Raja.

Raja.
01. Muhammad Raja Hardinuca Pratama.


__ADS_3

***


"Hari ini ... kita akan membahas tentang Profesi dan juga Cita-cita. Anak-anak apa cita-cita kalian jika sudah besar nanti?" tanya Guru.


"Polisi pak,"


"Dokter!"


"Pilot!"


"Guru pak!"


"Ilmuan!"


"TNI!"


"Masinis pak!"


"Kalo saya mau jadi polwan pak!"


"Dokter hewan!"


Seru murid-murid bersemangat. Pak Guru tampak heran dengan salah satu murid yang sejak tadi hanya diam.


"Raja, kenapa kamu diam saja. Apa cita-cita kamu?" tanya Pak Guru. Seketika kelas jadi hening, dan semuanya menatap ke arah murid bernama Raja,


"Saya ga punya cita-cita Pak!" satu kelas tertawa mendengar penuturan bocah kecil itu, "dan nama ... saya Nuca Pak, bukan Raja!"


***


Guru menatap seorang wanita cantik dengan rambut girly yang duduk di samping murid bernama Raja. Nama lengkap murid itu adalah Muhammad Raja Hardinuca Pratama.


"Terimakasih bu Stella sudah menyempatkan hadir atas undangan saya," wanita bernama Stella itu tersenyum canggung.


"Iya Pak ... kalau boleh saya tau ada masalah apa Pak? Apa Nuca bikin salah?" tanya Stella,


"Begini Bu ... saat ini, Raja sudah kelas 5. Tapi, Nuca tidak mau memiliki teman. Apa lagi setelah Gattan pindah sekolah." Stella menoleh dan menatap Raja yang menunduk. "Raja juga ...."


"Nama saya Nuca Pak!" sela Nuca.


"Nuca!" Stella memperingati.


"Emang bener kan nama aku Nuca!" gerutu Nuca. Stella hanya mampu menghembuskan nafasnya.


"Baiklah Bu ... langsung pada intinya saja. Sebenarnya Nuca ini sulit bersosialisasi, dia selalu sendirian. Bahkan, saat pembagian kelompok. Nuca tidak mau bergabung dengan kelompoknya. Saya takutkan, Nuca akan terus seperti ini nantinya!" jelas Pak Guru. Stella terlihat menyesal.


"Maafkan kelakuan Nuca ya Pak ... saya akan bicara sama dia nanti."


"Iya Bu. Apa saya boleh bicara dengan ibu?" Stella menoleh lagi. Menatap Nuca yang masih menunduk, wanita itu mengusap kepala Nuca.


"Nuca sayang. Mama mau bicara sama Guru kamu dulu ya, nanti kita pulang bareng." Nuca mengangguk dan langsung pergi dari ruangan itu.


"Ada apa pak?" tanya Stella penasaran.


"Begini Bu ... saya khawatir dengan Raja. Dia anak yang pintar dan juga cerdas. Namun, sifat pendiam dan juga tidak mau bersosialisasi kadang membuat guru-guru bingung. Apalagi, Raja juga jarang bicara, lebih banyak diam sambil membaca. Walaupun membaca itu bagus, tapi saya rasa apa yang di lakukan Raja itu tidak sama dengan anak-anak lainnya." Stella menautkan kedua tangannya di atas pangkuan.


"Saya akan bicara padanya Pak," kata Stella.


"Baik Bu, saya rasa Raja ingin mengatakan sesuatu pada Ibu. Tapi sepertinya dia tidak bisa atau mungkin dia tidak berani!" Stella mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi Pak, terimakasih."


"Iya bu, sama-sama."


****


"Nuca mama mau bicara ...." Stella menepuk Sofa di sampingnya. Nuca meletakkan tasnya sembarangan di lantai dekat sofa, lalu berjalan malas menuju ke arah Stella.


"Apa Ma?" tanya Nuca malas.


"Kamu ada masalah?" tanya Stella to the point. Nuca menatap Stella tanpa berkedip, lalu menggeleng.


"Enggak!" jawabnya acuh.


"Terus kenapa di sekolah kamu ngga mau punya temen?" Nuca menunduk.


"Ma ..." panggilnya. Stella tau Nuca mulai serius.


"Apa sayang?"


"Papa Nuca itu siapa?" Stella terdiam. Menatap Nuca yang masih menunduk. Karena Stella tak kunjung menjawab Nucapun mendongak, "kenapa Mama nggak jawab?"


"Papa kamu kan Papa Garvin!"


"Bohong!" Nuca menggeleng cepat, "Mama bohong! Nuca udah gede mah! Nuca tau Mama sama Papa Garvin itu belum nikah! Nggak mungkin Papa Garvin itu Papa kandung Nuca!"


"Mama nggak bohong, Nuca!"


"Nuca nggak percaya!" Stella menutup wajahnya dengan kedua tangan, bingung harus menjawab bagaimana, "maaf Ma ...." Nuca kembali melembut. Stella membuka matanya dan menatap Nuca.


"Siapapun Papa Nuca. tapi Nuca harus tau, Mama sama Papa Garvin sayang sama Nuca kan." Nuca mengangguk.


"Ada Mama," dengan cepat Stella menarik Nuca dan langsung memeluknya.


"Maafin Nuca Ma, udah bikin Mana sedih." Stella mengangguk pelan.


"Sekarang bilang sama Mama! Apa alasan kamu nggak mau punya temen di sekolah?" Nuca melepas pelukannya.


"Nuca nggak suka sama mereka! Nuca cuma pengen main sama Gattan!" Stella tersenyum. Lalu mengusap lembut kepala Nuca.


"Sayang ... Mama tau kamu suka main sama Gattan, tapi temen-temen yang lain juga baik kok," jelas Stella. "Nuca nggak boleh pilih-pilih temen ya ...." Nuca menggeleng.


"Nuca nggak mau! Kalo nggak ada Gattan. Nuca maunya sendiri aja!" Nuca berdiri. Mengambil tasnya dan berlari ke arah kamarnya. Saat di tangga Nuca berpas-pasan dengan Dava.


"Udah pulang?" tanya Dava. Bukannya menjawab, Nuca berlari melewati Dava begitu saja. Dava menatap bingung Nuca dan segera turun, di ruang keluarga Dava melihat Stella yang sedang menunduk memijat pelipisnya dengan satu tangan, "Lo berantem sama Nuca?" tanya Dava. Stella kaget dan langsung mendongak, "lo segitu mikirinnya sampe ga denger gue dateng." Dava mendudukkan tubuhnya di samping Stella.


"Gue bingung Dav!" Dava mengernyit.


"Kenapa?"


"Nuca udah mulai nanya orang tua kandungnya. Gue takut dia ninggalin gue." Dava menggeleng lalu menarik Stella kedalam pelukannya.


"Ngga akan Stell ... lo tenang aja! Gue jamin Nuca ngga kayak gitu anaknya." Stella hanya mampu diam. Selama ini dia memang sangat jarang ngobrol seperti tadi dengan Nuca.


"Bu Dewiiiii!" Stella menoleh saat Nuca terdengar berteriak memanggil pengasuhnya.


"Ya Mas?"


"Hp aku mana!" tanya Nuca. Persis di atas tangga, Stella jadi bisa melihatnya.

__ADS_1


"Loh, tadi bukannya Ibu sudah taro di laci mejanya Mas ya."


"Tapi nggak ada! pokoknya cariin nggak mau tau!" Nuca berlari turun dan menuju ke arah dapur.


"Kenapa?" tanya Stella mendekat ke arah Nuca.


"Hp Nuca nggak tau di kemanain. Tadi pagi Nuca taro di meja deket lampu, terus sekarang nggak ada!" kesal Nuca.


"Ya udah. Nuca makan dulu, abis itu mendingan kamu main PS sama Om Dava" Nuca menoleh ke arah Dava.


"Ok deh!" katanya dan mengambil air di dispenser, setelah itu mendekati Dava yang sudah menyiapkan dua stik psp di atas meja.


"Kita main!" ajak Dava.


"Ok yang kalah traktir makan sate ya!"tawar Nuca.


"Ok-ok siap!" Dava bersiap memegang stik PSP-nya. Begitupun Nuca, Stella memperhatikan dalam diam.


"Kamu ngga makan dulu?" tanya Stella.


"Ntar aja Ma! Nunggu Om Dava kalah, biar di traktir sate!" kata Nuca bersemangat.


Kejadian itu terjadi 6 tahun lalu saat usia Nuca atau Muhammad Raja Hardinuca Pratama itu 11 tahun. Saat dia ingin sekali mengetahui siapa orang tua kandungnya. Tapi justru pertanyaan itu melukai Stella. Orang yang selama ini mengaku sebagai ibunya dan orang yang merawat dan memberinya kasih sayang.


"Nih satenya! Dasar dari dulu sampe sekarang, Om nggak pernah bisa deh ngalahin kamu!" Dava memberikan satu porsi sate di hadapan Nuca. Cowok jangkung itu terkekeh.


"Om, liat dulu dong siapa ...." Nuca membanggakan dirinya, lalu segera memakan sate kesukaannya, "Om kapan bulan madu ke Paris?" tanya Nuca tiba-tiba. Dava menoleh dan menjitak kepala Nuca.


"Masih kecil udah ngomongin bulan madu," katanya.


"Kan Nuca cuma nanya Om ... lagian om udah nikah sebulan lalu! Tapi tante Aqilla ngga di ajakin bulan madu. Dosa loh Om, anak orang di gituin!"


"Tau apa kamu! Udah ah Om mau pulang, bilang sama Mama kamu, Om pulang!"


"Siap Om! Lain kali main lagi ya! Biar di traktir lagi!" Nuca mengacungkan ibu jarinya sambil tertawa, lalu kembali menikmati sate ayam yang menjadi favorit nya sejak kecil.


"Makan sate lagi kamu?" Nuca mendongak dan tersenyum.


"Iya Pa," kekehnya, Garvin menggeleng pelan. Pria itu adalah Papa Nuca.


"Dava mana?"


"Om Dava udah pulang barusan, kenapa?"


"Bita nyariin dia tadi." Nuca mengangguk. Dan menghabiskan sisa sate yang tinggal satu tusuk.


"Bita sama Mama?" tanya Nuca. Garvin mengangguk, Bita itu adalah adik Nuca. Anak dari pasangan Stella dan Garvin, usianya sudah 2½ tahun.


"Besok kamu mampir ke tempat Om Rio ya," pinta Garvin.


"Ngapain Pa?"


"Balikin kunci mobil Ferrari Mama. Biasa lah Mama kamu males ke sana. Papa juga lagi ngga sempet!" Nuca berfikir sejenak.


"Balikin kunci aja kan?"


"Iya!"


"Ok!"

__ADS_1


***


__ADS_2