
****
"Ace! Lo di mana, gue udah kelar nih!" Chelsea mengedarkan pandangannya. Namun, tak menemukan Ace. "kemana sih tuh anak, ngilang!" gerutunya, "apa udah balik duluan kali ya? Ck!" Chelsea berdecak dan akhirnya memilih kembali ke tempat teman-temannya yang lain.
"Loh kok lo sendiri? Ace mana?" tanya Gattan.
"Lha! Bukannya udah balik duluan?" tanya balik Chelsea.
"Nggak ada, 'kan tadi sama lo!"
"Tolong! Aaakh tolong!"
"Ace!" Raja dan Gattan saling berpandangan. Jelas itu suara Ace, keduanya bergegas lari di ikuti yang lainnya. Raja berhenti berlari, Gattan jadi ikut berhenti, begitupun Chelsea, Nisa, Joe dan Ghani.
"Mendingan kita mencar! siapapun yang ketemu Ace duluan, kalian lemparin ini ke atas!" Raja memberikan sebuah kotak entah apa. Ukurannya kecil, hanya muat di genggaman, semua mengangguk mengikuti perintah Raja.
Raja berlari sendirian menuju arah suara tadi, yang lain mencoba mencari di tempat-tempat terdekat. Hari sudah mulai sore kala itu, Raja dengan langkah lebarnya berlari sambil melihat sekitarnya. Saat berada di hutan yang cukup rimbun, cowok itu mendengar suara langkah kaki yang berlari di depannya. Dengan cepat, Raja mengejar suara itu, dan ternyata dia melihat Ace yang sedang di seret oleh seseorang, orang itu menggunakan pakaian serba hitam, bahkan dia juga memakai cadar berwarna hitam.
"Mmpphh!" mulut Ace di tutup dengan kain. tangannya terikat, hanya kakinya yang tidak di ikat. Raja berlari semakin cepat, mendengar ada yang mengejarnya orang berbaju hitam itu menarik Ace ke tepi jurang, Raja terus berlari.
Sedikit lagi saja Ace akan jatuh, tapi orang itu tak melakukannya, dia justru berlari meninggalkan Ace. Raja mendekati gadis itu dan membuka penutup mulutnya, Ace menggeleng dengan cepat,
"Raja jangan kesini! pergi! Pergi Raja!"
Raja langsung menarik Ace kedalam pelukannya. Tiba-tiba ada yang mendorong Raja begitu juga Ace. Keduanya jatuh ke jurang, sebelum dia jatuh, Raja sempat melemparkan kotak kecilnya ke atas dan sebuah cahaya terang terlihat. Mereka berdua jatuh bersamaan dan dengan kesadarannya, Raja terus berusaha melindungi kepala Ace agar tidak terbentur apapun. Raja dan juga Ace berguling-guling hingga ke dasar jurang, Ace memejamkan matanya erat. Entah apa yang sebenarnya terjadi, yang pasti sekarang pasti dia tidak akan selamat.
__ADS_1
****
"Ace! Raja!" teriak Ghani, Joe, Nisa dan Chelsea. Mereka terus berteriak memanggil nama Ace dan Raja. Namun, keduanya tidak menjawab panggilan itu.
"Nuca! Nggak lucu lo main umpet-umpetan!" teriak Gattan.
"Jangan-jangan mereka jatuh ke jurang lagi?" kata Joe, Ghani mengangguk membenarkan.
"Iya juga sih, mereka masa ilang gitu aja!" timpal Chelsea.
Di sisi lain, Ace perlahan mulai mengerjapkan matanya. Suara degupan jantung terdengar jelas di telinganya. Ace mencoba mengangkat kepalanya dan ternyata kepalanya memang berada di atas dada Raja, beruntung jurang itu tidak terlalu curam.
"Raja," panggil Ace. Namun, tak ada respon. Ace mencoba bangun tapi dia kesulitan karena kakinya berdarah, entah terkena apa, mungkin ranting-ranting pohon, "Raja bangun!" Ace menggoyangkan lengan Raja. Tapi, tetap tidak ada respon sama sekali.
Ace menyeret kakinya dan mengangkat kepala Raja agar berbaring di pangkuannya, "Raja bangun!" Ace panik. Air matanya mengalir begitu deras, sambil terus menggoyangkan bahu juga lengan Raja Ace berteriak meminta pertolongan.
"Raja, bangun dong, aku bingung harus apa!" rengek Ace. Gadis itu membuka tasnya, mungkin ada sesuatu yang bisa membantunya. Sayangnya Ace tidak membawa apa-apa lagi selain bekal dan juga buku tugas, itu saja. Raja masih tak sadarkan diri.
"Ace!" Ace tersentak kaget saat mendengar suara teriakan Gattan.
"Itu Gattan, itu suara Gattan!" Ace tersenyum, lalu mengusap pipi Raja. "Gattan dateng, kita bisa selamat, kita selamat!" Ace masih menangis dengan bibirnya yang tersenyum.
"Gattan!" teriak Ace sekuat tenaga.
"Ace, Nuca! Kalian di mana?" teriakan itu semakin dekat.
__ADS_1
"Di bawah Gattan, aku di bawah!" Ace mendongak. Terlihat Gattan yang celingak-celinguk mencarinya, dan saat Gattan dapat menemukan Ace juga Raja. Gattan memanggil Joe dan Ghani agar ikut turun membantu Ace dan Raja naik.
"Nuca kenapa?" tanya Gattan,
"Dia ... dia jatuh dari atas," tunjuk Ace ke atas tebing. Gattan menarik tangan Raja lalu melingkarkannya di bahunya.
"Kepalanya berdarah!" ucap Gattan. Ace membekap mulutnya sambil menggeleng.
"Terus gimana sekarang?" tanya Ace. Joe membawakan tas milik Raja juga milik Ace, sedangkan Ghani membantu Ace berjalan.
"Kita keatas dulu deh mendingan, pasti Om Azmi ada di atas!" kata Gattan, dan benar saja. Saat mereka sampai di atas tebing melalui jalan yang tidak jauh dari tempat tadi, Azmi berlari mendekat bersama empat orang berjas lainnya, "Om! Nuca berdarah!" kata Gattan.
"Tuan muda!" Ben mengambil alih Raja dari Gattan, lalu membawanya pergi dari sana.
"Lebih baik, kalian semua ikut dengan saya!" perintah Azmi. Semuanya mengangguk dan mengikuti Azmi kecuali Ace yang ikut dengan Ben karena dia juga harus di periksa.
***
"Dia baik-baik saja. Hanya luka-luka kecil, dan benturan di kepalanya juga tidak berbahaya, mungkin ada efek sakit atau pusing, tapi setelah istirahat, pasien akan baik-baik saja." Stella menghembuskan nafasnya lega, lalu mengucap syukur berkali-kali setelah mendengar pernyataan dokter.
"Syukurlah." Garvin mendekap Stella dari samping lalu mencium keningnya berkali-kali.
"Tante ... Om, maafin Ace. Semua gara-gara Ace, kalo aja Ace lebih hati-hati pasti Raja nggak akan kayak gini." Stella menggeleng, lalu mengusap kepala Ace dan berakhir di pipi gadis itu.
"Bukan salah kamu, Nuca lakuin itu pasti ada alesannya," kata Stella. Ace hanya mampu menunduk.
__ADS_1
"Raja ... semoga kamu nggak papa!"
****