Raja.

Raja.
19. Sahabat Raja.


__ADS_3

****


"King!" Ace dan Gattan menoleh bersamaan saat beberapa orang berteriak-teriak memanggil mana King. Ace mengedik dan kembali menatap burung itu, tapi kaget saat melihat burung itu sudah kaku tak bernyawa.


"Kyaaa!" teriaknya. Gattan yang berada di sebelahnya kaget dan langsung menoleh menatap Ace yang sudah berdiri dan menjatuhkan burung juga kuenya ke tanah.


"Kenapa?" tanya Gattan.


"Bu.burungnya mati!" kata Ace bergetar. Gattan mengangkat burung itu dan memperhatikannya, di lehernya ada sebuah kalung bertuliskan King, juga gelang kaki berbentuk mahkota. Ben datang saat mendengar teriakan Ace.


"King!" Ben mengambil alih burung itu dari tangan Gattan.


"Tuan! King belum ketemu!" beberapa anak buah Ben berdatangan.


"Sudah tapi dia keracunan! Apa yang harus saya katakan, pada Tuan muda!" Ben tampak kebingungan. Beberapa anak buahnya lebih parah mereka ketakutan.


"Kenapa?" Tiba-tiba Raja muncul dari belakang Ben dan membuat mereka semua kaget. Terlebih Ben yang langsung berbalik dan menunduk.


"Tuan muda, maafkan saya, saat sedang memberi makan King. Dia kabur dan menghilang! Saya pantas di hukum," ucap Ben. Raja tampak marah.


"Terus sekarang dia di mana?" tanya Raja. Ben mengangkat tangannya dan menunjukkan Burung yang sudah terbujur kaku. Raja menatap tidak percaya lalu ingin menyentuh Burung yang dia beri nama King itu.


"Jangan Tuan muda! King sudah keracunan, Tuan muda tidak boleh menyentuhnya!" Raja menghembuskan nafasnya kasar lalu pergi begitu saja. Ace menatap tidak percaya sambil membekap mulutnya sendiri, air matanya mengalir lagi. Gattan yang berdiri di samping nya juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ternyata Raja nyuruh aku buang kue itu, karena dia tau kalo di kue itu ada racunnya!" Ace berkata sedih. Dia sangat merasa bersalah pada Raja, terlebih dia sudah menamparnya tadi. Gadis itu dengan cepat berlari pergi dari sana dan mencari Raja. Gattan mengikutinya, karena dia bingung harus melakukan apa.


****


"Raja! Tunggu!" Ace tersenyum senang saat akhirnya dia melihat Raja. Gadis itu berlari ke arah parkiran, karena Raja sudah hampir masuk ke dalam mobilnya. Walaupun jam pulang sekolah sudah berbunyi tapi dia bersyukur bisa bertemu Raja. Cowok itu menoleh sesaat lalu langsung masuk ke dalan mobilnya dan pergi begitu saja, Ace berhenti berlari dan menunduk sedih, semarah itulah Raja padanya?


"Gue denger King mati ya?" sedikit terkejut Ace menoleh. Menatap Nisa yang juga akan pulang.


"I.iya ...."


"Kasihan Raja!"


"Huh? kok jadi Raja?"


"Kamu, belum tau?" tanya Nisa bingung.


"Maksudnya?"


"Waktu Raja masuk sekolah ini dia nggak pernah punya temen. Ya temennya cuma King doang, dia sering bawa King kemana-mana. Bahkan aku pernah liat, Raja ngobrol sama King. Kasian Raja pasti dia sedih banget pas tau King mati." Ace semakin merasa bersalah. Seandainya dia mendengarkan Raja dan membuang cake itu, pasti King tidak akan mati.


"Eh aku duluan ya Ace, udah di jemput!" Ace tersadar, dan tersenyum saat Nisa sedang memakai helm yang di berikan kakaknya.

__ADS_1


"Iya, ati-ati Nis!" Ace melambaikan tangannya. Dia harus minta maaf pada Raja, terlebih Raja bahkan tidak bisa menyentuh King untuk yang terakhir kalinya.


****


"Mereka terlalu rapih melakukannya, Tuan muda!" jelas Ben. Raja menyandarkan punggungnya di sofa, saat ini dia sedang ada di kamarnya, dan ada peraturan khusus yang Raja buat. Yang boleh masuk ke kamarnya hanyalah Mama dan Papanya tentu saja Bita, Gattan, Bu Dewi, Ben dan Azmi. Selain itu tidak ada yang boleh masuk.


"Gue nggak mau tau, kematian King adalah peringatan buat kita. Kalo kita diem aja, bukan cuma king, tapi gue juga bisa mati!"


"Tuan muda, anda jangan bicara seperti itu, saya akan melindungi Tuan muda, apapun yang terjadi!" Ben menunduk. Raja mengusap wajahnya, cowok itu menatap fotonya bersama dengan King yang dia ambil saat mos SMA dulu.


"Lo boleh keluar, jangan biarin siapapun masuk, kecuali Mama sama Papa, dan inget, cari tau siapa yang udah kasih kue itu ke Ace!"


"Baik, Tuan muda."


"Satu lagi, awasin Ace."


"Baik, Tuan muda, akan saya laksanakan!" Ben keluar dari kamar Raja. Sedangkan Raja terus memandangi foto itu, dia tau King itu hanyalah seekor burung merpati. Tapi, baginya King sudah menjadi teman yang selalu menemani kesepiannya. Saat Mamanya sibuk mengurus Bita dulu, saat dia butuh teman bercerita selain Bu Dewi. Saat dia tidak bisa mengungkapkan rasa penasarannya terhadap siapa Ayah kandungnya. Semuanya dia bagi dengan King, dan sekarang, Raja sudah kehilangan dia, lalu siapa yang akan menjadi teman berbagi suka dan dukanya setelah King pergi meninggalkannya.


    Bahkan di saat Raja tidak bisa lagi melihat King. Cowok itu justru tidak bisa mengucapkan kata perpisahan, sungguh sahabat yang kejam!


    Suara ketukan pintu terdengar. Raja menoleh, lalu memencet remot yang ada di sampingnya ke arah TV, seketika gambar yang muncul di TV adalah suasana depan ruang kamarnya, Raja memencet tombol lain lalu berkata.


"Gue nggak mau ketemu siapapun, suruh dia pulang!" katanya. Bu Dewi segera menjawab.


"Suruh dia tunggu gue di taman samping!" Raja berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar menuju taman.


"Raja ...," panggil Ace cepat. Raja menatapnya bingung, "aku mau minta maaf soal yang tadi," kata Ace sambil menunduk.


"Udah 'kan, sekarang lo pulang!" Raja berbalik ingin pergi. Namun, tiba-tiba suara Ace yang menangis membuat Raja berhenti melangkah dan menatap bingung gadis itu.


"Raja kamu nggak maafin aku? Aku minta maaf seandainya aku dengerin kamu dan buang kue itu pasti King nggak akan makan kue itu dan mati!" Raja mengepalkan tangannya.


"Gue bilang lo pulang!" Raja sedikit membentak membuat Ace semakin menangis. Sebenarnya Raja juga tidak marah dengan Ace, hanya saja, dia sedang kecewa dan sedih karena kehilangan sahabat serta teman yang selama ini selalu setia mendengarkannya.


"Raja, plis maafin aku, kalo kamu bales tampar aku. Boleh kok, bales aku sekarang!" Ace menarik tangan Raja dan meletakkannya tepat di samping pipinya. Raja menghembuskan nafasnya.


"Gue nggak marah, lo pulang sekarang, biar Om Azmi yang anter lo," suara Raja melembut. Ace masih menangis tanpa jeda, Raja mengusap pipi Ace membuat gadis itu terdiam kaku.


"Lo pulang."


"Kamu ... nggak marah lagi 'kan?" tanya Ace. Raja menggeleng.


"Enggak, jadi lo pulang, sekarang," perintah Raja. Ace mengangguk sambil tersenyum.


"Makasih Raja ...," ucap Ace riang dengan senyumnya, lalu berlari pergi keluar.

__ADS_1


"Mood Swing huh!" kata Raja lalu menggeleng pelan dan berjalan kembali ke kamarnya.


****


"Lo yakin, Ka?" tanya Gattan sambil sibuk be main dengan gamenya. Raja hanya diam saja, jelas dia tadi mendengar ucapan Gattan, tapi malas sekali menjawab apa yang sudah pasti, "tapi Ace nggak sengaja juga sih kasih kue itu ke King, lagian lo 'kan bisa beli lagi yang baru!" lanjutnya.


"Lo nggak bakal ngerti Tan! Yang namanya pertemanan atau persahabatan itu nggak bisa di beli pake uang!"


"Gue tau, tapi itu cuma burung!"


"Dan dia, sahabat gue!" Gattan langsung diam. Tidak mood lagi untuk bermain game, saat ini keduanya ada di kamar Raja. Masih membicarakan soal King. Raja butuh teman jadi dia memanggil Gattan malam ini untuk menginap.


"Ya ... jadi sekarang lo mau apa?" tanya Gattan.


"Cari pelakunya lah" Gattan mengangguk.


"Lo nggak kaget pas ada yang kasih kue beracun sama lo, kayak lo udah biasa?" Gattan memang sangat penasaran dengan hal itu.


"Sejak gue SMP, banyak orang yang mau nyelakain gue! Entah itu musuh kerja bokap atau musuh masalalu nyokap gue. Itu alesannya kenapa gue punya Ben sama yang lainnya. Karena gue pernah hampir mati di patuk ular, padahal itu di kamar gue sendiri!" Gattan membulatkan matanya.


"Jadi ... lo nggak pernah aman dong?" Raja mengangguk pelan.


"Itu dulu sih, tapi gue masih beruntung. Akhirnya nyokap mutusin pindah rumah lagi."


"Lagi? Lo sering pindah rumah?" Raja mengangguk, "seriusan? Udah berapa kali?"


"Yang gue inget udah 3 kali, sebelum itu gue lupa." Gattan menggeleng pelan. Benar-benar orang kaya. "Setiap hari, gue laluin dengan berbagai hal yang sekarang udah jadi keseharian. Makannya gue punya benda-benda aneh, kayak ini nih!" Raja mengambil benda yang mirip seperti batu, dia memang membawa itu kemana-mana. Bentuknya kecil hanya sebesar kelereng. Pernah di pakai saat latihan pensi.


"Ini apa?" tanya Gattan.


"Ini penetral racun," jelas Raja singkat. Cowok itu mengambil air mineral dari dalam tasnya, "ini air yang di kasih orang waktu gue ada di kelas," Raja meletakkan botol itu di meja, dan kemudian mengambil air mineralnya sendiri yang dia taruh di kulkas kamarnya, "kita liat perbedaannya!" Gattan mengangguk penasaran.


     Raja meletakkan kedua botol itu, lalu memasukkan penetral racun kedalamnya, Gattan menatap tak percaya, "kok batunya jadi item Ka?" tanya Gattan heran.


"Berarti minuman ini beracun, semakin item batunya semakin tinggi kadar racunnya. Kalo yang ini, kadar racunnya nggak terlalu tinggi, tapi kalo kita minum ini. Mungkin seenggaknya kita bisa nggak sadar selama tiga hari." Gattan menggeleng tidak percaya, "dan gue selalu bawa ini!" Raja kali ini menunjukkan sebuah pulpen, tapi itu bukan pulpen biasa.


"Ini buat apa?" tanya Gattan. Raja menunjukkan fungsi benda itu.


"Kita bisa pake benda ini buat ngetes makanan, apa beracun atau enggak!" jelas Raja.


"Hidup lo terlalu ribet ya, makan aja harus di tes dulu!" Raja terkekeh.


"Itu kenapa gue bilang, kalo ada yang deket sama gue itu resikonya gede!"


****

__ADS_1


__ADS_2