
Vania POV(point of view)
Sudut pandang Vania
Dingin.. aku kedinginan, perutku sakit.. Tuhan, tolong aku.. rasanya begitu sakit. Aku berusaha membuka mataku yang terasa berat suara berisik disekitarku menyadarkan aku, para wanita berseragam putih sedang berjalan mondar-mandir kesana kemari, aku ditusuk dengan jarum dan ditempeli beberapa selang yang berisi cairan. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku disini
"Aarrgghh.." aku mengerang sakit, perutku sakit.. apa yang tejadi dengan perutku. Tunggu, bayiku.. bayiku ada didalam perutku. Aku ingin berteriak bertanya bagaimana keadaan bayiku namun suaraku tidak bisa keluar. Aku juga tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan meskipun mereka berbicara dengan keras
Aku menolehkan kepalaku kekanan melihat sosok pria yang bertubuh tinggi, Julian Granger, aku mengenalnya.. pria itu adalah ayah bayiku. Mata kami bertemu, sekuat tenaga aku mencoba untuk bertahan dari beratnya mataku. Julian menoleh kearah dokter dan entah apa yang mereka bicarakan, aku ingin mendengarnya
"Anda ingin menyelamatkan bayinya atau ibunya.."
"Apa..? pilihan macam apa itu?"
Apa, apa bayinya terluka?, selamatkan bayinya. Tuan, selamatkan bayinya. Aku mencoba untuk menyuarakan pendapatku namun lagi-lagi yang terdengar adalah erangan dan rintihan sakit dari mulutku. Julian menoleh padaku sejenak lalu menoleh kearah dokter
"Ibunya.. kumohon selamatkan ibunya"
"Tidaak.. selamatkan bayinya saja.. tuan.. selamatkan bayinya,, kumohoooonnn…"
“Kumohon selamatkan ibunya”
Vania POV End
🍀🍀🍀
Rumah sakit itu masih terlihat ramai meskipun langit dipenuhi oleh awan mendung, banyak aktifitas yang terjadi didalam rumah sakit itu tetapi tidak didalam kamar rawat inap Vania. Kamar itu terasa sunyi, hanya terdengar suara mesin pemanas dan detik jam
Infus yang terpasang ditangannya telah dilepas pagi itu, hanya tinggal menunggu gadis itu membuka matanya
Vania membuka matanya ketika kesadaran menghampirinya, entah sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri yang Vania tahu rasa sakit yang menyerangnya sudah tidak ada lagi. Vania menolehkan kepalanya kearah kiri dimana selang infus menancap ditangannya, saat itu juga Vania langsung menyentuhkan tangannya keperutnya yang sudah tidak besar lagi. bayinya…?
Sebuah tangan memegang tangannya, seketika itu juga Vania menoleh kearah kanan, matanya bertemu dengan mata Julian, lalu pria itu tersenyum kepadanya. Senyum yang belakangan ini tidak pernah dilihatnya. Julian yang tadinya sedang duduk dikursi yang terletak disamping tempat duduk berdiri dari kursinya dan membungkukkan badannya diatas Vania
"Kau sudah bangung?"
"Bayinya..?" Julian tersenyum lagi mendengar kalimat pertama yang diucapkan oleh Vania setelah tidak sadarkan diri selama tiga hari
"Tidak perlu menghawatirkan bayinya"
"Apa dia selamat..?" Vania terus mempertanyakan bayi itu. Julian duduk ditempat tidur, tangannya mengusap rambut Vania lembut
"Bayinya perempuan" Julian tersenyum lagi melihat ekspresi terkejut Vania
"Dokter berhasil mengeluarkannya tepat waktu, kau dan bayinya selamat. Dan meskipun ia prematur, bayi itu sangat sehat" Vania memejamkan matanya lega
"Syukurlah" tidak ada yang bisa merasakan betapa leganya Vania saat ini, karena tindakan bodohnya yang ingin segera pergi dari rumah itu Vania hampir saja membunuh bayinya
"Syukurlah" sekali lagi Vania mengucapkan rasa syukurnya, airmata kelegaan pun tidak bisa ia tahan lagi.
Julian mengusap airmata yang jatuh kesisi wajah Vania dengan kedua tangannya
"Sstt.. jangan menangis, semuanya baik-baik saja" Vania memberanikan dirinya menatap ke manik mata Julian
__ADS_1
"Maaf.. aku hampir membunuhnya"
"Tidak.. tidak ada yang perlu dimaafkan. Jangan menangis Vania.. atau kau akan membangunkan bayinya" Vania berhenti menangis
"Bayinya..?" Julian tersenyum lagi lalu menolehkan kepalanya kesamping dan menunjuk kearah box kecil tidak jauh dari mereka dengan dagunya
"Dia baru keluar dari ruang inkubator pagi tadi. Kau mau melihatnya?" Vania menganggukkan kepalanya dengan cepat, tubuhnya belum bisa bangun karena itu Vania menunggu dengan penasaran ditempat tidurnya
Melihat Julian dengan keahliannya sendiri mengangkat bayi itu dengan kedua tangannya. Perlahan-lahan Julian meletakkan bayi itu diatas lengan Vania.
Vania menatap wajah bayi kecilnya dengan ekspresi kagum. Jadi seperti ini wajah anaknya, matanya belum terlihat karena bayi itu sekarang sedang tertidur, tetapi Vania tahu bayi itu memiliki bentuk bibir ayahnya. Bibir yang sangat seksi dan menggoda jika ia tumbuh dewasa nanti
"Cantik" bisik Vania, masih sangat kagum melihat bayi itu. Julian mengamati ekspresi Vania, rasanya begitu tenang bisa melihat gadis itu kembali membuka matanya lagi.
Setelah Vania tidak sadarkan diri selama dua hari Julian merasa sangat gelisah, ia ingin segera melihat Vania membuka matanya dan kembali tersenyum kepadanya. Dan sekarang disinilah dia memandangi wajah Vania yang sedang tersenyum kepada putri mereka. PUTRI MEREKA. Kenapa rasanya kata itu begitu pas..
"Bagaimana keadaanmu? Kau ingin makan sesuatu?" Julian memecahkan kesenangan Vania mengagumi wajah putrinya. Gadis itu menoleh kearah Julian lalu menggelengkan kepalanya
"Mungkin seharusnya suster memeriksamu, akan kupanggilkan dulu" Julian bergegas kearah pintu lalu keluar detik berikutnya, Vania menoleh lagi kearah bayinya setelah Julian menghilang dari balik pintu. Tangannya mengusap lembut pipi mungil bayinya
"Kau bayi yang paling menganggumkan yang pernah kulihat. Sierra.." dengan bisikan pelan, gadis itu memanggil nama yang ia berikan secara diam-diam kepada bayi itu seperti nama Neneknya
🍀🍀🍀
"Vania sayang.. kau sudah bisa berdiri" nyonya Granger mengunjungi Vania keesokan harinya. Setelah tidak sadarkan diri selama dua hari Vania pun pulih, meskipun masih sedikit lemah Vania tetap bisa bergerak dari tempat tidurnya.
Vania sedang menggendong bayinya ketika nyonya Rianty masuk kedalam kamar dengan membawa termos panas berisikan bubur untuk Vania
"Nyonya Granger.." Nyonya Granger menghampiri Vania lalu tersenyum kepada gadis itu
"Apa..?"
"Aku tidak suka dipanggil seperti itu olehmu, bagaimana jika panggil Mama saja..?"
"Iya..? tapi itu.."
"Sstt… tidak perlu membantah, panggil saja aku seperti itu. okee..?"
"Eum.. baiklah.. nyo.. aah Mama.." Nyonya Granger tersenyum lalu mulai mengeluarkan makanan yang dibawanya
"Kau harus makan agar kondisimu cepat pulih, aku sudah masak untukmu"
"Anda tidak perlu repot-repot"
"Eeyy.. ini tidak merepotkan, aku suka melakukannya. Caa.. kemarikan bayinya" nyonya Granger mengambil bayi yang saat ini sedang Vania gendong dan meletakkannya kedalam boxnya, setelahnya membimbing Vania agar duduk diatas tempat tidur lagi
"Makan dulu, lalu kau bisa menggendongnya lagi"
"Terima kasih nyonya.. anda selalu baik sekali padaku" Vania kembali memanggil nyonya
"Ini bukan apa-apa. jangan ucapkan terima kasih"
"Tidak.. aku memang harus mengucapkannya, terima kasih untuk semuanya"
__ADS_1
"Tidak perlu sungkan.. caa.. makanlah" Vania memakan habis apa yang Mama Rianty buat untuknya
Vania selalu menghabiskan apapun yang dimasak untuknya, semua karena menghargai kebaikan Mama Rianty kepadanya. Mama Rianty menemani Vania sampai Julian akhirnya datang ketika siang telah tiba
Pria itu masuk kedalam kamar dan langsung menghampiri box bayi. Tersenyum ketika melihat bayi itu masih tidur, tangannya mengusap pelan pipi mungil bayi itu sebelum menoleh kearah Vania dan ibunya
"Ma.."
"Iya.. sayang..?"
"Bisa tinggalkan kami berdua?"
"Oo.. baiklah" Mama Rianty keluar dari kamar itu dengan patuh, tahu bahwa Julian dan Vania memang harus berbicara berdua saja
Julian duduk tepat dikursi yang tadi ditempati oleh ibunya yang berada disisi tempat tidur. Vania terlihat waspada dengan ekspresi Julian. Apa yang ingin pria ini katakan padanya sampai ia harus mengusir ibunya keluar?
"Ada apa tuan..?"
"Aku tahu, ini bukan saat yang tepat, tetapi aku ingin cepat-cepat mengatakannya padamu tentang bayi itu" Vania menoleh kearah box bayi lalu menganggukkan kepalanya, ia mengerti kemana arah pembicaraan ini
"Setelah melihatmu diruang operasi berjuang melawan kematian membuatku sadar, bahwa yang berhak mengambil keputusan adalah kau. Aku memang tidak memiliki perasaan karena memintamu untuk tidak mencintai bayi itu, untuk mengabaikan bayi itu dan pergi setelah melahirkan bayi itu. Kau benar ketika mengatakan kau juga berhak untuk bayi ini, kau yang mengandungnya selama sembilan bulan. Dan aku tidak lupa, bagaimana kau ketika hamil" Julian menarik nafas panjang sebelum melanjutkan
"Vania.. aku menyerahkan semua keputusannya padamu, jika kau memang menginginkan bayi itu, aku tidak akan keberatan, tapi aku akan tetap membiayai semua keperluannya dan tetap membayar sisa bayaranmu. Dan izinkan aku mengunjunginya jika aku ingin menemuinya" Vania menggigit bibir bawahnya yang bergetar, airmata jatuh dipipinya, harusnya ia lega mendengar apa yang baru saja Julian sampaikan padanya, tetapi kenapa perasaannya tetap terluka
Apa sebenarnya yang Vania harapkan? Pria itu menawarkan pernikahan? Jangan bermimpi Vania Anastasha. Melihat Vania menangis pria itu berdiri dan duduk ditempat tidur
"Kenapa menangis..? apa aku salah?"
Vania menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang salah, Vania menangis karena ia merasa begitu tidak dibutuhkan dan tidak diinginkan. Bukan salah Julian jika Vania ingin dicintai oleh pria itu, itu semua karena kebodohan Vania sendiri, kenapa ia harus jatuh cinta pada pria ini
"Tidak.. terima kasih tuan, untuk pengertianmu. Aku hanya terharu" Vania membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan hal itu
"Kalau begitu jangan menangis" Julian mengusap airmata Vania dengan lembut. Vania menatap kedalam mata Julian, kenapa pria itu memperlakukannya selembut ini?.
Apa pria itu tidak tahu bahwa perlakuannya ini membuat Vania semakin ingin tetap berada disampingnya.Vania menempelkan tangannya ditangan Julian yang memegang pipinya, menahan airmatanya agar tidak tumpah lagi. ia ingin merekam wajah pria yang berada dihadapannya ini
"Tuan tahu, bahwa kau sebenarnya memiliki hati yang sangat lembut. Mungkin semua orang takut padamu, tapi aku tidak. Aku tahu disini kau memiliki perasaan yang sangat lembut" Vania menyentuhkan tangannya didada Julian
"Jika tidak, kau tidak mungkin menginginkan seorang anak" Julian terdiam, ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan hal seperti ini padanya.
Sejak dulu Julian memang sedikit kejam kepada orang-orang yang derajatnya lebih rendah, Julian selalu meremehkan mereka dan mengecap mereka orang rendahan. Hanya pada orang-orang yang ia sayangi saja Julian bisa bersikap lembut dan penyayang, kepada ayahnya, ibunya, Angel bahkan kepada Pak Norman. Tetapi setelah mengenal Vania pandangan itu sedikit demi sedikit berubah.
Mereka saling menatap dalam diam, larut dalam pikiran mereka masing-masing, yang satu tidak bisa mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya dan yang satu belum mengerti tentang apa yang ia rasakan kepada orang yang berada dihadapannya ini
"Terima kasih tuan, akan kupikirkan"
"Tidak perlu terburu-buru"
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏