Raja.

Raja.
27. Kucing dari siapa?


__ADS_3

****


"Syukurlah ...." Stella mendudukkan tubuhnya. Lega sekali mendengar bahwa kesehatan Bita sudah mulai membaik.


"Mama istirahat dulu." Raja menyodorkan air mineral pada Stella sambil duduk di samping wanita itu. Stella mengangguk sambil menerima air yang di berikan Raja


"Makasih ya Ka ... kamu bantu Mama banget." Raja tersenyum


"Mama kan Mamanya Nuca. Udah pasti Nuca bakalan bantuin Mama!" jawab Raja. Stella kali ini yang tersenyum, wanita itu terlihat lelah.


"Na!" Garvin datang sambil berlari. Stella berdiri dari duduknya.


"Bita lagi tidur ..." katanya. Garvin mengangguk dan mendekat ke arah Stella lalu memeluknya.


"Gimana keadaannya?" tanya Garvin khawatir.


"Dia udah stabil Vin. Walaupun masih demam, tapi nggak separah tadi." Garvin mengangguk.


"Maaf tadi aku ada urusan."


"Kamu dari mana! Aku tadi panik banget, sampe manggil Nuca!" Garvin melepas pelukannya lalu mengambil ponsel miliknya.


"Kamu harus liat ini" Stella menatap gambar yang ada di ponsel Garvin.


"Ini ... kok bisa Vin?"


"Aku denger mereka pesta Nar**ba jadi aku selidikin dan sekaligus bawa polisi. Aryo coba kabur, dia di tembak mati, kalo Dirga dia luka-luka karna jatuh dari tebing!" Stella tersenyum.


"Walaupun bukan kita yang buat. Tapi, mereka sendiri yang cari masalah!" ucap Stella terdengar marah. Dia memang sangat kesal terhadap Dirga dan Aryo. Terlebih setelah mereka menculik Raja dan membuat putra kesayangannya itu terluka. Tapi, saat itu Stella masih belum memiliki bukti yang cukup untuk memasukkan mereka kedalam penjara.


"Oh ya, Nuca!" panggil Garvin. Raja mendekat, "dua hari lagi. Papa sama Mama mau ke Singapur buat pengobatan Bita supaya dia bisa lebih baik. Kamu bisa tinggal sendiri?" tanya Garvin.


"Iya Pa ... tenang aja, kan masih ada Bu Dewi sama yang lain." Garvin mengangguk


"Makasih ya kamu ngebatu banget!" Raja hanya mengangguk saja. Dia sangat menghormati Garvin dan Stella. Karena Stella ataupun Garvin juga sangat menghormatinya, apapun keputusan yang dia ambil. Apapun itu pasti Stella juga Garvin akan menerimanya, kecuali keputusan itu melenceng dari perbuatan baik.


"Tolong Pak Dokter, Bapak saya butuh pertolongan!" tiba-tiba terdengar suara bocah kecil yang tengah memohon pada seorang dokter.


"Maaf dek ... Om tidak bisa mengoperasi Bapak adek, karena biaya administrasi nya belum di bayar!"


"Pak saya mohon!" anak kecil itu bersujud. Stella yang melihat itu tak tega dan mendekati bocah kecil itu.


"Bangun sayang ...." Stella mengusap wajah bocah laki-laki yang terlihat sangat kumel dan kotor.


"Tante, tolong bilang sama Pak dokter. Kalo bapak saya harus di obatin!" kata bocah itu sambil menggenggam tangan Stella. "Kalo bapak saya ngga sembuh, saya mau tinggal sama siapa Tante. Aku udah kerja jadi tukang semir, jadi tukang cuci mobil, cuci motor, tapi kata Pak Dokter uangnya masih kurang tante" Stella mengusap kepala bocah itu sayang. Lalu berdiri sambil membantu bocah itu berdiri.

__ADS_1


"Pak biar saya urus administrasi nya, tolong lakukan penanganan terbaik untuk orang tua anak ini."


"Baik Bu!" dokter berlalu. Bocah kecil itu yang tadinya tidak menangis tiba-tiba menangis.


"Kamu kenapa?" tanya Stella bingung.


"Kata Bapak, cowok itu nggak boleh nangis. Cowok itu harus kuat, cowok boleh nangis karena seneng. Gitu kata Bapak, aku nangis bukan karena sedih. Tapi aku senang, makannya aku nangis, Tante baik banget. Aku janji, apapun yang Tante minta saya bakalan turutin! Walaupun saya kerja di rumah Tante buat gantiin uang Tante." Stella sangat terharu dengan ucapan bocah kecil itu.


"Pah Mama ngapain?" Raja bertanya pada Garvin, dia yang sejak tadi hanya menonton penasaran juga.


"Ini loh Ka, sifat Mama kamu yang bikin Papa nggak bisa berpaling." Kekeh Garvin, "Mama kamu itu malaikat," lanjutnya. Raja tersenyum. Benar, Stella memang seperti malaikat, jika tidak sudah pasti Stella akan membuangnya entah kemana.


****


   Raja dan Stella sampai di rumah saat hampir siang. Semala mereka menginap di rumah sakit untuk menjaga Bita. Garvin yang meminta keduanya pulang, karena sudah dari kemarin Stella terus memaksakan diri. Garvin tidak mau sampai Stella ikut sakit, sedangkan Raja. Sore ini dia ada kelas jadi pagi dia masih bisa bebas.


"Loh ini kucing siapa?" Raja menatap kandang kucing berwarna pink yang tergeletak di samping kamarnya. "Ma! Ini kucing siapa?" tanya Raja sedikit berteriak karena Stella ada di kamarnya. Stella keluar dari kamar lalu menatap ke atas.


"Kucing apa?" tanyanya.


"Ini?" Raja mengangkat kandang kucing. Di dalamnya ada seekor kucing berwarna Oranye bercampur putih.


"Lah, mana Mama tau. Kan dari semalem Mama sama kamu!" Raja jadi heran sendiri. Tiba-tiba di belakang Stella ada bu Dewi, dia berkata.


"Cieee yang udah ketemu sama Ace lagi, kok nggak cerita sama Mama."


"Ish apa sih Ma!" decak Raja sedikit kesal, "terus mereka mana?"


"Udah pulang Mas. Tadi kesini dua jam yang lalu." Raja mengangguk.


"Ya udah, makasih ya Bu," ucapnya lalu segera masuk ke dalam kamar. Stella menggelengkan kepalanya pelan lalu ia juga masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Raja menatap kandang kucing itu. Perlahan membukanya, "meow ... meow!" Suara kucing terdengar membuat Raja tersenyum. Dia itu suka hal-hal yang lucu, sama seperti kucing, menurutnya kucing juga lucu.


"Es! Nama lo sekarang Es!" (Ace\=read Es dan Raja memberi nama kucing itu Es) Raja mengusap kepala kucing itu lalu mengangkatnya, "lucu," katanya. Raja duduk di tempat tidur sambil memangku Es, sesekali mengelus kepala Es sambil memainkan ponselnya dengan satu tangan.


   Sebuah Vidio masuk membuat Raja mengernyit. Ternyata Gattan yang mengirimkannya.


"Gue di suruh Ace, sebenernya males banget sih!" suara Gattan. Raja tersenyum melihat Ace yang sedang membuat sesuatu di dapur. Gattan yang memegang kamera. "Dia bilang, baru pertama kali bikin kue, tapi nekat!" suara Gattan terdengar lagi. Walaupun di sana hanya terlihat Ace yang sepertinya tidak sadar bahwa Gattan merekamnya.


"Awh!" Raja ikut tersentak.


"Lo kenapa?" tanya Gattan, Ace tercengir lalu berkata.


"Ga apa-apa, cuma kena oven!" katanya.

__ADS_1


"Matiin dulu makannya!" komentar Gattan.


"Kata Mama kalo mau bikin kue, ovennya di panasin dulu," jelas Ace sambil meracik kue yang ingin dia buat.


"Mau bikin kue apa sih?" tanya Gattan lagi.


"Cake, Raja kan suka Cake." Raja tersenyum melihat bagaimana usaha Ace membuatkan Cake untuknya.


"Tapi lo kan baru pertama kali bikin, kalo gagal gimana?"


"Ya bikin lagi!"


"Kalo gagal lagi?"


"Coba lagi sampe berhasil!" seketika ingatan Raja kembali saat kemarin Ace membawakannya cake. Jadi, cake itu buatan Ace. Raja jadi merasa bersalah.


"Aaakkhh!" Raja tak bisa melihat apapun. semuanya gelap. Hanya ada suara yang dia dengar.


"Lo ngapain sih!" bentak Gattan.


"Gattan sakit! Akh perih!" Raja penasaran sekali. Apa yang terjadi dengan Ace.


"Lo tenang dulu, lagian lo ngapain sih! Udah nggak usah belajar bikin kue-kuean segala. Kalo lo luka gue yang repot!" bentak Gattan. Bukannya diam, Ace justru terdengar menangis.


"Sakit Ttan!" ucap Ace sambil menangis.


"Iya, makannya gue bilang juga apa! lo nggak usah bikin kue!"


"Tapi Raja ...."


"Raja lagi! Raja lagi. Lo tau nggak banyak cowok di dunia ini, bukan cuma dia!" Raja mendengus. Kenapa Gattan menyarankan seperti itu, "kayak gue contohnya," lanjut Gattan. Walaupun Raja tak melihat apa yang terjadi, tapi suara Gattan dan Ace begitu jelas terdengar.


"Mata lo nggak apa-apa?" Raja mengernyit.


"Nggak bisa di buka, sakit banget!"


    Vidio berakhir begitu saja. Raja menatap tidak percaya apa yang terjadi barusan, kenapa Vidionya berakhir begitu saja. Raja menggeser layarnya ke bawah, tarnyata ada keterangan di bawahnya.


'Kalo lo pengen tau lanjutannya. Dia masuk rumah sakit karena kornea matanya rusak. Dia buta selama dua bulan dan untungnya bisa sembuh. Gue cuma ngingetin lo, sebagai sahabat Ace. Gue minta tolong lo jagain dia! Setelah Ace sembuh dan bisa liat lagi. Tapi, dia harus pake kacamata terus.' Raja berdiri dari duduknya, lalu meletakkan Es di atas tempat tidur, cowok itu jadi panik.


"Nuca ...." Stella masuk ke kamarnya, "loh kucingnya kamu lepas, emang nggak liar?" tanya Stella. Raja yang sedang tidak fokus malah tiba-tiba menangis dan memeluk Stella.


"Kamu kenapa sih?"


"Ma ...."

__ADS_1


__ADS_2