Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 37


__ADS_3

Akhirnya hari itu Vania bekerja tidak menggunakan seragamnya, hanya memakai celemek putih dan penutup rambut agar ia tetap steril ketika membersihkan kamar-kamar rawat inap dirumah sakit.


Pekerjaannya membuat Vania harus membersihkan berbagai macam jenis kotoran, ia harus memakai masker kemanapun ia pergi


"Vania Anastasha" Vania menoleh kebelakang, kearah rekan kerjanya yang memanggilnya diambang pintu


"Iya..?"


"Suster kepala memanggilmu"


"Kenapa..?" Vania mendekati rekan kerjanya, bertanya-tanya kenapa ia dipanggil oleh suster kepala


"Entahlah, kau hanya dipanggil untuk menemuinya" Vania menurunkan maskernya sambil berjalan kearah ruangan para suster, firasatnya mengatakan bahwa kemungkinan dia akan dipecat, selalu seperti itu.


Vania menghembuskan nafasnya pasrah, cepat atau lambat hal seperti ini selalu terjadi setahun belakangan ini, padahal Vania sudah merasa betah dengan pekerjaan ini, tapi lagi-lagi ia harus dipecat. Apa karena ia menghilangkan seragamnya hari ini?. aah entahlah.


Vania mengetuk pintu ruangan kepala suster lalu masuk setelah mendengar suara suster kepala yang menyuruhnya masuk


"Suster kepala memanggilku?"


"Iya..Vania, masuklah" Vania melangkah masuk berdiri tidak jauh dari wanita yang menjadi kepala suster disana, yang bertugas mengurus pekerjaan para suster termasuk pekerjaan para pembersih ruangan seperti dirinya


"Ada apa memanggilku suster?"


"Begini, mulai hari ini kau dibebas tugaskan"


"Maksudnya?"


"Kau tidak perlu bekerja lagi dirumah sakit ini"


"Tapi kenapa..?"


"Karena, pagi ini tuan Julian Granger mendatangiku secara langsung dan memintaku untuk memberhentikanmu"


"Apa..?"


"Karena itu, sekarang kau pulanglah" Vania tidak mengerti kenapa Julian meminta kepala suster untuk memecatnya, sebenarnya apa masalah pria itu?, kenapa sekali lagi ia harus dipecat karena dirinya?


Vania keluar dari rumah sakit dengan keadaan sedikit kesal, kenapa pria itu harus memecatnya, sebenarnya apa masalah Julian? toh Vania tidak bekerja di hotel miliknya lagi. Vania berjalan menyusuri trotoar dijalanan, pikirannya melayang kemana ia harus mencari pekerjaan yang lain?, karena bekerja dirumah sakit ia memutuskan untuk berhenti di restoran makanan lokal, sekarang dia sama sekali tidak memiliki pekerjaan.


Vania berdiri di zebra cross, menunggu lampu tanda untuk penyeberang kaki menyala, matanya menerawang jauh hingga tidak menyadari seseorang yang berdiri disebelahnya


"Kenapa wajahmu terlihat kesal?" Vania menolehkan kepalanya terkejut kesumber suara itu, ia tidak salah dengar dan juga tidak salah melihat, Julian Granger sedang berdiri disebelahnya


"Apa yang anda lakukan disini?"


"Aku..? pagi tadi aku berangkat dari rumah menuju rumah sakit dan meminta kepala suster disana memecatmu, lalu setelahnya membuntutimu sampai kesini"


"Apa masalahmu hingga kau harus meminta kepala suster memecatku?" Julian menaikkan alis kanannya

__ADS_1


"Tentu saja karena aku tidak mau kau bekerja dirumah sakit itu" Vania mendesahkan nafasnya dengan berlebihan


"Lupakanlah, aku akan mencari pekerjaan baru" Lampu untuk pejalan kaki menyala,Vania pun melangkahkan kakinya kedepan


"Kau tidak akan bekerja dimanapun lagi" Julian berjalan menyusul Vania


"Kau tidak berhak melarangku" Setibanya diseberang jalan Julian menahan tangan Vania dan membalik gadis itu cepat


"Kau bekerja untuk mengembalikan uang yang kau gunakan untuk biaya operasi Ibumu kan? aku tidak menginginkan uang itu, jadi berhentilah bekerja"


"Aku tidak butuh uang santunan darimu" Vania mencoba untuk melepaskan tangannya


"Itu bukan santunan, anggap saja itu uang kuberikan karena rasa cintaku padamu, Ibumu adalah ibuku juga. Sekarang ikut aku" Julian menarik tangan Vania berjalan menuju mall yang berada tidak jauh dari sana. Salah satu mall milik Julian


"Heii.. tuan Granger, kau menyakitiku, lepaskan aku"


"Oho.. Vania Anastasha, aku tidak akan termakan tipuanmu lagi, tanganmu tidak akan pernah kulepaskan" Vania menggeliatkan lagi tangannya mencoba melepaskan diri dari Julian tapi gagal, gerakannya itu membuat Vania menjadi tontonan diantara orang-orang karena itu Vania pun diam dan mengikuti langkah Julian


"Kau mau membawaku kemana?" Julian menoleh kepadanya lalu tersenyum


"Kencan"


"Apa..?"


"Kau tidak mendengarku? Aku bilang kita akan kencan"


"Tuan Granger, aku rasa itu bukan ide yang bagus. Orang-orang akan melihatmu berjalan bersamaku, kau akan malu" Julian menghentikan langkahnya


"Tuan Granger, sepertinya kau masih butuh waktu untuk menenangkan pikiranmu, kalimat bahwa kau mencintaiku itu sungguh menggelikan"


"Benarkah?" Julian menarik tangan Vania kuat hingga gadis itu harus membentur dada Julian, dengan cepat Julian mengalungkan lengannya dipinggang Vania


"Bagiku tidak, tapi aku tahu apa yang bisa membuatmu geli, aku tahu dimana titik dibagian tubuhmu yang tidak tahan geli, yaitu disini" Julian menunduk dan meniup pelan dibelakang telinga Vania, gadis itu langsung menjauh karena geli membuat Julian tertawa pelan


"Lalu disini" tidak berhenti, Julian pun melanjutkan aksinya dengan meraba perut Vania, hampir menyentuh ****dara gadis itu. Vania menahan nafasnya karena sesuatu yang menggelitiknya ketika Julian menyentuhnya disana.Julian tertawa lagi


"Ada banyak tempat tapi tidak akan kutunjukkan disini, banyak orang yang melihat" Julian tertawa sambil menarik tangan Vania lagi, niatnya tetap mengajak gadis itu masuk kedalam mall.


Pria itu tidak berhenti tersenyum bahkan ketika masuk kedalam mall itu, perasaannya terlalu gembira karena saat ini Vania berada disebelahnya, hingga tidak menyadari kecanggungan Vania. Vania menundukkan wajahnya malu karena orang-orang menatapnya. Tentu saja, siapapun pasti menatapnya dengan tatapan heran.


Seorang pria tampan bergaya sangat elegan menggandeng seorang wanita miskin dengan pakaiannya yang seadanya.


Mall itu memiliki air mancur kecil ditengah-tengah ruangannya, bentuk kolam air mancur itu bundar ada beberapa orang yang sedang duduk dipinggirannya, beristirahat sejenak setelah lelah berbelanja atau sedang menunggu seseorang.


"Tunggu disini, jangan pergi kemana-mana, mengerti..?" Vania menganggukkan kepalanya begitu saja mendengar perintah itu


"Jika kau pergi aku akan menciummu didepan semua orang" ancam pria itu


"Aku tahu, tidak perlu mengancamku" sentak gadis itu kesal

__ADS_1


"Ya Tuhan, tidak kukira kau bisa membentakku seperti itu. Apa kau memang seperti ini?" Vania menundukkan wajahnya malu, ia memang jarang membentak seseorang, bahkan ia jarang memarahi Mira, tapi entah kenapa kepada Julian yang bersikap aneh seperti sekarang ia jadi ingin sekali membentaknya dan memukul kepalanya, meskipun pria itu seseorang yang derajatnya lebih tinggi dari dirinya. Julian tersenyum


"Kau menggemaskan. Tunggu disini ya.." Setelah Julian meninggalkannya Vania pun menunggu dengan patuh, entah itu karena memang sifat alaminya atau memang ia tidak ingin pergi.


Vania duduk dipinggiran kolam yang terbuat dari batu marmer berwarna biru laut. Vania melihat orang-orang yang berlalu lalang juga toko-toko yang berada di mall itu. sudah berapa lama ia tidak menginjakkan kakinya ke mall seperti ini? rasanya sudah bertahun-tahun ia tidak memanjakan dirinya dengan menikmati kegiatan berbelanja seperti ini.


Vania menghentikan pandangan matanya kesosok seorang wanita cantik yang berjalan anggun dan penuh pesona, wanita itu terlihat sama cantiknya seperti yang terakhir ia lihat, bahkan lebih cantik lagi. ia sering melihat wanita itu dikoran ataupun televisi, karirnya kembali menanjak bersamaan dengan gosip yang beredar.


Benar, gosip yang beredar adalah Angeline sania sedang menjalin hubungan bersama Julian Granger. apa yang dilakukan wanita itu disini, apa Julian bermaksud menemui wanita itu sekaligus mengajaknya. Vania berdiri lalu memutari kolam itu, bermaksud agar dirinya tidak dilihat oleh Angel.


Setelah memastikan Angel tidak melihatnya, Vania pun melangkah kan kakinya kepintu keluar. Tidak, dia tidak akan pernah mau dipertemukan lagi dengan wanita itu. Vania sudah hampir mencapai pintu keluar ketika tiba-tiba pinggangnya ditarik kebelakang dan tubuhnya diputar hingga berhadapan dengan pria yang membawanya ke mall itu


"Sialan Vania Anastasha, aku bilang tadi tunggu aku" desis Julian marah


"Apa susahnya mematuhiku?" Vania mengedipkan matanya, Julian disini? Lalu Angel..? Vania menoleh kearah Angel yang sudah menghilang dari pandangan matanya. Apa Julian tidak melihat Angel?


"Ada Mba Angel disana" tunjuk Vania kebelakang punggung Julian. Julian tidak menoleh sedikit pun kebelakang, matanya tetap melihat wajah Vania


"Biarkan saja dia"


"Kau tidak mau menemuinya?"


"Tidak" jawab Julian tegas. Julian mengulurkan tangannya yang memegang sebuah kalung berbentuk bintang yang baru saja diambilnya dari toko perhiasan.


Julian secara kusus memesan kalung itu kemarin untuk Vania. Vania menatap takjub kalung itu, ini pertama kalinya ia melihat kalung mahal secara dekat. Julian mengulurkan tangannya kebelakang leher Vania


"Tuan mau apa?" Vania menahan tangan Julian.


"Memakaikan kalungnya"


"Jangan.."


"Kenapa.?"


"Aku tidak pantas memakainya"


"Apanya yang tidak pantas?"


"Tuan.. orang seperti aku pantasnya memegang sapu dan kemoceng, bukan memakai kalung semahal itu"


"Aku yang menentukan kau pantas atau tidak" desis Julian geram


"Aku punya banyak uang untuk menghiasimu dengan semua permata didunia ini, dan jika aku bilang kau pantas untuk memakainya maka kau pantas untuk itu" Vania menggeliat lepas dari pelukan Julian, berjalan mundur menjauhi pria itu


"Tuan lihatlah aku, lihat penampilanku. Apa aku pantas berdampingan denganmu?. Tidak tuan. Sebuah sepatu tidak akan pantas jika dipasangkan dengan sebuah sendal jepit" Vania memutar badannya kemudian berlari keluar meninggalkan Julian. Julian yang ditinggalkan berdiri dalam perasaan marah. Siapa yang peduli dengan penampilan Vania, siapa yang peduli dengan pendapat orang, siapa yang peduli dengan sendal jepit....


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏


__ADS_2