Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 6


__ADS_3

Suara langkah kaki perlahan mendekat kearah halaman rumah itu


"Norman.. coba kulihat apa yang sedang terjadi disini" wanita berusia 40 tahunan dengan wajah yang masih sangat cantik itu masuk kedalam rumah yang ditempati oleh Julian untuk menyembunyikan Vania. Matanya menatap Pak Norman tajam


"Dimana gadis itu?" Pak Norman menolehkan kepalanya kekiri dan kanan mencari gadis itu


"Aku yakin tadi dia ada disekitar sini" jawab Pak Norman


" Aku ingin bertemu dengannya"


" Nyonya, tuan muda bilang anda dilarang membawanya pergi" sanggah Pak Norman. Nyonya Granger menghembuskan nafasnya keras


"Aku tahu, aku hanya ingin melihat gadis itu, cepat cari dia" Setelah Pak Norman pergi mencari gadis itu Nyonya Rianty Granger memutuskan untuk mengitari sisi rumah, lama tidak mengunjungi rumah ini membuatnya ingin sekali mengenang masa-masa lalu, ketika ia bersama suaminya dulu mengunjungi rumah ini untuk menikmati liburan, bersama Julian yang dulunya masih seorang bocah laki-laki yang sangat manis.


Rianty tidak pernah tahu kenapa putranya yang manis bisa tumbuh menjadi pria yang arogan dan keras kepala, hanya karena tidak bisa memiliki Angel


Angeline sania adalah teman Julian sejak kecil, mereka sangat serasi dan saling menyayangi, tidak perlu bertanya lagipun Rianty pasti akan merestui hubungan mereka, sayangnya Angel lebih memilih laki-laki lain yang baru masuk diantara mereka. Julian bersedih, hatinya remuk dan hancur. Sudah banyak yang ia coba lakukan untuk menghibur Julian, tapi Julian tetap tidak tersentuh, tidak ada yang bisa mengubahnya lagi


Mungkin.. jika Julian menemukan seseorang yang bisa membuatnya jatuh cinta lagi, Julian bisa kembali menjadi Juliannya yang manis


Rianty berhenti melangkah, matanya menangkap sosok gadis itu diluar jendela.Rianty berjalan kearah teras samping rumah mendekati Vania


Keningnya berkerut melihat gadis itu sedang berjongkok dengan sepiring nasi tergeletak diatas lantai. Rianty bisa melihat seekor anjing sedang makan dari piring itu, anjing kampung berwarna kuning kecokelatan


Anjing yang selalu diajak Julian bermain jika mereka mengunjungi rumah ini


"Disini kau rupanya.." Vania menoleh cepat mendengar suara Rianty, gadis itu berdiri lalu sedikit menunduk, memberi hormat


" Halo Nyonya" Rianty menatap wajah gadis itu lama, ia tidak menyadarinya sebelum ini tapi sekarang ia tahu, wajah gadis ini mengingatkannya kepada Angel, mereka mirip


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Rianty lagi melirik kearah anjing yang masih mengunyah makanannya


" Oh.. maafkan aku, akan kucuci piringnya" seru Vania cepat, ia mengusap kepala anjing itu pelan lalu mengambil piring itu menjauh


"Jangan.. biarkan saja" cegah Rianty


"Dia terlihat sangat kelaparan"


Vania meletakkan lagi piringnya lalu berdiri, perasaanya sangat tidak enak karena menggunakan piring mahal untuk memberi makan si anjing, tapi ia tidak bisa mencegah dirinya sendiri untuk memberi makan najing itu


Rianty tersenyum kepada Vania


"Kau tahu anjing itu sangat tidak ramah, anjing ini hanya bersikap manis kepada Julian" ujarnya takjub, dilihat dari segi manapun anjing itu sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Vania didekatnya


" Oo.. kemarin juga dia hampir mengigitku, tapi hari ini dia bersikap manis ketika aku membawakan makanan untuknya" Vania tersenyum


"Semua anjing selalu bersikap baik jika kita membawakan makanan" Rianty terdiam, terlalu takjub mendengar jawaban Vania, jawaban yang sama seperti yang dijawab oleh Julian


"Ma, dia mau mendekatiku karena aku membawa sepotong hamburger, anjing selalu bersikap baik jika kita membawakan makanan" Rianty bisa mengingat jelas apa yang Julian katakan padanya saat itu, saat Julian masih sangat bocah


Rianty membersitkan hidungnya, airmata hampir saja jatuh mengingat kenangan manis itu


"Anda baik-baik saja nyonya?"


" Oo.. sangat baik" jawab Rianty cepat, ia tersenyum kepada Vania yang membuatnya teringat pada kenangan masa lalu


Vania menganggukkan kepalanya canggung, ia terkejut melihat kedatangan nyonya Granger kerumah itu, meskipun tadi Julian memperingatinya tentang kemungkinan wanita ini akan datang dan membawanya pergi tapi Vania tetap terkejut


Vania berdiri kaku dengan kedua tangan saling bertautan, tidak tahu harus bersikap seperti apa


"Tadinya aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu, tapi rasanya sekarang tidak penting lagi" Rianty melirik kearah anjing itu


"Anjing itu punya nama, tapi aku tidak pernah tahu siapa namanya kerena Julian merahasiakannya dari kami semua. Dia akan bersiul memanggil anjing itu dan menyebutkan namanya pelan-pelan agar kami tidak mendengarnya" Rianty tertawa pelan


"Julian sangat menyayangi anjing itu, tetapi karena ia tahu ayahnya alergi pada anjing dia tidak pernah meminta kami untuk membawa anjing itu pulang, manis sekali bukan?"


" Eum.. baik sekali" jawab Vania menyetujui. Rianty tersenyum lagi, ia menyukai gadis ini. pikirnya.


Pak Norman muncul dari pintu dengan langkah terburu-buru


"Aah.. anda sudah menemukannya" ujarnya lega. Tadinya Pak Norman sempat berfikir Vania telah kabur


" Kau sudah bekerja dengan keras Norman,aku akan pulang kalau begitu"


"Iya nyonya"


" Anda sudah mau pulang?"ujar Vania, sedikit kecewa karena wanita itu sudah mau pergi. Ia ingin mendengar lebih banyak tentang Julian


"Julian pasti akan sangat marah padaku jika tahu aku kesini" jawab Rianty ramah.


"Norman, kau akan tetap disini?"


"Tuan muda memintaku mengisi bahan makanan didalam kulkas"


"Oo.. kalau begitu aku pulang"


"Ya nyonya, kuantar sampai ke mobil" Rianty tersenyum untuk terakhir kalinya kepada Vania lalu berjalan memasuki rumah lalu keluar menuju mobilnya yang ia parkir dihalaman luas rumah itu, ia berbalik menghadap kepada Pak Norman yang berdiri dibelakangnya


" Apa ini hanya perasaanku saja atau kau juga merasakannya? Aku menyukai gadis itu"


" Aku juga menyukainya, dia gadis yang baik"

__ADS_1


"Eum... dia sangat manis dan berhati lembut, aku jadi berharap mungkinkah dia bisa membuat Julian berubah?"


"Anda mau percaya padaku nyonya? Aku juga berharap seperti itu setelah pagi ini"


" Apa yang terjadi pagi ini?" tanya Rianty penasaran


"Aah tidak, aku tidak bisa menceritakannya"


"Eeyy.. kau ini, selalu lebih patuh pada Julian dari pada aku" decak Rianty tak suka


"Mungkinkah akan terjadi hal yang baik dari keinginan konyol Julian ini?"


" Tdak ada yang tahu apa yang akan terjadi nyonya, aku rasa mungkin saja"


"Norman, terus awasi mereka dan kabari aku perkembanganya, mengerti?"


" Dengan senang hati nyonya" Rianty menganggukkan kepalanya menatap rumah itu lalu tersenyum, untuk pertama kalinya ia merasakan adanya harapan untuk melihat Julian bahagia


Rianty masuk kedalam mobil dan bersenandung ringan, sama sekali tidak akan lagi protes dengan ide gila putranya itu. . .Vania mengintip dari kejauhan kepergian Rianty, matanya tidak lepas menatap mobil sedan hitam itu sampai akhirnya menghilang diujung jalan


Vania menoleh kearah anjing yang menyundulkan kepalanya dikaki Vania, berjongkok agar bisa mengusap kepala anjing itu


" Heii.. nyonya itu bilang kau punya nama, kau mau bilang padaku siapa namamu?" Vania terus mengusap kepala anjing itu


"Kau mau menceritakan padaku seperti apa Julian Granger itu?, aku butuh sedikit tahu tentangnya"


Vania duduk di sebuah undakan tangga dengan masih mengusap kepala anjing itu, anjing itu mendengkur pelan, meletakkan kepalanya dipangkuan Vania"


"Aku ingin tahu lebih banyak tentang Julian Granger,meskipun aku melakukan ini semua hanya karena uang, aku tetap tidak bisa melakukannya begitu saja, aku butuh tahu seperti apa Pria yang akan menjadi yang pertama untukku. Kau tahu kan? aku tidak berpengalaman, Aku dengar orang-orang bilang kau akan merasakan sakit yang luar biasa untuk pertama kalinya. Apa benar akan sakit?"


Heniiingggg….. Vania mengerjabkan matanya bertatapan dengan mata bulat dan hitam anjing itu, anjing itu mengerjabkan matanya juga membalas tatapan mata Vania


"Maaf kau harus mendengar ceritaku" Vania menggaruk telinga anjing itu lalu menghembuskan nafasnya. Apapun yang akan terjadi, sakit atau tidak, Vania harus menyelesaikan ini semua dengan cepat


Meskipun ia baru satu hari ditempat tersembunyi ini Vania sudah merasa rindu kepada Ibunya dan Mira, ia ingin menjalani hari-harinya seperti biasa bersama Ibunya dirumah kecil mereka, tidak dirumah besar yang kosong dan sepi ini


"Baiklah.. semangat Vania.."


🍀🍀🍀


Menjelang malam Vania mengunci dirinya didalam kamar, mencoba menenangkan diri dan mencari keberanian. Ia tahu Julian sudah pulang setidaknya satu jam yang lalu, ia mendengar suara Pak Norman yang menyambutnya didepan pintu


Ketua pelayan itu memutuskan untuk tetap dirumah menemani Vania sepanjang hari ini, menjawab apa yang pantas ia jawab dari beberapa pertanyaan Vania, seperti berapa tinggi badan Julian hobi dan kebiasaan Julian. Hanya itu yang bisa ia dapatkan dari bertanya dengan Pak Norman


Tidak ada jawaban spesifik seperti apakah Julian? pria yang kasar atau lembut? Pak Norman tidak bisa menjawabnya. Vania menghembuskan nafasnya panjang, seperti yang sudah ia putuskan tadi siang, ia harus menyelesaikan ini dengan cepat agar ia tidak perlu merasa takut dan cemas lagi


Tok..tok..tok..


DEG....


Vania menoleh kearah pintu dengan gerakan yang bisa mematahkan lehernya, Vania menelan salivanya lalu menarik nafas panjang


"Baiklah.. ini saatnya" bisiknya lirih. Ia membuka pintu, melewati Pak Norman dengan kepala menunduk karena malu


Pak Norman menunjukkan dimana Julian berada yang langsung ditujunya dengan debaran jantung yang meningkat cepat. Vania mengetuk pelan pintu yang ada dihadapannya lalu membuka pintu setelah mendengar suara Julian yang mengizinkannya untuk masuk


Ruangan itu merupakan sebuah ruangan yang terdiri dari beberapa lemari tinggi yang diisi dengan berbagai macam jenis buku-buku, sebuah sofa terletak ditengah-tengah ruangan yang sengaja disediakan untuk siapapun duduk dan membaca buku yang ada disana. Julian menoleh dari tempatnya berdiri sambil memegang satu buku, berjalan kesofa


"Duduklah Vania" titahnya. Vania pun patuh dengan berjalan kesofa yang berada diseberang Julian lalu duduk dengan patuh


" Melihat dari kejadian pagi tadi...."


"Aku sudah siap melakukannya tuan" potong Vania. Ia harus mengatakannya dengan cepat sebelum keberaniannya menghilang. Julian menaikkan alisnya menatap Vania


"Aku belum selesai bicara" ujar Julian dingin. Vania mengatupkan bibirnya rapat, mungkin seharusnya dia tidak mengatakan apa-apa


Julin menggerakkan sudut bibirnya geli, melihat Vania dengan wajahnya yang tegang serta gerakan badannya yang kaku dengan lantang mengatakan ia sudah siap membuat perutnya tergelitik ingin tersenyum


Julian sedang berfikir untuk menunda memulai proses membuat bayi setelah melihat reaksi Vania pagi tadi. Vania mungkin benar, gadis itu harus mengenal dengan baik siapa pria yang akan memberikan benih dirahimnya. Karena itu Julian sudah menyuruh seseorang mencatat kebiasaan dan hobinya disebuah kertas hanya untuk ia berikan kepada gadis ini


Tapi melihat tekad diwajah Vania, Julian pun terdiam


"Vania, kau yakin kau sudah siap?" Vania menganggukkan kepalanya


" Malam ini?" mengangguk lagi


" Sekarang?" dan Vania menganggukkan lagi kepalanya dengan wajah yang memerah


"Aku cukup senang mendengarnya, tapi sebelum kita mulai aku ingin tahu siapa wanita dihadapanku ini"


" Iya..?"


"Aku hanya tahu namamu, Vania Anastasha, selain itu aku tidak tahu, kau lahir dimana, apa pekerjaanmu, apa kau memiliki saudara, aku ingin tahu" Julian tidak pernah berfikir ia ingin tahu tentang Vania sebelum ini, baginya wanita dihadapannya ini adalah calon wanita yang akan mengandung anaknya, ia tidak perlu tahu masa lalu ataupun masa depan wanita ini, hanya saja ia ingin memuaskan rasa ingin tahunya


"Ayahku meninggal karena kecelakaan, aku hidup hanya berdua saja dengan Ibu, aku tidak punya adik ataupun kakak"


" Pekerjaanmu?"


" Dulunya seorang resepsionis"


"Dulunya?"

__ADS_1


"Eeuhhmm.. aku dipecat tepat sehari sebelum aku mendatangimu" Vania melirik kearah Julian hati-hati, haruskah ia menambahkan bahwa Julianlah yang sudah memecatnya?.


Julian menyandarkan punggungnya disandaran sofa, melipat kedua tanganya menatap Vania intens


"Apa tidak ada orang yang berharga dihidupmu? Seorang kekasih misalnya?" Vania menggelengkan kepalanya


"Aku tidak punya kekasih".


Julian menganggukkan kepalanya sekali


" Baiklah, sudah cukup" Julian berdiri lalu berjalan menghampiri Vania


Vania menatap Julian dengan matanya yang melebar takut. Apa sudah waktunya?.


"Sekarang, sebaiknya kau…" Julian menarik tangan Vania agar gadis itu berdiri dari sofa. Vania menelan salivanya pelan, jantungnya berdegup sangat kencang ketika pandangan matanya bertemu dnegan mata Julian, tatapan yang mematikan dan membuat kakinya luluh


Julian memamerkan smirknya kepada Vania


"Temani aku minum susu" Vania mengerjabkan matanya sekali, lalu dua kali


"Apa...?"


" Minum susu" jawab Julian lagi


"Ayo.." tanganya yang memegang lengan Vania menuntun gadis itu agar mengikutinya.Vania masih sedikit bingung, kenapa mereka minum susu? Bukankah seharusnya mereka memulai proses membuat bayi itu?


Meskipun Vania bertanya-tanya, ia tetap mengikuti Julian dengan patuh menuju dapur, menemani pria itu minum susu seperti yang ia inginkan.


🍀🍀🍀


Vania duduk dikursi makan, menunggu dengan bingung Julian yang sedang memanaskan susu dipanci kecil diatas kompor. Sebenarnya apa yang ingin Julian lakukan? Kenapa mereka malah minum susu didapur bukannya memulai proses pembuatan bayi?


" Kau suka susu murni?" Julian bertanya sambil mengaduk susu


"Iya... Ibu sering memanaskan susu murni untukku sebelum tidur" jawab Vania


"Katanya agar aku bisa tidur nyenyak setelah seharian lelah bekerja"


Julian melirik kearah Vania dengan alis bertautan. Ia mematikan api kompor lalu menuangkan susu itu ke dalam dua gelas tinggi. Mengambil gelas itu lalu duduk tepat disebelah Vania


" Caa.." disodorkannya susu itu kepada Vania


"Terima kasih" Vania mengambil gelas itu lalu meniupnya pelan sebelum menyeruput susu hangat itu. rasa hangat mengalir ditenggorokanya ketika Vania meneguk susu itu, perutnya yang tadinya merasa kaku menjadi lebih santai dan ketegangan diotot-otonya juga kembali meregang


"Aah.. enaak.." desahnya nikmat


Vania menutup mulutnya cepat, betapa tidak sopannya dia mendesah didepan Julian. Julian memandangi Vania yang berangsur-angsur menjadi lebih santai, warna mata Vania terlihat jelas memancarkan kenyamanan


Julian tersenyum pelan, minum susu selalu membuatnya tenang dan nyaman, Julian cukup terkejut mendengar jawaban Vania tadi, karena ia juga selalu bisa tidur nyenyak setelah meminum segelas susu


Julian lalu meminum susu miliknya sendiri


" Aku suka susu yang dimasak dengan api sedang" ujar Julian


"Aku tidak minum alkohol dan juga merokok, aku juga tidak punya penyakit yang mematikan ataupun penyakit kelamin" Julian berhenti bicara menunggu respon dari Vania, gadis itu menatap Julian dalam diam


"Jadi kau tidak perlu kahwatir aku akan menularkan penyakit padamu, karena aku sehat" Vania tertegun, apa Julian baru saja bermaksud untuk menjelaskan seperti apa pria ini?


"Kau ingin tahu seperti apa pria yang akan menanamkan benihnya dirahimmu kan?" Julian menyandarkan punggungnya disandaran kursi


"Hanya itu yang bisa kukatakan, sisanya kau bisa bertanya pada Paman Norman. Aku akan menyuruhnya menjawab semua pertanyaan yang kau ajukan padanya" Vania menggelengkan kepalanya, ia tidak lagi ingin tahu seperti apa Julian, setelah melihat Julian membuatkan susu untuknya Vania tahu pria ini adalah pria yang baik


" Apa anda akan merawat bayi ini dengan baik tuan?"


"Tentu saja, aku tidak mungkin menginginkan bayi jika aku tidak bisa menyayanginya" Vania menganggukan kepalanya sambil tersenyum, sekarang hatinya sudah merasa lebih tenang


Vania meminum habis susu yang sudah mendingin itu dengan sekali teguk


"Aaah.." desahnya lagi, seperti anak kecil yang puas telah meminum susunya yang lezat


"Kau sudah merasa nyaman?" Julian berdiri dari kursinya menghampiri Vania


"Eum..iya, terima kasih susunya" Julian menarik lengan Vania, menyuruh gadis itu berdiri dihadapannya. Vania menahan nafasnya ketika merasakan kedekatan tubuh mereka. Melihat itu Julian memegang tengkuk Vania lalu memijatnya pelan, menenangkan saraf-saraf Vania


Vania menatap Julian sejenak lalu memejamkan matanya, rasanya begitu damai dan menenangkan. Julian tersenyum lalu menarik kepala Vania agar bersandar didadanya


Vania menyandarkan kepalanya dibahu Julian dengan mata yang terpejam, samar-samar ia bisa mendengar debaran jantung Julian juga hembusan nafas Julian dikepalanya


Jari-jari piawai Julian masih terus memijat tengkuknya, membuat Vania semakin terlena dalam pelukan Julian. Jari-jari yang tadinya memijat bergerak turun menyusuri punggung Vania hingga kelekukan dipinggangnya, Vania membuka matanya ketika tangan Julian bergerak masuk kedalam bajunya, menyentuh permukaan kulit punggungnya


Vania mendesah tertahan ketika Julian menempelkan bibirnya dilekukan leher Vania. Pria itu hanya menyentuhkan bibirnya diseputar leher Vania, menyerap aroma tubuh gadis itu. Vania mencengkeram kuat lengan Julian, mendongakkan kepalanya agar Julian bisa lebih leluasa menjelajahi lehernya


Julian menarik bibirnya dari leher Vania, bergerak menuju wajah Vania, nafasnya memburu cepat ditelinga Vania


"Pergi ke kamarmu sekarang"bisiknya.


"Apa..?"


"Sekarang" Julian melepaskan Vania, lalu mendorong gadis itu agar berjalan ke kamarnya.


Mohon saran dan kritiknya🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2