
Vania tidak bisa memejamkan matanya malam itu, ia juga tidak henti-hentinya menangis. Hati dan pikirannya masih tidak bisa menerima kejadian yang dilihatnya diruang kerja Julian tadi, jadi Julian bermaksud menikahi Angel dan membiarkan anaknya dirawat oleh Angel? Itu tidak akan pernah terjadi. Vania tidak akan pernah rela
Vania duduk dipinggiran tempat tidur dan berjalan kearah pintu kamarnya, ia tahu ia telah salah dengan melanggar perjanjian awal mereka. Tapi apa yang harus Vania lakukan? Ia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak mencintai bayi yang ada didalam kandungannya ini
Vania keluar dari kamar lalu mencari-cari keberadaan Pak Norman, gadis itu akan melakukannya, ia akan pergi dari rumah itu.Vania berjalan keruang tamu, matanya melirik kunci mobil yang selalu dibawa oleh Pak Norman, dengan cepat ia mengambil kunci mobil itu dan berjalan keluar dari rumah
Vania pernah belajar mengendarai mobil, itu karena Mira yang mengajaknya untuk belajar membawa mobil. Sekarang ia bersyukur karena mengikuti keinginan Mira, setidaknya ia punya dasar-dasar untuk mengemudi.
Vania keluar dari rumah tanpa mengenakan jaket atau sepatu, takut ia akan terlihat jika ia melakukan itu. Dengan berjalan perlahan-lahan ia memasuki mobil dan mulai menyalakan mobil itu lalu mulai menjalankannya
Vania bermaksud untuk membuat mobil itu mundur tetapi yang terjadi adalah mobil itu maju kedepan dan menabrak pagar rumah yang terletak dihadapannya. Vania menjerit tertahan karena benturan itu, ternyata ilmu mengendarai mobilnya tidak begitu bagus, Vania pun keluar dari mobil itu lalu berjalan kearah jalanan yang gelap dan dingin, menjauh dari rumah itu
🍀🍀🍀
Julian sedang mengurung diri didalam kamarnya ketika mendengar suara mobil menyala dan tiba-tiba menabrak sesuatu, Julian bangkit dari tempat tidur lalu keluar dari kamarnya, bertanya-tanya siapa gerangan yang bermaksud pergi malam-malam seperti ini? Julian berpapasan dengan Pak Norman diruang tamu, Pak Norman pun terlihat bingung seperti Julian
"Siapa itu?" tanya Julian
"Aku tidak tahu tuan, tapi kunci mobilku tidak ada ditempatnya" jawab Pak Norman, terus berjalan kearah suara benturan itu. Julian dan Pak Norman melihat mobil Pak Norman yang menabrak pagar yang terbuat dari tembok itu, siapa yang telah bodoh menghidupkan mobil itu dan menabrakkannya disana?. Julian terdiam, mungkinkah
"Dimana Vania?"
"Terakhir dia ada dikamarnya" jawab Pak Norman
"Periksa Vania" Julian berjalan kearah mobil itu tanpa mengganti sendal rumahnya, dinginnya udara diluar membuat Julian bergidik.Hujan deras baru saja mereda dan ini sudah hampir tengah malam yang membuat udara terasa begitu dingin.Setitik tetes air bekas hujan mengenai pipi dan kulitnya yang tidak tertutupi baju hangat, tetapi itu tidak menghentikannya untuk melihat kearah mobil, terlalu takut untuk masuk dulu. Julian melihat pintu mobil yang terbuka lalu jejak kaki yang mengarah kejalan utama.
"Tidak.."
"Nona Vania tidak ada dikamarnya tuan" Pak Norman datang dengan memberikan kebenaran atas ketakutan Julian. Julian pun langsung berlari mengikuti jejak kaki itu, tanpa peduli ia akan kedinginan sekalipun, ia akan mengikuti jejak kaki di becekan lumpur yang menutupi jalanan itu
"Tuan.. anda mau kemana..?"
🍀🍀🍀
Vania menopangkan tangannya disebuah pohon besar dipinggiran jalan, sudah cukup lama ia berdiri disana menunggu mobil yang mungkin saja melewatinya dan meminta bantuan dengan menumpang. Tetapi sudah sejak lima belas menit yang lalu Vania tidak melihat satu mobilpun yang lewat
Vania mengeram tertahan, merasakan sakit yang luar biasa diperutnya. Sejak ia menabrakkan mobil itu tadi Vania sudah merasakan sakit diperutnya, Vania yakin ia tadi sedikit menekan perutnya ketika benturan itu terjadi
Vania mengeram lagi ketika rasa sakit yang luar biasa kembali datang, malam begitu gelap dan udara begitu dingin, keringat dingin yang keluar dari tubuhnya membuatnya semakin menggigil kedinginan.Vania memegang perutnya ketika merasakan sesuatu mengalir dikakinya, dengan takut-takut gadis itu pun menoleh kebawah, nafasnya memburu cepat melihat aliran darah dikakinya
"Tidak..jangan" bisiknya…
"Tidaaak…" Julian mendengar suara Vania, ia beranjak menuju arah suara itu sampai akhirnya ia melihat Vania sedang berdiri dengan tangan berpegangan pada pohon
"Gadis bodoh, apa yang kau lakukan diluar sini? Cepat kembali kerumah…" Julian menghentikan teriakannya menyadari adanya kejanggalan dari posisi berdiri Vania
"Vania.." panggilnya khawatir. Julian memegang lengan Vania
"Kamu kenapa..?"
"Lepaskan aku" Vania menepis tangan Julian, lalu merintih sakit. Perutnya benar-benar terasa sakit
"Aargghh.." kakinya lemas, Vania pun merosot jatuh. Julian menangkap cepat tubuh Vania kedalam pelukannya
__ADS_1
"Lepaskan aku"
"Sialan! kau ingin mati disini? Haah..? membunuh anakku?"
"Dia anakku…" desis Vania marah. Julian menautkan alisnya marah
"Kalungkan lenganmu dileherku"
"Tidak mau"
"Kau ingin anak ini mati..?" Vania menahan tangisnya lalu patuh mengalungkan lengannya dileher Julian. dengan cepat Julian mengangkat kaki Vania dan membopongnya menuju rumah. Pak Norman terkejut melihat Julian membawa Vania didalam gendongan dalam keadaan lemas dan pendarahan
"Paman ambil kunci mobilku" perintah Julian. Pak Norman langsung berlari mengambil kunci mobil lalu Julian langsung berjalan kearah mobilnya dan membuka pintu penumpang, masuk bersama Vania yang berada dipelukannya, tidak perlu menunggu waktu lama Pak Norman kembali dengan membawa kunci mobil, lalu membawa Julian dan Vania kearah rumah sakit
Julian menunduk mengusap keringat dingin yang mengalir dari kepala Vania. Gadis itu memejamkan matanya dan terus-menerus mengerang sakit. Wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Julian menyentuhkan tangannya diwajah Vania. Dingin, itulah yang Julian rasakan. Julian mengecup pelan pipi, kening hidung dan bibir Vania. bermaksud untuk membuat wajah Vania kembali hangat
"Paman nyalakan pemanas mobilnya" perintah Julian. Pak Norman mematuhi perintah itu lalu udara dimobil mulai menghangat, tetapi tidak ditubuh Vania
"Ya Tuhan, aku butuh selimut" Julian meraih tangan Vania lalu mulai menghembuskan nafas hangatnya ditangan Vania
Vania tidak lagi mengerang kesakitan melainkan menggigil karena rasa sakit yang tidak bisa ia tahan lagi itu. Vania membuka matanya lalu menatap Julian yang sedang sibuk membuat tangannya menghangat
Vania meringis sakit merasakan perutnya yang kembali terasa sakit. Apa bayinya akan baik-baik saja? setelah apa yang ia lakukan secara egois tadi? Hanya memikirkan perasaannya yang terluka tanpa memikirkan nasib bayinya?
"Maafkan aku.." bisik Vania pelan. Julian menatap wajah Vania bingung
"Maafkan aku tuan.." kemudian gadis itu memejamkan matanya karena tidak sanggup lagi untuk tetap sadar. Julian berubah panik
" Vaniaa..?" tangannya menangkup wajah Vania, masih dingin.. kenapa tubuh Vania masih terasa dingin
"Paman cepatlah" teriak Julian panik. Pak Norman melajukan mobilnya dengan kecepatan yang bisa ia pakai untuk menerobos jalanan licin habis hujan itu. matanya melirik kearah kaca spion dimana Julian masih sibuk menghangatkan tubuh Vania.Hati Pak Norman mencelos sedih, kenapa ini harus terjadi pada Vania? gadis rapuh dengan senyum yang membuat semua orang merasa damai
🍀🍀🍀
Mereka tiba dirumah sakit terdekat, Vania langsung dilarikan keruang unit gawat darurat untuk diperiksa. Julian menunggu diruang tunggu sementara Pak Norman mengurus segala yang dibutuhkan. Julian tidak berhenti menggerakkan kakinya dengan cemas, kebiasaan itu selalu terjadi jika Julian merasa resah
Pria itu tidak pernah sekalipun merasa setakut ini, bahkan ketika ayahnya harus menjalani operasi jantung Julian masih bisa bersikap tenang, pria itu bahkan bisa membuat ibunya merasa tenang dengan ketenangannya itu. Tetapi kali ini, ingin rasanya Julian ikut masuk kedalam ruangan itu hanya untuk memastikan kondisi Vania
"Tuan muda" panggilan Pak Norman membuat Julian tersadar dari lamunannya, ia menoleh kearah Pak Norman yang berdiri dengan menyodorkan segelas kopi hangat
"Anda sebaiknya minum ini"
"Tidak.. kau saja" Pak Norman duduk disebelah Julian
"Tuan muda, sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu tapi.."
"Kalau begitu jangan" potong Julian
"Sebaiknya kau simpan saja apa yang ingin kau katakan"
" Iya.. Baiklah.. aku akan tetap mengatakannya sekarang" Pak Norman berkeras. Julian sudah bisa menebak apa yang ingin Pak Norman katakan, tetapi pria itu tetap diam untuk mendengarkan, ia butuh pengalihan dari rasa khawatirnya terhadap Vania
"Apa yang ingin kau bicarakan..?"
__ADS_1
"Awalnya aku tidak pernah menyukai ide anda yang ingin menyewa seorang wanita untuk mengandung anakmu, tapi karena aku mengenalmu sejak kau masih bayi aku memiliki perasaan yang khusus padamu, seperti rasa sayang terhadap anak sendiri, aku pun ingin kau bahagia, karena itu aku mematuhi semua yang kau perintahkan padaku, termasuk membawa Nona Vania kedalam keegoisanmu"
"Tetapi tuan mudaku, ketidak sukaan terhadap ide itu berubah menjadi sebuah harapan, yaitu aku berharap Nona Vania bisa mengembalikanmu menjadi Julian Granger yang dulu, yang belum terluka karena ditinggalkan oleh nona Angel. Dan anda tahu tuan? Harapan itu hampir saja terkabul ketika nona Angel sekali lagi merusakmu. Bukan maksudku menjelekkan nona Angel, tetapi…" Pak Norman terdiam sejenak
"Aku.. setelah Nona Vania melahirkan bayinya, aku ingin berhenti bekerja" Julian menaikkan kepalanya menoleh kearah Pak Norman
"Berhenti bekerja..?"
"Kenapa..?"
"Aku pasti akan merasa sangat bersalah ketika melihat bayi itu nantinya, karena aku tahu ibunya harus pergi dan terpisah dari bayinya"
"Paman.."
"Itu saja tuan muda" Julian hendak membantah Pak Norman ketika pintu ruang periksa Vania terbuka dan seorang suster keluar dari dalam ruangan itu lalu mendekati mereka. Julian langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri suster itu dengan jantung yang berdetak cepat
"Suaminya?"
"Aku ayah bayinya" jawab pria itu cepat
"Masuklah, dokter ingin mendengar keputusanmu" Julian berjalan dengan jantung yang berdebar kencang, apa yang ingin didengar darinya.Julian bisa melihat Vania sedang diperiksa oleh seorang dokter dan dua orang suster, Vania terbaring lemah diatas tempat tidur periksa dalam keadaan tak berdaya, matanya sudah kembali terbuka dan terlihat menerawang jauh, Vania menoleh padanya dengan pandangan sayu, Julian berjalan mendekati Vania, mengusap kepala gadis itu
Mata Vania terlihat membuka dan menutup antara sadar dan tidak merasakan kehadiran Julian. Satu dokter lagi datang mendekati Julian
"Tuan.. istri anda berada dalam keadaan genting, dia tidak bisa melahirkan bayinya secara normal karena kondisi istri anda yang lemah, tetapi kami juga tidak bisa mengoperasinya karena istri anda memiliki tekanan darah yang rendah" Julian mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter, ia tidak mengerti satu patah kata pun yang diucapkan oleh dokter itu
"Lalu..? apa yang bisa kau lakukan?"
Dokter itu menggelengkan kepalanya
"Masalahnya adalah keadaannya sangat genting, kemungkinan salah satu dari mereka tidak bisa diselamatkan"
"Apa..?"
"Karena itu aku memanggilmu kemari, jika memungkinkan Anda untuk memilih, kau ingin kami menyelamatkan ibunya atau anaknya?"
DEG…
Julian terdiam, terlalu terkejut mendengar pertanyaan dokter itu
"Pilihan macam apa itu?" desisnya
"Maafkan aku tuan, tapi anda harus mengambil keputusan dengan cepat, atau kita akan kehilangan mereka berdua. Ibu atau anaknya?" Julian menelan salivanya pelan, pilihan apa yang harus ia ambil?, jika ia memilih bayinya itu sama saja artinya dengan Julian sama sekali tidak peduli dengan Vania, tetapi jika ia memilih Vania, maka Julian akan kehilangan bayi yang sangat ia inginkan selama ini
Terdengar suara ******* nafas Vania yang terengah-engah ketika Julian larut dalam pikirannya, gadis itu terlihat sama sekali tidak berdaya, berusaha untuk tetap tidak kehilangan kesadarannya. Julian tahu, tidak mudah bagi gadis itu untuk menahan sakit yang saat ini ia rasakan
"Ibunya.." bisik Julian serak
"Kumohon, selamatkan ibunya"
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏