
****
"Kalo Papa nggak pulang sekarang! Nanti sore jangan harap ketemu Bita!" ancam Raja. Cowok itu berjalan turun dari lantai atas. Seragamnya sudah berubah menjadi baju santai.
"..."
"Lagian udah tau Mama sakit, masih aja kerja!" komentar Raja.
"..."
"Ya udah! Sekalian bawain makanan buat Mama, 'kan kasian Mama!" katanya sambil mengambil air minum dari dispenser.
"..."
"Ya udah, ati-ati!"
Panggilan berakhir. Raja berjalan menuju ruang makan. Tapi tak menemukan Stella di sana.
"Maa, Mama!" panggilnya.
"Sayang, Mama di sini!" teriak Stella dari ruang tamu. Raja berjalan santai ke ruang tamu, saat sampai pandangan matanya langsung beradu dengan mata Ace yang berwarna coklat madu.
"Lo siapa?" Raja bertanya sembari menatap Ace dengan tatapan horor miliknya.
"A.aku Ace, kamu 'kan yang ajak aku ke rumah buat minjem buku catetan!" Raja terdiam sesaat, lalu wajahnya seketika memanas.
"Gue lupa!" Raja berlari kembali ke atas. Mengambil setumpuk buku, kemudian berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang tamu, "nih! Mending sekarang lo pulang, biar om Azmi anterin lo!" perintah Raja sambil meletakkan setumpuk buku itu di atas meja.
"Ma.makasih." Ace berdiri dari duduknya.
"Eeh apaan nih! Nggak bisa. Pokoknya Ace harus makan siang dulu di sini!" Raja membulatlan matanya.
"Ma! Mama apaan sih!"
"Kamu yang apaan, ada tamu bukannya bilang sama Mama!" Raja mendengus.
"Terserah Mama deh!" Raja akan pergi dari ruang tamu namun Stella mencegahnya.
"Nuca!" suara tegas Stella membuat Raja menghentikan langkahnya.
"Iya Ma, iya!" kesal Raja lalu menggerutu tidak jelas. Walaupun Stella mendengarnya.
"Mama denger loh, sayang!" teriak Stella,
"Ah Mama, Kelinci!" ucap Raja balas berteriak. Ace hanya terkekeh melihat Raja yang sangat berbeda sifat dari yang dia lihat di sekolah.
****
"Mba Stella. Mas Garvin sudah pulang!" kata bu Dewi. Stella terkekeh.
"Dasar Nuca!" katanya sambil menggeleng.
"Sayaaang!" teriak Garvin dari arah pintu. Pria itu langsung berlari ke arah ruang tengah, "kamu sakit?" Garvin langsung memeriksa keadaan Stella.
"Nggak Vin, sekarang udah nggak apa-apa!"
__ADS_1
"Tapi tadi Nuca bilang kamu panas tinggi!" Stella terkekeh.
"Aku nggak apa-apa, cuma kecapean!"
"Nuca!" teriak Garvin
"Apa sih Pa, Nuca di sini!" jawab Raja yang memang sejak tadi ada di sana. Duduk di sofa berdampingan dengan Ace.
"Kamu bilang Mama panas tinggi! Papa sampe batalin meeting sama klien dari Rusia tau!" Garvin menjitak kepala Raja
"Sakit Pa!" protes Raja.
"Lagian kamu iseng banget sih. Udah tau Papa sibuk, masih aja ngerjain orang tua!"
"Sibuk sih sibuk Pa! Tapi jangan lupain Mama gara-gara kerjaan dong!" gerutu Raja. Dan bukannya marah Garvin justru langsung mengapit leher Raja.
"Ngomong sekali lagi. Papa patahin leher kamu!"
"Ampun Pah. Ampun! Iya nggak ngomong gitu lagi!" Garvin melepas apitannya.
"Lain kali jangan di ulangi lagi! Ngerti!" peringat Garvin. Raja diam saja, dia risih karena kehadiran Ace yang masih di tahan oleh Stella.
"Oh ya. Vin kenalin temen Nuca!" Stella menatap Ace sambil tersenyum.
"Temen?" Garvin menatap Ace.
"Apaan sih Ma! Dia bukan temen Nuca, kita cuma kebetulan satu kelas dan kebetulan juga duduk di meja yang sama!" protes Raja. Garvin tertawa.
"Kamu itu, sama banget sama Mama kamu dulu!" komentar Garvin.
"Nona ada telfon!" ucap wanita berseragam formal, dia Safa, asisten pribadi Stella. Safa datang dan memberikan ponsel milik Sella. Stella mengambilnya, dan mendengarkan seseorang yang berbicara di sebrang sana.
"Iya baiklah." Stella menutup panggilannya dan memberikan kembali ponselnya pada Safa, "Vin aku harus pergi ... akh!" Stella memegang dadanya saat berdiri dari duduknya. Refleks Nuca dan Garvin langsung mendekati Stella.
"Na kamu kenapa?"
"Mama sakit?" keduanya bertanya bersamaan.
"Mama nggak apa-apa." Stella mengusap lembut kepala Raja, "kamu anterin Ace pulang ya. Ace maaf ya tante harus pergi, jadi kamu pulangnya di anter sama Nuca."
"Tapi Ma ...." Protes Raja.
"Nuca jangan membantah!" bentak Garvin. Raja diam dan berjalan ke arah Ace.
"Ayo!" ajaknya.
Garvin memapah Stella menuju kamar mereka, "kamu kenapa? Setelah kamu pulang dari perjalanan bisnis sebulan lalu. Kamu sering sakit gini, waktu dulu nggak gini 'kan Na!" Stella diam, "jujur sama aku! Sebenernya kamu kenapa?"
"Aku nggak apa-apa Vin. Kayaknya cuma kecapean, aku pergi ke tempat bang Ferry buat periksa!" Stella berjalan pergi begitu saja. Garvin hanya mampu melihatnya dalam diam, dia tau Stella belum siap untuk menceritakannya. Garvin akan sabar menunggu hingga istrinya itu menceritakan sendiri tentang masalahnya.
***
"Makasih ya ... kamu mau pinjemin aku buku catetan!" ucap Ace riang di dalam mobil. Raja diam saja, lalu meminta Ben, bodyguardnya untuk mengambilkan ponsel miliknya.
"Ben, hp gue dong!" pintanya.
__ADS_1
"Baik, Tuan muda!" Ben langsung memberikan ponsel milik atasannya.
"Om Azmi! Hp aku yang lama Mama taro di mana sih?" tanya Raja.
"Maaf Tuan muda. Nona Stella tidak ingin anda memakai ponsel yang lama itu."
"Ck kenapa sih?" geram Raja. Lalu melempar ponsel barunya ke jok belakang. Memang saat ini dia memakai mobil Van, yang sudah di modifikasi dan di buat seperti sebuah kamar.
Raja itu suka menyendiri, jadi saat jam istirahat sekolah tiba. Dia akan masuk ke mobil dan tidur di sana sampai bel kembali berbunyi, kadang menghabiskan waktu mendengarkan musik di atap. Atau mengobrol dengan burung merpati yang dia pelihara di sekolah.
"Tuan muda, sebaiknya anda mengikuti perintah Nona. Karena jika tidak, bisa berbahaya bagi anda sendiri!" peringat Azmi,
"Iya-iya, gue tau!" kesal Raja lalu menatap keluar jendela, "Om, ngerasa ga sih! Mobil belakang ngikutin kita terus!" Raja menoleh ke arah belakangnya. Memang benar, ada mobil hitam berlogo BMW yang terus mengikuti mobil mereka.
"Tuan muda, sebaiknya anda tidur!" Raja memutar bola matanya.
"Terserah!" Raja menyandarkan punggungnya, dan memejamkan matanya.
"Ra.raja, ini nggak apa-apa 'kan? Kok jadi ngebut gini?" Ace tanpa sengaja menggenggam tangan Raja dengan erat, tubuhnya bergetar.
"Om, pelanin!" perintah Raja tak tega juga melihat Ace yang ketakutan.
"Peter! Kami di ikuti di Jln. ××× cepat kirimkan bantuan!" ucap Ben menggunakan telfon. Ace semakin panik, sedangkan Raja terlihat biasa saja.
"Kamu kok nggak takut sih?" tanya Ace. Raja membuka matanya, dan menaikkan sebelah alisnya.
"Lo pikir?" Raja menggeleng pelan dan melanjutkan aksi tidurnya. Ace terus merapalkan doa dalam hati, semoga tidak terjadi apapun padanya.
"Tuan muda, sudah dibereskan, apa sekarang sudah bisa mengantar teman anda?" tanya Ben. Raja membuka matanya.
"Alamat lo di mana?" tanya Raja. Ace menatap bingung Raja, tadi dia tidak salah dengar kan, semuanya sudah dibereskan katanya.
"Di daerah Menteng," jawab Ace cepat. Azmi mengendarai mobilnya menuju alamat yang di katakan oleh Ace.
"Tuan muda kita sudah sampai," kata Azmi. Raja turun dari mobil diikuti Ace.
"Makasih ya, udah mau anterin aku pulang." Raja tak menjawab hanya mengangguk sekilas.
"Ace ... kamu dari mana aja sayang? Baru pulang, Bunda khawatir kamu ada apa-apa!" seorang wanita paruh baya mendekati Ace dan Raja.
"Ace abis dari rumah temen Bun ... pinjem catetan sekolah," jelas Ace.
"Sore Tante ..." sapa Raja.
"Oh ya ... makasih ya sudah antar anak Tante!"
"Iya Tante sama-sama, saya juga nggak bisa lama."
"Loh, nggak mampir dulu?" Raja tersenyum hangat.
"Makasih Tante, tapi saya juga harus pulang."
"Ya udah, lain kali mampir ya."
"Iya Tante, saya permisi."
__ADS_1
****