
****
"Tante!" teriak Ghani dan Joe bersamaan. "Raja di culik!" Stella yang berada di kamar langsung berlari keluar.
"Nuca! Di mana?" tanyanya.
"Tadi di depan, kayaknya dia ngobrol sama orang, terus tiba-tiba pingsan! dan di bawa pergi pake mobil! Gattan juga pingsan Tante," jelas Joe Stella langsung lemas, Garvin mendekap erat tubuh sang istri.
"Kita berhasil ngambil foto no seri-Nya Tante!" Ghani menunjukkan foto-foto dari mobil itu.
Levin dan Sean langsung keluar setelah melihat no seri mobil itu, keduanya bergegas mencari keberadaan Raja.
"Ben!" panggil Garvin, "Kejar mobilnya!"
"Baik Tuan!"
"Azmi, cari tau pemilik mobil!" Garvin langsung membawa Stella ke kamar mereka.
"Aku, harus cari Nuca!" kata Stella sambil melepaskan diri dari dekapan Garvin.
"Na! Tunggu Na sabar, kita harus tenang, jangan panik!"
"Tapi Nuca di bius Vin. Kalo dia kenapa-kenapa gimana, kalo dia sampe ada apa-apa gimana!" tangis Stella. Garvin terdiam sesaat lalu meminta Peter untuk mengantar teman-teman Raja kerumah mereka masing-masing.
Ace ikut panik. Dia juga khawatir, entah kenapa dia bisa sekhawatir itu pada Raja.
"Semoga kamu baik-baik aja Raja," bisiknya pelan.
****
Di tempat lain. Raja mengerjapkan matanya, lalu menatap silau ke arah lampu yang langsung mengenai matanya.
"lo bangun juga akhirnya!" Raja menoleh menatap seorang pria yang membawa sebilah belati di tangannya.
"Lo siapa?" tanya Raja. Pria itu tertawa.
"Lo nggak kenal gue, tapi gue kenal lo!" Raja tidak perduli. Yang selanjutnya terjadi Raja mencoba melepaskan diri. Namun tiba-tiba, pria itu menggores lengan Raja begitu dalam menggunakan belati.
"Arrgh!" teriak Raja.
"Sekali lo coba kabur, gue bakalan potong tangan lo!" katanya. Raja langsung diam, bukannya dia takut, tapi dia memikirkan cara yang tepat untuk melawan psyco semacam ini.
__ADS_1
"Lo ada dendam apa sama nyokap gue?" tanya Raja.
"Oh lo udah paham ternyata?" kekeh pria itu, "gara-gara Stella. Gue di penjara delapan tahun! Lo tau artinya apa! Setengah hidup gue gue abisin di penjara!" Raja mengalihkan tatapannya.
"Terus apa hubungannya sama gue?"
"Hubungannya?" pria itu terkekeh, "hubungannya, itu karena gara-gara lo, Dirga hampir masuk penjara!"
"Dirga?"
"Itu gue, akhirnya kita berhasil culik Nuca!" kekeh Dirga.
"Sebenernya gampang! Tapi lo yang bikin susah!" ucap teman Dirga.
"Yo, lo tau gue jadi boronan bertaun-taun gara-gara nusuk si Stella!" geram Dirga, "demi bocah ini!" tunjuk Dirga pada Raja.
"Lo jadi boronan, gue jadi tahanan!" Aryo terkekeh. Pria itu adalah musuh Stella, dulu saat usia Stella masih 17 tahun. Dia membawa Aryo ke kantor polisi karena menggunakan narkoba. Sebab itu, Aryo mendekam di penjara untuk rehabilitasi.
"Jelasnya! Gara-gara lo, Stella bisa ngelakuin apa aja!" Dirga menatap sengit Raja.
"Enaknya kita apain ya?" tanya Dirga duduk di salah satu sofa. Aryo berjalan berputar mengelilingi Raja yang duduk di kursi.
"Akh!" Raja mengaduh karena tiba-tiba Aryo meninju wajahnya.
"Udah Yo! Dia bisa mati!" peringat Dirga. Namun, Aryo tak mau mendengar. Walaupun Raja terlihat sudah tidak berdaya. Aryo tampaknya sangat senang melihat Raja yang seperti itu.
"Gue malah seneng kalo dia mati!" Aryo mengambil linggis yang ada di belakangnya. Dirga yang melihat itu langsung mencegah Aryo.
"Kita nggak boleh bunuh dia Aryo!" cegah Dirga. Aryo mendengus lalu melemparkan linggis itu, dan kembali menatap Raja dengan amarah yang memuncak.
Raja jatuh bersama dengan kursi yang di ikat bersamanya setelah Aryo menendang dadanya.
"Dendam gue sama nyokap lo, bukan sama lo!" geram Aryo, "padahal Stella bukan nyokap kandung lo, tapi dia sayang banget sama lo tch!" Aryo meludah, dia benar-benar geram.
"Gue ragu, kalo Nuca tau, Stella bukan nyokap kandungnya!" tawa Dirga. Raja hanya diam mendengarkan.
"Gue yakin, Stella nggak mungkin kasih tau." Aryo ikut tertawa.
"Iyalah! Parahnya yang bunuh nyokapnya Nuca itu nyokap Stella sendiri" kata Dirga. Dia sengaja mengatakan itu.
"Lo tau alesannya, kenapa Stella sayang banget sama anak ini?" tanya Aryo.
__ADS_1
"Jelas! Supaya Nuca nggak tau kalo yang bunuh nyokap kandung nya itu adalah nyokap Stella sendiri!" Dirga tertawa lalu berjalan ke arah jendela yang ada di rumah tua itu.
"Gawat Yo! Kita ketauan, ayo kabur!" Dirga menarik Aryo agar pergi. Karena di luar, Stella juga beberapa bodyguardnya sudah mengepung. Aryo kembali menendang perut Raja hingga cowok itu benar-benar lemas.
Aryo dan Dirga kabur lewat pintu rahasia. Stella menerobos masuk dan kaget saat melihat keadaan Raja.
"Nuca!" Stella dan Garvin berlari dan langsung melepaskan tali yang mengikat Raja. Dengan cepat Stella memeluknya, sedangkan Ben dan yang lain segera menggeledah tempat itu.
"Raja!" Ace duduk di depan Raja yang masih terlihat sangat lemah.
"Nona, mereka sudah kabur!" ucap Ben. Stella terlihat marah lalu membantu Raja berdiri. Garvin menarik tangan Raja dan melingkarkannya di bahunya.
"Ayo kita ke mobil!" suara Stella berubah berat dan tajam. Azmi yang mendengar itu langsung menoleh, suaranya sama seperti dulu, sama seperti saat Stella remaja, saat di mana Stella melakukan semuanya sendiri. Sedangkan Garvin, dia merasa sangat tidak tenang.
Stella, Raja dan Ace sudah masuk ke dalam mobil. Sedangkan Garvin masih mengurus beberapa hal, "ke rumah sakit!" pinta Stella. Azmi mengangguk dan membawa ketiganya ke rumah sakit, di tengah perjalanan Raja yang sejak tadi diam akhirnya tak sadarkan diri.
"Nuca, bangun Nuca!" Stella terus mencoba membuat Raja sadar. Namun, sepertinya keadaan Raja memang tidak baik. Terlihat dari bekas pukulan yang ada di wajahnya, juga luka goresan di lengan kirinya.
****
"Na, kamu istirahat dulu, udah semaleman kamu nggak tidur," pinta Garvin. Stella tak mendengarkan, wanita itu tetap duduk di kursi dan terus menggenggam tangan Raja, "seenggaknya kamu makan Na, nanti kamu sakit!"
"Vin, Nuca belum sadar, aku nggak bisa liat dia kayak gini!"
"Aku tau, aku tau, Na! Tapi kamu jangan nyiksa diri!" Stella tak perduli. Semakin erat menggenggam tangan Raja. "Na, please ..." Garvin mengusap lembut puncuk kepala Stella. Stella memejamkan matanya lalu menempelkan keningnya di atas genggaman tangannya.
"Mama kenapa nggak istirahat?" Stella dan Garvin menoleh bersamaan. Raja sudah sadar.
"Kamu udah sadar sayang. Mana yang sakit? Atau kamu laper, biar Mama ambil makanan?" ucap Stella cepat sambil berdiri dan langsung memeriksa keadaan putranya.
"Aku tanya, kenapa Mama nggak istirahat?" Stella menghentikan aksinya. lalu menatap Raja sendu.
"Mama nggak tenang liat Nuca sakit. Mama nggak suka." Stella menggeleng pelan.
"Aku nggak apa-apa. Mama bisa istirahat." Raja lalu diam. tidak! Stella merasa ada yang aneh dengan Raja, apa yang terjadi?
"Nuca?"
"Aku bilang Mama Istirahat!" ucap Raja sedikit membentak. Stella diam, setelah itu segera keluar dari ruangan. Garvin menatap Raja dengan bingung.
"Kamu bentak Mama?" ucap Garvin tak menyangka. Raja hanya diam, Garvin menggeleng pelan lalu meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Raja memejamkan matanya. Lalu dalam hati berkata, "kalo aku bukan anak Mama, kenapa Mama baik sama aku?"
****