Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 19


__ADS_3

Keesokan paginya Vania terbangun karena keram diperutnya, ia mengusap perut bagian bawahnya berkali-kali sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan, seperti yang sering dilihatnya diacara televisi yang menampilkan senam-senam untuk wanita hamil


Setelah keramnya mereda Vania pun bangun dan bergegas untuk mandi, Hujan diluar semakin deras. Menumpuk membuat genangan air dimana-mana. Lessie tidak pernah berkunjung lagi setelah hujan deras pertama kali, sepertinya anjing itu menemukan tempat lain sebagai rumahnya. Sungguh, bahkan Vania merindukan anjing itu.


Vania melihat Julian keluar dari kamarnya ketika ia berjalan menuju dapur, matanya menatap lekat sosok pria itu, hari ini Julian telah rapi dengan memakai kemejanya, namun dasinya tetap bertengger dilehernya, belum terikat


Julian menegakkan kepalanya dan mata mereka bertemu. Ini kali pertama Julian menatapnya lama sejak Angel berada dirumah itu. Otomatis Vania tersenyum, terlalu senang karena Julian kembali menatapnya


Julian terenyuh, sudah lama ia tidak melihat senyum diwajah Vania, Julian melangkahkan kakinya mendekati Vania, ketika suara Angel memanggilnya


“Julian” Julian menoleh kebelakang melihat Angel tersenyum cerah pagi itu.


“sarapan sudah siap, oo dasimu belum kau ikat” Angel mengulurkan tangannya menyentuh dasi Julian dan mulai mengikatnya. Julian terdiam, biasanya Vania yang melakukan hal ini setiap pagi


Tiba-tiba saja Julian dilanda rasa rindu yang besar untuk melihat Vania melakukannya lagi. Julian menolehkan kepalanya kearah Vania tetapi gadis itu sudah tidak ada ditempatnya berdiri tadi.Julian bermaksud mengajak Vania berbicara pagi ini, tapi sepertinya harus tertunda lagi


“sudah..” ujar Angel, mendongakkan kepalanya kearah Julian. Melihat pemandangan itu membuat Julian tersadar akan sesuatu, biasanya ia akan langsung mencium Vania karena posisi wajah mereka yang berdekatan, tetapi tidak jika wanita itu adalah Angel. Ada apa dengannya? Kenapa Angel tidak lagi berpengaruh terhadap dirinya?


"Terima kasih..” Julian berjalan kearah ruang makan, disana ia juga tidak melihat Vania, sejak berhari-hari yang lalu ia memang senang karena Vania berada jauh dari jangkauan matanya, namun sekarang ia mencari-cari keberadaan gadis itu


“dimana Vania?” tanyanya..


“ooh.. aku jarang melihatnya dimeja makan bersama kita setiap pagi”


“benarkah?” tanpa Julian sadari ia menyuarakan pertanyaan itu


“tentu saja kau tidak sadar bukan?, kau berusaha menghindarinya akhir-akhir ini” Julian menaikkan alisnya terkejut


“aku tahu kau menghindarinya, sebenarnya aku bertanya-tanya apa hubunganmu dengan gadis itu Lian?, dan aku bertanya-tanya apa kau ayah dari bayi yang ia kandung?” Julian mengalihkan matanya kelain arah


“itu bukan urusanmu”


“aku tidak tahu kau akan merahasiakan sesuatu dariku, kau tidak pernah merahasiakan apapun dariku”


“tidak sekarang Angel..” jawab Julian

__ADS_1


“dari jawabanmu aku bisa menyimpulkan kau memang ayah dari bayi itu” Angel menatap serius wajah Julian


“apa yang terjadi? Kenapa dia bisa hamil anakmu tapi kalian tidak menikah”


“ceritanya panjang” jawab Julian cepat, tidak ingin membahas hal itu lebih lanjut


“apa kau akan menikahinya?” tanya Angel tanpa basa-basi. Julian diam, matanya menatap kosong piring nasi didepannya


“tidak” jawab Julian


“kenapa tidak?”


“karena aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun selain dirimu”


“lalu kenapa dia bisa hamil anakmu?”


“ceritanya panjang dan aku akan menceritakannya padamu nanti”


“Julian..”


“Julian.. Apa kau masih mencintaiku?” Angel berhati-hati dalam menanyakan hal itu, ia sudah merasa resah melihat tanda-tanda adanya hubungan antara Julian dan Vania. Ia tidak berani menanyakan hal ini sebelum bertemu dengan putrinya, tetapi sekarang ia bisa, karena putrinya sudah berada didekatnya lagi


“tentu saja aku masih mencintaimu” jawab Julian, tanpa ragu sedikitpun. Angel masih belum merasa lega mendengar jawaban itu. ia menyesal, sungguh menyesal telah mencampakkan Julian demi laki-laki lain


Ia sadar betapa besarnya pengaruh Julian dihidupnya, mantan suaminya tidak pernah menganggapnya ada, tidak pernah memperlakukannya dengan lembut seperti Julian


“kau mau menciumku sebagai buktinya?” tanya Angel. Julian terkejut, Angel tidak pernah meminta hal ini sebelumnya. Dulu mereka pernah berciuman tapi itu karena Julian yang menciumnya duluan


Julian berdiri dari kursinya dan menarik Angel ikut berdiri, ia juga penasaran. Seperti apa rasanya mencium Angel sekarang. Julian menundukkan wajahnya dan menempelkan bibirnya dibibir Angel, ia tidak menemukan apa yang ia rasakan ketika mencium Vania.


Tidak puas dengan jawaban itu Julian pun memperdalam ciumannya, mendesakkan lidahnya agar Angel membuka mulutnya dan ia mulai menjelajah mulut Angel. Julian masih tidak menemukan apapun, tubuhnya tidak memanas ataupun menegang seperti ketika ia mencium Vania. Kenapa seperti ini, seharusnya Julian langsung terangsang ketika mencium wanita yang ia cintai bukan?.


Mengerang Frustasi Julian pun semakin memperdalam ciumannya, tangannya melingkar dipinggang Angel dan menarik tubuh Angel menempel pada selangkangannya. Tidak, tubuh bagian bawahnya belum menunjukkan tanda-tanda akan mengeras, kenapa? Jika yang saat ini ia cium adalah Vania, Julian pasti sudah sangat ingin memasuki tubuh Vania saat itu juga


Angel terengah-engah dibawah tekanan bibir Julian, Julian memang pandai berciuman dan Angel terhanyut oleh ciuman itu tapi ada yang salah dari cara Julian menciumnya. Angel menjauhkan bibirnya

__ADS_1


“apa yang kau cari dari menciumku seperti ini?” bisik Angel


“sebuah jawaban” jawab Julian. Julian kembali mencium Angel, dengan sama menggebu-gebunya, tangannya bergerak keatas hendak menyentuh ****dara Angel tetapi ia mengurungkan niatnya, tidak akan ada gunanya


Julian menjauhkan kepalanya, nafasnya memburu bukan karena terangsang tetapi karena rasa frustasi. Ada apa dengannya? Sekali lagi pertanyaan itu muncul dikepalanya. Samar-samar ujung mata Julian menangkap seseorang dikejauhan, ia menolehkan kepalanya dan melebarkan matanya terkejut, melihat Vania tidak jauh dari sana dengan tangan sebelah memegang perutnya yang besar dan satu tangan lagi memegang dadanya


Gadis itu berdiri sambil mengigit bibirnya yang bergetar, ekspresi terluka terlihat jelas dimata gadis itu. Vania memutuskan kontak mata mereka dengan memalingkan wajahnya, gadis itu bergerak kikuk kekiri dan kanan bingung harus melangkah kemana, sampai akhirnya gadis itu memutuskan untuk kembali kekamarnya. Julian terdiam cukup lama ditempatnya sampai akhirnya ia tersadar karena panggilan Angel yang berulang-ulang


“Julian..”


“Iya..” Julian menoleh kearah Angel


“aku berangkat sekarang”


“Apa..? tapi sarapannya?”


“aku tidak lapar” Julian pun pergi meninggalkan Angel seorang diri, dalam keadaan bingung karena tubuhnya masih bereaksi karena ciuman panas Julian dan bingung karena Julian tiba-tiba meninggalkannya


🍀🍀🍀


Siang itu, setelah melihat adegan ciuman itu Vania terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu adalah hal yang wajar, Julian mencintai Angel dan sepertinya wanita itu juga mencintai Julian, jadi cinta Julian terbalaskan?. Vania menekankan tangannya didadanya, rasanya begitu sakit disana ketika ia mengulang-ulang terus adegan itu


Ia akan menjadi lebih baik jika hanya menjadi seorang madu atau istri muda, karena sudah pasti Julian pasti memiliki perasaan kepadanya, tapi masalahnya adalah Julian tidak pernah mencintainya


Dan itu begitu menyakitkan bagi Vania untuk menyadarinya. Vania mengusap airmatanya lalu menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan, rasa sakit didadanya semakin menjadi ketika ia menghembuskan nafasnya lagi


“Kau.. Bodoh.. Vania Anastasha.. Benar-benar bodoh..” bisiknya pelan dengan hatinya yang remuk


.


.


.


Kritik dan saran di harapkan🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2