
*****
Raja berjalan dengan terhuyung-huyung. Wajahnya terlihat pucat, tangannya juga terlihat gemetaran. Cowok itu berusaha sampai di ruangan yang khusus di buat untuknya, di mana ada Ben dan yang lainnya. Beberapa meter lagi dia sampai, tapi tubuhnya, sudah tidak kuat lagi.
"Ukh!" Raja terbatuk. Cowok itu mulai kesulitan bernafas, dengan perlahan, Raja meremas baju bagian dadanya. Raja semakin melemah. Tapi, cowok itu tetap berusaha agar tidak tumbang! Mual. Raja merasa mual dan entah kenapa dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri, lemah bahkan sulit menggerakkan tangannya. Untungnya Raja bisa sampai di depan pintu. Saat Raja ingin membuka pintu, ternyata Ben sudah membukanya lebih dulu. Pria itu terkejut dan dengan terburu-buru, menangkap tubuh Raja yang hampir jatuh.
Kesadaran Raja mulai hilang, dia tak ingat apapun lagi setelah itu. Ben akan membawa tubuh Raja ke mobil. Saat keluar dari ruangan itu, mereka bertemu Ace, Gattan dan Ghani, Chelsea dan Joe mencari di tempat lain.
"Raja!" Ace membekap mulutnya saat melihat tubuh Raja yang lemas. Ben melingkarkan tangan Raja di bahunya lalu membawanya ke mobil, Ace menangis tanpa henti, "Raja ...." Gadis itu sangat menyesal.
****
"Kita ke rumah Tuan Ferry!" perintah Ben. Pria itu menghubungi Stella, dari sebrang telfon Stella langsung murka. Dia menghubungi seluruh keluarganya, bahkan sampai ke mertuanya. Walaupun Raja bukan putra kandungnya sendiri. Tapi Stella akan sangat marah, jika ada yang tidak menganggap Raja sebagai putranya, apalagi jika di depannya ada yang berkata seperti itu.
****
"Mau Mama bantu?"
"Bantu apa Ma?"
"Kayak yang dulu Mama lakuin?"
"Tapi ...."
Suara pendeteksi jantung yang terpasang di tubuh Raja makin melemah. Namun, Ferry sangat berusaha menyelamatkan Raja. Untungnya racun yang ada di tubuh Raja sangatlah sedikit. Sepertinya orang yang memasukkan racun itu memang tidak berniat membunuh. Tapi walaupun sedikit saja, yang namanya racun itu berbahaya.
"Vin!" Stella terus menatap Raja sambil menangis, menelungkupkan wajahnya di dada bidang Garvin.
"Tenang Na, Nuca pasti baik-baik aja!" Garvin mencoba menenangkan. Walaupun sebenarnya dia juga sangat takut. Ferry membuka maskernya lalu meminta Stella juga Garvin mengikutinya.
"Gimana bang?" tanya Stella.
__ADS_1
"Racunnya sudah berhasil di netralkan semua. Tapi, kita nggak tau kapan Nuca bisa sadar."
"Kenapa?" tanya Stella.
"Stella, racun yang mereka pake itu namanya Novichok, dan Novichok itu lebih berbahaya dan mematikan dibanding gas sarin atau VX. Racun ini juga sulit diidentifikasikan," jelas Ferry, Stella menggeleng tidak percaya "Agen saraf Novichok ini terdiri dari dua komponen yang nggak beracun. Tapi, kalo dicampur, keduanya membetuk agen saraf! Racun yang menyerang urat Syaraf. Racun ini berasal dari Uni Soviet, dan bisa melumpuhkan tubuh!" Stella membekap mulutnya. Kepalanya terasa berputar, Ia hampir jatuh jika saja Garvin tak menahannya.
"Apa efeknya?" Tanya Stella lagi, Ferry menghembuskan nafasnya perlahan, sedikit menunduk dan berkata.
"Orang yang selamat dari keracunan agen saraf, hampir selalu menderita kerusakan neurologis kronis dan efek kejiwaan terkait. Kemungkinan efek yang dapat bertahan setidaknya sampe 2 atau 3 tahun setelah seseorang kena racun itu, termasuk penglihatan kabur, kelelahan, penurunan daya ingat, suara serak, jantung berdebar, sulit tidur, kekakuan bahu dan ketegangan mata. Pada orang yang terpapar agen saraf, serum dan erythrocyte acetylcholinesterase dalam jangka panjang secara nyata lebih rendah dari normal dan cenderung lebih rendah semakin buruk gejalanya!" jelas Ferry panjang. Stella semakin menangis, Garvin juga sama tegangnya dengan Stella.
"Kenapa harus Nuca?" Stella terus menangis, menggeleng pelan sebelum tak sadarkan diri dalam pelukan Garvin.
****
"Ma, aku mau masuk sekolah!" pinta Raja.
"Nggak sayang, kamu harus istirahat!" tolak Stella dengan tegas.
"Nuca ... dengerin Mama. Kamu baru sadar, kamu masih harus istirahat, Mama nggak ijinin kamu masuk sekolah!"
"Tapi Ma ...."
"Nggak ada tapi-tapian, Nuca!" Raja terdiam sesaat, lalu berkata lagi.
"Buat kali ini aja, Ma! Please aku janji, abis ini aku bakal nurutin semua kemauan Mama!" Stella memejamkan matanya.
"Nuca ...," ucap Stella lembut.
"Please, Ma ...." Potong Raja sebelum Stella menyelesaikan ucapannya. Stella menghembuskan nafasnya
Raja berusaha bangun. Tapi, rasanya sangat sulit. Stella sudah mengerti kondisi tubuh Raja, tapi dia juga tidak bisa apa-apa, "Ma ...," panggil Raja lagi saat cowok itu sudah duduk, "ya, please ...."
__ADS_1
"Mama tanya Om Ferry dulu." Stella keluar dari ruangan, dan memanggil Ferry.
"Om, aku boleh sekolah 'kan?" tanya Raja saat Ferry sudah masuk ke ruangan itu.
"Sebaiknya kamu jangan kemana-mana dulu!" Raja terus memaksa. Walaupun Ferry sudah menjelaskan kondisi tubuh Raja saat ini.
****
"Raja?" Ace menatap tidak percaya, saat tiba-tiba Raja muncul dengan tampang dinginnya. Wajahnya pucat dan hari ini Raja memakai kacamata, aneh tapi Ace tidak menyadari keanehan lain.
Ace sudah di dandani, begitupun Gattan. Gattan sendiri hanya mampu menatap Raja dalam diam. Terasa sangat awkward saat Gattan dan Raja berdekatan, untungnya ada Ace yang mencairkan suasana di antara keduanya.
"Siap ya, bentar lagi kalian tampil loh!" ucap Bu Nadia. Raja bersiap-siap begitupun Ace dan Gattan. Namun, tiba-tiba saja Raja merasa kepalanya pusing, dia tau saat ini kondisi tubuhnya sama sekali tidak baik, bahkan jika di ibaratkan daun. Raja itu seperti daun yang sudah kering, hanya menunggu angin atau hujan untuk menjatuhkannya. Namun, Raja tetap bertahan untuk sekarang ini.
"Raja kamu nggak apa-apa?" Tiba-tiba Ace datang. Raja menggeleng saja tanpa menjawab, cowok itu sudah meyakinkan dalam hati untuk menjauhi Ace. Biarkan saja Ace bersama Gattan, jika itu membuat Ace terlihat lebih bahagia kenapa Raja harus mengusik kebahagiaan orang?
Drama di mulai, mereka melakukannya dengan baik. Ace selalu tersenyum saat dia berada di balik layar dan melihat Raja sedang berada di panggung, Raja seperti sangat mendalami peran, apalagi saat adegan perang bersama Gattan yang terjadi.
Raja terjatuh. Cowok itu menahan tubuhnya dengan pedangnya. Ace menatap bingung, seingatnya saat latihan kemarin-kemarin tidak ada adegan seperti itu. Gattanpun sama bingungnya, dia yang sedang berperan menjadi kaisar ingin membantu. Tapi jika dia melakukannya, maka semua drama itu akan kacau. Raja berusaha bangkit kembali dan menyerang Gattan padahal seharusnya Gattan yang menyerangnya. Tapi drama tetap berlanjut hingga sang Kaisar di ceritakan kalah dari Pangeran.
Pangeran berdiri di atas panggung sendirian, lalu putri masuk bersama Kaisar. Karena kaisar akan menyerahkan putri padanya. Pangeran menatap Putri dalam diam padahal seharusnya pangeran tersenyum dan menyambut kedatangannya, tanpa di duga Pangeran ... ah ... tidak maksudnya adalah Raja.
Cowok itu menarik Ace dan langsung memeluknya. Raja begitu erat memeluk Ace membuat gadis itu bingung dan juga takut, beberapa saat kemudian tangan Raja terlepas. Ace merasa lega, karena akhirnya Raja melepaskannya. Namun, cowok itu langsung tumbang dan jatuh menghantam lantai. Ace dan Gattan yang berada di atas panggung langsung mencoba membangunkan Raja. Sayangnya, Raja tidak merespon sedikit pun ucapan mereka, Gattan membantu Raja turun dari panggung.
"Raja kenapa?" Ace sangat khawatir. Stella dan Garvin yang sejak tadi menonton drama itu, langsung berlari ke belakang panggung.
"Nuca! Sayang ... bangun." Stella mengusap wajah Raja. "Badannya panas, Vin" ucap Stella. Garvin menghubungi Azmi agar mereka cepat di bawa ke rumah Ferry.
"Kita bawa dulu!" Garvin memapah Raja agar menuju luar sekolah. Di bantu Stella yang sudah menangis, ini salahnya karena membiarkan Raja pergi. Seharusnya dia tidak terlalu menuruti permintaan Raja, seharusnya Stella tidak mendengarkannya.
"Tante ... saya boleh ikut?" tanya Ace saat Stella akan keluar dari aula.
__ADS_1
"Lebih baik. Kamu tetap tinggal!" ucapan Stella membuat Ace hanya mampu menunduk sedih. Benar, dia yang menyebabkan Raja keracunan. Dia sudah tau.