
****
"Mama denger, kamu jadi pemeran utama di acara pensi sekolah kamu?" tanya Stella yang tiba-tiba muncul di dalam kamar Raja. Sang pemilik kamar yang sejak tadi sedang belajar, menoleh dan menatap Stella dengan wajah yang sulit di artikan, "kamu kenapa liatin Mama kayak gitu?" tanya Stella lagi sambil mendekat ke arah Raja, dan berdiri persis di samping kanan putranya. Wanita itu memperhatikan buku-buku yang ada di atas meja milik anaknya.
"Mama!" tiba-tiba Raja memeluk pinggangnya. Membuat Stella hampir terjatuh.
"Kamu kenapa sih, tumben-tumbenan?"
"Maaf ...," katanya. Stella memejamkan matanya. Lalu melepas pelukan Raja, setelah itu berkata.
"Ikut Mama sebentar. Ada yang mau Mama omongin sama kamu!" Raja hanya menurut dan mengikuti Stella ke ruangan kerja wanita itu. Stella mengambil sesuatu dari dalam lacinya lalu memberikannya pada Raja.
"Ini apa?" tanya Raja bingung.
"Coba kamu buka!" pinta Stella. Raja mengangguk, lalu membuka sebuah amplop yang tadi di berikan Stella. Ternyata isinya adalah selembar foto dan sebuah surat. Sebelum Raja membaca surat itu, Stella terlebih dahulu memeluknya, air matanya jatuh dan dia berkata. "Maafin Mama, selama ini Mama udah bohong sama kamu. Mama nggak bermaksud bohongin kamu, Mama cuma nggak mau kamu benci Mama dan Mama bakalan jauh dari kamu. Maafin Mama," katanya lalu melepaskan pelukannya, setelah itu pergi begitu saja. Raja menatap foto yang ada di tangannya, di foto itu terlihat ada Stella yang masih terlihat berandalan. Menggunakan jaket hitam dengan celana jeans robek-robek. Rambutnya di kuncir asal, di samping Stella ada seorang dokter dan seorang wanita yang berbaring di atas brankar, mamangku seorang bayi. Di sisi satunya ada dua suster. Di balik foto itu tertulis jelas bahwa itu adalah foto disaat dirinya lahir, dan yang melahirkannya jelas bukan Stella.
Raja memang sudah curiga sejak dia masuk SMP. Bagaimana mungkin usia Stella masih sangat muda, dan dia mulai menghitung usianya sendiri. Jika benar Stella adalah Mama kandungnya, apakah mungkin seorang anak berusia 14 tahun sudah melahirkan anak? aneh menurut Raja.
Dan sekarang Raja mengerti. Ternyata Stella bukanlah Mama kandungnya, cowok itu membuka surat yang ada di bawah foto itu.
Asalamualaikum ...
Anak Mama, surat ini Mama tulis karena Mama tidak bisa bicara langsung sama kamu. Mama minta maaf, selama ini menyembunyikan kebenaran tentang orang tua kandung kamu.
Mama tau, mungkin setelah ini, kamu akan membenci Mama. Mama memang sengaja tidak memberi tahukan kamu, tentang kamu yang bukan anak kandung Mama. Tapi, Mama melakukan itu karena Mama takut kehilangan kamu sayang.
__ADS_1
Kamu sudah Mama anggap sebagai anak Mama sejak kamu lahir. Mama kandung kamu menitipkan kamu ke Mama, dan kamu harus tau satu hal. Sebelum Mama kamu melahirkan kamu, beliau mengalami kecelakaan. Dan Mama harus bilang bahwa Nenek kamu sendiri yang sengaja menabrak Mama kamu. Tapi tenang saja, Nenek kamu sudah di penjara, dan itu untuk seumur hidup. Jadi kamu bisa tenang, Mama minta maaf atas nama Nenek. Maafkan Nenek kamu ya, sayang.
Walaupun setelah ini kamu akan membenci Mama, tapi Mama malah meminta kamu memaafkan Nenek kamu. Maafkan Mama, Mama akan menerima apapun keputusan kamu.
Salam dari Mama yang selalu menyayangimu. Nuca anak kesayangan Mama.
"Mama ...," entah kenapa air mata Raja mengalir tanpa di komando, setelah membaca surat itu. Tangannya terkepal kuat, lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.
****
Pagi ini cuaca sedikit mendung, dengan perasaan yang cukup bagus, Ace berjalan melewati lorong-lorong kelas. Kakinya tampak sudah sembuh meloncat-loncat kecil. Sambil bersenandung pelan Ace tampak seperti murid SMP, padahal usianya hampir 17 tahun.
Gadis itu tersenyum pada setiap murid yang di temuinya. Rambutnya di gulung rapi, dengan sisa-sisa anak rambut di bagian kiri kanannya.
"Pagi Gattan," senyumnya mengembang saat melihat Raja yang berjalan di samping Gattan. "pagi Raja." Raja tak memperdulikannya sama sekali. Coowok itu justru langsung masuk ke dalam kelas, melapas tasnya meletakkan tas itu asal di atas meja lalu duduk.
"Raja kenapa?" tanya Ace. Gattan mengedik.
"Mana gue tau. Lagi dapet kali!"
"Iish Gattan, aku serius tau!" Gattan terkekeh.
"Iya-iya, lo udah sarapan?" tanya Gattan lalu duduk di samping Raja.
"Gattan! Aku mau duduk, tempat kamu 'kan bukan di sini!" protes Ace.
__ADS_1
"Tapi temenin gue sarapan dulu ya," pinta Gattan.
"Nggak mau! Aku mau duduk, minggir!" Ace menarik lengan Gattan agar berdiri. Namun, Gattan malah balas menarik Ace yang kekuatannya jauh di bawahnya. Alhasil gadis itu hampir jatuh menimpa Gattan. Tapi itu semua tidak terjadi karena Raja tiba-tiba berdiri dan memegang lengan Ace agar tetap pada posisinya, Ace terkejut begitupun Gattan.
"So.sorry Ace. Gue nggak sengaja!" Gattan langsung berdiri dan meminta maaf. Wajah Ace sudah memerah dia malu sekaligus kesal pada Gattan.
"Makannya misi!" Gattan mengangguk, menyingkir dari hadapan Ace. Gadis itu segera duduk di kursinya.
"Makasih Raja," ucap Ace. Raja tak menanggapi, cowok itu sudah sibuk dengan ponselnya walaupun fikirannya tak berada di sana.
***
Raja terdiam duduk di rooftop. Jam istirahat tengah berlangsung. Di lengan Raja, King hinggap sambil menatap majikan serta sahabat burung itu. Ben dan bebera orang yang lain hanya berjaga di sekitar rooftop. Tidak mau mengganggu waktu Raja.
"Gue bukan anak Mama, King!" ucap Raja sedih, "tapi, di banding itu. Pasti Mama lebih sedih!" Raja mengusap kepala King, si burung Merpati yang menjadi sahabatnya sejak usianya 15 tahun.
"Dia ngelaporin Mamanya sendiri supaya di penjara. Pasti itu nyakitin dia banget 'kan!" King bergerak-gerak, dia sudah sangat dekat dengan Raja. Keduanya memang seperti sahabat sungguhan.
"Gue ngerasa bersalah sama Mama. Nggak seharusnya gue marah sama dia, tapi ... gue cuma nggak nyangka. Berarti, selama ini ague ngrepotin Mama, padahal gue sendiri, bukan anak kandungnya!" Raja menunduk. Menatap King yang kini mendongak menatapnya. Tampaknya King tau kesedihan Raja.
"Gue harus minta maaf 'kan sama Mama?" tanya Raja. Dan tentu saja tak mendapat jawaban dari King.
"Ya! Lo bener, gue harus minta maaf sama Mama!"
****
__ADS_1