tapi bibirnya mendarat dipipi gadis itu karena Vania memalingkan wajahnya dengan cepat.


Julian mengeram pelan namun ia tetap menghormati Vania dengan tidak memaksa gadis itu. Gadis itu mungkin masih terkejut dan belum siap dengan pengakuan cintanya. Jika saja tadi Vania mau menemaninya makan, Julian tidak akan langsung mengatakan ia mencintai gadis itu


"Makanan yang kusiapkan mungkin sudah dingin, kau ingin makan di tempat lain?"


"Tidak.."


"Tidak mau makan?, lalu kau mau apa?"


"Aku ingin pulang" Julian mengeratkan pelukannya


"Kita baru bertemu, kenapa kau sudah ingin pulang?"


Melihat ekspresi Vania yang masih terkejut dan bingung, Julian pun menyerah. Julian bermaksud untuk mendekati Vania seperti seorang pria terhormat mendekati seorang wanita, tetapi setelah melihat gadis ini menolaknya, Julian harus mengubah rencananya. Tapi ia tidak akan memulainya sekarang

__ADS_1


"Baiklah.. kau ingin pulang..? kuantar" Julian melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Vania


"Tidak perlu, aku akan pulang dengan Mira"


"Mira sudah pulang"


"Jadi benar, kalian sudah saling mengenal?"


"Dia pegawai yang merepotkan, aku hampir saja memecatnya ketika aku melihatnya sedang bersama denganmu" Julian menarik Vania keluar dari lift ketika pintu lift terbuka di lobi bawah


"Kenapa kau tidak pernah bilang bahwa kau dulu pernah bekerja di hotelku?"


"Anda tidak pernah ingin tahu" jawab Vania mengingatkan


"Kau benar, dan lagi-lagi itu semua karena salahku"


Di lobi hotel orang-orang melihat Julian dengan tatapan penasaran, siapa gerangan wanita yang sedang digandengnya itu. Melihat tatapan penasaran itupun Vania mencoba menarik lepas tangannya. Julian mendesis pelan melihat Vania yang mencoba melepaskan tangannya


"Berhenti meronta"


"Orang-orang melihat kita tuan"


"Biarkan saja mereka melihat" seperti apa yang Julian katakan, ia tidak peduli ada berapa banyak orang yang melihatnya, Julian berhenti di pintu depan hotel dan menunggu mobil pribadinya dibawa kehadapannya, Julian membuka pintu mobil itu dan menyuruh Vania duduk didalamnya, dengan cepat Julian pun berlari memutari mobil dan masuk kedalam bangku kemudi.


Julian menjalankan mobil itu keluar dari halaman hotel, matanya melirik kearah Vania yang duduk disebelahnya dalam diam. Entah kenapa reaksi Vania begitu mengejutkannya, ia tidak tahu bahwa Vania akan menghindarinya dan benar-benar menolak untuk berbicara dengannya


"Kau benar-benar tidak ingin makan sesuatu?, bukankah hari ini kau belum makan" Vania menggelengkan kepalanya menjawab Julian


"Bagaimana kabar ibumu?" Julian kembali bertanya ia tidak suka jika Vania hanya berdiam diri saja


"Vania.." panggil Julian, pria itu kemudian menghembuskan nafasnya pasrah, karena itu sepanjang perjalanan pun mereka hanya bisa membisu.


Setibanya dirumah Vania pun, gadis itu langsung masuk tanpa menoleh ataupun berbicara kepada Julian sedikitpun. Julian mengusap tengkuknya menenangkan sarafnya yang tegang kemudian berjalan menuju mobilnya


"Ini tidak akan mudah"


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏


__ADS_2