Raja.

Raja.
20. Bullying.


__ADS_3

****


"Tuan muda, apa hari ini anda akan pergi sendiri?"


"Gue sama Gattan, kalian ikutin aja dari belakang!" pinta Raja.


"Baik, Tuan muda." Ben menuju ke mobil Van milik Raja sedangkan Raja sendiri membawa mobil sport miliknya.


"Enak ya jadi lo, kado ulang tahun ke-17, SIM sama KTP," ucap Gattan tangannya mulai iseng, menyalakan musik di dalam mobil sport itu. Raja tak menanggapi, cowok itu hanya diam dan mengendarai mobilnya menuju sekolah.


****


    Ace pagi ini terlihat sangat bersemangat. Dia membantu menyiapkan untuk acara pensi tiga hari lagi.


"Pagi Raja ...," sapa Ace seperti biasa, dan seperti biasa juga. Raja tak membalas sapaannya, justru langsung masuk ke kelas dan meletakkan tasnya begitu saja.


"Tiga hari lagi acara pensi, kamu hari ini latihan lagi 'kan?" tanya Ace. Mengikuti Raja duduk di sampingnya, Raja hanya mengangguk sekilas, "semangat ya," katanya. Kali ini Raja hanya diam saja, semakin dia mendekatkan diri pada Ace. Semakin nyawa Ace dalam bahaya, sebaiknya dia menjauhkan Ace darinya.


    Raja berdiri dari duduknya, Ace terkejut karena resleting tas miliknya tersangkut dengan jaket milik Raja. "Maaf Raja ...," dengan segera, Ace mencoba melepaskan kaitan itu. Tapi rasanya sangat sulit. Raja menunduk untuk membantu, dan saat itu tatapan mata keduanya beradu. Raja terdiam, begitupun Ace, gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Wajah Rajah terlalu dekat dengannya hingga dia kesulitan bernafas.


"Biar gue bantu!" Raja mengalihkan tatapannya. Ace terlalu manis untuknya, dia bahkan takut jika terus mantap Ace, Raja akan sulit melupakannya nanti.


   Cowok itu berdiri setelah berhasil melepaskan kaitan tas milik Ace dan jaketnya, lalu segera meninggalkan ruang kelas, Ace tersenyum sambil menunduk, dia merasa sangat malu. Namun, sedetik kemudian tiba-tiba saja Ace di kejutkan oleh sebuah air yang mengalir di kepalanya, gadis itu mendongak.

__ADS_1


"Dinda!" Ace berdiri dari duduknya, dari tingginya saja Ace sudah kalah.


"Apa! Lo udah gue peringatin 'kan, buat jauhin Raja!" bentak Adinda. Gadis manis berambut sebahu itu menendang meja. Ace menunduk takut, "lo lupa sama anceman gue! Hah!" bentak Adinda. Gadis itu menarik rambut Ace membuat sang empunya rambut mendongak sambil mengaduh kesakitan.


"Sakit, Dinda!" kata Ace memejamkan matanya. Teman sekelas mereka hanya mampu melihat, tidak ada yang berniat membantu, di karenakan ada beberapa hal. Yang pertama, Ace adalah orang baru. Yang kedua, mereka tau Adinda jago Karate. Yang ketiga, mereka tidak ingin mendapat masalah karna berurusan dengan Adinda. Yang lebih membuat Ace tidak ada yang menolong, karena mereka tidak merasa dekat dengan Ace. Nisa, Ghani, Chelsea belum juga datang, sedangkan Joe tadi pergi entah kemana.


"Lo tau, gue udah ngincer peran itu dari dulu, tapi lo dateng tiba-tiba, dan ngrusak rencana gue!" Adinda mendorong Ace hingga gadis itu jatuh kelantai. Dengan tanpa perasaan Adinda menendang tulang kering Ace dengan sangat keras, membuat Ace berteriak kesakitan.


"Ace!" Gattan datang tanpa di duga. Cowok itu segera membantu Ace berdiri, sayangnya karena kakinya yang sakit Ace hanya mampu duduk kembali di kursinya, "sekali lagi lo gangguin Ace, lo bakal berurusan sama gue!" Adinda terkekeh.


"Raja yang nggak mau deket sama dia. Dianya aja yang nyosor nggak punya malu! Gue cuma nunjukin ke dia, apa yang nggak bisa Raja lakuin!" Gattan mengepalkan tangannya. Inginnya dia meninju wajah menyebalkan Adinda, tapi dia masih punya perasaan untuk tidak memukul seorang wanita! Adinda berjalan melewati Gattan dan tiba-tiba berniat menendang kepala Gattan dari arah belakang. Namun, Adinda tidak tau jika Gattan menguasai Kungfu dan juga Wushu. Alhasil Adinda jatuh terjerembab karena Gattan berhasil menangkis sekaligus menyerang Adinda.


"Aaah!" Adinda berdiri dan menghentakkan kakinya, lalu membawa tasnya pergi.


"Gue nggak mungkin gendong lo, nanti Raja bisa marah, gue telfon dia dulu!" Gattan mengambil ponselnya. Namun, Ace merebut ponsel itu.


"Jangan panggil dia, aku kayak gini itu gara-gara dia!" ucap Ace sambil sesekali meringis kesakitan.


"Tapi ...."


"Kalo kamu nggak mau bantuin aku, ya udah aku bisa kok jalan sendiri!" Ace mencoba berdiri. Namun, kakinya terasa seperti di pukul oleh benda tumpul berkali-kali, sangat sakit.


   Gattan tidak punya pilihan lain, selain membawanya ke UKS atau membiarkan kaki Ace semakin biru dan akhirnya membengkak. Gattan mengangkat Ace dan membawanya ke UKS.

__ADS_1


****


     Raja saat ini sedang duduk sambil menatap pemandangan yang menurutnya membosankan dari atap gedung, saat tiba-tiba ada kiriman foto yang masuk ke ponselnya. Dengan malas cowok itu membukanya, Raja berdiri dari duduknya dan langsung berlari turun. Cowok itu mencari keberadaan Ace dan juga Gattan, dia sangat yakin, keduanya berada di UKS saat ini.


     Saat dia sudah sampai di UKS. Raja langsung masuk dan berjalan perlahan ke arah tempat tidur. Namun, langkahnya berhenti saat mendengar percakapan Gattan dan juga Ace. Raja terkekeh pelan lalu berbalik pergi, tidak seharusnya dia se khawatir itu pada seorang gadis yang bukan siapa-siapanya.


"Lo nggak boleh ngomong gitu Ace! Walaupun dia nggak pernah ngobrol sama lo, bagi dia cuma lo yang tulus temenan sama dia!" ucap Gattan. Ace mengerjapkan matanya yang merah, karena terus menangis.


"Tapi ... aku udah capek!" Ace menutup matanya, "aku berkali-kali hampir mati." Gattan menggeleng.


"Lo salah, selama ini Raja selalu lindungin lo, walaupun lo nggak tau itu!" jelas Gattan. Ace menggeleng pelan.


"Kamu keluar aja, aku mau sendiri," pinta Ace sambil pura-pura tidur. Gattan tak lagi bisa berkata apa-apa, cowok itu keluar dari UKS dan kaget saat melihat Raja yang berdiri di depan ruangan sambil menenteng paper bag.


"Lo kasih ke dia," ucap Raja menyerahkan tas itu ke Gattan. Namun, kali ini Gattan menolaknya.


"Lo aja sendiri yang kasih!" Gattan menatap datar Raja.


"Kenapa?" Raja sudah tau jawabannya. Tapi dia ingin tau apa yang akan Gattan katakan.


"Dia nyerah sama lo, gue nggak mau jadi perantara lo sama dia!" jawab Gattan jujur. Raja terkekeh pelan lalu menyodorkan paper bag itu kepada Gattan.


"Terserah!" katanya lalu pergi begitu saja. Gattan ingin masuk kembali ke ruang UKS untuk memberikan titipan Raja. Tapi dia sudah tidak mood untuk membicarakan apapun dengan Ace. Faktanya setiap kali Ace berkata dia membenci Raja, justru yang dia lihat dari sikap Ace adalah sebaliknya, dan itu malah membuat Gattan merasa sakit. Lebih baik untuk saat ini, Gattan tidak menemui Ace, itu yang terbaik.

__ADS_1


****


__ADS_2