
****
"Nuca ...."
"Mama!" Raja segera duduk dan menatap Stella. Dia yakin Mamanya itu tadi mendengar ucapannya.
"Kamu denger nggak sih Mama bilang apa!" kesal Stella. Raja gelagapan sendiri.
"Eh, i.iya Ma ...," katanya gugup.
"Ya udah kamu mau makan apa lagi selain sate, biar Om Azmi sekalian beliin buat kamu!" tanya Stella. Raja menggeleng, Stella mengangguk lalu tersenyum, "kalo gitu Mama tinggal ya. Kamu sama Ace dulu, dia udah Mama ijinin ke Bundanya biar nemenin kamu di sini," jelas Stella, lalu keluar dari ruangan. Raja menaikkan sebelah alisnya.
"Tumben, Mama nggak denger?" katanya lalu menatap Ace, "gue bilang juga apa!" Ace berdecak kesal lalu membereskan buah yang tadinya sudah di kupas.
"Siapa bilang gue nggak mau apel!" cegah Raja. Ace menghentikan aksinya lalu menatap Raja.
"Apa lagi, mau aku juga yang beliin satenya?" kesal Ace.
"Sini!" Raja merebut piring berisi buah apel yang sudah di tusuk-tusuk seperti sate. Lalu memakannya sampai habis.
****
Di luar ruangan Stella berjalan keluar dari rumah sakit. Tak perduli Safa yang terus mengejarnya sejak tadi, "apa yang terjadi nona, apa nona baik-baik saja?" tanya Safa.
"Gimana ini Fa, gimana?" panik Stella. Safa tidak mengerti, "Nuca udah tau kalo aku bukan Mama kandungnya, sekarang gimana?" Stella masuk ke mobil di ikuti Safa yang duduk di samping kemudi.
"Nona, sebaiknya Nona tenang! Walaupun kesehatan Nona sudah 99% kembali seperti sedia kala. Tapi Nona masih harus jaga kesehatan, dan kontrol emosi Nona!" peringat Safa.
"Apa Nuca bakalan ninggalin aku?" panik Stella. "Garvin, ya telfon Garvin sekarang!" perintah Stella. Dan Safa langsung menyodorkan ponselnya yang sudah tersambung dengan Garvin.
'Halo sayang, kenapa? Aku masih di jalan nih mau ke rumah sakit,' ucap Garvin dari sebrang telfon.
__ADS_1
"Vin, Nuca Vin!" ucap Stella sambil menahan tangisnya. Garvin yang mendengar itu langsung panik.
"Kenapa sama Nuca, dia kenapa?"
"Dia ... dia udah tau, kalo aku bukan Mamanya," jelas Stella yang mulai menitikan air matanya. Garvin terdengar menghela nafasnya dengan kasar.
"Kamu di mana, sekarang?"
"Aku masih di parkiran rumah sakit. Aku takut Vin!"
"Ya udah aku kesana, kamu jangan kemana-mana!"
****
"Tuan muda! Pesanan anda." Raja menatap tidak sabar sate yang sudah ada di atas piring, lalu dengan cepat memakannya.
"Kamu laper, apa doyan?" tanya Ace yang melihat Raja begitu lahap memakan sate kesukaannya. Raja tak merespon, dan segera menghabiskan sate ayam yang menjadi makanan favoritnya sejak kecil.
"Ace ikut Tante sebentar yuk" ajak Aqilla.
"Eh' ... tapi Tante ...."
"Sebentar kok." Ace mengangguk dan mengikuti Aqilla keluar dari sana.
"Kenapa Om?" tanya Raja sambil meletakkan piring ke atas meja.
"Siapa yang culik kamu?" tanya Radith menatap Raja lekat.
"Bukan siapa-siapa kok, Kek. Mereka orang yang butuh uang aja!" kata Raja berbohong. Dava menghembuskan nafasnya.
"Yakin?" tanya Dava.
__ADS_1
"Yakin lah Om! Om nggak percaya sama Nuca?"
"Kakek khawatir sama kamu, apalagi kakek tidak ada di sini!" kata Radith khawatir. Mengusap kepala Raja dengan sayang.
"Papa langsung kesini tadi pagi pas denger kamu di culik, padahal Papa lagi di Bali," jelas Dava.
"Maaf ya, Kek, gara-gara Nuca ...."
"Nggak apa-apa! Kakek sama Om kamu ini, sayang banget sama kamu. Kami nggak mau kamu kenapa-kenapa, apalagi Mama kamu. Sampai nangis, padahal dia itu jarang nangis!" kata Radith sambil terkekeh. Dava ikut tertawa. Raja hanya diam tanpa reaksi. Mamanya menangis, hanya karena dirinya yang di culik. Padahal dia bukan siapa-siapa Stella.
"Oh ya, nih kado dari Om!" Dava memberikan sebuah kotak kado kepada Raja. Raja menerimanya dan langsung membukanya.
"Earphone, baru!" Raja tersenyum senang. Dia memang suka mengoleksi earphone, apalagi dia sudah beberapa kali di hadiahi earphone oleh Dava, bahkan saat Raja tidak ulang tahun. Kali ini earphone yang di berikan Dava cukup unik. Dan Raja yakin harganya lebih dari 10 jt ke atas. Bagaimana tidak, di sisi kanan dan kiri earphone itu berukiran nama Nuca dan itu terbuat dari emas, juga di atasnya terdapat gambar mahkota berwarna putih. Namun, Raja yakin itu adalah emas putih yang di bubuhkan di sana.
"Kok, gambar mahkota?" tanya Raja.
"Because you are the King!" Raja terkekeh, lalu mencoba memakai earphone itu.
"Keren!" katanya.
"Ya lah, siapa dulu yang kasih!" Dava menyombongkan diri, "oh iya, ini dari Tante kamu!" Dava memberikan amplop coklat kepada Raja, dan Raja menerimanya dengan bingung.
"Apa nih?" Raja membukanya, dan menatap bingung beberapa gambar yang ada di sana, "kayak pernah liat. Tapi apa ya." Raja mengingat-ingat, "oh iya! Waktu Mama hamil Bita!" seru Raja. "jadi ...." Dava mengangguk.
"Ponakan baru!" kata Dava. Raja terlihat senang, dia memang suka anak-anak.
"Nuca ... Kakek nggak bida lama-lama, harus istirahat ini baru sampe dari bali, dan hadiah ulang tahun kamu, akan Kakek siapkan," kata Radith. Raja mengangguk mengerti dan menyalami Radith. Dava menatap Raja dengan tatapan yang sulit di artikan. Radith tersenyum sebelum meninggalkan putra dan cucunya yang selalu kompak itu.
"Ka(Nuca: read\=Nuka) kamu boleh menyimpulkan sesuka kamu. Tapi inget, apa yang kamu tau dan apa yang kamu rasakan selama ini, itu bukan sebuah kebohongan!" Dava menepuk bahu Raja dan berlalu pergi begitu saja. Raja terdiam lalu menghembuskan nafasnya.
"Maafin Nuca Ma ...."
__ADS_1
****