
Julian tersenyum ketika ia sudah keluar dari hotel, merasa senang karena telah membuat Mira tidak bisa berkata-kata lagi
"Tuan, anda ingin pergi" supir pribadi Julian berjalan menghampirinya ketika melihat Julian
"Eum... aku akan pergi sendiri" supir itu mengulurkan kunci mobilnya kepada Julian, namun Julian menggelengkan kepalanya
"Tidak, aku berjalan kaki saja"
"Apa..?" sekali lagi Julian membuat seseorang bingung dengan tindakannya, pria itu pergi meninggalkan supir pribadinya keluar dari halaman hotel. dia berbelok kearah pusat perbelanjaan dengan tangan dimasukkan kedalam kantung celananya.
Setelah berjalan cukup jauh Julian menemukan toko bunga dipinggir jalan, ia mampir dan menghirup bunga mawar berwarna merah
"Buk, aku ingin bunga mawar ini dibuat menjadi buket kecil" teriak Julian kepada penjaga toko bunga itu. Julian menunggu dengan sabar penjaga toko itu merangkai bunga mawar merah itu untuknya, setelah selesai Julian pun kembali melangkah kearah taman yang terletak tidak jauh dari sana, taman itu terasa sejuk dan rindang karena banyaknya pepohonan. Meskipun matahari bersinar terik tidak memudarkan keinginan siapapun yang ingin menikmati hari ini.
Ditaman kota itu, Julian bisa melihat wanita yang sedang berdiri dibawah bayangan pohon sambil memandang jauh kedepan, sesekali wanita itu melirik kearah jam lalu tersenyum. Senyum yang selalu bisa membuat Julian tidak berdaya. Diam-diam Julian berjalan dibelakang wanita itu lalu melingkarkan tangannya dipinggang ramping milik wanita itu
"Oh ya ampun.." wanita itu terkejut karena tiba-tiba dipeluk dari belakang, kepalanya menoleh kebelakang lalu tersenyum lega, ternyata suaminya yang sedang memeluknya
"Sudah lama menunggu?" Julian mengulurkan buket bunga mawar tadi kepada Vania.
Vania tersenyum sambil mengambil buket bunga itu, menghirup aromanya yang wangi. Ia pun berbalik agar berhadapan dengan Julian
"Tidak.. aku baru saja tiba" Julian tersenyum lalu mencium Vania yang langsung disambut gembira oleh istrinya itu, mereka saling memberikan ciuman disela-sela gelak tawa mereka
"Tidak bawa Sierra hari ini?"
"Tidak.. hari ini aku mau berdua saja denganmu" Vania mengalungkan tangannya dileher Julian lalu mengecup pelan dagu Julian
"Benarkah..?" Julian melirik kearah jam ditangannya lalu mengerutkan alisnya
"Aku punya sisa waktu satu jam sebelum kembali ke kantor kau mau kemana? Kamar Hotel?"
"Eeyy.. pikiranmu kenapa tidak jauh-jauh dari sana"
"Kenapa..? aku kan pria"
"Itukan bisa nanti malam saja, sayang.. siang ini kita kencan saja"
"Baiklah, mau kemana? Makan bakso?"
"Woah.." Vania langsung menyetujui saran dari Julian, Julian pun tertawa lalu melepaskan pelukannya dipinggang Vania
"Ayo.." ujar Julian sambil menarik tangan Vania. Vania menolak uluran tangan Julian dengan menepiskan tangannya membuat Julian harus menaikkan alisnya terkejut
"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu" Vania mundur menjauhi Julian.
"Apa..?" Julian pun melangkah maju mendekati Vania. Hatinya merasa sedikit sesak karena ekspresi Vania saat ini terlihat sangat aneh.
"Jangan maju, tetap diam disana" Julian berhenti melangkah maju, menunggu dengan sabar apa yang ingin istrinya itu sampaikan
__ADS_1
"Tadi aku kerumah sakit"
"Rumah sakit? Kenapa? Kau sakit?" sekali lagi Julian melangkah maju mendekati Vania, ingin memeriksa Vania dengan matanya sendiri
"Tidak.. jangan maju, tetap disana dan dengarkan aku" Vania kembali mundur menghindari Julian
"Ada apa? sayang..? jangan bermain-main denganku"
"Tadi aku memeriksa sesuatu, mas pasti terkejut mendengarnya" Vania berhenti melangkah mundur ketika dirasanya jarak mereka sudah cukup jauh, ia ingin sekali melihat Julian dalam jarak yang cukup jauh saat ini
"Sejak kemarin aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan tubuhku, karena itu aku kerumah sakit untuk memeriksanya" Julian menelan salivanya, ia tidak bisa menebak apa maksud dari ucapan Vania yang berbelit-belit ini, jarak mereka yang cukup jauh juga membuatnya geram
"Sayang.. kau kenapa? Sakit apa..? katakan padaku?" Vania menggelengkan kepalanya, matanya menatap serius mata Julian
"Mas.. apa kau tidak keberatan jika Sierra punya adik?" mata Julian melebar ketika mulai mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Vania
"Aku sedang hamil anak kedua" akhirnya Vania mengatakan apa yang sedari kemarin sudah ia takutkan
"Aku tahu kau memintaku untuk minum alat kontrasepsi untuk mencegahku agar tidak hamil lagi, sungguh aku minum obatnya dengan rajin, tapi dokter bilang meskipun begitu tidak menutup kemungkinan aku tetap hamil. Tidak.. jangan maju.. tetap disana" Vania kembali mundur karena tiba-tiba Julian sudah melangkah maju mengejarnya. Karena langkah kakinya kalah lebar dari langkah Julian, pria itupun berhasil meraih Vania. Julian langsung mencium bibir Vania dengan penuh penekanan
"Benarkah.. kau hamil lagi?" Vania menatap kedalam manik mata Julian, ia tidak melihat adanya tanda-tanda keberatan dari mata itu, dan dari senyuman Julian yang merekah lebar Vania yakin pria itu merasa bahagia dengan berita ini
"Eum.."
"Ya Tuhan, satu anak lagi"
"Jadi mas tidak keberatan?"
"Tapi kau tidak ingin aku hamil lagi"
"Sayang.. itu karena Sierra masih kecil, dia butuh pendekatan dulu denganmu, jika kau langsung hamil aku takut Sierra akan kembali jauh darimu. Sekarang Sierra sudah cukup besar, dan kalian sudah sangat akrab. Aku rasa Sierra akan senang jika tahu dia akan punya adik" Vania menganggukkan kepalanya, tentu saja Sierra akan senang jika ia akan punya adik lagi, Vania pun menangis senang, ia sempat berfikir Julian tidak ingin punya anak lagi karena memintanya minum alat kontrasepsi, syukurlah ternyata bukan itu alasannya
"Hei.. kenapa menangis" Julian mengusap airmata Vania, Vania pun menangkup tangan Julian yang berada dipipinya
"Aku menangis karena bahagia.." Julian mengecup pipi Vania yang basah lalu memeluk istrinya itu
"Sayang.. aku bukannya melarangmu untuk hamil lagi, tentu saja aku ingin punya anak lagi selain Sierra"
"Iya.. sekarang aku mengerti" Vania mengalungkan tangannya dipunggung Julian yang memeluknya erat
"Yang ini harus laki-laki.."
"Apa..."
"Bagaimana caranya agar dia laki-laki?" Vania tertawa pelan
"Entahlah.."
"Kita cari bagaimana caranya mendapatkan anak laki-laki" Vania kembali tertawa lalu mendongakkan wajahnya
__ADS_1
"Bukankah sudah terlambat mas?" Julian mengerutkan alisnya
"Sepertinya belum, bukankah belum terlihat kelaminnya?" Vania pun menganggukkan kepalanya mengiyakan
"Aku rasa ada posisi tertentu agar anaknya laki-laki"
"Posisi?"
"Ayo kita cari tahu"
"Sekarang?"
"Eum.."
"Lalu makan siangnya?"
"Nanti saja"
"Tapi aku lapar"
"Ohooo.. mau membantahku"
"Eeyy ya ampun, jangan memakai nada seperti itu berbicara denganku"
"Heeii.. kau membentakku?"
"Aku lapar, aku mau makan.."
"Heeii.. kita buat dulu anak itu menjadi laki-laki"
"Tidak mau.. aku lapar"
"Heei… Vania Anastasha.. heeei..Nyonya muda Granger kembali kau kesini.. heeeiii.."
.
THE END…
CURCOL😁👇
Maaf jika endingnya mungkin mengecewakan tapi ini sudah diporsinya masing-masing.Jadi,kalau ada yang ingin extra part maaf saya tidak janji untuk membuatnya..kalaupun cerita ini lanjut saya akan buat novel lain dengan cast Mira Aurora dan Reynold putra...sekian dan terima kasih atas dukungannya untuk semuanya🙏😘😘
Novel ini cuma novel coba-coba tapi Alhamdulillah banyak juga yang mampir..tapi kalau dikembangkan novel ini mungkin akan butuh berpart-part agar mencapai end
Dan saya harap ada yang mau mampir ke cerita baru saya yang berjudul The Grudge Love seperti dibawah ini👇
Mampir ya teman-teman..terima kasih🙏🤗😘
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏