Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 41


__ADS_3

Vania bermimpi sangat indah malam itu, ia dan Julian dan juga Sierra sedang berada disebuah hamparan luas taman bunga, mereka sedang piknik bersama dan bermain bersama. Vania membuat bekal untuk piknik itu, terdengar gelak tawa riang dari suara Sierra begitu juga ia dan Julian. Sesekali Julian mendaratkan ciuman-ciuman kepada Vania ketika Sierra tidak melihat mereka. Meskipun itu hanyalah sebuah mimpi namun ciuman itu terasa nyata


Vania membuka matanya perlahan merasakan sekali lagi ciuman itu, itu bukan mimpi tapi benar-benar terjadi. Vania membelalakkan matanya terkejut karena ia benar-benar dicium, nafasnya tercekat kaget namun bibirnya tertahan oleh satu jari


"Sssstt… ini aku" Vania mengerjabkan matanya, ia tidak bisa melihat dengan jelas karena lampu dikamar itu gelap tapi ia tahu siapa yang berada diatasnya itu. Vania menolehkan kepalanya kesamping ke arah ibunya, dengkuran pelan ibunya menandakan wanita itu sedang tidur dengan lelapnya. Vania kembali menolehkan kepalanya kearah Julian


"Tuan kenapa disini?" bisiknya


"Aku ingin membawamu pergi"


"Kemana?"


"Ayo bangun"


"Tapi Ibu?"


"Sstt.. jangan dibangunkan, ayo.." Vania mau tidak mau bangun dari tempat tidur agar ibunya tidak terbangun karena suara bisikan mereka berdua, ia mengikuti Julian dengan langkah-langkah yang pelan. Julian memegang tangan Vania dan membimbing gadis itu keluar dari kamar. Julian membawa Vania keluar rumah dan menuju mobilnya


"Masuklah"


"Apa..? seperti ini?" Vania masih mengenakan baju tidurnya yang berwarna pink dan bergambar beruang-beruang kecil


"Eum.. cepatlah masuk" Vania masuk kedalam mobil dengan penasaran, sebenarnya kemana Julian akan membawanya. Vania melihat Julian juga hanya memakai celana training panjang dan kaos putih, terlalu santai untuk berjalan-jalan malam ditengah kota, karena itu Vania menebak Julian hendak membawanya jauh dari kota.


Benar saja, Julian membawa Vania keluar dari perbatasan kota. Setelah hampir setengah jam perjalanan Vania mulai menyadari kemana Julian hendak membawanya. Pria itu membawa Vania kerumah yang menjadi rumah persembunyian Vania dulu.Pria itu memarkirkan mobilnya dihalaman rumah.


Vania turun dari mobil sambil memandangi rumah itu, sudah setahun lebih berlalu rumah itu masih terlihat sama. Kenapa Julian membawanya kerumah itu? pikirnya. Vania hendak melangkahkan kakinya kearah rumah itu namun tertahan oleh lengan Julian yang menariknya menjauh dari rumah


"Kita mau kemana?"


"Ketempat yang indah" Julian membawa Vania naik keatas bukit, disana Vania melihat ada sebuah pohon besar dengan batang pohonnya terbelah dua. Julian menumpukan kakinya disalah satu dahan dan mengulurkan tangannya kepada Vania


"Ayo.."


"Naik ini?"


"Iya.. kemarilah" Vania menyambut tangan Julian dan mulai menaiki pohon itu sesuai arahan Julian, setelah ia duduk diatas dahan yang besar Julian pun menyusulnya dan duduk disebelah Vania


Setelah duduk diatas pohon itu Vania tahu kenapa pria itu membawanya kesini dan mengatakan tempat yang indah. Vania bisa melihat pemandangan kota dari atas sana. Meskipun terlihat jauh tapi kota itu terlihat indah dengan lampu-lampu yang menyala dari tiap rumah dan bangunan yang berwarna-warni. Serta lampu-lampu yang menyorot dari mobil yang berlalu lalang


"Indah sekali.." desah Vania. Julian tersenyum, melingkarkan lengannya dipinggang Vania dan menarik gadis itu agar lebih dekat dengannya


"Ini adalah tempatku menenangkan diri, melihat pemandangan itu membuatku berfikir bahwa disana ada banyak orang yang mungkin bernasib lebih buruk dariku, karena itu aku selalu kuat dalam segala macam cobaan. Kematian ayahku, kehilangan Angel, banyaknya pekerjaan yang menumpuk dan berbagai hal lainnya. Tapi hanya satu yang tidak bisa dilakukan tempat ini untukku" Vania menoleh kearah Julian, wajah mereka begitu dekat, Vania bisa merasakan hembusan nafas Julian diwajahnya


"Apa..?"


"Tempat ini tidak bisa membuatku tenang karenamu, melihat kota itu membuatku berfikir, kau ada disana, disalah satu rumah dikota itu atau tidak?. Apa yang kau lakukan, apa kau tidur dengan baik. Memikirkan kau mungkin saja berada disana diantara banyaknya orang-orang membuatku semakin tidak tenang. Itu pertama kalinya aku tidak bisa merasakan kenyamanan dengan duduk disini"

__ADS_1


"Apa kau benar-benar berfikir seperti itu?"


"Vania.. percayalah padaku" Julian meraih tangan Vania dan menempelkannya dipipinya sendiri


"Seumur hidupku aku tidak pernah merasa tidak berdaya seperti ketika aku kehilanganmu" Vania menitikan airmata penuh haru dipipinya, ia tidak menyangka bahwa perasaan Julian sedalam ini padanya. Julian menempelkan bibirnya diairmata itu, merasakan asinnya air itu dibibirnya


"Tidak ada yang tahu tempat ini, tidak Mama, tidak Paman Norman bahkan Angel sekalipun tidak pernah kuajak kesini, hanya aku dan Lessie yang sering mengunjungi tempat ini, anjing itu juga satu-satunya temanku untuk berbagi cerita, meskipun dia tidak pernah membalas ceritaku"


"Ini pertama kalinya aku membawa orang lain kesini, jika kau paham apa yang kukatakan, yang kumaksud adalah Karena arti hadirmu begitu berharga dihidupku maka aku membawamu kesini. Ini bukti bahwa kau adalah wanita yang paling istimewa dihidupku, karena itu aku ingin membawamu ketempat yang paling rahasia dihidupku" Vania semakin banyak menitikan airmata, ini bukan sekedar pengakuan cinta, tapi pria ini mengungkapkan segalanya. Tempat yang paling berharga untuknya ia bagi dengan orang yang paling berharga dihatinya


"Tuan Granger.."


"Ayolah jangan panggil aku seperti itu"


"Mas.." Julian tersenyum mendengar panggilan itu.


"Ya sayangku?" Vania menyentuhkan tangan satunya lagi kewajah Julian, dan membelai rahang pria itu


"Jika aku menerimamu apa kau mau berjanji tidak akan meninggalkanku?. Aku takut, ini semua hanya sekedar mimpi dan akan berakhir secepat mimpi itu datang. Terbangun dengan tidak ada dirimu disampingku, aku benar-benar takut melihat itu"


"Aku berjanji.. perlu kau ketahui, aku tidak pernah melanggar janjiku, meskipun begitu aku akan memenuhi janji itu bukan karena kewajiban, tapi karena aku mencintaimu" Vania menganggukkan kepalanya cepat, membuat airmatanya jatuh semakin banyak


"Aku juga mencintaimu" Julian menarik Vania kedalam pelukannya


"Lega mendengarnya" bisik pria itu, tepat ditelinga Vania. Julian memeluk Vania begitu erat, membuat dada mereka menempel dan saling merasakan detakan jantung mereka masing-masing. Julian menjauhkan wajahnya hanya untuk menatap dalam mata Vania


"Apapun yang Mas katakan" Julian tersenyum, mengecup pelan kepala Vania lalu melepaskan pelukan mereka


"Kau suka makan gorengan?"


"Eum.."


"Apa warna favoritemu?"


"Hijau.."


"Kau suka boygrup korea?"


"suka"


"Boygrup kesukaanmu apa?"


"Bangtan, anggota mereka tampan-tampan"


"Eeyy..mereka tidak lebih tampan dariku" Vania tertawa melihat kekesalan Julian


"Kenapa kau menanyakan itu?"

__ADS_1


"Karena aku ingin tahu segalanya tentang dirimu" Julian menarik Vania agar duduk membelakanginya dan gadis itu bisa bersandar didadanya


"Kau lebih suka paha ayam atau dada ayam?" Sekali lagi Julian menanyai Vania, dari hal-hal yang tidak penting bahkan yang tidak terpikirkan oleh Vania sekalipun. Seperti ukuran bra atau apa Vania memiliki tanda lahir


"Aah jangan dijawab, akan kutemukan sendiri" wajah Vania bersemu merah, ia menundukkan wajahnya sambil tersenyum simpul. Sejenak waktu berlalu dalam keheningan, sampai akhirnya Julian memegang dagu Vania dan menariknya agar menghadap kewajahnya.


Vania mengerjabkan matanya karena sekali lagi wajah mereka sangat dekat, matanya terpejam otomatis ketika Julian menundukkan wajahnya. Dengan lembut Julian menyapukan bibirnya diatas permukaan bibir Vania. Mereka saling mencium dan menyerap kehangatan bibir masing-masing. Sudah lama sekali mereka bermimpi bisa melakukan ini lagi, saling mencari dan menjelajah.


Julian melepaskan pagutan bibir mereka dan menatap wajah Vania yang bersemu merah karena malu bercampur hasrat, pria itu menarik tubuh Vania agar duduk dipangkuannya, Vania menjerit tertahan namun jeritannya teredam oleh serangan bibir Julian sekali lagi. Vania menyentuhkan tangannya dipipi dan rahang Julian, membelai wajah halus dan tegas itu. Membuat Julian tidak tahan untuk tidak menyentuhkan tangannya ditubuh terbuka Vania


Julian pun menelusupkan tangannya dibalik baju Vania dan naik kedada gadis itu lalu mulai kembali mencium bibir gadis itu.Terlepas dari ciuman panas itu, Julian mendaratkan bibirnya dileher Vania, membuat gadis itu semakin menggelora


"Aku menginginkanmu" bisik Julian diatas lekukan dada Vania yang tertutup baju tidur.


"Apa.. mas.." sahut Vania tidak memperhatikan perkataan pria itu


"Sekarang?"


"Apa.."


"Aku menginginkanmu sekarang Vania" Julian berucap jelas.Vania melihat wajah tampan Julian dan dengan perlahan mengangguk,mengizinkan pria itu menyentuhnya


Julian menggeramkan suaranya karena rasa gembira, sudah setahun lebih ia merindukan kehangatan tubuh Vania. Bibirnya naik dan mencium Vania lagi. Vania melepaskan bibirnya dari Julian


"Mas.. sepertinya aku.. kyaaa.."


SRAAAAKKK..


Kejadiannya begitu cepat dan mendadak Vania merosot dari pangkuannya dan hampir saja terjatuh, Julian menarik tangannya cepat dari balik baju Vania lalu berpegangan didahan pohon yang berada diatasnya


"Ya Tuhan, aku memegangmu.. aku memegangmu" nafas Julian memburu cepat, ia tidak tahu apa jadinya jika ia tidak memeluk dan menahan Vania. Vania mengalungkan lengannya dileher Julian ketika pria itu menariknya lagi keatas pangkuannya. Julian tertawa begitu juga dengan Vania. Jika saja tidak ada kejadian Vania hampir terjatuh mereka pasti sudah bercinta diatas dahan pohon itu


"Kita harus turun.." bisik Julian


"Tapi, aku masih ingin melihat pemandangannya" Julian menatap kearah kota lalu menggelengkan kepalanya


"Besok kita kesini lagi ya..? sekarang kita turun" Vania tersenyum malu lalu menganggukkan kepalanya, sepenuhnya paham alasan kenapa mereka harus turun saat itu juga…


.


.


.


Harap bijak dalam memilih bacaan.. Ini sudah mengalami revisi total..terima kasih🙏


Kritik dan saran diharapkan🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2