
****
Raja mengistirahatkan tubuhnya setelah berlatih keras bersama Stella. "Ahh masa kamu kalah sama Mama?" Stella masih tampak bugar. Raja sudah lelah, lelah fisik dan fikiran.
"Ma ... aku 'kan lagi males latihan," protes Raja. "Lagian, katanya Mama mau cerita tentang Mama dulu!" lanjutnya dengan malas.
"Dulu, Mama ketemu sama Ansell duluan, sebelum ketemu Garvin!" jelas Stella sambil meninju samsak. "Ansell tuh sama kayak kamu, di depan umum dingin, cuek. Tapi, kalo di depan Mamanya melow kayak kerupuk kesiram air!" kata Stella sambil terkekeh. Melepas sarung tinjunya, dia selesai berlatih. Stella duduk di samping Raja, lalu mengambil air mineralnya.
"Om Ansell? Jadi bener, Om Ansell pernah suka sama Mama?" tanya Raja tak percaya. Stella mengangguk.
"Pernah, tapi Mama dengan tegas bilang. Mama nggak mau sama Ansell!"
"Kenapa?" Stella mengedikkan bahu. Tersenyum sambil menunjuk dada Raja.
"Hati itu ... nggak bisa di paksa, Ka ..." ucap Stella, berdiri sambil merenggangkan otot tubuhnya, dan berlalu keluar. Raja masih terdiam di tempatnya. Hati tidak bisa di paksa, ya ... apa Ace lebih suka berdekatan dengan Gattan, maka dari itu Ace bilang kalau dia membenci Raja? Cowok itu menghembuskan nafasnya, lalu bergegas keluar dari ruang latihannya bersama Stella.
****
__ADS_1
Ace menunduk, duduk di kursi depan perpustakaan. Dia terlihat murung hari ini. Sudah dua hari Raja tidak masuk sekolah, apa yang terjadi. Apa Ace harus pergi ke rumah cowok itu, agar dia tau apa yang sebenarnya terjadi pada Raja? Tapi ... dengan alasan apa Ace datang kesana? Masa iya, Ace harus bilang, dia menunggu Raja datang untuk memperjelas apa yang belum jelas itu! 'Kan tidak mungkin!
"Kenapa ...." Ace mendongak, menatap Gattan yang sedang menyodorkan minuman kaleng kepadanya. Ace menerima minuman itu, Gattan langsung duduk di sampingnya.
"Raja masih belum masuk, Tta?" tanya Ace. Gattan tampak tak suka dengan pertanyaan Ace.
"Lo lagi sama gue, kenapa ngomongin dia!" kesal Gattan. Cowok itu tidak setuju dengan pemikiran bodoh Raja. Mengorbankan Ace itu adalah tindakan kejam, dan Gattan tidak akan mau bersahabat dengan orang sekejam itu. Jangankan bersahabat, berteman pun Gattan tidak akan mau.
"Aku cuma khawatir, dua hari ini dia nggak keliatan." Ace semakin menunduk. Gattan tak tega juga, walaupun perasaan sukanya jauh lebih dalam dari pada Raja menyukai Ace. Tapi, dia juga tidak ingin memaksakan.
"Lo ... suka sama Nuca?" tanya Gattan. Ace langsung mendongak dan menatap Gattan sambil menggeleng.
"Lo beneran nggak suka sama dia?" Gattan kembali menyelidik.
"Y.ya enggak. Enggak lah, mana mungkin?" Ace menggeleng cepat. Gattan terlihat lega, tanpa mereka sadari Raja justru mendengar percakapan Ace dengan Gattan. Dia sedang berdiri di sebuah pilar yang cukup untuk menutupi tubuhnya. Raja memasang earphone-Nya, kali ini earphone yang di pakai nya berwarna abu-abu. Mungkin sama dengan perasaannya saat ini, samar dan tidak jelas.
Raja memutar musik dari ponselnya yang terhubung lewat bluetooth dengan earphone miliknya. Sepertinya, dia memang harus lebih dingin lagi, agar tidak ada kesempatan untuk orang-orang seperti Ace, yang selalu memberikan harapan palsu berkeliaran seenaknya di sekelilingmya.
__ADS_1
"Raja!" Ace berdiri dari duduknya, saat Raja melewatinya begitu saja. Tanpa sepatah katapun, Gattan meraih tangan Ace agar tak mengejar Raja.
"Nggak usah di kejar." Ace hanya mampu menatap punggung Raja yang semakin menjauh.
"Maaf ... Raja ...," bisik Ace pelan.
****
"Buktinya masih belum cukup, Tuan muda! Mereka sangat rapi, benar-benar seperti seorang profesional!" jelas Ben. Raja mendengus, kepalanya di penuhi dengan banyak hal, dan di antara banyak pikirannya itu, ada terselip nama Ace di sana. Raja sudah mencoba tak perduli. Tapi tetap tak bisa.
"Gue mau makan, di kantin!" Raja berdiri dari duduknya. "Nggak usah ikutin gue!" ucapnya dan segera turun dari atap, menuju kantin. Sayangnya, di sana ada Gattan dan Ace, juga yang lainnya sedang bercanda. Raja jadi malas masuk, tapi sudah terlanjur, anggap saja tidak ada mereka di sana.
Raja memesan makanannya, lalu berjalan mencari tempat duduk. Saat sedang ingin memakan makanannya Raja sesekali melirik ke arah Ace. Cowok itu menatap sesuatu yang mencurigakan di sana. Tapi itu bukan urusannya, tapi itu juga pasti ada hubungannya dengan dirinya, tapi jika dia mendekat pasti Gattan akan marah, tapi ....
"Arrghh!" dengan sedikit menggeram Raja berjalan dengan cepat ke arah meja Ace. Mengambil minuman yang ada di gelas, lalu segera meminumnya. Ace dan Nisa yang sedang tertawa langsung menghentikan tawanya, sedangkan Chelsea yang sedang cemberut juga langsung menatap Raja. Gattan langsung berdiri.
"Mau ngapain lagi lo!" bentak Gattan. Bukannya menjawab, Raja langsung pergi begitu saja, Ace memicingkan matanya. Mengedarkan pandangannya, dia melihat cicak yang berada di tembok. Ace mengambil gelas bekas minuman tadi dan menuangkan di depan cicak itu, beberapa detik setelah itu cicak itu terjatuh dan tubuhnya berubah menjadi biru.
__ADS_1
Mata Ace membulat, begitupun Gattan, "Raja!" Ace berlari kearah Raja pergi tadi. Sayangnya Raja sudah tidak terlihat, "Raja!" Ace mulai menangis. Gattan juga sama khawatirnya, bagaimana mungkin, Raja yang sudah tau jika di dalam minuman itu beracun, tapi dia malah dengan sengaja meminumnya!
"Lo **** Ka!" geram Gattan.