Raja.

Raja.
21. Pilihan.


__ADS_3

.


..


    Pagi ini Raja sudah duduk menunggu Ace di kursinya, sayangnya sepertinya gadis itu tidak masuk, entah apa alasannya, yang jelas Raja ingin bertemu Ace sekarang.


"Gue udah baca!" Gattan tiba-tiba duduk di sampingnya, "jadi lo udah tau pelakunya, kenapa ngga langsung tangkep aja?" ucap Gattan sedikit terdengar marah, Raja bingung kenapa Gattan yang marah, "sampe Ace luka kayak gitu lo ngga perduli?" Raja menghembuskan nafasnya lalu menggeleng pelan.


"Selama ini gue hidup cuma menghindar dan kabur." Raja mulai bercerita, Gattan tidak mengerti, "hari-hari gue cuma ada teror sama ancaman, kalo cuma ngorbanin satu cewek kenapa engga!" Gattan berdiri dari duduknya dan langsung menarik kerah baju Raja.


"Sekali lagi lo ngomong kayak gitu, gue ngga akan biarin lo deket lagi sama dia!" Gattan mendorong Raja hingga cowok itu hampir terjatuh, Nisa dan Ghani yang ada di sana langsung mencoba menjauhkan Gattan dari Raja.


"Kalian jangan berantem!" kata Nisa, Ghani menarik Gattan agar menjauh. Raja sendiri tak menampilkan ekspresi apapun, seakan-akan tidak terjadi apapun.


"Sekali lagi gue liat dia kayak gini, lo yang gue salahin!" Gattan menunjuk Raja dengan pandangan marahnya, Raja hanya mampu diam, walaupun tidak ada yang tau sebenarnya hatinya lah yang berdarah, mengatakan hal menyakitkan tentang seseorang yang dia sukai.


"Cuma gara-gara cewek kalian berantem!" Chelsea datang sambil berkacak pinggang.


"Bukan urusan lo!" Raja tiba-tiba berdiri mengambil tasnya dan pergi, Gattan mengepalkan tangannya, sepertinya dia sangat marah bahkan lupa setatus mereka sebagai sahabat.


****


"Ace!" Nisa duduk di tepi tempat tidur milik Ace, sepulang sekolah hari ini Nisa dan Chelsea sedang menjenguk Ace yang ternyata sedang demam, kakinya juga terlihat masih bengkak dan biru.


"Ada masalah apa kok kayaknya kalian serius banget sih?" tanya Ace bingung.


"Raja sama Gattan berantem" jelas Chelsea, "dan itu gara-gara Gattan ngebelain lo di depan Raja!" lanjutnya, Nisa mengangguk membenarkan.


"Tapi mereka kan sahabat?" kata Ace sambil mengambil ponselnya.


"Aku juga ga habis fikir sama mereka," Nisa menggeleng tidak tau.


"Lo harus tentuin pilihan Ace, semua yang ada di kelas bilang lo plin plan, kadang ramah sama Raja tapi lo sering bareng Gattan!" komentar Ace.

__ADS_1


"Pilihan? pilihan apa?" tanya Ace polos.


"Duuh, lo tuh jangan terlalu polos kenapa sih! Udah jelas-jelas, Gattan itu suka sama lo, tapi kayaknya lo lebih tertarik sama Raja, lo ngegantungin Gattan tau ga!" jelas Chelsea panjang lebar.


"Nge.ngegantungin?" Ace menggeleng tidak mengerti.


"Kamu itu perempuan Ace, kamu boleh deket sama siapa aja, tapi kamu juga harus ngebatasin mereka. Kamu ngasih harapan yang kamu tidak bisa wujudkan harapan itu" ucap Nisa, Ace semakin menggeleng tidak mengerti.


"Aku ngga kasih harapan kok, kita semua kan cuma temen."


"Lo nganggep mereka temen, tapi mereka nganggep lo lebih dari sekedar temen, sadar Ace, di dunia ini sahabat antara cewek sama cowok itu jarang berhasil!" jelas Chelsea sedikit kesal.


"Tapi kamu sama Ghani, Joe nggak ada apa-apa kan!"


"Lo ngga tau siapa kita, kita itu sodaraan, sepupuan, nyokap gue sama nyokapnya Ghani itu kakak ade, sedangkan bokap nya Ghani sama nyokapnya Joe juga kakak ade!" jelas Chelsea.


"Nisa?" Ace masih tidak mau mengalah dengan pemikirannya.


"Tapi ..."


"Kamu terlalu banyak mikir Ace, jangan biarin persahabatan mereka hancur gara-gara kamu" Ace mulai merasa bersalah, kenapa jadi begini?


****


"kamu ngga sekolah?" Stella duduk di samping Raja yang masih berbaring tak berniat untuk berangkat ke sekolah, padahal jam sudah menunjukkan angka 06.24, biasanya Raja sudah siap, tapi hari ini bahkan Raja tidak mau bangkir dari tempat tidurnya.


"Mmmhhh" Raja hanya bergumam tidak jelas, Stella menggeleng pelan.


"Yakin ngga mau sekolah," Stella kembali bertanya.


"Males!" jawab Raja lalu membenamkan kepalanya di bantal, Stella menggeleng pelan sambil menghembuskan nafasnya.


"Kamu mau mama bantu?" Raja tak menanggapi, cowok itu justru memeluk pinggang Stella lalu kembali tidur, "ya ampun udah gede masih aja manja" Stella menyentil pelan telinga Raja.

__ADS_1


"Kalo ada masalah di sekolah bilang sama mama" ucap Stella, Raja langsung duduk dan mengucek pelan matanya.


"Ma, mama pernah ngga suka sama orang tapi temen kita juga suka sama orang yang sama?" tanya Raja, Stella terdiam sesaat lalu tersenyum.


"Kamu suka sama siapa?" tanya Stella.


"Ah mama, jawabannya bukan itu!" Raja kembali membungkus dirinya dengan selimut.


"Bukan, bukan mama yang suka, tapi mama yang jadi rebutan" kekeh Stella sambil menggeleng, Raja kembali membuka Selimut dan duduk menghadap Stella.


"Masa sih, kata papa dulu mama itu berandalan, mana ada yang suka?"


Bletak


"Aduh!" Raja mengusap kepalanya yang di jitak Stella.


"Enak banget ya kalo ngomong, gini-gini mama dulu jadi rebutan loh, tapi karna level mama tinggi jadi mama tolak semua" cerita Stella yang tidak sepenuhnya bohong.


"terus siapa dua sahabat yang ngrebutin mama?" tanya Raja penasaran.


"Papa kamu lah" Raja menatap Stella bingung, "sama sahabat sematinya" lanjut Stella, Raja berfikir sebentar.


"Sahabat deket papa itu kan cuma om Sean, sama om Ansell, om Dava ngga mungkin, terus kalo om Sean udah pacaran sama tante Gina dari SMP, berarti om Ansell?" tebak Raja, Stella hanya terkekeh menanggapi ucapan Raja lalu berdiri dari duduknya.


"Kalo kamu ngga masuk, temenin mama latihan!" Raja menatap kesal Stella, ceritanya belum selesai.


"Cerita belom kelar udah ngomong yang lain!" ucap Raja lirih.


"Nanti lanjut di ruang latihan!" kata Stella sambil keluar dari kamar Raja, Raja bertambah kesal.


"Mama kelinci!" teriaknya.


****

__ADS_1


__ADS_2