Raja.

Raja.
09. Manja.


__ADS_3

****


"Raja ...." Raja menoleh ke arah pintu. Dari sana muncul Ace yang membawa parsel berisi buah-buahan, "aku kesini, buat jengukin kamu," katanya sambil meletakkan parsel itu di atas meja.


"Oh iya ... hari ini pembagian kelompok loh! Aku udah bawa buku-buku yang harus kita pelajarin, nanti kalo kamu udah sembuh, kita bisa kerjain bareng-bareng," Ace mengeluarkan buku dari dalam tasnya, "kelompoknya di bagi sesuai tempat duduk! Jadi kita satu kelompok. Kita di suruh cari tanaman-tanaman yang bisa di buat obat gitu," jelas Ace panjang. Namun, Raja sama sekali tak merespon, matanya terbuka, beberapa kali berkedip. Tapi dia tak menjawab satupun ucapan Ace.


"Hari ini juga ada pemilihan pemeran di pentas seni buat dua minggu lagi. Kamu yang jadi pemeran utamanya, ya jadi pangeran gitu," Ace terkekeh, "dan lagi ... pasangannya Adinda loh! Kamu pasti kenal lah ya, 'kan kamu udah lebih lama di kelas itu." Ace masih terus bicara.


"Oh ya aku lupa! Kamu udah makan? Mau aku ambilin makanan atau ...."


"Keluar!"


"Huh?"


"Lo! Keluar!" Ace terdiam kaku di tempatnya. Suara Raja begitu tegas tak terbantahkan.


"Ta.tapi Raja ... aku kesini cuma mau jengukin kamu, ya sambil kasih tau pelajaran hari ini. Lagi pula, kamu 'kan nggak ngapa-ngapain, ya mending aku temenin biar ada temen." Raja tak lagi bersuara, "kita satu kelas, jadi wajar aku jengukin kamu di sini!" Raja masih diam saja, Ace menunduk.


"Tapi ya udah deh! Kalo kamu pengen aku pergi, nggak apa-apa, aku keluar ya." Ace memasukkan kembali buku-bukunya kedalam tas, lalu hampir berdiri. Namun, tiba-tiba Raja mencekal tangannya dan tanpa di duga cowok itu meletakkan kepalanya di bahu Ace, membuat gadis itu diam seribu bahasa.


"Sebentar aja!" pelan Raja lemah. Ace terdiam kaku, apa yang terjadi saat ini? Dia sulit mencerna, apa yang Raja fikirkan sebenarnya?


Beberapa saat akhirnya Raja melepaskan pelukannya kembali berbaring dan kali ini memejamkan mata. Ace jadi canggung sendiri, sebenarnya apa yang terjadi barusan? Kenapa Raja tiba-tiba memeluknya. Karena suasana menjadi sangat awkward, Ace memilih langsung keluar dari ruangan.


***


"Sayang waktunya makan!" Stella masuk bersama Ace di sampingnya. Raja menatap kedua wanita berbeda usia itu dengan malas. Raja sejak tadi sudah duduk bersandar, dia bosan jadi bermain game di ponselnya, "Makan dulu ya, sayang." Stella mengambil ponsel dari tangan Raja, cowok itu sama sekali tidak protes, "Mama suapin ya."


"Aku bisa makan sendiri, Ma." Stella terdiam sesaat, lalu tersenyum.


"Ya udah, Mama tinggal kalo gitu. Ace tolong jagain anak Tante ya." Raja langsung menatap Stella saat ia mengatakan 'anak' tadi.


"Mama kamu baik banget ya, beruntung banget deh yang jadi anaknya," komentar Ace sambil duduk di kursi samping tempat tidur Raja. Raja sendiri tak terlalu perduli.


"Lo nggak balik?" tanya Raja. Ace gelagapan sendiri apalagi mengingat kejadian tadi siang.


"Itu ... aku Nggak ada kerjaan di rumah. Lagi pula, Gattan tadi bilang nggak bisa dateng karena masih pusing katanya, jadi aku yang gantiin dia seb ...."

__ADS_1


"Lo pulang aja!"


"Tapi ...."


"Lo juga harus istirahat!" Ace kali ini diam.


"Tenang aja! Besok 'kan tanggal merah. Aku bisa tidur seharian," kata Ace ceria.


"Kenapa lo mau nemenin gue?" akhirnya Raja mau bicara juga dengannya, Ace tersenyum.


"Karena aku mau! Karena kamu baik, jadi aku harus baik juga!" Raja tak merespon lagi. Kali ini dia mulai memakan makanannya. Namun, baru beberapa suap Raja meletakan makanannya begitu saja di atas meja.


"Kok nggak jadi makan?" tanya Ace bingung, Raja menatapnya datar.


"Nggak enak!" jawab Raja tanpa ekspresi. Ace menepuk keningnya.


"Raja! Yang namanya makanan rumah sakit itu mana ada yang enak. Di tambah kamu lagi sakit udah pasti ni ya. Mulut kamu jadi kerasa pait, itu karena kamu kurang minum."


"Kata siapa?"


"Kata aku lah! Makannya sekarang minum dulu abis itu baru makan!" Ace menyodorkan air minum pada Raja, dan cowok itu meminumnya.


"Manja banget sih! Yang namanya sakit ya semua jadi kerasa pait. Udah buka mulutnya sekarang, Aaaaa ...." Ace menyendokkan bubur dan menyuapkan ke mulut Raja. Tanpa sadar Raja menerima suapan itu. Namun, saat keduanya sadar apa yang terjadi. Raja menelan makanannya dan segera mengambil alih mangkuk dari tangan Ace. Ace sendiri mengutuk dirinya di dalam hati.


"Eh mau buah nggak? Aku kupasin apel ya?" Ace mencoba mencairkan suasana yang hampir beku itu.


"Gue pengen sate!"


"Hah!"


"Gue bilang pengen sate!" Raja meletakkan kembali mangkuk itu di atas meja.


"Kamu lagi sakit masa makan sate sih? Aneh deh." Ace menggeleng pelan. Lalu memilih buah yang akan dia kupas, "mau apel atau jeruk?" tanya gadis itu.


"Sate ayam," jawab Raja. Ace menghembuskan nafasnya.


"Aku nanya buah, bukan yang lain!"

__ADS_1


"Sate ayam!"


"Buah Raja bukan ...."


"Sate!"


"Iiih ngeselin banget sih!" Ace akhirnya memilih diam dan tetap mengupas apel. Lalu memotongnya menjadi beberapa bagian.


"Sate!" Raja masih meminta apa yang dia inginkan. Sejak kecil apa yang Raja inginkan selalu terpenuhi, kenapa juga dia tidak bisa memakan apa yang dia inginkan saat ini.


"Makan?" Ace menyodorkan garpu berisi buah apel pada Raja.


"Gue mau sate, bukan apel!" Raja menolak. Dan memilih berbaring lalu menutup wajahnya dengan selimut.


"Kamu mau sate 'kan!" Ace terdengar meninggalkan ruangan. Raja senang sepertinya Ace menuruti keinginannya. Raja mulai mengintip melalui celah selimut, dan saat pintu terbuka, Raja buru-buru menutup kembali selimutnya.


"Nih makan?" Raja membuka selimutnya dan menatap ke atas piring.


"Ini apa?"


"Sate!"


"Ini buah apel yang di tusuk! Bukan sate!"


"Sama aja 'kan, ayam juga di tusuk jadi sate, jadi buah di tusuk juga jadi sate 'kan!" cerocos Ace. Raja tak menjawab, dan langsung berbaring kembali.


"Makan Raja. Kalo nggak makan, aku bilangi mama kamu ya!" ancam Ace.


"Bilangin aja, Mama pasti belain gue!" Raja tiba-tiba diam. Lalu perasaannya jadi aneh, kata-kata 'bela' atau membela yang dia ucapkan tadi, kenapa sering terjadi. Walaupun Raja sudah curiga tentang setatusnya sebagai anak dari Stella, tapi dia sudah dengar apa yang terjadi. Walaupun belum lengkap tapi setidaknya dia tau, Stella memang bukan Mama kandungnya, lalu siapa dia? Kenapa dia bisa masuk ke dalam keluarga Stella. Kenapa Stella sangat menyayanginya, kenapa Stella selalu membela dan juga menuruti semua keinginannya?


"Nuca ...." Raja tersentak kaget. Ternyata Stella sudah ada di sampingnya sambil mengusap kepalanya. "Ace bilang, kamu pengen makan sate!" tanyanya. Raja tak menjawab, hanya diam saja, "kalo kamu mau, nanti biar Mama suruh Om Azmi beliin ya buat kamu! Yang penting kamu makan," kata Stella lembut.


"Loh, tapi Tante, Raja 'kan lagi sakit?" protes Ace. Stella terkekeh.


"Nggak apa-apa, yang penting dia mau makan. Dia emang suka banget sama yang namanya sate!" jelas Stella.


"Kalo gitu siapa Mama kandung aku?" bisik Raja pelan. Stella langsung menegang.

__ADS_1


"Nuca ...."


****


__ADS_2