Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 38


__ADS_3

Hari-hari berikutnya Vania masih harus melihat Julian, pria itu tidak menyerah sedikitpun untuk mendekati Vania. yang dilakukan Julian setiap kali bertemu dengan Vania adalah merusak hari-hari Vania, gadis itu sama sekali tidak bisa bekerja atau melakukan apapun juga karena Julian selalu mengganggunya.


Vania tidak bisa mendapatkan pekerjaan baru karena pria itu lagi-lagi membuatnya tidak diterima bekerja dimanapun. Vania tidak habis pikir, bukankah pria sesibuk Julian seharusnya menghabiskan waktunya dengan bekerja dikantor, tapi apa yang dia lakukan sekarang?, membuntuti Vania kemanapun gadis itu pergi


"Berhentilah mengikutiku tuan"


"Tidak.. sampai kau mau menerima kenyataan bahwa aku memang mencintaimu"


"Jika aku menerimanya lalu apa?"


"Lalu apa? ya menikah, tinggal bersama dan hidup bahagia selamanya"


" Ini bukan dunia dongeng"


"Ini juga bukan drama, kenapa sulit sekali menerimanya?"


"Karena ini adalah kehidupan yang nyata, aku berfikir secara logis, karena itu tidak mungkin kau dan aku hidup bersama, hanya seorang Cinderella yang bisa hidup berdampingan bersama seorang pangeran" Julian menyunggingkan senyumannya


"Jadi kau pikir aku ini pangeran?" Vania tergagap lalu memalingkan wajahnya, dengan tanpa mengatakan apapun gadis itu pun pergi meninggalkan Julian yang masih tersenyum dibelakangnya.


Vania duduk disebuah kursi yang terletak di depan minimarket, membuka-buka koran untuk mencari lowongan pekerjaan. Kegiatannya yang sedang membolak-balikkan kertas itu terhenti karena Julian menarik koran itu dan membuangnya ke kotak sampah


"Heii.." Vania melebarkan matanya terkejut, pria ini ternyata belum juga pergi


"Berhentilah bekerja, aku tidak membutuhkan uangmu"


"Itu bukan untukmu, itu untuk kehidupanku dan ibuku"


"Berhentilah, aku akan membiayai kebutuhan kalian"


"Aku tidak menginginkan uangmu" Julian menghembuskan nafasnya kasar, sudah seminggu berlalu tapi Vania masih tetap menolak apapun yang Julian katakan atau tawarkan, ia tidak pernah tahu Vania sangat keras kepala seperti ini


"Bagaimana denganku? Kau juga tidak menginginkanku?"

__ADS_1


Vania memicingkan matanya menatap Julian, meskipun begitu debaran jantungnya berdetak cepat, tentu saja ia menginginkan Julian, tapi Vania terlalu takut menerima resiko yang besar jika ia mempercayai apa yang pria itu katakan.


Julian tersenyum melihat Vania terdiam, tangannya meraih anak rambut yang jatuh dipipi Vania lalu menyelipkannya kebelakang telinga gadis itu


"Kapan terakhir kali kau tidur nyenyak?"


"Aku selalu tidur dengan nyenyak"


"Kau bohong.." Julian pun mengusap garis hitam yang berada tepat dibawah mata Vania


"Apa kau masih rajin minum susu sebelum tidur?" Vania menggelengkan kepalanya


"Biasanya aku langsung tertidur ketika pulang"


"Dan kau tidak makan?" Vania ragu sejenak namun ia tetap menggelengkan kepalanya


"Itu alasan kenapa kau terlihat kurus, kau harus banyak makan agar tubuhmu kembali berisi. Aku suka kau ketika hamil, lebih berisi" Vania mengernyitkan hidungnya, Vania malah membenci dirinya yang sedang hamil, perutnya besar dan tubuhnya membengkak dimana-mana. Hal itulah yang membuatnya tidak percaya diri jika berada disatu ruangan bersama Angel


"Terlihat seksi" sambung Julian. Vania menatap Julian dengan pandangan aneh, ia semakin yakin Julian memang sudah gila


"Tapi kau seksi"


"Tuan Granger…"


"Julian"


" Apa..?"


"Panggil namaku, jangan pakai embel-embel tuan lagi didepannya. Panggil Julian"


"Itu tidak sopan"


"Kalau begitu panggil Mas"

__ADS_1


"Itu lebih tidak sopan"


"Kenapa...? kita sudah sering tidur disatu tempat tidur, kita sudah sering bercinta, kita juga punya seorang putri sudah sewajarnya kau memanggilku begitu kan?, yaah.. meskipun aku ingin kau memanggilku sayang atau honey tapi untuk sekarang mas saja cukup"


"Apa kau sudah ke psikiater?" Vania jelas-jelas mempertanyakan kewarasan Julian


"Sudah.." jawab Julian, mengagetkan Vania.Vania menutup mulutnya mendengar jawaban itu


"Apa yang mereka katakan tentang isi otakmu?"


"Mereka menyerah menangani masalahku" Vania tertawa, yakin bahwa jawaban Julian memang benar, siapapun pasti akan menyerah menangani Julian. Julian tersenyum melihat Vania tertawa,tangannya menggenggam tangan Vania


"Kau ingin makan sesuatu? ada restoran Prancis yang enak didekat sini"


"Restoran Prancis?" Vania membeo, makan disana itu artinya hanya ada orang-orang yang berkelas disana. Vania pun menggelengkan kepalanya


"Tidak..? lalu kau mau makan apa? apa makanan kesukaanmu?"


Vania menaikkan alisnya, apa jika ia meminta Julian membawanya ke rumah makan biasa pria ini akan menurutinya?


"Bakso, dipinggiran jalan sana" tunjuk Vania


"Disana..? Baiklah...ayo" Julian berdiri sambil menarik Vania agar ikut berdiri bersamanya


"Kau mau..?" Vania tidak yakin pria itu benar-benar bersedia melakukannya


"Eum.., Ayo" Julian pun berjalan kearah yang tadi ditunjuk oleh Vania, dan tanpa sedikitpun merasa risih atau jijik karena makan dipinggiran jalan, membuat Vania benar-benar terkejut. bahkan ia masih tidak bisa percaya Julian mau melakukannya.


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkanšŸ™šŸ™


__ADS_2