
Kamar itu tidak seperti kamar inap dirumah sakit, semua bunga menghiasi kamar itu atas kiriman Julian, serta berbagai macam jenis boneka yang disiapkan Julian untuk putrinya
Vania sedang duduk di sofa single yang berada dikamar itu sambil menggendong bayinya. Sambil besenandung pelan Vania membuai bayinya agar tertidur. Pak Norman yang saat ini sedang mengupaskan buah apel tersenyum melihat Vania yang selalu menghabiskan waktunya dengan memandangi wajah bayi mungil itu
Vania sering terlihat berbisik-bisik sambil menyebutkan sebuah nama "Sierra" nama itulah yang ia tangkap, anehnya Vania tidak pernah mengucapkan nama itu dengan keras, kan Julian pun belum memberikan nama untuk bayi itu saat ini mereka hanya bisa memanggil sang bayi dengan sebutan "Baby.." Vania masih harus menerima perawatan sampai besok siang. Berdasarkan yang Pak Norman tahu artinya besok siang Vania akan memberikan keputusannya tentang bayi itu, apakah membawa bayi itu atau meninggalkan bayi itu kepada Julian.
Tetapi, melihat dari kegembiraan Vania, sepertinya gadis itu akan pergi dengan membawa serta bayinya.Pak Norman mengerutkan alisnya, kenapa tidak Julian nikahi saja Vania dan mereka bertiga akan hidup bahagia selamanya
Melihat dari reaksi Julian dimalam ketika Vania harus berjuang dengan kematian Pak Norman tahu sebenarnya jauh dilubuk hati majikannya itu telah ditempati oleh Vania. Jika tidak, Julian tidak akan pernah memilih Vania untuk diselamatkan. Tetapi kenapa?, kenapa Julian belum juga menyadarinya bahkan ketika kenyataannya gadis itu akan mati
Pak Norman menghembuskan nafasnya, Julian harus cepat menyadarinya atau seseorang harus menyadarkannya
"Paman.." panggil Vania
"Apa aku bisa minta tolong padamu?"
Pak Norman menghentikan kegiatannya mengupasi apel
"Iya.. apa itu?"
"Apa kau mau mengambil fotoku?"
"Foto? Tentu saja, dimana ponselmu?"
"Diatas tempat tidur"
"Baiklah.." Pak Norman mengambil ponselnya lalu mulai mengambil foto Vania, gadis itu tersenyum begitu manis, terlihat begitu bahagia sambil menggendong bayinya
"Woah... kalian berdua cantik sekali" puji Pak Norman
"Sekali lagi" Pak Norman pun mengambil sekali lagi foto Vania bersama bayinya
"Aaah.. aku haus" ujar Vania
"Kau ingin minum sesuatu?"
"Lidahku terasa pahit jika minum air putih"
__ADS_1
"Akan kubelikan jus untukmu, kau mau?"
"Boleh.. terima kasih paman" Pak Norman tertawa pelan lalu beranjak kearah pintu
"Akan kubelikan satu untukmu, tunggu disini" Senyum diwajah Vania menghilang setelah Pak Norman pergi.
Ditinggalkan sendirian ruangan itu, terasa sunyi. mata Vania tidak berpaling sedikitpun dari putri mungilnya, ia seolah-olah sedang merekam wajah bayinya didalam memori kepalanya, Vania mengerjabkan matanya berkali-kali, mengenyahkan airmata yang mendesak untuk keluar, ia ingin melihat dengan jelas bayinya, jika ia menangis pandangannya akan kabur.
Namun airmata tetap jatuh membasahi pipinya, mengenai wajah mungil bayinya. Vania menghapus airmatanya yang jatuh dipipi bayinya.Vania menarik nafas panjang sejenak.
"Sierra, maafkan aku karena aku kita berdua hampir saja mati, keputusan memang sudah kubuat sesaat setelah aku bangun, dan aku memilih lebih baik pergi dan meninggalkanmu bersama ayahmu" setelah sadar Vania terus berfikir keputusannya ini benar, memang seperti inilah perjanjiannya, Julian tidak pernah menginginkan dirinya, yang ia inginkan hanya bayi ini
Tetapi pria itu lebih memilih dirinya dari bayi ini untuk diselamatkan oleh dokter, dan itu membuat Vania cukup berpuas diri, setidaknya pria itu memikirkan dirinya meskipun itu hanya sedikit.
"Sejak awal kau miliknya dan akan tetap menjadi miliknya" Vania tersedak oleh airmatanya sendiri
"Aku tidak akan bisa melihatmu tumbuh tapi aku akan selalu merindukanmu, aku tidak akan pernah mendengar suaramu tapi aku akan selalu mengenang suara tangisanmu, aku tidak akan pernah merasakan pelukanmu tapi aku akan selalu mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri" Vania mendaratkan bibirnya yang bergetar kekepala mungil bayinya.
Berlama-lama ketika memberikan kecupan itu. Setelah puas Vania menghapus airmatanya sendiri dari pipinya lalu beranjak menuju box bayi dan meletakkan bayinya pelan-pelan, mata bayinya mulai menutup lagi, Vania mengecup untuk terakhir kalinya bayinya kemudian bergegas mengambil ponselnya dan menekan nomor handphone yang sudah sangat dihapalnya
"Mira.."
Disisi lain, Julian yang sedang duduk dibalik meja kerjanya tidak bisa fokus membaca berkas-berkas yang baru saja diberikan padanya. Ia tidak bisa memikirkan hal lain selain masalah Vania, hatinya bimbang dengan keputusan apa yang akan diambil oleh Vania.
Ia tidak mau Vania mengambil keputusan membawa putrinya, tetapi ia juga tidak ingin Vania meninggalkan putrinya. Masalahnya adalah, Julian merasakan sesak didadanya ketika berfikir Vania pergi meninggalkan putrinya, atau meninggalkan dirinya?
Tok..tok..tok..
Seseorang masuk setelah mengetuk pintu kantornya.Angeline Sania memasuki kantor itu tanpa meminta izin sedikitpun kepada Julian. Julian terkejut melihat Angel, ia hampir melupakan wanita itu
"Kau benar-benar Julian Granger, meninggalkan aku dirumah itu sendirian"
"Maaf Angel.. aku lupa mengabarimu"
"Ck.. kau lupa..?, tidak biasanya kau melupakan aku" Angel mendecakkan lidahnya lalu beranjak duduk disofa yang ada dikantor itu
"Maaf.." Julian benar-benar menyesali tindakannya, pikirannya terlalu penuh oleh Vania sehingga melupakan Angel
__ADS_1
"Sudahlah.. aku juga sudah pulang kerumahku sendiri bersama Rena, aku hanya butuh seseorang untuk menjaga Rena"
"Tidak perlu, jika Rena menghilang mantan suamimu sudah dipastikan akan menjadi tersangka, lagi pula dia tidak akan berani merebut Rena lagi darimu"
"Benarkah.. kenapa..?"
"Yaah.. karena sedikit diancam, dia jadi menurut"
"Ck.. Julian Granger, selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkannya" Julian duduk dikursi yang terletak diseberang Angel lalu menggelengkan kepalanya
"Tidak semuanya, aku tidak bisa memilikimu" jawab Julian. Angel menyunggingkan smirknya kepada Julian
"Dan sepertinya sekarang kau tidak lagi memiliki keinginan untuk mendapatkanku" Julian diam, kenapa rasanya itu hal yang paling masuk akal yang masuk ke otaknya, entah sejak kapan Julian sadar ia tidak lagi menginginkan Angel untuk menjadi miliknya. Secara tidak ia ketahui seseorang mengambil alih tempat Angel dihatinya
"Maaf.." jawab Julian tiba-tiba
"Julian Granger, untuk apa kau meminta maaf padaku?, aku yang seharusnya meminta maaf padamu, aku memang bodoh, karena mataku buta oleh ketenaran aku mengabaikan dirimu yang jelas-jelas mencintaiku apa adanya. Dan sudah terlambat bagiku sekarang untuk berpaling padamu kan?" Julian tidak menyahuti Angel sama sekali, wanita yang berada didepannya itu menatap Julian dengan perasaan campur aduk, ia ingin membuat Julian kembali mencintainya dan melupakan wanita yang telah melahirkan anaknya.
Tetapi Angel tidak akan berbuat bodoh lagi, jika ia memaksakan diri tidak menutup kemungkinan Angel akan kembali berada pada kondisi yang tidak bahagia, melihat suaminya mencintai wanita lain itu sudah menyakitkan. Apalagi jika ia harus menyaksikan Julian terus bersedih karena merindukan Vania
"Kau memang pria bodoh, jika kau masih belum menyadarinya aku yang akan menyadarkanmu.Julian Granger, kau sudah tidak lagi mencintaiku.. apa kau masih mau mengingkarinya? Kau sudah jatuh cinta pada gadis itu"
"Aku tahu.."
"Apa..?"
"Aku tahu itu, aku hanya terlalu keras kepala untuk mengakuinya" Julian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.Angel tersenyum
" Lalu kau tunggu apa lagi?, bukankah seharusnya kau mengatakannya kepada Vania?"
Seketika itu juga Julian berdiri
"Kau benar. Aku harus kerumah sakit sekarang" tanpa basa-basi lagi pria itu pun pergi dari ruangan kantornya, meninggalkan Angel dengan senyum miris. Sudah saatnya bagi Julian mendapatkan kebahagiaannya juga. Angel melirik kearah jendela lalu memutuskan untuk pulang.
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏