Raja.

Raja.
EXTRA PART. EXTRA ORDINARY LOVE. Raja in the story Love.


__ADS_3

****


Enam bulan kemudian ...


"Gattan!"


"Ace?" Gattan menatap Ace dengan bingung. Gadis itu tampak terengah-engah sambil membawa beberapa buku di tangannya.


"Gattan udah dapet kabar dari Raja?" Gattan menggeleng pelan.


"Lo lagi berantem sama dia?" Ace menunduk sambil menggeleng.


"Udah tiga hari Raja nggak angkat telfon dari aku!" cerita si mungil dengan gelisah. "Menurut kamu, dia kenapa?" Gattan menggaruk tengkuknya.


"Gue juga nggak tau sih. Tapi lo jangan negative thinking dong! Siapa tau Nuca lagi sibuk!"


"Tapi ... nggak biasanya dia kayak gini, kalo pun dia sibuk pasti ngabarin! Tapi ini enggak! Dia terakhir bilang mau nemenin Bita yang lagi di uap. Abis itu dia ngilang!" jelas Ace. Si gadis cengeng itu mulai menangis.


"Nggak apa-apa Ace, gue yakin Nuca pasti punya alesan!"


*****


      Malam ini Ace tengah mendengarkan musik dari earphone miliknya. Benda itu pemberian Raja, cowok itu bilang, earphone itu adalah benda kesayangannya. Ace ingat, Raja adalah maniak earphone. Di kamarnya bahkan ada satu lemari besar yang penuh dengan earphone berbagai bentuk. Mulai dari yang harganya satu jutaan sampai puluhan juta bahkan ratusan juta.


   Ace pernah memprotes kegilaan Raja tentang earphone itu. Karena Ace benar-benar tidak menyangka bahwa cowok sedingin Raja, memiliki hobi mengoleksi earphone.


     Lagu-lagu yang di dengarkan Ace, tak membuat gadis itu tenang. Pikirannya masih di penuhi tentang Raja. Kemana cowok itu pergi? Apa yang terjadi kepada pacarnya? Ace sangat khawatir dan juga penasaran.


    Saat tengah larut dalam pikirannya. Sebuah pesan, masuk ke ponselnya. Ace tersenyum begitu mengetahui siapa pengirimnya.


From : prince ice


Gue balik!


   Dua kata itu membuat Ace langsung berdiri dari duduknya.


"Raja balik?" gadis itu meloncat pelan. "Raja! Kok nggak bilang!" Ace segera menghubungi Raja. Tapi, cowok itu tak mengangkat panggilan darinya. Ace menatap ponselnya.


"Dia kenapa sih?" Gadis itu terduduk lagi di tepi tempat tidur. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Raja aneh. Apa ada masalah?


****


    Pagi ini Ace tidak masuk ke kampus. Gadis itu mendadak demam. Wajahnya bahkan tampak pucat, sang Bunda sudah mengompres Ace. Tapi panasnya belum juga turun.


"Kita ke rumah sakit aja, ya!" tawar Nirmala.

__ADS_1


"Nggak Bund  ... aku nggak mau!" tolak Ace keras kepala.


"Tapi badan kamu panas banget loh! Bunda nggak mau kamu kenapa-kenapa!" Nirmala mengusap kening Ace yang berkeringat dingin.


   Ace tidak menjawab. Memilih memejamkan matanya, tubuhnya begitu lemah, bahkan dia merasa tak memiliki sedikitpun tenaga.


   Nirmala tampak resah, wanita itu bergegas keluar dan mengambil ponselnya yang ada di kamarnya.


   Sementara itu, Ace membuka matanya yang begitu berat. Pandangannya mengabur, tapi Ace tidak boleh terus berbaring. Dia harus bangun agar tubuhnya tidak kalah dari penyakit menyebalkan yang tiba-tiba menyerangnya.


    Dengan perlahan Ace menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, seketika hawa dingin terasa menusuk sampai ke tulang. Ace kedinginan! Gadis itu menatap ac di kamarnya. Padahal sudah di matikan, tapi rasanya Ace sangat kedinginan.


    Melangkah menuju kamar mandi. Ace tampak kesulitan, tapi untunglah dia bisa sampai ke kamar mandi dengan selamat. Membasuh wajah, menyikat gigi dan menyisir rambutnya. Ace harus tampak sehat dan baik-baik saja. Gara-gara semalam, Ace jadi tidak bisa tidur, dan akhirnya sakit. Walaupun Ace jarang sakit, tapi entah mengapa, hanya karena bergadang sampai jam 3 pagi membuat Ace demam tinggi begini.


   Setelah menguncir rambutnya. Ace memakai kembali kacamatanya, berjalan dengan lemah kembali ke kamar. Dia harus keluar dari kamar, memakai jaket yang cukup tebal Ace segera keluar. Sampai di tangga Ace merasa kepalanya berputar saat melihat anak-anak tangga yang menuju ke bawah.


"Ini tangganya kok nyeremin banget sih!" Ace urung turun. Dia takut jatuh, dengan malas, Ace kembali ke kamarnya. Baiklah, hari in dia akan habiskan waktu di kamar untuk beristirahat. Tapi dia janji, besok harus sudah sembuh dan masuk kuliah.


****


"Nggak mungkin!" Ace berdiri dari duduknya. Padahal pelajaran sedang berlangsung, bahkan Dosen yang tengah menjelaskan harus menghentikan kegiatannya.


"Sorry Mrs. Ace, do you have a problem?"


"Sorry Sir, i have to go, now." Ace langsung pergi tanpa memperdulikan Doksen yang tak suka dengan apa yang di lakukan mahasiswinya.


   Ace benar-benar tidak habis pikir. Kenapa Raja pergi menendarai mobilnya dalam keadaan marah seperti itu. Saat baru saja memasuki mobil mini Cooper miliknya, ponselnya berdering. Ace segera mengangkat panggilan yang masih.


"Halo! Raja, kamu di mana?"


'Maaf, apa anda mengenal pemilik ponsel ini?'


"Ya, ada apa Pak? Ini siapa?"


'Kami dari kantor kepolisin mengabarkan bahwa pemilik ponsel mengalami kecelakaan tunggal, dan saat ini masih terjebak di dalam mobil.' Ace membeku di tempatnya. Air matanya mengalir tanpa hambatan.


"Bapak bilang apa barusan? Raja ... gimana? Dia nggak apa-apa 'kan?"


'Sebaiknya anda datang ke tempat kejadian. Karena korban belum bisa di kelyarkan dari kendaraannya.'


"Raja!" Ace menjerit tak tau harus berbuat apa. Setelah mendapatkan alamat dari polisi yang menghubunginya, Ace segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia benar-benar takut, semoga Raja baik-baik saja.


***


"Raja!" Ace berlari dan langsung memeluk Raja. Cowok itu tersenyum lalu membalas pelukan kekasih mungilnya itu.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa 'kan? Kamu baik-baik aja 'kan? Nggak ada yang luka 'kan?" tanya Ace sambil menangkup keda pipi Raja. Walaupun kakinya haris berjinjit karena pacarnya itu terlalu tinggi.


"Gue nggak apa-apa," jawab Raja tenang. Padahal Ace sudah panik, bahkan sampai keringat dingin.


"Syukurlah!" Ace kembali menangis. Memeluk Raja erat seakan tak ingin ditinggalkan lagi.


"Tadi kenapa ada polisi yang pake hp kamu? Terus bilang, katanya kamu kecelakaan?" tanya Ace dengan mata sembabnya menatap Raja. Raja tersenyum, mengusap kedua pipi Ace, menghapus jejak air mata yang masih basah di pipi gadis itu.


"Polisi gadungan?" Raja terkekeh, "tuh anaknya." Raja menunjuk seorang cowok dengan dagunya. Ace otomatis memutar kepalanya ke belakang. Kaget ternyata banyak orang di sana.


"Suprise!" Ace membekap mulutnya. Berlari dan langsung memeluk Dimas, Kakaknya yang sudah beberapa bulan tidak dia temui.


"Maaf ya, lo jadi panik beneran!" Dimas terkekeh. Saat menghubungi Ace tadi, dia ingin sekali tertawa, tapi dia tahan karena mendengar nada panik Ace.


"Jahat!" Ace kembali menangis.


"Suprise-Nya bukan ini loh!" Gattan muncul di belakang Ace.


"Terus?" Ace melepas pelukan Kakaknya.


"Liat Nuca, tuh!" perintah Gattan. Ace menurut, matanya mengerjapkan lucu. Melihat Raja yang berjalan mendekatinya, sambil membawa sebuket bunga dan sebuah kotak beludru berwarna emas.


"Ace, gue pengen. Kita lebih dari sekedar pacaran! Lo mau terima gue?" Gattan melongo. Bukan Ace yang kaget, tapi justru dia.


   Selama seminggu belajar berkata-kata hanya itu yang keluar dari mulut Raja. Sesimple itu?


"Raja ...." Ace membekap mulutnya.


"Lo mau 'kan?"


"Iya, aku mau!" Gattan semakin menggeleng. Seiring tepukan tangan yang menggema, Gattan tidak habis pikir. Raja tidak ada romantis-romantisnya, tapi kenapa Ace menerima cowok sekaku, sedingin, dan setidak romantis Raja?


"Partiiii!" teriak Joe kegirangan. Semua tampak senang, begitupun Stella dan Garvin yang tersenyum sambil berpelukan.


"Ini awal. Bukan akhir!" ucap Stella, dan Garvin mengerti semua itu.


The End.


kali ini beneran ending. terima kasih sudah membaca cerita saya. baca juga cerita saya yang lainnya.




__ADS_1



__ADS_2