
Keesokan paginya Vania tidak berani mendekati Julian, bahkan ketika Julian berpakaian lengkap dan mengikat dasinya sendiri Vania tetap bergeming didepan pintu kamar Julian.Entah kenapa,Vania masih merasa bersalah sekaligus bersedih dengan keadaannya sekarang
Biasanya Vania akan masuk tanpa meminta izin dan mengikatkan dasi itu, tidak ada yang bisa ia lakukan pagi ini. Setelah bangun pagi ini Vania bergegas kedapur, bersiap memasak sesuatu tetapi tugas itu sudah diambil alih oleh seorang wanita cantik
Wanita itu terlihat cantik, memakai baju yang modis dan rambutnya yang bergelombang dikuncir dibelakang, tulang pipinya yang tinggi membuat bentuk wajah wanita itu terlihat lebih kecil. Cantik, wanita itu terlihat cantik dari segi manapun juga.
Vania melirik tubuhnya yang membulat, kakinya sudah mulai membengkak dan rambutnya tidaklah seindah rambut Angel. Vania pun memutar tubuhnya dan bergegas meninggalkan dapur. Vania pun berjalan kekamar Julian hendak menyiapkan pakaian kerjanya seperti biasa, tapi tugas itu juga sudah diambil alih oleh Pak Norman
Jadi disinilah Vania hanya bisa berdiri didekat pintu mengintip kegiatan Julian yang sedang mengikat dasinya. Vania termenung, apa tugasnya mengurus kebutuhan Julian telah selesai?, tapi Vania menikmati setiap detik yang ia lewati dalam mengurus kebutuhan Julian. Vania berjalan meninggalkan kamar dan kembali menuju kedapur
“apa ada yang bisa kubantu?” tanya Vania ragu-ragu. Angel menoleh kebelakang dan tersenyum kepada Vania, senyum yang sangat memikat
“tidak perlu, kau duduk saja, aku bisa melakukannya sendiri”
“oh.. Baiklah” Vania sudah menarik kursi makan ketika Julian masuk kedapur bersama dengan Pak Norman. Jantungnya berdebar kencang melihat Julian lebih dekat pagi ini. Matanya terus memandangi Julian, menunggu pria itu melihatnya sambil tersenyum lalu mengusap kepalanya seperti biasa, tapi Vania harus kecewa ketika Julian berjalan mendekati Angel dan tersenyum kepada wanita itu
“apa yang kau lakukan? Kau bisa memasak?” nada suara Julian terdengar penuh dengan candaan
“tentu saja aku bisa, aku ini wanita yang sudah pernah menikah dan memiliki putri berusia 5 tahun”
“Benarkah..? aku yakin rasanya enak”
“tentu saja, duduklah akan kusiapkan” Julian tertawa pelan lalu menarik kursi dan duduk, gerakannya yang hendak duduk berhenti ketika matanya bertemu dengan mata Vania, ekspresinya jelas terlihat terkejut melihat Vania disana, seolah-olah ia lupa jika Vania berada dirumah itu dan sendang mengandung anaknya. Julian mengalihkan matanya cepat lalu berseru
__ADS_1
“cepatlah aku lapar” ujarnya serak, dan sedikit terdengar manja. Vania menolehkan kepalanya kearah Pak Norman yang diam-diam memperhatikan ekspresi Vania, gadis itu memaksakan senyumnya lalu menyapa Pak Norman
“Paman, selamat pagi”
“selamat pagi Nona Vania.. bagaimana pagi mu?”
“selalu baik paman”
“ini makanlah lian..” Angel meletakkan sepiring nasi diatas meja untuk Julian
“kalian juga, duduklah” ujar Angel kepada Vania dan Pak Norman. Pak Norman mengundurkan dirinya dari meja makan itu, agar bisa menyiapkan keperluan yang lain, meninggalkan Vania sendirian dalam suasana yang canggung dengan Julian. Meskipun Julian sama sekali tidak menganggap gadis itu ada karena terlalu senang melihat Angel ada didekatnya
“wooah.. ini enak” Vania menolehkan kepalanya kepada Julian ketika kata pujian itu keluar dari mulutnya, pria itu tidak pernah sekalipun memuji masakannya. Ia hanya makan dan menghabiskan makanannya lalu pergi begitu saja. Vania tersenyum miris, apa yang kau inginkan Vania Anastasha? mendengarnya memuji masakanmu? Mengatakan bahwa kau cantik? Mengucapkan kata-kata rayuan seperti yang tadi Julian lakukan kepada Angel? Jangan mimpi!. Kau harus sadar posisimu gadis bodoh.Vania menguatkan dirinya sendiri lalu mulai menyuapi makanannya, rasa makanan itu tidak lebih enak dari apa yang sering ia masak. Dan lagi-lagi Vania tersenyum miris
🍀🍀🍀
Julian pergi dengan perasaan aneh, rasa bersalah kedapa seorang wanita yang ia hiraukan pagi ini. ia tidak benar-benar mengacuhkan Vania, karena jauh didalam dirinya sadar akan kehadiran gadis itu. Ketika gadis itu mengintip dari balik pintu kamarnya pagi tadi Julian sudah menyadari kehadiran Vania, diruang makan pun Vania lah yang pertama kali dilihatnya sebelum ia menghampiri Angel. Namun Julian tetap berpura-pura mengacuhkan Vania, karena dia masih marah kepada gadis itu. sangat marah.
Julian pergi ke kantor dengan melirik Vania yang berdiri jauh dibalik pintu rumah. Biasanya Vania yang mengantarnya pergi dan Julian selalu mencium gadis itu sebelum pergi tapi hari ini ia harus melewati kegiatan itu, karena ia ingin membuat gadis itu mendapati pelajaran agar tidak ikut campur lagi dalam urusan kehidupannya. Julian pun pergi kekantornya dalam keadaan marah. Entah marah karena apa.
“jadi siapa namamu?” Angel tidak bisa menutupi rasa penasarannya kepada Vania
“Namaku Vania Anastasha” jawab Vania, tersenyum kepada Angel. Angel membalas senyum itu lebih manis darinya
__ADS_1
“jadi apa yang kau lakukan disini Vania?”
“aku.. aku bekerja disini”
“bekerja? membersihkan rumah?”
“Iya..” hanya itu yang sanggup Vania jawab
“Ooh.. aku rasa terlalu beresiko untukmu sekarang bekerja membersihkan rumah bukan? Kau hamil berapa bulan?”
“tujuh menjelang delapan bulan” Angel menganggukkan kepalanya
“kau seharusnya berhenti bekerja dan mulai beristirahat dirumah. Persalinan tidaklah mudah”
“ya.. tapi aku tidak punya rumah lagi”
“Aa.. aku mengerti” Angel tersenyum kepada Vania. Wanita itu tidak hanya cantik tapi juga memiliki senyum yang sangat ramah, Vania yakin wanita itu juga sangat baik. Tidak heran jika Julian benar-benar mencintai wanita itu. pikir Vania.
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏