
****
"Mimpi apa! Aaaakh!" jerit Ace di dalam kamarnya. Malam ini Ace sedang berada di kamarnya, membayangkan kejadian tadi saat berada di rumah besar milik keluarga Raja. Ace sekarang mengetahui satu fakta! Raja selalu sopan terhadap orang tua.
"Sumpah, nggak nyangka ternyata Raja itu baik banget, ganteng pula, kayak artis-artis korea! Aku pikir dia itu anak nakal, abisnya nggak punya temen di sekolah!" cerita Ace pada kakaknya.
"Kayak apa sih orangnya? Jadi penasaran gue." tanya Bianca sang kakak.
"Dia tuh ganteng banget Kak! Udah gitu pinter, baik, penurut sama orang tua lagi, ahhh dia tuh perfect!"
"Kamu lagi ngayal ya dek? Mana ada sih jaman sekarang cowok yang kayak gitu!"
"Ini serius Kak, ish Kak Bi kok ngga percaya sih!" kesal Ace.
"Iya deh iya, percaya! Kamu istirahat lah, udah malem!"
"Iya, met tidur, Kak Bi"
"Hmm."
****
"Pagi Raja!" sapa Ace ceria. Raja tak menanggapi, menolehpun tidak, "ish! Di sapa kok ngga di bales sih! Eh' by the way, buku-buku kamu masih aku pinjem ya sampe kamis depan! Nggak apa-apa kan?" Raja berdiri dari duduknya lalu pergi dari kelas. Ace cemberut dan berdecak kesal.
"Tuh cowok kurang apa sih, perasaan kemarin baik-baik aja!"
"Pagi Ace!" sapa Nisa.
"Oh pagi juga Nisa."
"Ace kenalin! Temen-temen aku, kemarin belom sempet kenalan soalnya mereka anggota osis," jelas Nisa.
"Oh iya, aku Ace." Ace menjabat tangan seorang gadis yang rambutnya di kuncir kuda.
"gue Chelsea"
"Ghani!" teman Nisa yang lain.
"Gue Joe!" Ace tersenyum, mereka sangat baik.
"Kita temenan dari SD jadi jangan kaget ya kalo kita suka becanda yang berlebihan," kata Chelsea.
"Bener banget." Nisa membenarkan.
"Hahaa, aku juga suka bercanda kok." Ace tertawa.
"Tadi gue liat lo cemberut, kenapa?" tanya Chelsea duduk di kursi depan Ace.
"Itu tuh! Si Raja, kemaren baik-baik aja. Sekarang, boro-boro ngomong! 'Kan kesel!" kesal Ace.
"Lo kemaren jadi ke rumah si King Ice itu?" tanya Ghani.
"Jadi, sampe sore malah gara-gara nyokapnya minta aku makan siang di sana."
"Hah! Serius? Lo ketemu nyokapnya?" tanya Chelsea penasaran.
"I.iya." Ace mengangguk kaku sambil tersenyum.
"Katanya masih muda banget ya?" tanya Nisa.
"Mmm, kayak masih 20an gitu, tapi masa sih?" Ace membenarkan. Lalu menatap papan tulis, "Tante Stella itu baik banget loh, padahal baru kenal tapi udah di ajakin makan bareng."
__ADS_1
"Gue juga pernah denger, katanya emang baik banget!" timpal Chelsea.
"Lo nggak tau?" kali ini Joe yang bertanya.
"Hah?" Ace bingung, "maksudnya?"
"Dari yang gue tau, Raja itu nggak pernah punya temen. Jangankan ngajakin ke rumah, di sekolah aja nggak pernah tuh dia deket sama orang selain bodyguardnya," kata Joe.
"Masa sih Joe?" Chelsea ikut penasaran.
"Lo nggak percaya? Lo nggak tau siapa gue, Informan terpercaya?" Joe menyombongkan diri.
"Tapi masa iya dia ngga punya temen sama sekali sih, di rumah juga?" Nisa mulai kepo.
"Dia pernah punya temen waktu SD. Namanya Gattan, tapi karena ada masalah apa, gue juga ngga tau Gattan pindah sekolah. Sejak itu Raja nggak pernah mau punya temen, nggak tau alesannya apa!"Ace mengangguk-angguk.
"Kalo soal dia dingin ke semua orang itu?" tanya Ace.
"Kalo itu 'kan udah jelas! Karena dia ngga pernah punya temen, akhirnya dia selalu hindarin orang! Ya menurut gue sih, karena dia udah biasa sendiri, jadi kalo ada orang lain dia nggak suka?" Ace sadikit menggeleng. Dia tidak setuju, seingatnya saat Raja di rumah kemarin Raja tersenyum juga tertawa, bahkan bercanda dengan orang tuanya. Pasti ada sesuatu yang membuat Raja membenci dunia luar selain keluarganya.
***
"Raja!" panggil Ace saat melihat cowok itu keluar dari kelas, Raja menoleh dan menatap Ace dengan tatapan datarnya, "gue balikin buku lo nih!" Ace memberikan setumpuk buku pada Raja. Raja mengambilnya lalu ingin pergi.
"Eh tunggu Raja!" Ace berlari dan berjalan bersisian dengan cowok dingin itu.
"Apa?" Raja risih dengan adanya Ace di sisinya. Apalagi seminggu ini Ace selalu memanggilnya, mencoba mendekatinya. Seperti sekarang, dan Raja tidak suka itu.
"Hari ini ada acara di Cafe deket rumah aku, kamu dateng ya," pinta Ace. Raja menghentikan langkahnya.
"Jangan karena gue pinjemin buku ke elo! Lo pikir jadi temen gue!" Raja menarik tangan Ace, lalu meletakkan tumpukan buku tadi di atas tangan Ace, "buku ini buat lo! Dan jangan ganggu gue lagi!" Ace hanya diam menatap Raja yang berjalan menjauhinya. Menghembuskan nafasnya Ace tersenyum.
****
"Huft, susah banget ya deketin Raja!" Ace membaringkan kepalanya di atas meja.
"Lagian selera lo tinggi banget Ace," komentar Ghani.
"hhh tau ah! Aku 'kan cuma pengen dia punya temen. Itu aja!" Kata Ace lesu.
"Maksain orang itu nggak baik loh Ace." Nisa ikut bicara, "kalo dia nggak mau ya udah! Mungkin dia nyaman kayak gitu." Ace terdiam.
"Iya sih, penasaran juga kenapa dia nggak mau punya temen!" kata Ace.
"Itu masih jadi misteri ...." Joe menjawab sambil sibuk dengan ponselnya.
"Lo masih nyari tau tentang si Lia kakak kelas itu?" tanya Chelsea menatap Joe.
"Ya lah." Ace tak mendengarkan lagi percakapan mereka, yang ada di fikirannya adalah apa yang menyebabkan Raja seperti sekarang?
****
"Sayang ... kamu kok ngga ajak Ace main lagi?" Raja menghentikan aksi makannya. Lalu menatap Stella yang juga menatapnya.
"Emang apa pentingnya Ma!" ucap Raja kembali memakan makanannya.
"Penting lah. Dia 'kan temen kamu, wajar kalo dia main!"
"Ma! Dia itu bukan temen Nuca! Dia 'kan cuma kebetulan satu kelas dan kebetulan juga duduknya sebelahan? Udah itu doang kok!"
"Yakin? Dia itu baik loh, nggak aneh-aneh juga," kata Stella.
__ADS_1
"Lagian Ma, kalo aku mau nyari temen atau pacar itu yang kayak Mama!" Stella terkekeh.
"Yang kayak Mama gimana?"
"Iya, yang bisa jaga diri sendiri dan nggak ngrepotin!" Stella semakin terkekeh.
"Duh Nuca ... kodratnya cewek itu di lindungi!"
"Terus, kenapa Mama ngelindungin diri sendiri sama orang lain, dulu?"
"Itu karena Mama suka!"
"Ya kalo gitu Nuca cari cewek yang suka kayak gitu juga!" Stella menghembuskan nafasnya.
"Ngga boleh gitu dong! Mungkin Ace emang nggak bisa bela diri kayak Mama, tapi 'kan mungkin ada kelebihan lain?"
"Apa kelebihannya? Gangguin Nuca pas jam pelajaran, atau kejar-kejar Nuca pas jam istirahat, nggak ada faedahnya Ma!" kali ini Stella tertawa lepas.
"Polos banget sih, gemes deh Mama!" Stella mengelap mulutnya dengan tisu. Sedangkan Raja mendorong piringnya karena sudah tidak berselera makan lagi.
"Aku udah kenyang!" Nuca berjalan menjauhi meja makan. Stella terdiam, sepertinya ada yang salah dengan Raja.
"Nuca Mama mau bicara!" Stella mengikuti Raka ke kamar cowok itu.
"Apa lagi Ma, aku nggak mau di paksa pokoknya!" tegas Raja.
"Mama nggak akan maksa, tapi seenggaknya kamu punya temen." Stella duduk di samping Raja yang langsung bersila di atas tepat tidur berhadapan dengan laptop.
"Ma, udah berapa kali Nuca bilang. Nuca nggak mau punya temen, bikin repot ma!"
"Dulu Mama juga gitu." Raja langsung menatap Stella.
"Maksud Mama?"
"Dulu Mama pernah mikir! Punya temen itu bikin repot, tapi ternyata setelah kenal Papa kamu, Mama malah nyesel nggak cari temen dari awal!"
"Itu beda Ma! Menurut Nuca, temen itu nggak penting!" Stella langsung menatap Raja tidak mengerti.
"Nuca kamu bilang apa barusan?"
"Iya, punya temen itu nggak penting. Mereka itu deket kalo ada maunya, kalo nggak ada yang nggak tau ilang kemana?"
"Siapa yang bilang gitu sama kamu?" Raja langsung diam. Pura-pura sibuk dengan laptopnya. "Nuca jawab Mama!"
"Ma udah lah! Nuca mau kerjain tugas, Mama keluar sana!" Raja mendorong Stella agar keluar dari kamarnya.
"Ok Mama keluar. Tapi ngga mau tau, besok itu hari libur, Mama pengen kamu ajakin Ace kesini gimanapun caranya titik!"
"Tapi Ma ...."
"Kalo nggak, mama blokir ATM kamu selama dua bulan!"
"Loh kok gitu sih Ma!"
"Iya, pilih yang mana?"
"Ma Nggak bisa gitu dong! Ma! Ma! Mama!" panggil Raja berteriak karena Stella sudah turun ke lantai bawah.
"Ck, nyusahin!"
***
__ADS_1