Raja.

Raja.
31. Cemburukah?


__ADS_3

****


    Pagi ini Raja berinisiatif datang ke rumah Ace untuk menjemput gadis itu tanpa sepengetahuan sang pemilik rumah.


    Sesampainya di depan gerbang rumah Ace yang hanya sebatas dada itu, Raja melihat motor Gattan sudah terparkir apik di sana. Raja terkekeh, tanpa keluar dari mobil pun. Raja sudah tau, Gattan berada di dalam dan pasti keduanya itu akan berangkat bersama. Mengharapkan apa Raja ini? Mereka saja belum jadian, Ace bukanlah pacar Raja. Tapi, kenapa rasanya hati Raja tidak enak begini. Ada perasaan yang sulit untuk cowok itu ungkapkan.


    Raja memilih pergi. Dia tak ingin melihat Ace bersama Gattan. Walaupun Raja tau, Ace dan Gattan hanya sebatas sahabat. Tapi, entah mengapa Raja justru tidak bisa menutup mata atau menutup telinganya yang terasa panas jika melihat atau mendengar kedua sahabatnya bercanda. Raja tau, tak seharusnya dia memiliki perasaan yang seperti itu. Ace bukanlah siapa-siapanya. Jadi, Ace bisa sesuka hati mau dekat dengan siapa.


   Tapi sekali lagi. Raja merasa hatinya ada yang terluka. Cemburukah? Jika benar, apa rasa nyaman yang dulu, berubah dari fase sayang dan sekarang tengah memasuki proses cinta? Entahlah. Yang jelas, Raja tak boleh terlalu memperlihatkan perasaannya itu pada orang lain. Karena itu adalah salah satu kelemahan Raja. Jika ada yang tau dirinya memiliki rasa pada Ace. Bukan tidak mungkin, banyak yang akan mengganggu Ace. Terlebih Raja saat ini masih belum merasa cocok bersanding dengan Ace.


****


   Ace masuk ke kelas di ikuti Gattan di belakangnya. Gadis itu tersenyum-senyum mengingat kemarin dia dan Raja bermain game cukup lama, bahkan langit sudah gelap. Sebagai pengingat waktu bagi Ace agar pulang ke rumahnya.


   Ace senang, Raja benar-benar sudah berubah. Tak seperti dulu, kaku dan terlalu dingin untuknya. Tapi, menurut Ace sifat dingin Raja memang tidak bisa di hilangkan dari diri Raja. Mungkin sudah takdirnya seperti itu.


"Ace!" Jane tiba-tiba muncul sambil mengatur nafasnya yang tersengal.


"Jane? Kamu ngapain?" tanya Ace bingung.


"Raja! Raja dia ...." Tubuh Ace menegang. Mendengar nama Raja yang di ucapkan Jane. Tampaknya bukan berita bagus.


"Raja kenapa?" tanya Ace.


"Tenang Jane! Cerita yang bener!" tekan Gattan.


"Raja buruh bantuan lo Ace! Sekarang lo harus ke taman belakang! Cepetan!" perintah Jane. Ace ikut panik, dan segera berlari keluar dari kelas paginya.


   Gattan hampir melangkah mengikuti Ace. Jika saja, Jane tak menahannya.


"Lo ngapain?" tanya Gattan.


"Udah, mending lo temenin gue sarapan di kantin! Laper!"


"Eh' terus Nuca sama Ace?"


"Mereka udah gede. Bisa selesain masalah mereka sendiri! Lo nggak perlu terus-terusan ngintilin mereka kan!" Jane merangkul Gattan dan menariknya pergi ke kantin.


    Di sisi lain. Ace berdiri tertegun menatap Raja yang tampak baik-baik saja di depannya. Bahkan menurut Ace, cowok itu bisa di bilang lebih dari kata baik-baik saja.


"Khmm!" Raja mencoba menormalkan ekspresinya begitu Ace muncul dan berdiri dngan nafas tak beraturan. Entah apa yang Jane katakan pada Ace. Cowok itu hanya meminta tolong pada Jane untuk memanggil Ace karena ada sesuatu yang ingin Raja katakan pada gadis itu.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Ace khawatir. Gadis itu mendekat, lalu segera memeriksa keadaan Raja. Raja yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu merasa kehilangan pijakannya untuk sesaat. Tapi untunglah Raja bisa mengendalikan diri.


"Gue nggak apa-apa!" jawabnya dingin seperti biasa.


"Terus kenapa tadi Jane bilang ... Ah aku di kerjain ya!" kesal Ace. Gadis itu tampak cemberut sambil menghentakkan kakinya.


"Gue emang minta tolong Jane!" Ace menatap Raja lagi.


"Buat?"


"Manggil lo kesini?"


"Kenapa?"


"Diem di sini!" Ace terdiam. Raja meninggalkannya begitu saja. Membuat Ace kebingungan. Lima menit berlalu, tapi Raja belum juga kembali. Ace mulai tak nyaman, apa mungkin Raja sedang mengerjainya? Tapi, seingatnya Raja bukan tipe orang yang suka mengerjai begini.


   Ace berdiri sambil menunduk. Menatap rumput yang di pijaknya, dia tak perduli lagi. Apa raja benar-benar meninggalkannya di taman itu sendirian atau apa? Saat sedang sibuk dengan pemikirannya. Ace di kejutkan oleh seseorang yang menutup matanya dengan tangan.


"Raja? Itu kamu?" Ace yakin ini Raja. Kenapa? Karena Ace sudah hafal betul aroma parfum yang Raja biasa pakai.


    Raja melepaskan tangannya, membuat Ace segera membuka mata dan kaget saat melihat seikat balon di sodorkan oleh Raja.


"Ini ...."


"Makasih ...." Ace tersenyum begitu manis. "Oh ya, kamu tadi mau ngomong apa?" Raja mengalihkan tatapannya tiba-tiba. Membuat Ace bingung. Benarkah yang di depannya ini Raja? Si cowok misterius yang dingin dan irit bicara itu? Kenapa wajahnya memerah dan kenapa tangannya terus menggaruk lehernya? Apa sekarang Raja sedang ....


"Kamu sakit ya?" Raja menatap Ace.


"Sakit?"


"Iya, muka kamu merah banget Ka! Kita ke rumah sakit ya sekarang!" Raja menahan tangan Ace yang sudah menariknya.


"Kenapa?" Ace menatap Raja yang juga menatapnya. Cowok jangkung itu menunduk untuk menatap Ace.


"Gue cemburu!" Ace mengerjap bebetapa kali. Mencoba mencerna dua kata yang Raja ucapkan barusan.


"Cem-bu-ru?" Ace masih belum mengerti.


"Iya?"


"Cemburu sama siapa?"

__ADS_1


"Gattan!" Jujur cowok jangkung yang kurang peka itu.


"Gattan? Emang Gattan bikin kamu cemburu kenapa?" Kadang Raja merasa bodoh! Tapi kali ini dia merasa ada yang lebih bodoh darinya.


"Lupain!" Raja melepaskan genggaman tangannya. Ace memiringkan kepalanya, semakin bingung dengan tingkah Raja yang aneh.


"Lupain? Lupain apa? Maksud kamu aku harus lupain kamu yang cemburu sama Gattan? Emang Gattan bikin apa sampe Raja cemburu sama dia?" Raja acuh. Memilih berjalan meninggalkan Ace. Membuat gadis yang memegang seikat balon di tangannya.


"Raja!" Ace mengejar Raja. Cowok itu kini sudah duduk di kursi taman. "Kamu kenapa sih?" tanya Ace. Raja hanya diam, melirik Ace yang menggerutu tidak jelas.


"Terbangin!" ucap Raja tiba-tiba.


"Huh? Apa?"


"Balon nya!" Ace menatap Raja sesaat. Mengerti maksud cowok itu, Ace mengangguk.


"Bareng ya!" Ace menarik tangan Raja. Keduanya samling menggenggam, "hitung sampe tiga! Kita bikin permohonan dulu! Abis itu kita lepas bareng-bareng!" ucap Ace. Raja hanya mengangguk, menanggapi ucapan Ace.


   Keduanya sama-sama menutup mata. Baru beberapa detik, Raja kembali membuka matanya. Memperhatikannya Ace yang masih memejamkan matanya, bibirnya tampak tersenyum. Raja ikut tersenyum memperhatikan setiap lekukan wajah Ace dari jarak yang begitu dekat.


"Udah!" Ace tiba-tiba membuka mata. Membuat Raja kaget, keduanya saling bertatapan. Ace bersusah payah mencari oksigen di sekitarnya. Kenapa Raja terlihat sangat tampan dari jarak sedekat ini?


    Raja tersadar dari apa yang keduanya lakukan. "Lepas?" ucapnya. Ace tampak gugup dan mengangguk sebagai jawaban.


"1 ... 2 ... 3 ...."


"Waaaah!" Ace tersenyum begitu melihat balon-bbalon itu berterbangan. Raja juga ikut memperhatikan balon-balon. Entah kenapa perasaannya menghangat, melihat senyuman Ace yang begitu manis.


   Namanya Ace, tapi dia tak sedingin Es. Dia juga tak sebeluku Es, dia hanya gadis mungil yang banyak bicara dan juga sangat polos. Dia ... sang mahkluk imut yang di ciptakan tuhan untuk menaklukan sang Raja. Raya yang telah lama bersembunyi dari kehidupan luar. Gadis itu Ace, si cerewet yang pernah membuat Raja pergi karena cemburu. Dia Ace.


****


"Ini Tuan muda." Raja mengambil paper bag yang Ben berikan kepadanya. Beberapa saat setelah balon-balon yang mereka terbangkan menghilang dari pandangan. Ace dan Raja masih betah duduk di kursi taman itu.


"Ya thanks," ucap Raja. Ben mengangguk lalu pergi, "Nih buat lo!" Raja memberikan tas itu pada Ace.


"Ini apa?" Ace membuka tas yang di berikan Raja, lalu seketika ekspresi nya berubah.


"Itu punya lo kan?"


"Kamu dapet dari mana?" Ace berdiri dari duduknya. Matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


"Gue ...."


"Aku ada urusan! Aku pulang duluan!" Ace langsung pergi begitu saja, Raja masih duduk diam di tempatnya, memang apa yang salah dengan benda itu?


__ADS_2