
****
Raja menggulung lengan jaketnya. Lalu menyampirkan tas ranselnya di bahu kanan, Earphone bluetooth berwarna biru, terpasang di kepalanya.
"Nuca!" panggil Stella. Namun, sepertinya Raja tak mendengar panggilan sang Mama. Stella juga terlihat baru pulang dari kantornya, "Nuca!" Stella kembali memanggil, kali ini mendekati Raja yang berjalan menuju lantai atas melalui tangga. Karena tak mendapat jawaban darinya, Stella menarik earphone dari telinga Raja membuat cowok itu kaget.
"Apaan sih, Ma!" kesalnya.
"Kamu yang apa-apaan, dari tadi Mama manggilin kamu! Tapi kamu nggak jawab!" Stella berucap tegas. Raja mengalihkan pandangannya, lalu merebut earphone miliknya dari tangan Stella.
"Aku capek Ma! Mau tidur!" Raja langsung berjalan masuk ke kamarnya.
"Tapi Nuca ...." Stella menatap pintu kamar Raja yang sudah tertutup.
"Nona, Tuan Ferry ada di bawah!" ucap Safa membuat Stella mengangguk. Berjalan menuruni angga, dia menghembuskan nafasnya. Semenjak kejadian penculikan itu, sifat Raja berubah. Lebih dingin dan juga acuh tak seperti dulu, apa Raja benar-benar akan meninggalkan dia?
Stella langsung mencengkeram pegangan tangga lalu mengangkat tubuhnya untuk mengindari sesuatu yang baru saja terlempar ke arahnya.
"Lumayan!" Stella menoleh. Dan menatap Ferry yang baru saja melemparkan pulpen ke arahnya.
"Abang!" kesal Stella.
"Apa! Abang cuma ngetes kamu!" jawab Ferry sambil terkekeh.
"Ya udah! Abang ikut aku!" Stella berjalan ke arah ruangannya. Tanpa mereka sadari, Raja berdiri di ujung tangga sejak tadi, dan mendengarkan obrolan keduanya. Tadinya dia ingin bicara dengan Stella, tapi dia malah melihat adegan yang cukup membuatnya bingung.
"Ngetes?" Dia tidak mengerti.
****
"Apa sih isinya?" Ace memasang flashdisk yang di berikan Raja ke laptopnya.
__ADS_1
Jadi, setelah Raja mengambil paksa tas Ace. Ternyata cowok itu malah mengantar Ace pulang ke rumah. Sekarang Ace sudah berada di rumahnya, meluruskan kakinya yang masih sakit, dan sedang di urut oleh tukang urut tentunya. Di pangkuannya terdapat laptop berwarna ungu miliknha.
"Aaah sakit-sakit! Pelan-pelan, Bu," pekik Ace.
"Iya Neng, ini juga udah pelan-pelan."
"Hmmm ...." Ace mulai membuka file yang ada di dalam flashdisk itu, dan ternyata isinya adalah ....
"Hah! Ini seriusan? Demi apa!" Ace tersenyum senang. Ternyata file itu adalah sebuah video yang memuat tentang pelajaran hari ini. Entah bagaimana Raja mengambil video itu. Yang jelas, gambarnya sangat jelas dan jernih, bahkan suara Guru terdengar sangat jelas tanpa ada gangguan.
"Baik banget sih," kikik Ace sambil tersenyum, membayangkan wajah Raja.
***
Pagi ini cukup cerah, angin bertiup ringan. Raja berjalan seperti biasa, memakai earphone barunya sambil berjalan dengan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Dia dengar dari Mamanya, Gattan sudah pindah ke sekolahnya, tapi dia belum melihat Gattan sejak tadi.
"Pagi, Raja!" suara khas itu terdengar oleh Raja. Namun cowok itu seperti biasa, mengabaikan bahkan pura-pura tak mendengar.
"Makasih ya flashdisk-Nya, aku pikir bakalan ketinggalan pelajaran!" katanya lagi. Raja masih diam saja.
"Sorry ya, aku nggak sengaja" Raja tak menjawab, "ta ...."
"Wiiih, Nuca!" tiba-tiba Gattan muncul entah dari mana. Dan langsung meletakkan lengan kanannya di atas bahu kiri Raja, "gue nyariin lo dari tadi, bingung banget gue sama ini sekolah! Udah kayak labirin!" cerocos Gattan. Raja menghembuskan nafasnya, ternyata yang cerewet bukan hanya Ace, sekarang tambah lagi satu, yaitu Gattan.
"Oh, bukannya lo yang waktu itu, di rumahnya Nuca ya," tunjuk Gattan dengan tangan kirinya. Sedangkan lengan kanannya masih bertengger cantik di pundak Raja.
"Iya, waktu itu belum sempet kenalan," ucap Ace sambil tersenyum lalu mengulurkan tangannya, "aku Ace," katanya.
Gattan balas tersenyum dan menurunkan sandarannya di bahu Raja. tangannya hampir menyentuh tangan Ace. Namun, tiba-tiba Raja berjalan di tengah-tengah mereka. Sehingga membuat keduanya langsung menjauhkan tangan masing-masing, "itu anak, sarap ya!" komentar Gattan.
"Hahaa, Raja emang gitu 'kan orangnya," kekeh Ace.
__ADS_1
"Nah loh, jidat lo kenapa tuh beset gitu? Jatoh?" tanya Gattan.
"Ooh ini ...." Ace menyentuh keningnya. Plaster sudah dia lepas, "iya aku jatoh di tangga, kemaren," kekeh Ace. Gattan ikut terkekeh.
"Makannya ati-ati kalo jalan! Oh ya, gue Gattan," kali ini Gattan yang mengulurkan tangannya. Dan saat Ace akan membalasnya, Raja ternyata kembali dan menarik kerah baju Gattan, agar mengikutinya pergi, "eh apaan sih, woi Nuca lepas!" Gattan mencoba melepaskan tangan Raja tapi tidak bisa.
Jangan salah. Walaupun Raja terlihat manja, tapi ilmu bela dirinya tidak perlu di pertanyaan. Ya maklum lah, Mamanya itu pemilik sabuk hitam karate, jago Judo, Taekwondo, Silat, bahkan jago Muay Thai. Sedangkan papanya juga sudah hatam dengan teknik Judo dan Karate. Ya nggak mungkin sih kalo Raja tidak mempelajari ilmu bela diri.
Gattan duduk di kursi kantin. Di sampingnya Raja juga ikut duduk, cowok gondrong itu membetulkan kerah bajunya, lalu merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan, "sialan lo, narik-narik orang sembarangan," ketus Gattan.
"Mau makan apa?" tanya Raja. Cowok itu bahkan tak memperdulikan cerocosan Gattan.
"Serah lo deh! Sarapan gue bebas," kata Gattan lalu tertawa, Raja memesan makanan untuk Gattan. "lo nggak makan?"
"Gue udah makan!"
"Gue lupa. Mana mungkin Tante cantik biarin lo nggak sarapan," kekehnya. Raja hanya mendengus. Entah sejak kapan, Gattan memanggil Mamanya dengan sebutan Tante cantik. Bahkan kemarin saat dia pulang dari rumah sakit, Gattan selalu cekcok dengan Garvin gara-gara masalah panggilan itu.
"Lo suka ya, sama si Ace?" tanya Gattan tiba-tiba. Raja hanya meliriknya sekilas.
"Gue? Suka sama dia?" Raja menggeleng, "nggak akan!"
"Yakin lo? Cantik gitu, kecil-kecil imut, lo 'kan suka yang kayak gituan, tipe lo banget 'kan." Raja terkekeh, memang hanya Gattan yang tau dirinya.
"Tapi bukan dia juga!"
"Emangnya kenapa? Nggak salah kok, dia itu tipe cewek periang. Lo 'kan pendiem, biar hidup lo lebih berwarna!" kata Gattan mendramatisir.
"Serah!"
"Yeee di bilangin ngeyel. Coba lo deketin dulu, gue yakin lo ada rasa, tapi lo malu mau bilang!" Raja mengernyit, 'Rasa?' batin Raja.
__ADS_1
"Deket sama gue Resikonya gede Ttan!"
****