Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 44


__ADS_3

Vania memandangi dirinya yang sedang duduk dikursi terpantul di cermin, gaun panjang berwarna putih itu terlihat sangat indah, bagian bawah gaun itu juga mengembang lebar. Khas baju-baju pengantin ala orang barat dijaman kerajaan dulu. Gaun itu terbuat dari beberapa lapisan kain linen berwarna putih dan bergelombang. Rambutnya dibuat bergelombang dengan ikal-ikal yang kecil tersemat dikedua pipinya, mahkota kecil menghiasi kepalanya. Membuatnya benar-benar menjadi seorang putri hari ini


"Kau benar-benar cantik" puji Mama Rianty, akhirnya hari ini telah tiba, Mama Rianty bisa melihat putranya menikah dengan wanita yang ia cintai, dan yang lebih membahagiakannya lagi Mama Rianty menyukai gadis ini


"Akhirnya kau benar-benar akan menjadi menantuku"


"Terima kasih Ma" Mama Rianty menatap Vania dengan mata berkaca-kaca, wanita itu menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan desakan airmata itu, hari ini ia tidak akan menangis, dia akan merasa bahagia


"Kau Cantik sekali Vania.." Ibunya duduk disebelah Vania sambil mengusap lembut rambut Vania


"Ibu juga tidak mengira akan hidup selama ini sampai akhirnya melihatmu menikah. Ini benar-benar anugrah terindah dihidupku" Vania tersenyum menjawab Ibunya, tidak mungkin Vania bilang bahwa ibunya masih bisa hidup memang karena biaya operasi yang diberikan oleh Julian. Semua ini akan tetap menjadi rahasia untuk Ibunya. Vania menyandarkan kepalanya dibahu Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki itu


"Aku juga bersyukur Ibu tetap sehat sampai hari ini tiba" mereka saling berpelukan dalam waktu yang lama, saling mengungkapkan perasaan masing-masing hingga satu-satunya sahabat Vania datang menemuinya


"Wooah.. Vania.. kau cantik sekali" Vania tersenyum, menoleh kearah pintu dan melihat Mira datang keruang gantinya


"Ini pasti gaun yang sangat mahal" desah Mira kagum, setelah Vania dibawa kerumah Julian Vania jadi jarang bertemu dengan Mira, tapi Vania tahu kehidupan gadis itu sangat baik karena Julian menaikkan jabatan Mira menjadi kepala manager bagian pelayan, menggantikan manager Heru sedangkan manager Heru dipindah tugaskan ke hotel lain dengan jabatan yang lebih tinggi. pembagian yang cukup adil, itu yang Mira katakan kepada Vania ketika Vania menelponnya


"Mira.. terima kasih, untuk semuanya"


"Eey.. tidak perlu, kita kan bersahabat" Mira menggenggam tangan Vania dengan erat, ia tidak ingin merusak dandanan Vania dengan memeluk gadis itu


"Aah..aku iri, aku juga ingin menikah, jika Julian punya teman laki-laki kenalkan padaku ya?"


"Kau memanggilnya Julian sekarang?"


"Ssstt.. hanya didepanmu, jangan katakan padanya aku memanggilnya seperti itu, bisa-bisa aku dipecat"


"Ahahahah baiklah.." Setelah Ibunya, Mama Rianty dan Mira pergi, Vania dikejutkan oleh tamu yang tak terduga, ia tahu Julian mengundang wanita itu tapi Vania tidak pernah tahu bahwa wanita itu akan menemuinya secara khusus

__ADS_1


"Mba Angel"


"Hai Vania.." Angel masuk dan membungkukkan badannya, memberi hormat kepada Ibunya Vania dan Mira, menyadari siapa wanita itu Mira pun mengajak Ibunya Vania untuk pergi. Meninggalkan Vania dan Angel berdua saja


"Aku sudah sangat ingin menemuimu ketika tahu Julian sudah menemukanmu, tapi aku terlalu sibuk. Aku benar-benar ingin mengucapkan permintaan maafku padamu, malam itu aku memang sengaja ingin membuatmu terluka dengan membiarkanmu membuatkan susu untuk Julian dan dengan sengaja membuka pintu dengan lebar. Jika saja aku tidak egois, kau mungkin tidak akan celaka"


"Tidak apa-apa, aku mengerti.."


"Kau tidak akan mengerti.."


"Tidak, aku sungguh-sungguh mengerti.. jika saja aku yang berada diposisimu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama" Angel tersenyum lalu mend****


"Kau memang gadis yang baik, memang cocok untuk menjadi pendamping Julian yang keras kepala. Selamat.."


"Iya.. terima kasih.."


"Aah.. ini bunga untukmu, aku dan Rena sengaja merangkainya untuk kau pakai hari ini"


"Tidak perlu sungkan.."


"Angel..kau datang?" suara Julian muncul dari arah pintu, Vania dan Angel langsung menoleh kearah pintu.


"Tentu saja, ini kan hari besarmu. Yaa.. Julian Granger, akhirnya kau menikah juga eoh?" Vania meninjukan tangannya dilengan Julian dengan mata yang sedikit basah


"Berbahagialah"


"Terima kasih.." Julian mendaratkan satu kecupan sayang dipunggung tangan Vania, sebagai ucapan persahabatan kepada Angel. Angel tersenyum lalu mengundurkan dirinya dari ruang ganti tersebut. Meninggalkan calon pengantin baru itu berdua saja. Vania tidak merasakan desakan cemburu sedikitpun melihat adegan itu, sekarang ia mengerti. Hubungan yang ada diantara mereka berdua hanyalah sebuah persahabatan, mungkin karena terlalu sering bersama-samalah yang membuat Julian berfikir bahwa ia hanya mencintai Angel saat itu.


Julian kembali menoleh kearah Vania lalu terdiam, gadis itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih itu. seperti Julian yang terpesona Vania pun seperti itu, menatap takjub Julian yang berdiri dengan balutan tuxedonya

__ADS_1


" Cantiknya.." ujar Julian ketika sudah berdiri dihadapan Vania


"Mas seharusnya tidak boleh kesini"


"Aku sudah tidak sabar untuk melihatmu" Julian berlutut dihadapan Vania dan mengusap lengan Vania yang tertutup sarung tangan berwarna putih. Matanya tidak lepas memandangi wajah Vania


"Apa kau memang secantik ini?" Vania tertawa lalu menggelengkan kepalanya


"Aku tidak tahu" Julian tertawa pelan


"Aku punya sesuatu untukmu" bisik Julian


"Apa..?" Julian meraih pergelangan kaki Vania yang berada dibalik tebalnya gaun pengantin itu dan melepaskan sepatu cantik yang dipakai Vania. Setelah sepatu itu lepas Julian mengulurkan tangannya yang ia sembunyikan dibelakang punggungnya sejak ia masuk tadi dan memakaikan sepatu yang berwarna putih transparan dengan sebuah bunga yang terbuat dari manik-manik berkilau menghiasi ujung sepatunya.


Lalu sekali lagi Julian melepaskan sepatu yang sebelahnya dan memakaikan pasangan sepatu itu dikaki Vania. Vania memandang bingung sepatu itu, sepatu itu sama cantiknya dengan sepatu yang tadinya Vania pakai, tapi yang ini terasa lebih berkilau dan pas dikakinya


"Ini sepatu kaca untuk Cinderellaku" Vania melebarkan matanya, sepenuhnya terkejut. ia tidak tahu Julian akan berlaku seromantis ini


"Sepatunya benar-benar terbuat dari kaca?" bisik Vania


"Eum.. aku memesannya langsung, Sepatu ini hanya ada satu didunia, karena hanya ada satu cinderella dan dia milikku"


"Mas.." Julian mengulurkan tangannya dipipi Vania lalu mencium pelan gadis itu


"Sudah kubilang, akan kubuat kau benar-benar menjadi cinderella" Vania mencoba menghalau desakan airmatanya dengan tertawa, Mira dan Pak Norman benar, Julian bisa sangat-sangat romantis kepada wanita yang dicintainya. Dan ia merasa beruntung karena menjadi gadis yang mendapatkan semua hal-hal romantis dari Julian. Dan pria itu membuat hidupnya benar-benar seperti sebuah dongeng.


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏 


__ADS_2