Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 40


__ADS_3

Setibanya di mansion Granger, Vania disambut oleh nyonya Rianty dan juga Pak Norman. Vania juga melihat Ibunya dan Mira serta kedua adik kembar Mira dibelakang mereka berdua. Diam-diam Vania bertanya, kenapa mereka sudah berkumpul seperti ini? apa mereka sudah begitu yakin bahwa Vania akan pergi dengan Julian kerumah ini?


"Akhirnya.. kau mau datang kerumah ini" nyonya Rianty yang pertama kali menghampiri Vania, wanita itu memeluk Vania yang masih menggendong Sierra. Matanya berkaca-kaca karena rasa haru


"Kau tahu, bukan hanya Julian yang merindukanmu, aku juga"


"Nyonya Granger"


"Yaa.. jangan memanggilku nyonya.." Vania tersipu malu lalu mengganti panggilannya


"Mama..aku juga merindukanmu dan Paman Norman. Sangat merindukan kalian berdua"


"Bagaimana denganku?" potong Julian yang berdiri disebelahnya. Vania memalingkan matanya kelain arah, tidak menjawab Julian


"Apanya yang bagaimana denganmu? Cepat sana tidurkan Sierra ditempat tidurnya lalu mandi" Nyonya Rianty memukul lengan Julian. Julian pun dengan pelan mengangkat Sierra kedalam gendongannya lagi lantas bergegas kekamar bayi.


Vania merasa kehilangan ketika Sierra diambil darinya tapi pikirannya langsung teralihkan kepada Ibunya yang mendekatinya


"Jadi ini yang kau rahasiakan pada ibu?"


"Ya.. Bu maafkan aku.."


"Vania.. sudahlah tidak apa-apa, yang penting sekarang kau bisa bahagia. Ibu mohon, jangan memaksakan diri lagi" Vania menganggukkan kepalanya mematuhi Ibunya, kemudian melirikkan matanya kearah Mira


"Aku bilang apa..? tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, kau harus percaya kajaiban bahwa dongeng itu memang ada" Vania tertawa pelan.


"Tapi tetap saja dongeng hanyalah sebuah dongeng"


"Eeeyyy.. kau ini"

__ADS_1


"Sudah-sudah sebaiknya Vania istirahat dulu, caa.. kau juga mandi dulu lalu kita makan malam" nyonya Rianty mendorong Vania kearah tangga, dan membimbing gadis itu kekamar yang telah ia siapkan. Vania menolehkan kepalanya kekiri dan kanan mengamati rumah itu. Ia mendatangi rumah ini hanya dua kali sebelumnya dan hanya sebatas ruang tamu. Rumah itu sangat besar, lebih besar dari rumah yang menjadi persembunyiannya ketika sedang mengandung


"Kau kenapa?" tanya nyonya Rianty


"Tidak, rumahnya besar sekali aku takut tersesat"


"Tidak perlu takut, rumahnya gampang diingat. Caa.. masuk dan mandilah"


"Aah. Pakaianku?"


"Kau pikir aku tidak menyiapkan apa-apa? cari dan temukan sendiri pakaianmu dilemari yaa.."


"Eum.. terima kasih nyo.. ah ma" Nyonya Rianty mengusap kepala Vania dengan penuh kasih sayang


"Tidak perlu sungkan" Vania masuk kekamar itu, matanya melebar terkejut karena isinya juga tidak kalah besar dari kamar-kamar hotel yang selalu ia bersihkan dulu. Kakinya melangkah kearah lemari, Vania membuka lemari itu lalu berucap kagum, semua yang berada dilemari gantung itu adalah pakaian mahal yang selalu ia lihat didepan etalase sebuah butik. Vania mengulurkan tangannya dan mengusap satu baju. Apa benar ini semua nyata?. . .


Makan malam berlangsung dengan penuh tawa, Mama Rianty yang menjadi nyonya rumah sangat ramah dengan menceritakan segala hal, dan dengan cepat bisa sangat akrab dengan Ibunya Vania dan juga Mira. Kedua adik Mira ikut bersama mereka dan terlihat lebih sopan karena harus berhadapan dengan orang kaya.


Setelah makan Vania sempat mendatangi Sierra yang sedang bermain bersama pengasuhnya, bayi perempuan itu memandanginya terus karena rasa penasaran, membuatnya tidak bisa bermain dengan tenang. Karena tidak ingin mengacaukan malam Sierra, Vania meninggalkan kamar bayi dan pergi ke kamarnya sendiri


"Sierra lucu ya.."ujar ibunya ketika Vania membaringkan dirinya disebelah ibunya


"Heuum…" sahut Vania, memejamkan matanya lelah


"Dia mirip denganmu ketika kau masih kecil, sekarang aku bebar-benar yakin dia memang anakmu" ibunya memandangi wajah Vania yang terpejam


"Kenapa kau menamainya Sierra?"


"Aku hanya memanggilnya seperti nama Nenek, tapi tuan Granger yang memberikannya nama seperti itu"

__ADS_1


"Sierra Granger.. tidak buruk" Vania tersenyum


"Aku juga tidak menyangka akan terdengar cocok" gadis itu menguap pelan, lalu meringkuk lebih dalam kebantalnya


"Kapan kalian menikah?"


Tiba-tiba Vania membuka matanya, menarik selimut keatas, menutup wajahnya yang memerah


"Aku tidak tahu"


"Kalian harus menikah. Kau tahu itu? apa dia memintamu menikahinya lagi?" Ibunya jelas-jelas percaya dengan bualan Julian, menduga mereka benar-benar akan menikah sebelum ini


"Aku tidak tahu bu"


"Apa dia mencintaimu?"


"Dia bilang begitu"


"Kau terdengar masih tidak yakin, apa kau mencintainya?" Vania kembali memejamkan matanya


"Heum.." lalu menganggukan kepalanya sebelum larut dalam alam mimpi. Ibunya mengusap kepala Vania lalu merapikan selimut Vania, wanita tua itupun mematikan lampu dan ikut tidur bersama Vania.


.


.


.


Beberapa part ke depan mungkin akan ada unsur dewasanya..Mohon bijak dalam memilih bacaan..kalau tidak suka tolong di skip saja ya😊 Terima kasih🙏

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏


__ADS_2