
JULIAN GRANGER TERLIHAT DITENGAH KOTA BERSAMA ANAK DAN ISTRINYA
Setelah Julian Granger mempublikasikan kemesraannya bersama istrinya dipinggiran jalan Jakarta kini terungkap sudah seperti apa wajahnya, tidak ada yang menyangka jika wanita yang dinikahi oleh Julian Granger adalah wanita yang berasal dari kalangan bawah. Wanita itu terlihat sangat manis dengan pembawaan dirinya yang juga sangat ramah. Terlihat elegan dan tanpa cacat sedikitpun.
Banyak yang mengatakan mereka selalu suka melihat nyonya muda mereka itu tersenyum. Pegawai-pegawai di hotel pun menyukai istri dari bos mereka itu. Terdengar kabar dari beberapa pegawai, Julian Granger terlihat lebih manusiawi setelah menikah. Hal ini berdampak positif pada seluruh pegawai dan otomatis mereka menyukainyaโฆ. Pak Norman meletakkan koran yang belum selesai ia baca seluruhnya itu disebelahnya, ia menatap kedepan ke sungai jernih yang mengalir deras. Memancing adalah impiannya sejak dulu, karena itu hari ini ia menyempatkan diri untuk memancing dengan membawa koran yang memberitakan hal positif tentang Julian dan Vania. Pak Norman tersenyum memandangi langit biru diatasnya. Sekarang apa kira-kira yang sedang mereka berdua lakukan?. . . .
๐๐๐
SRAAAK..SRAAAAKKK.. BRRUUKKK..
Julian membuka matanya mendengar suara gaduh didalam kamarnya, hari sudah pagi dan waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, biasanya Julian selalu bangun lebih pagi untuk berangkat kekantor, tetapi semenjak Sierra lahir dan menikah dengan Vania, Julian memundurkan jadwal pergi ke kantornya.
Julian menoleh kesamping ketempat dimana seharusnya Vania masih tidur disebelahnya, wanita itu tidak ada. Julian duduk di tempat tidur lalu mencari-cari sosok Vania. bisa dipastikan istrinya itulah yang membuat suara gaduh tadi
"Apa yang sedang kau cari?"
"Kalungku.. hilang entah kemana" jawab Vania sambil membuka laci-laci dari meja riasnya.
"Kalung yang mana?"
"Yang mana lagi? hadiah pertama dari mas untukku" jawab Vania, merujuk pada kalung yang diberikan oleh Julian ketika mereka bertemu lagi setelah berpisah selama satu tahun, Vania memang pernah menolak memakai kalung itu ketika Vania masih tidak percaya pada cinta Julian, tapi ia menerimanya setelah mereka bersama-sama kembali
"Dimana terakhir kali kau melihatnya?"
"Seingatku aku memakainya semalam, dimana benda itu?" Julian menelengkan kepalanya kekiri dan kanan, menghilangkan rasa kantuk dimatanya
"Sudahlah nanti aku belikan yang baru lagi"
"Tidak mau.. kalung itu berharga, benda pertama yang kau berikan padaku"
"Tapi bukan benda terakhir yang akan kuberikan, lupakan saja"
"Tidak mau.. makna-nya begitu penting untukku"
Julian tersenyum senang karena Vania menyimpan benda pemberian darinya dengan penuh rasa sayang, banyak yang sudah Julian berikan kepada Vania, terkadang istrinya itu masih sering menolak karena harganya terlalu mahal. Julian sudah hampir lelah mengatakan kepada Vania bahwa sekarang wanita itu sudah menjadi seorang istri CEO yang kaya raya, seperti itulah Vania masih belum terbiasa dengan banyaknya harta yang dimiliki oleh suaminya.
Julian ikut mencari kalung itu disekitar tempat tidur, dia ingat Vania memang memakainya malam tadi, sebelum mereka bercinta. Julian menemukan kalung itu tepat dibawah bantal yang ia tiduri, pria itu tersenyum sambil memegang kalung itu
"Lihat apa yang kutemukan" Vania berbalik kearah Julian lalu berseru riang
"Kau menemukannya dimana?"
"Dibawah bantal"
"Kenapa bisa ada disana?" Vania mengerutkan alisnya lalu mengambil kalung itu namun tertahan oleh tangan Julian, pria itu mulai memasangkan kalung itu dileher istrinya. Setelah selesai ia langsung memeluk tubuh istrinya sebelum Vania pergi dari hadapannya
__ADS_1
"Mas.. aku harus melihat Sierra"
"Nanti saja, berikan aku morning kiss dulu" Julian menarik Vania agar naik keatas pangkuannya. Vania tersenyum sambil memegang kedua pipi Julian, ia memberikan ciuman selamat paginya dengan sedikit bermain-main, awalannya hanya memberikan beberapa kecupan dibibir Julian lalu hanya menempelkan bibirnya tanpa bergerak sedikitpun
"Ayolah sayang, jangan main-main" geram Julian, menahan tengkuk Vania lalu mengambil alih acara ciuman pagi itu, mereka bertukar rasa dari bibir masing-masing, menjelajah mulut masing-masing. Tangan Julian bergerak masuk kebalik baju Vania, mencari-cari gundukan lembut didada istrinya.
"Mas.. aku sudah mandi" terdengar suara protes Vania, namun sama sekali tidak menghentikan gerakan tangan Julian
"Kau bisa mandi lagi nanti"
"Sierra mungkin sudah bangun"
"Sierra tidak akan keberatan karena Mamanya sedang mengasuh papanya dulu" belum sempat Julian bertindak lebih jauh terdengar suara tangisan Sierra dari kejauhan, putri mereka meskipun sudah berusia empat tahun tetap menangis jika terbangun tanpa melihat siapapun disebelahnya.
Vania menoleh kearah pintu lalu tersenyum kepada Julian. Julian menggerutu pelan sambil menempelkan kepalanya didada Vania. dua tahun setengah sudah mereka menikah dan Sierra menjadi semakin akrab dengan ibunya, Julian bahagia karena melihat kedua sumber kebahagiaannya itu menjadi semakin dekat, seperti yang pernah ia katakan Sierra mengenali ibunya. Sekarang, apapun yang terjadi Sierra tidak mau jika bukan Vania yang melakukannya. Jika Vania pergi Sierra menangis, Sierra bahkan menangis jika ibunya hanya pergi untuk mandi. Putri mereka benar-benar sangat manja
"Urus anakmu, setelahnya urus aku" rutuk Julian, lalu melepaskan tangannya dari pinggang Vania. Vania tertawa sambil turun dengan cepat dari pangkuan Julian lalu berlari meninggalkan Julian
"Mas harus mandi dan turun untuk sarapan, cepatlah" Julian men****h namun ia tersenyum, satu lagi pagi yang indah datang dihidupnya, betapa bahagianya dia
๐๐๐
Meja makan terlihat penuh oleh beberapa makanan, Mama Rianty sudah duduk ditempatnya, menemani Sierra yang duduk dikursi tinggi khusus untuk balita, menyuapi cucunya itu sarapan paginya. Julian tersenyum melihat pemandangan yang tidak pernah berubah itu, Ibu Vania pun terlihat sehat duduk dimeja makan memperhatikan tumbuh kembang cucunya Sierra dari sisi meja yang lain
"Selamat pagi Lian.." sambut Ibunya Vania dan Mama Rianty bersamaan. Julian menghampiri Sierra dan mengecup pipi tembam putrinya itu
"Selamat pagi Sierra sayang, apa yang kau makan?" Julian mengernyitkan hidungnya melihat mulut putrinya belepotan. Sierra mengelak dari ciuman ayahnya, setelah lebih besar dan menginjak usia keempatnya putrinya itu tidak suka menerima ciuman berlebihan dari ayahnya. Terkadang Julian merasa gemas dan malah menempelkan lebih lama bibirnya dipipi Sierra. Dan hal yang terjadi selanjutnya adalah Sierra berteriak kesal sambil mengusap pipi yang dicium Julian. melihat itu Julian pun menjadi semakin gemas dan mencium lama pipi yang sebelahnya lagi, sampai gadis kecil itu menangis dan merengek pada ibunya
"Kau selalu suka papa cium dulu, kenapa sekarang jadi tidak suka?"
"tiidaak.. papa.. tiidaaaak.." Sierra menggerakkan tangannya melarang ayahnya dan berteriak jangan
"Anak-anak selalu seperti itu, ada kalanya dia menolak ada kalanya dia bersikap manja" Julian tersenyum, ibunya benar Sierra memang sesekali tidak suka dicium oleh Julian tetapi balik lagi Sierra pasti mencari ayahnya hanya untuk ingin digendong dan dinina bobokan oleh ayahnya.
Vania muncul ke ruang makan dengan membawa sepiring sayuran lalu meletakkanya diatas meja. Julian menghampiri istrinya itu lalu memeluk pinggangnya dari belakang, mendaratkan ciuman dipipi Vania yang sekarang tidak lagi terlihat tirus, karena berat badanya telah bertambah, berbeda dengan sebelum mereka menikah
"Selamat pagi sayang"
Wajah Vania merona malu, Julian tidak pernah menutup-nutupi kemesraan mereka bahkan didepan Mama Rianty dan juga ibunya Vania. Vania memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Julian, lalu mengikat dasi Julian yang masih tergantung dileher.
"Sarapan pagi mas, kau harus ke hotel lebih cepat pagi ini" Julian mendaratkan kecupan hangat dipipi Vania lalu duduk dan mulai menyantap sarapan pagi yang dibuat oleh istrinya tercinta,Vania Anastasha . . .
๐๐๐
"Semua berjalan dengan lancar tuan, kecuali ada satu tamu yang terus-terusan mengajukan protes atas layanan room servise kita"
__ADS_1
"Protes..?"
"Iya.. tapi menurut saya semua itu dilakukan hanya karena sang tamu ingin mencari perhatian manager Mira" Julian menaikkan alisnya mendengar berita itu, sejak diangkat menjadi manager, Mira bekerja dengan sangat keras. Julian bahkan mengakui bahwa wanita itu memang bisa diandalkan untuk mengatur para pekerja di hotel. Karena terlalu sibuk bekerja wanita itu jadi tidak menikmati waktu liburannya dengan baik. Vania terkadang mengajukan protes kepada Julian kenapa Mira harus bekerja sesibuk itu hingga wanita itu tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk berkencan
"Siapa nama tamunya?" tanya Julian
"Aktor ternama tuan, Reynold Putra"
"Aaa.." Julian menyunggingkan senyum misterius
"Baiklah, kau boleh keluar sekarang" setelah sekretarisnya melaporkan kegiatan di Hotel Julian pun bergegas keluar dari kantornya, hari sudah siang sudah saatnya Julian keluar kantor dan menikmati makan siangnya
Julian berjalan dilorong hotel menuju kearah lift. Ketika pintu lift terbuka Julian bertatap muka dengan wanita yang baru saja dibicarakan olehnya dengan sekretarisnya tadi. Mira menunduk sedikit tanda hormat kepada Julian, Julian-pun tersenyum menerima sapaan sopan itu
"Apa kau bekerja dengan baik Mira..?" setelah pintu tertutup dan mereka hanya berdua saja Julian pun mengajak wanita itu untuk mengobrol santai
"Sangat baik, hanya ada satu masalah dari tamu yang terus-terusan mengajukan protes, aaarrgghh.. aku bisa gila"
"Mungkin sudah saatnya ada seseorang yang membuatmu kesal, selama ini kan kau yang membuat orang lain kesal"
"Tuan Granger" Julian tertawa pelan
"Pergilah berkencan Mira, aku tidak tahan mendengar rengekan Vania yang terus-terusan memintaku mencarikanmu pacar"
"Haaah.. tidak ada yang cocok denganku, para pria selalu lari karena aku terlalu cerewet untuk mereka"
"Kalau begitu carilah yang lebih cerewet darimu"
"Ya Tuhan, dimana aku bisa menemukannya?"
TINGโฆ pintu lift terbuka dan Julian pun keluar disusul oleh Mira
"Entah kenapa rasanya tamu kita yang bernama Reynold putra itu sedikit mirip denganmu, sangat cerewet"
"Apa..?"
"Sampai jumpa lagi manager Mira" Julian pun meninggalkan Mira yang masih belum bisa mencerna kalimat ambigu Julian itu.
.
.
.
Kritik dan saran diharapkan๐๐
__ADS_1