
Vania menolehkan kepalanya kedepan, melihat anjing kampung yang kemarin. Sepertinya anjing itu sudah menganggap Vania sebagai penolongnya, anjing itu pasti mendatangi Vania karena ingin meminta makanan
"Aku akan memberimu makan jika kau mau menyebutkan namamu padaku" seru Vania kepada anjing itu
Anjing itu mengeluarkan suara memelas sambil menggelengkan kepalanya kesamping, membuat Vania mengurungkan niatnya untuk menggoda anjing itu
" Baiklah, aku akan membawakanmu makanan. Tunggu disini ya..?"
"Paman" Vania memanggil pria yang saat ini sedang merapikan meja makan
"Apa tuan Granger sudah pergi?"
" Baru saja, ooh.. Terima kasih Nona" Vania mengambil alih piring-piring dari tangan Pak Norman dan mulai mencucinya. Pak Norman tersenyum lalu mendudukkan dirinya dikursi
"Aku benar-benar lelah karena bekerja sepanjang hari"
" Paman istirahat saja"
" Aku tidak bisa, setelah ini aku harus mengurus kebutuhan dirumah besar, lalu aku harus pulang kesini lagi untuk membantu tuan muda" Pak Norman melirik Vania sekilas lalu mulai melancarkan jurusnya, berperan sebagai pria tua ringkih yang kesusahan
"Pundakku sudah sangat lelah hanya bekerja dirumah besar, apa lagi harus bolak-balik kesini"
Vania meletakkan piring terakhir dirak piring lalu berbalik kearah Pak Norman
"Apa yang bisa kubantu untuk meringankan pekerjaanmu Paman?" tawar Vania. Pak Norman menggelengkan kepalanya
"Kau pasti tidak bisa"
" Aku bisa membantumu membersihkan rumah ini, dan memasak untuk tuan Granger" usul Vania
" Pekerjaanku lebih dari itu. aku juga mengurus semua kebutuhan tuan muda" Vania diam memandangi Pak Norman,ia ingin sekali membantu. Tapi hanya sekedar memasak dan membersihkan rumah, tidak lebih. Jika mengurus kebutuhan Julian, itu lebih pribadi, dan Vania bukan seorang istri yang harus melakukan tugas itu. disini posisinya hanya seorang wanita yang bertugas mengandung anak Julian
Pak Norman melihat kebimbangan dimata Vania, ia tahu apa yang membuat gadis itu bingung
" Aduh.. punggungku" Pak Norman menepuk-nepukkan punggungnya dengan tangannya, merintih sakit seperti pria tua yang penyakitan
Vania mengigit bibir bawahnya, ia tidak tega melihat Pak Norman yang memang bisa dibilang seperti seorang kakek, pria itu seharusnya sudah pensiun dan menikmati sisa hidupnya
" Kenapa anda tidak mencari orang lain saja?"
" Tidak boleh ada yang tahu rahasia dirumah ini" jawab Pak Norman mengingatkan
" Hanya kau, aku dan nyonya besar yang tahu" Pak Norman kembali memijat-mijat pundaknya, menarik perhatian Vania lagi. Vania duduk dikursi yang berada disebelah Pak Norman lalu menatap pria itu serius
"Apa yang bisa kubantu?" Vania tidak bisa mengabaikan perasaan ingin menolongnya, ia tidak tega melihat Pak Norman kelelahan. Bagaimana jika ini menimpa Ibunya?
"Aku ragu kau bisa"
__ADS_1
"Paman tinggal memberikan aku pengarahan saja"
Pak Norman berhasil membuat Vania bersimpati padanya. Sungguh gadis ini memang baik, pikirnya
" Setiap pulang kerja, tuan muda selalu suka mandi dengan shower, tapi jika dia pulang setelah bermain Bola tenis tuan muda lebih suka mandi berendam air panas, airnya tidak boleh terlalu panas dan tidak boleh terlalu dingin" Pak Norman mulai menjelaskan kebiasaan Julian dan apa saja yang harus Vania lakukan
" Kau juga harus bisa membedakan pakaian untuk ia pakai ketika bekerja atau bepergian. Tuan muda tidak suka warna yang terang jika ke kantor. Selalu siapkan pakaiannya diatas tempat tidur selagi tuan muda mandi"
"Apa aku harus membantunya berpakaian?" Pak Norman diam sejenak, Julian bisa memakai pakaiannya sendiri, Pak Norman tidak pernah membantunya. Tapi Pak Norman ingin semua ini sempurna maka Pak Norman mengatakan
" Bantu dia memakaikan dasinya saja"
" Baiklah"
" Menu-menu untuk sarapan pagi akan kuberikan padamu nanti, aah aku lupa, setiap sebelum tidur tuan muda selalu suka minum susu" Vania tersenyum, ia ingat itu. pikirnya
Tentu saja, baru tadi malam Julian membuatkan susu untuknya sebelum...
BLUSSSHH.. wajah Vania memerah saat membayangkan apa yang terjadi setelahnya
"Aaah.. tuan muda biasanya selalu memberikan jadwalnya untuk esok hari jadi kau akan tahu, harus menyiapkan baju apa dan membangunkannya jam berapa, tapi jika tuan muda tidak memberikan jadwalnya padamu biarkan dia bangun lebih siang, karena itu artinya tuan muda sedang libur"
"Apa hari minggu dia juga bekerja?" Pak Norman menggelengkan kepalanya
"Dia gila kerja"
"Tapi paman, aku penasran, dengan pekerjaan yang sebanyak ini apa Paman tidak ingin berhenti saja?. pensiun dan menikmati masa-masa tuamu misalnya?" Pak Norman menggelengkan kepalanya
"Aku tidak bisa meninggalkan tuan muda sebelum aku menemukan orang yang bisa lebih piawai menggantikan aku"
"Kau bisa mulai menyeleksi penggantimu" saran Vania
" Tidak Vania.." Pak Norman melepaskan bahasa formalnya pada gadis itu
"Aku menunggu tuan muda menikah dan memiliki istri untuk mengurusnya dan menggantikan semua pekerjaanku" Vania tertawa
" Sebenarnya tuan Granger lebih membutuhkan seorang istri atau pelayan?" melihat dari banyaknya tugas pelayan dari seorang Julian Granger membuat Vania mengambil kesimpulan bahwa Julian lebih membutuhkan orang yang bisa mengurus kebutuhannya. Pak Norman ikut tertawa bersama Vania
" Dia lebih membutuhkan istri yang mencintainya dari pada apapun" jawab Pak Norman serius
"Tapi jika tuan muda menikah dengan wanita yang ia cintai aku yakin tuan muda tidak akan mengizinkan istrinya yang mengurus semua itu. Tuan muda selalu bersikap romantis pada wanita yang ia cintai, dan memanjakan wanita itu sampai wanita itu memintanya untuk berhenti memanjakan dirinya"
" Manis sekali"
" Lebih tepatnya, itu romantis" Pak Norman mengoreksi. Vania mengembangkan senyumnya, ia ingat Mira juga pernah menyebutkan hal itu. Julian akan bersikap sangat romantis jika ia sudah jatuh cinta, entah kenapa Vania merasakan adanya sebersit keinginan untuk melihat Julian yang seperti itu.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Siang harinya, Julian baru saja keluar dari mobilnya yang berhenti tepat dipintu masuk salah satu hotel yang diserahkan oleh ibunya untuk diolah agar lebih maju. Hotel itu sebenarnya sudah hampir bangkrut, dan Julian tidak mau mengurusi hotel ini, tapi karena desakan ibunya Julian mau tidak mau mengambil alih pengolahannya
Hotel ini merupakan hotel pertama yang dibangun oleh ayahnya, karena itu Ibunya tidak suka melihat Hotel ini jatuh. Julian disambut oleh manager Raka dipintu masuk, ia berjalan melewati lobi yang sepi matanya menoleh kearah meja resepsionis
" Dimana yang menjaga meja resepsionis?"
"Eum.. mungkin mereka sedang istirahat siang tuan"
"Seharusnya ada yang menggantikanya jika mereka sedang istirahat siang. Dimana mereka?"
"Eum..tapi.."
"Tunjukkan tempatnya dimana" ulang Julian tegas dan penuh penekanan, tidak terbantahkan sama sekali. Julian berjalan menuju ruangan dapur, dimana para karyawan sedang menyantap makan siang bersama-sama
Ada dua kubu yang terpisah, para karyawan lama berkumpul menjadi satu dan karyawan baru berkumpul menjadi satu. Terjadi adu mulut yang sengit ketika Julian berdiri dipintu dapur
Julian melihat seorang pegawai wanita mengajukan pendapatnya pada pegawai baru
" Keahlian belum tentu berguna, yang dicari disini adalah kekompakan semua pegawai. Kami sudah bekerja lebih lama dari kalian, kami lebih paham seperti apa keinginan para tamu yang datang kesini" ujar wanita itu
"Jika cara berfikirmu seperti itu pantas saja jika hotel ini tetap tidak maju" jawab salah satu pegawai baru disana.
"Apa kalian bisanya hanya merendahkan kami? Hasil kerja kalian juga belum terlihat disini" ledek wanita itu lagi. Salah satu wanita dari kubu pegawai baru tersenyum meremehkan
"Hanya tinggal menunggu waktu dan kau juga akan dipecat"
" Kau.." wanita itu hendak menerjang si pemilik suara, namun terhenti ketika manager Raka berteriak melerai mereka
" Apa yang kalian lakukan dijam istirahat? Seharusnya salah satu dari kalian menjaga meja resepsionis" bentak Manager Raka
" Tanyakan saja pada wanita itu, itu tugasnya" tunjuk salah satu pegawai baru
"Aku tidak bisa berdiri dimeja resepsionis ketika mereka merendahkan teman-temanku"
"Cukup" Julian menatap datar wanita itu, wanita itu membalas tatapannya lalu terkejut, tahu siapa pria yang berbicara dengannya
" Tidak ada yang boleh bertengkar ditempat kerja ataupun meninggalkan pekerjaannya karena hal yang tidak penting" Julian menajamkan tatapannya kepada gadis itu
"Sekali lagi kau melakukannya" Julian membaca name tag didada wanita itu
" Mira Aurora, kau berikutnya yang akan dipecat, sekarang kembali ketempat kerjamu" Mira mengeraskan rahangnya geram, ia ingin melawan tapi jika ia melakukannya sudah pasti dia akan dipecat
"Baik tuan Granger, maafkan aku" dengan menahan emosinya sendiri, Mira pun bergegas menuju meja resepsionis. Julian menatap kepada para karyawan baru dengan berang
" Dan kalian, tunjukkan padaku bahwa kalian bisa bekerja dengan baik, aku tidak suka orang-orang yang hanya bisa mengatakan omong kosong" orang-orang yang berada didapur itu terdiam dengan patuh
" Tidak ada lagi pertengkaran" tegas Julian untuk terakhir kalinya sebelum pergi dari sana. Melewati lobi matanya melirik Mira dengan tatapan datar. Ia akan mengawasi semua pegawai agar bisa bekerja dengan benar
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya 🙏🙏