
Vania selesai bekerja dirumah sakit sore harinya, bekerja menjadi cleaning servise dirumah sakit adalah pekerjaan yang permanen sekarang, Vania tidak perlu khawatir akan dipecat sewaktu-waktu karena sepertinya pekerjaannya cukup membuat orang-orang yang berada dirumah sakit puas. Vania juga mengurangi pekerjaannya dengan berhenti bekerja di restoran makanan lokal, alasannya karena Vania pulang dari rumah sakit malam hari dan terlalu lelah untuk mengambil pekerjaan lain. lagi pula gajinya dirumah sakit cukup besar
"Aaah.. aku lelah.." Vania meregangkan tangannya agar otot-ototnya tidak tegang lagi. Ia menepuk-nepuk pundaknya yang lelah sambil berjalan menuju kerumahnya yang jaraknya masih cukup jauh.
Melirik kearah jam tangannya Vania pun langsung menguap. Sudah pukul 11 malam pantas saja jika ia kelelahan
"Ibu masak apa ya..? aku lapar" Vania berbelok di undakan jalan sempit yang mengarah kerumahnya. Setelah sampai didepan pintu pagar rumahnya, Vania mengetuk pintu itu beberapa kali. Ia menempelkan kepalanya dipintu sambil memejamkan matanya menunggu siapapun yang membuka pintu untuknya. Vania hampir saja tertidur jika saja Ibunya tidak membuka pintu rumah
"Lihatlah dirimu, kelelahan seperti biasanya" Ibunya langsung memberikan protesnya kepada Vania
"Kau bekerja keras tapi kulihat uangmu tidak pernah cukup. Sebenarnya kau bekerja untuk apa?" Vania masuk setelah Ibunya menyingkir dari pintu, ia berjalan tanpa mempedulikan omelan ibunya itu. ia bekerja untuk apa? tentu saja untuk mengembalikan uang yang sudah ia pakai untuk mengoperasi ibunya dulu. Tekadnya sudah kuat, ia tidak akan memakai uang Julian sepersen pun, karena ia tidak mau menjual bayinya. Meskipun itulah yang ia lakukan pertama kalinya
"Ibu masak apa?"
"Ada pisang goreng jika kau mau"
"Aku mau" Vania membaringkan dirinya dilantai, ingin rasanya segera merilekskan sekujur tubuhnya
"Vania.. tidurlah dikamarmu"
"Tidak.. aku mau makan dulu, aku lapar sekali"
"Ya sudah.. tunggu disini"
"Apa Mira sudah pulang?"
"Eum.. dia ada shif pagi sekali besok, jadi dia sudah tidur"
"Oo.." Vania tidak kuasa membuka matanya lagi, karena itu ia menutupnya sejenak. Namun ketika ibunya kembali dengan membawa sepiring besar pisang goreng. Vania sudah tertidur.Ibunya menghembuskan nafas sedih, sebenarnya apa yang dilakukan Vania hingga harus membuatnya memaksakan diri seperti ini?
__ADS_1
"Vania.. apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?"
🍀🍀🍀
Diluar rumah Julian sedang duduk bersandar pada tembok tempatnya bersembunyi mengamati Vania, sudah sejak ia berhasil mendapatkan alamat rumah Mira ia berada ditempat itu, kurang lebih 7 jam yang lalu. ia menunggu dan menunggu hingga melihat Mira pulang dari bekerja, lalu 4 jam kemudian ia melihat Vania berjalan dengan sangat kelelahan dan mengantuk.
Tadinya Julian ingin mengagetkan gadis itu dengan tiba-tiba muncul dihadapannya, tapi ia tidak bisa. Vania terlalu lelah untuk dikejutkan. Ia butuh istirahat, karena itu Julian memutuskan untuk berdiam diri dan hanya mengamati Vania.
Julian menyisir rambutnya dengan kasar, jadi begitu caranya Vania mencari uang untuk ia kembalikan kepada Julian?. kelelahan hingga ia bisa pingsan kapan saja
"Gadis bodoh..". Setelah merasa bisa menenangkan diri Julian memutuskan untuk pulang, ia sudah mengabaikan panggilan diponselnya yang ternyata dari ibunya yang bertanya-tanya dimana keberadaan Julian
Sierra memang tidak pernah rewel jika Julian pulang larut malam, tapi Nyonya Rianty tetap tidak bisa tenang jika Julian tidak mengabarinya jika pulang terlambat.
Julian melihat ibunya sedang duduk diruang tamu, merajut sesuatu ditangannya. Wanita itu sengaja menunggu kepulangan Julian hari ini, karena Julian tidak juga memberi kabar kenapa dia pulang larut, Nyonya Rianty menjadi sedikit cemas
"Ma.." ujarnya lirih.. Mama Rianty tertegun,Julian tidak pernah bersikap seperti ini sejak usianya menginjak 17 tahun. Memang dulu Julian sangat dekat dengannya, tetapi ketika ayahnya meninggal Julian berubah menjadi pria yang lebih mandiri dan tidak ingin bermanja-manjaan lagi dengan ibunya
"Ada apa sayang..?" Mama Rianty mengusap rambut Julian pelan, entah kenapa ia merasa Julian sedang sangat ingin mencurahkan perasaannya.
Ketika Vania pergi dan meninggalkan Sierra pada Julian, pria ini tidak pernah sekalipun mengungkapkan perasaan sedihnya, ia hanya terlihat marah dan sedih jika tidak ada yang melihatnya. Julian Selalu bisa menyembunyikan perasaannya sendiri
"Aku menemukan Vania" pria itu menjawab ibunya, dengan tatapan menerawang jauh.
"Benarkah..? lalu.. apa yang kalian bicarakan?"
"Aku belum menemuinya"
"Oo.. kenapa..?" Julian terdiam dalam pemikirannya sejenak
__ADS_1
"Mama tahu, aku mencintai Angel karena aku mengenalnya dengan baik, apa yang tidak kuketahui tentangnya, bahkan ukuran dadanya pun aku tahu" Julian mentertawakan dirinya sendiri mengingat, ia pernah menghadiahi Angel sepasang pakaian dalam
"Tetapi Vania, yang kutahu tentang Vania adalah hanya namanya, aku tidak tahu makanan favorite –nya, warna kesukaannya, hobinya, tempat tinggalnya bahkan satu tanda lahir ditubuhnya. Aku tidak pernah memberikan waktu untuk memperhatikan hal-hal seperti itu"
"Kami tinggal bersama untuk waktu yang cukup lama, tapi aku tetap tidak tahu apapun tentangnya, dan yang terburuk adalah aku merindukan dia yang tidak kukenal dengan baik itu. sangat merindukannya" airmata jatuh dipipi Julian. Mama Rianty sekali lagi terkejut. Julian menangis, Mama Rianty hanya melihat Julian menangis ketika ayahnya meninggal, tidak bahkan ketika Angel meninggalkannya
"Julian.. Sebenarnya ada apa? apa yang terjadi pada Vania?"
"Dia bekerja dari pagi hingga larut malam hanya untuk mengembalikan uang yang tidak pernah ingin kuminta darinya. Tinggal dirumah kecil yang dihuni oleh beberapa orang, aku tidak tahu dimana dia tidur, apa mereka punya kamar lebih?" Mama Rianty menahan desakan airmatanya sendiri, sekarang ia mengerti akan kesedihan putranya sendiri. Julian sedang menangisi kehidupan yang sedang dijalani oleh Vania
"Orang macam apa yang tega membiarkan ibu dari anakku hidup seperti itu ma… pria seperti apa aku ini yang membiarkan wanita yang kucintai hidup seperti itu"
"Sayang.. ini bukan salahmu"
"Ini salahku.. jika saja aku tidak terlalu bodoh untuk menyadari perasaanku lebih cepat, Vania tidak akan hidup seperti itu. Dia wanita yang kucintai, ibu dari anakku. Seharusnya dia hidup bahagia, dengan kemewahan yang berlimpah. Apa gunanya aku memiliki semua ini jika dia tidak bisa menikmatinya?" Mama Rianty mengusap rambut Julian lebih lembut. Airmata jatuh dipipinya, ia mengerti, sepenuhnya mengerti akan perasaan Julian. Siapapun pasti akan merasa marah pada dirinya sendiri, jika tahu wanita yang kau cintai hidup dengan kesusahan sedangkan dia hidup dengan kemewahan dan kemudahan
"Belum terlambat untuk memperbaikinya bukan?" tanya Mama Rianty sambil terus mengusap kepala putranya. Julian memejamkan matanya dan meringkuk lebih dalam dipangkuan ibunya
"Aku akan segera membawanya kesini"
"Iya.., itu keputusan yang benar sayang"
.
.
.
Kritik dan saran diharapkan🙏🙏
__ADS_1