Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 15


__ADS_3

Vania duduk menerawang jauh kedepan. Ia tidak pernah berfikir bagaimana kondisinya nanti setelah melahirkan? apa ia masih harus pergi setelah bayi ini lahir atau bagaimana?


Melihat dari semua perhatian Julian akhir-akhir ini menimbulkan sebuah harapan di hati Vania. ia sadar ia tidak boleh mengharapkan hal ini, tapi Vania sudah mencintai bayi yang ada didalam kandungannya, ia tidak sanggup membayangkan harus meninggalkan bayi ini setelah ia melahirkannya. Ditambah lagi, Vania juga tidak sanggup membayangkan ia harus pergi jauh dari sisi Julian


Karena Vania sudah jatuh cinta tidak hanya pada bayinya tetapi pada ayah bayinya juga


"Nona.. kenapa melamun?” Vania tersentak dari lamunannya lalu menoleh kearah Pak Norman, ia lupa bahwa pria tua itu sekarang tinggal bersama dirinya dan Julian


"T..tidak” jawab Vania cepat


“kau ingin makan sesuatu?”


“Tidak paman.Terima kasih”


“ya sudah.. jika perlu sesuatu kau bisa memanggilku”


“Paman..” panggil Vania


"Iya..?”


Vania ragu sejenak ketika sebuah pertanyaan muncul dibenaknya


“Tt.. tidak..” Vania pun menggelengkan kepalanya. Pak Norman mengerutkan alisnya bingung, tetapi tidak lantas bertanya apa yang membuat gadis itu ragu. Pak Norman pun akhirnya pergi meninggalkan Vania


🍀🍀🍀


"Wuah.. hari ini kau aktif sekali” Vania mengusap perutnya, menyentuhkan tangannya pada bagian yang tadi ditendang oleh bayinya. Vania menyukai hal ini, setiap hari merasakan pergerakan bayi itu membuatnya bahagia


“Dia bergerak lagi?” Vania menolehkan kepalanya kearah Julian yang baru saja datang kearahnya dengan membawa segelas susu untuk Vania. Pria itu meletakkan gelas susu diatas meja lalu duduk disebelah Vania di sofa empuk ruang tamu. Tangannya mengusap perut Vania sambil tersenyum geli


"Ouah.. dia menendang tanganku”


“dia sehat sekali bukan?” tanya Vania bangga


“Eum.. sangat sehat” Julian menundukkan kepalanya lalu mencium Vania, setiap kali mereka berdekatan Julian selalu menyempatkan dirinya untuk mencium gadis itu


Semenjak Vania sering mengalami keram diperut Julian berhenti bercinta dengan gadis itu, tetapi ia tidak berhenti menciumi gadis itu. Julian mengusapkan tangannya dipipi gadis itu, lidahnya menjelajah dibibir Vania, menikmati setiap senti dari bibir itu. Julian berhenti mencium Vania sebelum ia tidak lagi bisa menahan diri, mengambil gelas susu dan memberikannya kepada Vania


“susumu” ujarnya. Vania mengambil susu itu dengan senang hati lalu meminumnya sampai habis. Julian selalu menyempatkan diri untuk membuat susu untuk Vania, satu hal yang akan Vania rindukan jika semua ini harus berakhir. Pikir gadis itu


Selesai meminum susunya Vania menjilati bibirnya dari sisa gelembung susu yang menempel pada bibirnya. Melihat itu Julian pun mengambil alih dengan mencium Vania sekali lagi. Terjadi keheningan setelah itu, mereka memang selalu melakukan sesuatu dalam keheningan, tetapi tidak ada seorang pun yang berniat memecahkan keheningan itu, cukup dengan gerakan dan tindakan yang terjadi diantara mereka, itu sudah membuat semua yang mereka rasakan tergambar jelas.


Sentuhan ringan atau belaian lembut diantara mereka terasa lebih penting daripada sekedar bercakap-cakap. Vania sudah sangat sering ingin menanyai tentang kegiatan Julian, tetapi seperti janji diawal Vania dilarang mencampuri urusan Julian. Dari Mira lah Vania bisa tahu apa saja yang Julian kerjakan dikantor

__ADS_1


“Dimana paman?” tanya Julian tiba-tiba.


“Paman sedang pergi membeli kebutuhan makanan”


“Oo..”


“Kenapa..?”


“aku ingin memintanya mencari dokumen dilemari berkas-berkas”


“biar aku saja” tawar Vania, berusaha untuk berdiri dari sofa, Julian memegang pergelangan tangan Vania, menahannya tetap duduk disana


“kau pikir apa yang ingin kau lakukan?, duduk saja disini”


“tapi aku ingin membantumu”


“tidak perlu, aku saja” Julian berdiri dari sofa lalu bergegas menuju ruang penyimpanan dokumen. Rumah itu sudah lama menjadi tempat kedua bagi Julian ataupun ayahnya untuk bekerja, jika ia merasa penat karena seharian berada dikantor ia akan pulang kerumah itu dan membawa serta pekerjaannya sambil menikmati sejuknya udara dirumah itu.


Seperti hari ini, ia memutuskan untuk bekerja dirumah dari pada harus ke kantornya. Akhir-akhir ini ia lebih suka berada dirumah, bekerja dengan Vania berada didekatnya dari pada bekerja dikantor sedangkan pikirannya tertuju pada seorang wanita yang berada dirumah ini


Julian tidak mengerti apa yang ia rasakan kepada gadis itu, tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Seperti alam bawah sadar yang bertindak sesuai isi hatinya. Julian sudah sering berperang dengan dirinya sendiri mengenai Vania. Jika otaknya berfikir untuk menghindari Vania tapi tubuhnya malah berbalik melawannya dan mendekati Vania. Karena itu Julian pun menyerah dan membiarkan tubuhnya bergerak sesuai keinginannya sendiri


Julian tidak menemukan apa yang ia cari dilemari itu, iapun bergegas ke gudang yang berada dilantai paling bawah. Biasanya Pak Norman selalu membawa berkas-berkas yang sudah tidak digunakan lagi ke gudang. Julian menyalakan lampu digudang lalu berjalan menuju lemari usang yang menjejerkan tumpukan dokumen.


Julian mengambil lagi satu koran dengan bingung, siapa yang menyimpan koran-koran ini digudang?. Ia ingat sering bertanya kepada Vania dan gadis itu mengatakan korannya tidak pernah datang, sebenarnya kenapa gadis itu menyembunyikan koran-koran ini.


Tangan Julian berhenti disatu koran dengan judul yang sangat besar dihalaman serta foto seorang wanita yang sudah sangat ia hapal wajahnya itu. SIDANG PERCERAIAN ANGELINE SANIA BERLANGSUNG SENGIT


Julian mengambil satu koran lagi ANGELINE SANIA AKHIRNYA BERCERAI, PUTUSAN HAK ASUH ANAK JATUH PADA DIRINYA


Satu koran lagi ANGELINE SANIA BERJUANG MATI-MATIAN UNTUK MENDAPATKAN KEMBALI PUTRINYA


Julian mencengkeram kuat koran itu ditangannya, dadanya mendidih karena marah. Jadi ini alasan Julian tidak pernah melihat koran-koran ini. Dengan marah Julian bergegas keluar dari gudang itu, berjalan dalam emosi yang memanas menuju gadis yang saat ini sedang mencuci piring kotor


BRAAAKKK….


Julian melempar koran-koran itu diatas meja makan. Vania terlonjak kaget kemudian memutar tubuhnya cepat, mendapati tatapan kemarahan Julian, Vania pun salah tingkah


“katakan padaku apa maksud dari semua ini” bentak Julian,Vania menoleh kearah koran-koran itu lalu mengerti, Julian marah karena pria itu tidak mendapatkan koran-korannya


“maafkan aku tuan, tapi..”


“BUKANKAH SUDAH PERNAH KUBILANG UNTUK TIDAK MENCAMPURI URUSANKU?” teriak Julian

__ADS_1


Vania tersentak kaget mendengar nada suara yang keras, dan penuh kemarahan itu. Ia tidak bermaksud untuk ikut campur tapi Pak Norman memintanya untuk menyembunyikan koran-koran itu


“maafkan aku tuan, aku tidak akan menghalangimu membaca koran lagi”


“sudah terlambat untukmu meminta maaf, gadis muda. Kau membuatku kecewa dengan kelancanganmu mencampuri urusanku”


“tapi..”


“apa yang kau ketahui tentang Angel?”


“Angel..?” tanya Vania bingung. Julian mendecakkan lidahnya


“aku tidak akan pernah memaafkanmu karena telah lancang menyembunyikan berita perceraian Angel dariku” Julian pun berbalik cepat meninggalkan Vania yang kebingungan


Julian bergegas mengambil ponsel dan kunci mobilnya. Pria itupun melesat dengan cepat bersama mobilnya. Vania masih berdiri diam dalam kebingungan, yang ia lakukan hanyalah menyembunyikan koran itu seperti yang diperintahkan oleh Pak Norman, ia tidak pernah tahu bahwa menyembunyikan koran itu bisa membuat Julian semarah tadi


Vania mengambil koran yang tergeletak diatas meja lalu membaca judulnya cepat, menemukan nama Angeline sania dijudulnya


“siapa Angel..?” bisik Vania


🍀🍀🍀


Pak Norman pulang dengan membawa kantung belanjaan ditangannya, masuk kedalam rumah dengan perasaan riang seperti biasanya. Pak Norman terkejut melihat Vania sedang duduk termenung dengan memegang erat sebuah koran ditangannya


"Paman, aku sudah menunggumu dari tadi” ujar gadis itu. Pak Norman meletakkan belanjaannya diatas meja


“ada apa?” tanya pria itu khawatir


“kenapa kau menyuruhku menyembunyikan koran-koran itu?, siapa Angeline sania?” Pak Norman menaikkan alisnya kemudian ia mengerti, melihat dari judul yang tertera dikoran itu adalah koran lama


“dimana tuan muda?”


“tuan pergi setelah menemukan koran-koran ini” jelas Vania


“ya Tuhan” Pak Norman mendesahkan nafasnya, menyadari bahwa Julian sudah tahu tentang Angel, bukan itu saja Pak Norman tahu, Julian akan sangat murka kepada siapa saja yang menyembunyikan berita ini darinya. “Paman, siapa itu Angeline Sania?” tanya Vania lagi...


.


.


.


Mohon saran dan kritiknya🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2