Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 16


__ADS_3

Begitu sampai di sebuah tempat


“Angel..” Julian langsung merentangkan tangannya memeluk wanita itu, wanita itu menangis tersedu-sedu dipelukan Julian


“kenapa kau baru mendatangiku sekarang? Kenapa..? aku menunggumu.. aku kesepian.. aku membutuhkanmu” wanita itu meraung menangis, memukul dada Julian pelan, mengeluarkan semua rasa frustasi yang ditanggungnya berbulan-bulan terakhir ini


“maafkan aku.. aku baru tahu mengenai berita yang menimpamu” Julian menundukkan kepalanya mengusap airmata wanita itu


"Berhenti menangis Angel. kau menyakiti hatiku dengan melihatmu menangis”


“Syukurlah.. akhirnya kau mau mendatangiku” Angel mengeratkan pelukannya didada Julian, wanita itu merasa tenang dan aman karena Julian sudah berada dihadapannya, memeluknya dan memberikannya ketenangan


Angel tidak pernah sadar bahwa ia benar-benar membutuhkan Julian hingga hari ini


“kenapa kau tidak pernah menghubungiku?” tanya Julian


“aku menghubungimu, aku menelpon kerumahmu tapi ibumu bilang kau sudah tidak tinggal bersama dengannya lagi, dikantor juga kau sulit sekali untuk ditemui” Julian mengeraskan rahangnya, jadi ini semua karena campur tangan ibunya, Julian yakin Pak Norman juga ikut ambil bagian dari persekongkongkolan menyembunyikan berita Angel darinya


Mereka bermaksud untuk menjauhkan Angel darinya


“maafkan aku, sekarang aku ada disini” Julian mengusap rambut Angel. Lalu membawa wanita itu masuk kedalam rumah


“aku tidak pernah tahu aku akan menderita setelah menikah dengannya, semua bayangan akan kebahagiaan setelah menikah dengannya menghilang begitu saja setelah setahun pernikahan kami, bahkan setelah Rena lahir perasaan bahagia itu tidak pernah ada. Aku bahagia Rena ada diantara kami tapi perasaanku selalu merasa kosong, aku kesepian” Julian menggenggam jemari Angel ditangannya mendengarkan dengan seksama cerita Angel


Tangannya sesekali mengusap airmata yang jatuh dipipi wanita itu


“aku masih sanggup bertahan sampai akhir jika saja aku tidak menemukannya sedang bersama wanita lain”


“apa maksudmu bersama wanita lain?” Airmata kembali jatuh dipipi wanita itu


“dia mengkhianatiku, dia tidur bersama wanita lain” Angel mengigit bibir bawahnya mengingat kejadian yang begitu membuatnya terpukul, bukan saja karena menemukan suaminya tidur bersama wanita lain, tapi wanita itu adalah wanita yang ia kenal. Pengasuh anaknya sendiri dan mereka bercinta dibawah atap yang mereka tinggali bersama.


“aku membenci wanita itu, dia merebut anak juga suamiku. Tapi ini salahku, seharusnya aku mengurus anakku sendiri dan melupakan ambisiku untuk kembali berkarir didunia artis. Ini salahku”


“Ssstt… Cukup, tidak ada yang salah, semua memang sudah terjadi”


“seharusnya aku tidak pernah menikah dengannya hanya karena iming-iming karirku akan menanjak. Aku memang bodoh”


“sudahlah Angel.. tidak ada gunanya menyesali” Julian menarik Angel kedalam pelukannya lagi, menenangkan wanita itu


“kau tidak boleh menangisi pria seperti itu”

__ADS_1


“aku tidak menangisinya, aku hanya menyesali apa yang sudah kulakukan”


“tidak perlu disesali, sekarang kau harus melihat kedepan”


“dia mengambil putriku Julian.. aku ingin putriku”


“aku akan membawa Rena padamu, aku janji”


🍀🍀🍀


Vania dan Pak Norman berdiri terpaku diruang tamu, mereka mendengar mobil Julian berhenti dihalaman rumah, bersiap-siap untuk menjelaskan alasan koran-koran yang disimpan digudang itu


Pak Norman sudah menjelaskan kepada Vania siapa Angel itu selagi Julian pergi. Sekarang Vania mengerti kenapa Julian semarah itu, siapapun pasti akan sangat marah jika ada yang menyembunyikan berita tentang wanita yang dicintainya.


Wanita yang dicintai oleh Julian?. Vania merasakan sesak didadanya ketika Pak Norman mengatakan kalimat itu, rasanya sulit membayangkan Julian mencintai wanita lain. Vania menggelengkan kepalanya, sadar bahwa ia tidak berhak untuk merasa cemburu


Bagi Julian,Vania bukanlah siapa-siapa, hanya wanita yang bertugas untuk mengandung anaknya. Vania ingat Mira pernah menyebutkan tentang ini padanya, wanita yang dicintai Julian menikah dengan pria lain. Kenapa Vania bisa melupakan cerita penting seperti itu? karena wanita itulah Julian berubah menjadi pria yang dingin dan tidak berperasaan bukan?


Julian masuk kedalam rumah, membuat Vania dan Pak Norman semakin tegang. Julian masuk dengan ekspresi keras dan masih tersirat kemarahan diwajahnya, Vania dan Pak Norman bisa melihat seseorang yang masuk dibelakang mereka, seorang wanita langsing berwajah cantik dengan rambutnya yang bergelombang tergerai dipunggung wanita itu. Vania menciut, wanita itu terlihat menderita tetapi masih terlihat sangat cantik. Tentu saja, pikir Vania. Siapapun pasti akan jatuh cinta pada wanita itu hanya dengan sekali bertemu.


Angel terkejut melihat Pak Norman dan Vania berdiri seperti sedang menyambut mereka. Matanya berhenti ketubuh Vania yang sedang hamil


“siapa dia? Istrimu?” tanya Angel. Julian melirik kearah Vania lalu menggelengkan kepalanya. “kau tahu aku tidak akan pernah menikah”


“dia bukan siapa-siapa.. ayo kuantar kekamarmu” Angel melirik kearah Pak Norman sekali lalu tersenyum


“Halo paman Norman”


“Halo nona Angel” jawab Pak Norman sopan. Julian berjalan dengan tangan sebelah menggandeng tangan Angel dan tangan sebelah membawa koper wanita itu


Vania merasakan tikaman tajam didadanya ketika melihat pemandangan itu, Julian tidak pernah menggandeng tangannya seperti itu, aah tidak.. untuk apa ia merasa cemburu.


Vania menatap kosong kelantai yang dipijaknya, dadanya terasa sesak dan sakit sejak Julian mengatakan dirinya bukanlah siapa-siapa. Untuk beberapa bulan Vania lupa, bahwa dirinya memang bukanlah siapa-siapa dikehidupan Julian.


Tidak.. Vania sadar itu hanya saja, rasanya baru begitu menyakitkan ketika Julian yang mengatakannya dan mengingatkan Vania akan posisinya, ini seperti tamparan keras bagi Vania untuk memahami arti dirinya bagi Julian.


”Nona Vania..Anda baik-baik saja?” suara Pak Norman terdengar samar-samar, seolah-olah pria itu berbicara dikejauhan yang nyatanya sedang berdiri disebelahnya


“Euhmm..” Vania menganggukkan kepalanya dan menatap kosong kedepan


“kenapa tuan membawa wanita itu kesini?” desis Pak Norman kesal. Melihat Vania yang terdiam seperti ini membuat Pak Norman semakin merasa bersalah, karena dirinya yang menyuruh Vania menyembunyikan koran itulah yang membuat Julian marah besar kepada gadis itu

__ADS_1


“ayo.. kau harus istirahat bukan?” Pak Norman menarik lengan Vania untuk pergi dari ruang tamu itu, dan mencari cara agar Vania tidak merasa sedih


🍀🍀🍀


“kau benar-benar tidak perlu membawaku kesini Lian.. aku bisa tinggal dirumah ku sendiri” Angel menyuarakan protesnya kepada Julian ketika memasuki kamar, melihat ekspresi terkejut Vania dan Pak Norman membuat Angel semakin keberatan dibawa kerumah itu. Entah kenapa perasaannya mengatakan bahwa gadis yang sedang mengandung itu memiliki sebuah ikatan dengan Julian, karena jelas terlihat ekspresi terluka diwajahnya ketika Julian mengatakan gadis itu bukan siapa-siapa.


“aku hanya ingin tetap melihatmu berada didekatku selama aku mengambil putrimu” Julian meletakkan koper Angel disudut kamar lalu menyentuhkan lembut tangannya dipipi Angel


“aku akan membawanya kepadamu, aku janji. Istirahatlah” Julian meninggalkan Angel sendirian untuk beristirahat dikamar itu. Julian bertemu dengan Pak Norman tepat didepan kamar Angel


“tuan muda, aku bisa menjelaskan semuanya. Nona Vania tidak tahu apa-apa mengenai Angel, aku yang memerintahkan Nona Vania untuk menyembunyikan koran itu, dia tidak salah”


“benar, kau memang salah. Dan aku marah padamu”


“Iya.. marahlah padaku, asal anda tidak memarahi Nona Vania”


“dia juga bersalah karena mematuhimu. Apa Mama yang memintamu melakukan ini semua?”


“aku juga berinisiatif sendiri tuan”


"Kenapa..?”


“karena kami tidak ingin anda terus-terusan dihantui oleh bayangan nona Angel. Kami ingin anda bahagia”


“kalian berdua fikir aku akan bahagia dengan tidak tahu berita tentang Angel yang menderita” Pak Norman mengerutkan alisnya, rasanya terdengar sangat kejam jika Julian mengatakannya seperti itu


“maafkan aku tuan” sesal Pak Norman


Julian menatap tajam kearah Pak Norman lalu matanya melirik kearah Vania yang berdiri tidak jauh dibelakang Pak Norman. Gadis itu terlihat sangat bersalah dan siap untuk menerima kemarahan Julian lagi.


Julian memejamkan matanya menahan amarahnya sendiri. Perasaannya terhadap Vania campur aduk saat ini, ia marah karena gadis itu ikut campur dalam urusan kehidupannya sekaligus merasa bersalah karena dengan tega mengatakan bahwa Vania bukanlah siapa-siapa. Tunggu, Vania memang bukan siapa-siapa baginya, gadis itu hanya wanita yang ia bayar untuk mengandung anaknya. Julian menatap tajam kearah Pak Norman


“kali ini kau kumaafkan karena aku masih membutuhkanmu. Tapi lain kali, aku akan memastikan kau menyesal telah membuatku marah”


“Iya.. tuan. Terima kasih” Julian berjalan melewati Pak Norman, kemudian melewati Vania tanpa melihat gadis itu sedikit pun. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap gadis itu.


Vania menggigit bibir bawahnya menatap kepergian Julian, baru kali ini ia melihat Julian begitu marah dan dingin padanya. Ingin rasanya Vania berteriak, menangis dan meminta maaf tapi Vania tetap diam, sadar akan posisinya dirumah itu.


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏


__ADS_2