
Suara mobil memasuki halaman menyentakkan Vania dari kegiatannya memandangi wajah Julian. Vania memejamkan matanya lalu menatap Julian dengan alis mengerut. Jadi dia harus menahan malu lagi? pikirnya
Vania pun berjalan keluar kamar menghampiri Pak Norman yang baru saja masuk melalui pintu depan
"Oo, kau sudah bangun Nona?" sapa Pak Norman
"Iya. selamat pagi Paman"
" Selamat pagi" Jawab Pak Norman cepat
" Aku harus membangunkan tuan muda, jika tidak dia akan terlambat"
" Paman" panggil Vania, menghentikan langkah Pak Norman
"Tuan Granger ada.. euhmm. Dikamarku" akhirnya Vania bisa mengatakannya meskipun dengan wajah yang memerah. Pak Norman terdiam
"Dia tidur bersamamu?" pertanyaan itu keluar begitu saja, tentu saja Pak Norman tahu Julian dan Vania melakukannya malam tadi, tapi ia terkejut karena Julian tidur dikamar Vania. Bukan kebiasaan Julian untuk tidur satu ranjang dengan kekasih one night nya
Julian selalu pulang dan tidur diranjangnya sendiri meskipun ia pergi bersama gadis-gadis itu. Vania semakin merona. Pak Norman berdeham pelan
" Kau mau membantuku membangunkannya? Aku akan menyiapkan pakaian kerjanya dan sarapan pagi"
" Eeuhmm.. kenapa tidak aku saja yang menyiapkan pakaian dan sarapan lalu paman yang membangunkannya"
"Aku tidak bisa masuk ke kamarmu kan?. Bantu aku bangunkan dia"
""Eum..baiklah" Vania memberengut ketika berbalik lagi kearah kamarnya. Ia mau saja membangunkan Julian, tapi Vania takut Julian tidak suka dibangunkan olehnya
Vania menghampiri Julian, berdiri disebelahnya. Tangannya terulur menyentuh bahu Julian.
"Tuan.. tuan Granger.. hari sudah pagi, sebaiknya anda bangun"
Julian melenguh pelan dalam tidurnya lalu membuka matanya, menoleh kearah Vania. Matanya hanya mengerjab sekali, Entah kenapa terbangun dengan melihat Vania berdiri disebelahnya tidak membuatnya terkejut
Julian sudah sering memimpikan hal seperti ini, terbangun dengan melihat wajah yang sangat ia rindukan, tapi gadis ini bukan Angel, meskipun mereka mirip, Vania bukanlah Angel dan Julian sadar itu
Julian duduk sambil mengusap wajahnya, menoleh kearah jam lalu mengerang. Ia sudah pasti terlambat
"Dimana Paman Norman" ujarnya serak
"Sedang menyiapkan pakaian dan sarapan" Julian mengangguk pelan lalu menyibakkan selimutnya, terkejut mendapati dirinya tidak memakai apapun dibalik selimut. Vania mengulurkan pakaian Julian dengan kepala menoleh kesamping, menghindari untuk menatap Julian saat ini
Julian mendengus geli melihatnya, iapun mengambil pakaian yang disodorkan oleh Vania, berpakaian cepat, dan bergegas kembali ke kamarnya sendiri.
"Selamat pagi tuan muda" Pak Norman masuk kedalam kamar Julian, ketika majikannya sedang mengikat dasi dilehernya. Aroma sabun dan parfum yang maskulin tercium dikamar itu
" Selamat pagi Paman Norman" balas Julian, memberikan senyum singkat kepada Pak Norman
"Hari ini anda terlihat berbeda" ujar Pak Norman dengan penuh keyakinan.Julian melirik Pak Norman sekilas lalu bertanya
" Apa yang berbeda?"
" Entahlah, anda terlihat lebih segar hari ini"
"Mungkin karena aku tidur lebih lama dari biasanya" jawab Julian acuh.
"mungkin" jawab Pak Norman menyetujui. Tersenyum penuh arti dibelakang Julian
__ADS_1
"Sarapan sudah siap tuan" Julian menganggukan kepalanya setelah selesai mengikat dasinya ia berjalan keluar kamar disusul oleh Pak Norman yang membawakan jas milik Julian.
"Tuan muda, aku punya permintaan"
"Permintaan?" tanya Julian bingung
"Semua ini membuatku lelah" Julian berhenti lalu berbalik menatap Pak Norman
" Aku harus bangun lebih pagi dari biasanya dan berangkat pagi-pagi sekali agar bisa membangunkanmu tepat waktu, dan pulang ke rumah besar lagi sore harinya. Itu membuatku bekerja lebih keras dari biasanya, hari ini pun aku hampir terlambat membangunkanmu"
" Apa inti perbincangan ini?" tanya Julian langsung, tidak ingin basa-basi
"Aku sudah tidak sesehat dulu lagi untuk pulang pergi kesana dan kemari. Kulihat Nona Vania juga pandai mengurus rumah dan masakannya juga enak, pagi tadi juga anda tidak keberatan ketika dia membangunkanmu" Julian menghembuskan nafasnya
"Apa maumu?"
" Bisakah anda meringankan pekerjaanku?. Aku sudah terlalu tua"
" Tidak ada orang yang bisa kupercaya untuk menjaga rahasia ini, jika aku mempekerjakan orang lain seseorang akan menyebarkan berita bahwa Vania mengandung anakku"
"Nona Vania bisa menjaga rahasia. Tentu saja, karena dia yang akan menjalankan tugas untuk mengandung kan?"
"Vania disini hanya untuk mengandung bukan mengurusku" bantah Julian.
Pak Norman menundukkan kepalanya, memasang ekspresi kecewa dan sedih. Postur tubuhnya yang sudah tua memang terlihat bugar tapi pria itu tetaplah pria yang sudah berusia lanjut untuk melakukan tugas-tugas seperti ini. Ia bekerja dirumah besar untuk mengatur pekerjaan dirumah itu dan dia juga harus kerumah ini untuk mengurus Julian
Julian menghembuskan nafasnya
"Baiklah, jika Vania bersedia, aku tidak akan keberatan" Pak Norman langsung tersenyum
"Terima kasih tuan muda, itu bisa membantuku"
🍀🍀🍀
Didalam kamar
" Ibu, apa kau sudah merasa benar-benar baik?"
"Aku baik-baik saja, kau disana bagaimana?"
"Aku disini juga baik-baik saja, bos dan karyawan yang lain bersikap sangat baik"
"Syukurlah, tetap jaga kesehatanmu disana ya?"
"Ya bu..Ibu tenang saja.. dimana Mira?" Vania menyudahi obrolannya dengan ibunya ditelepon, ia tidak sanggup untuk berbohong lebih banyak lagi kepada ibunya. Tidak pernah sekalipun ia berbohong kepada wanita yang sudah melahirkan dan menjaganya itu, tetapi apa yang terjadi disini mengharuskannya untuk berbohong
"Halo..Vania"
" Ya Mir... bagaimana kabarmu?"
" Aku baik-baik saja, tetapi di hotel sedang memanas sekarang"
" Kenapa?"
"Karyawan-karyawan yang baru benar-benar menyebalkan, mereka sombong dan sering meremehkan kami yang pendidikannya lebih rendah dari mereka, bahkan manager Heru pun dibuat malu oleh ejekan mereka" Vania bisa mendengar suara kekesalan Mira, temannya itu pasti sudah memendam lama kekesalannya untuk diceritakan kepada Vania
" Lalu apa yang kalian lakukan?"
__ADS_1
" Tentu saja kami tidak suka diremehkan begitu saja, kau pikir siapa yang bekerja lebih lama disana? . kami tahu lebih banyak mengenai hotel daripada mereka bukan?. Karena itu, kami tidak akan pernah mau diremehkan"
" Semangat Mir.."
"Tentu saja. bagaimana denganmu? Kau disana baik-baik saja?" tiba-tiba Mira mengubah topik pembicaraan
"Eum.. aku diperlakukan baik disini, tuan itu juga baik padaku" Vania menahan dirinya agar tidak menyebutkan nama Julian
"Aku sepertinya sebentar lagi akan hamil"
" Oo Benarkah..?" Mira terdiam lama
"Bagaimana rasanya?"
" Apa..?"
"Aku tahu pasti bukan dengan cara bayi tabung atau inseminasi kan?, dia pasti harus menidurimu agar kau bisa hamil" jawab Mira panjang lebar, meskipun Vania tidak menjelaskan banyak tentang apa yang akan terjadi Mira sudah bisa menebaknya dengan sangat akurat
" semoga apa yang kau berikan padanya dan apa yang kau dapatkan nanti sebanding ya Van.." ujar Mira tulus
Mata Vania perih karena desakan airmata, benar apa yang Mira katakan, semoga semua ini sebanding. Tetapi ini sebanding jika Dia harus melepaskan keperawanannya demi kesehatan Ibunya
" Terima kasih Mir..."
"Jadi.. bagaimana rasanya?. Apa sakit?"tiba-tiba Suara Mira menjadi lebih bersemangat.
"Hanya sebentar, selanjutnya.." Vania mengigit bibir bawahnya
" Selanjutnya pasti kau menikmatinya"
" Bagaimana kau bisa tahu?"
"Hahaha, aku hanya menebaknya" hening sejenak
"Yaah, setidaknya jika kau menikmatinya kau akan merasa tidak keberatan jika dia melakukannya lagi"
" Dia akan melakukannya lagi?"
"Memangnya tidak?"
"Kupikir sudah selesai, dan tinggal menungguku hamil"
"Dasar bodoh? tentu saja kau tidak bisa hamil hanya dengan sekali melakukannya. Harus dilakukan beberapa kali untuk memastikan kau memang hamil"
" Aaaa.." Vania terdiam, jadi Julian akan mencoba untuk mendekatinya lagi?. melakukannya lagi? Vania bisa merasakan debaran jantungnya ketika bayangan tubuh Julian menyelimutinya, ciuman panas Julian dan keahlian tangan Julian menggerayangi tubuhnya tadi malam sukses membuat tubuhnya merindukan itu semua
"Hei..Vania Anastasha.. kau masih disana?" teriakan Mira dari balik telepon membuat Vania tersadar dari lamunan tentang malam panas dia dan Julian
" Eum.. aku masih disini" jawab Vania serak
"Eyy Benarkah, selalu saja melamun tidak pada tempatnya. Aku harus pergi, sampai nanti lagi Vania.."
"Iya..Terima kasih Mira, tolong jaga ibuku"
"Tidak perlu sungkan, Baik"
Vania menutup teleponnya sambil mendesah pelan, kepalanya menoleh kedalam rumah, apa Julian sudah pergi ke kantor?. Vania langsung melarikan dirinya ke teras disamping rumah ketika ia melihat Julian keluar dari kamarnya bersama Pak Norman
__ADS_1
Sebenarnya Vania ingin sekali menemani Julian sarapan, tapi Vania bukan istri ataupun kekasih yang memang berkewajiban menemani suami untuk sarapan, karena itu Vania mengurungkan niatnya untuk menemani Julian dan memutuskan untuk duduk disini menelpon Ibunya.