
Didalam rumah Vania menatap marah sahabatnya, ia pulang dalam keadaan perasaan yang bercampur aduk, terkejut, bingung, sekaligus takut. Tidak ada perasaan bahagia sedikit pun setelah bertemu dengan Julian, bukan berarti ia membenci Julian, hanya saja Vania lebih merasakan perasaan takut karena usahanya untuk mengenyahkan pria itu dari pikirannya menjadi sia-sia setelah mereka bertemu kembali
"Apa maksud dari ini semua Mir? Sejak kapan kau mengenalnya?" geram Vania marah
"Kenapa..? kau marah? Yang seharusnya marah itu aku, kenapa kau tidak pernah bilang bahwa pria itu dia" balas Mira, tidak kalah marahnya seperti Vania
"Sudah peraturannya seperti itu kau tahu itu kan?"
"Well.. karena itu, aku hanya sedang mematuhi perintah dari bos ku, dia ingin menemui wanita yang dicarinya selama setahun ini. kau tahu itu? dia mencarimu" Vania tidak bisa lagi mengungkapkan kemarahannya kepada Mira, karena ibunya saat ini sedang menontonnya dan Mira yang sedang bertengkar, begitu juga dengan kedua adik Mira yang merasa tertarik dengan perbincangan Vania dan Mira. Vania merosot jatuh dilantai, ia duduk dengan tatapan kosong
"Kenapa dia harus mencariku?"
"Tidakkah dia mengatakan alasannya padamu?" Mira ikut duduk dihadapan Vania. Vania menggelengkan kepalanya
"Dia mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal?"
"Tidak masuk akal?"
"Dia mengatakan dia mencintaiku"
"Dan kau bilang itu tidak masuk akal?"
Vania menatap Mira dengan tatapan aneh
"Itu aneh.. bagaimana mungkin dia mencintaiku?"
"Tentu saja itu tidak aneh, kau itu wanita yang sudah…" Mira menghentikan mulutnya sebelum ia keceplosan, diliriknya Ibu Vania dan adik-adiknya lalu mengubah kalimatnya
"Apanya yang aneh dari mencintaimu?"
__ADS_1
"Pria seperti dia tidak seharusnya mencintaiku bukan?"
"Kenapa tidak?"
"Karena aku miskin, tidak cantik dan juga bodoh"
"Astaga.. apa kau tidak melihat cermin Vania Anastasha?, kau lihat dirimu yang sekarang? Kau tidak kalah cantiknya seperti seorang aktris, bahkan mengalahkan kecantikan Angeline sania.." Vania tersentak mendengar nama itu, benar… Julian dulu mencintai Angel, wanita itu sempurna, dia cantik, terkenal dan juga dia kaya. Karena itu tidak mungkin Julian mencintainya, itu pikiran yang bodoh. Sangat bodoh
"Ini semua karena make up" bantah Vania
"Ya Tuhan, Vania Anastasha buka pikiranmu. Siapapun berhak mencintaimu, bahkan jika itu seorang pangeran yang sebenarnya sekalipun, jadi tidak aneh jika Julian Granger juga mencintaimu"
"Itu aneh.. itu aneeeh.. berhenti mendesakku, aku tidak bisa menerima ini" Vania meneriaki Mira, yang jarang sekali terjadi.
Mira hendak membentak sahabatnya itu namun menghentikannya. Mungkin Vania terlalu terkejut sehingga membuat gadis itu bersikap seperti ini. Mira menoleh kearah Ibunya Vania yang menatapnya penasaran, Mira hanya menaikkan bahunya sambil menggelengkan kepalanya. Rasanya akan butuh waktu untuk membuat Vania bisa menerima Julian.
🍀🍀🍀
Vania memandangi jendela yang sudah dimasuki oleh sinar mentari pagi. Vania sadar ia sudah terlambat untuk mengantar koran paginya tetapi Vania tetap bergeming dibalik selimut
"Vania.. kau tidak bekerja hari ini?" terdengar suara Ibunya yang lembut menggoyangkan tubuhnya, Vania keluar dari balik selimut lalu menatap Ibunya
"Vania.. sebenarnya apa yang terjadi?" Ibunya membelai kepala gadis itu, Vania yang merasa butuh tempat untuk menenangkan pikirannya pun menyandarkan kepalanya dipangkuan Ibunya. Hal yang jarang sekali dilakukannya semenjak dirinya sibuk bekerja dan sang Ibu sakit
"Apa yang kamu dan Mira ributkan malam tadi?, siapa pria yang kalian bicarakan? Kau tidak pernah menceritakan apapun pada Ibu" Vania memejamkan matanya memeluk pinggang Ibunya
"Ibu pasti akan sangat marah padaku jika aku menceritakannya"
"Kenapa..? apa yang sudah kau lakukan?"
__ADS_1
"Sesuatu yang akan membuatmu sangat terkejut dan marah padaku"
"Ibu tidak akan marah, kau hanya perlu menceritakannya saja" Vania diam, ia tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa ia hamil anak seorang pria hanya untuk membiayai operasi Ibunya, Ibunya pasti akan sangat marah, mungkin saja Ibunya bisa terkena serangan jantung saat itu juga
"Tidak ada bu..aku baik-baik saja" jawab Vania pelan. Ibunya menghembuskan nafasnya pasrah
"Baiklah, jika kau tidak ingin mengatakannya.Ibu tidak akan memaksamu. Hanya saja, kau tidak pernah lupa apa yang sering Ibu katakan padamu bukan?, kau tidak akan pernah mengenal seseorang jika kau tidak mencoba untuk mencari tahu, dari yang Ibu dengar malam tadi sepertinya pria itu berusaha untuk membuatmu yakin bahwa dia mencintaimu"
"Itu tidak benar, aku yakin dia hanya sedang kehabisan akal sehatnya"
"Semua orang yang sedang jatuh cinta selalu kehabisan akal sehatnya Vania.." Vania menengadahkan wajahnya lalu menatap Ibunya dengan ekspresi bertanya, benarkah?.
"Orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan apapun untuk mendapatkan cinta mereka, seperti Romeo yang rela meminum racun hanya untuk menyusul Juliet, seperti Putri duyung yang rela menjadi buih didalam air hanya untuk menolong sang kekasih"
"Dan seperti Julian Granger yang rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk mendapatkan seorang anak" batin Vania dan itu karena Angeline sania, bukan karena dirinya.
Vania kembali diingatkan akan hal itu, karena itu sulit baginya untuk percaya bahwa pria itu memang mencintainya
"Aku yakin dia akan menyadari bahwa dirinya telah salah" Vania pun mengatakan itu dengan lantang. Membuat Ibunya tidak bisa lagi memberikan bantahan, Vania jarang terlihat keras kepala seperti ini, karena itu Ibunya tidak bisa memaksa Anaknya ini
"Sudahlah, apa kau hari ini tidak bekerja?" Ibunya mengingatkan
"Aah aku lupa, seragamku masih dihotel itu" Vania tiba-tiba duduk dan menepuk kepalanya pelan. Bagaimana ia bisa melupakan hal itu, tapi Vania tidak mungkin kembali ke hotel itu. mau tidak mau Vania harus meminta maaf karena seragamnya telah hilang
"Aku akan bersiap-siap"
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏