
****
"Raja!" Ace menggeleng tidak percaya dengan apa yang di dengar nya, "tapi ... kenapa?" tanya gadis itu bingung.
"Gue juga nggak tau." Gattan menjawab dengan pasrah. Dia sudah salah sangka pada Raja, bukan maksud Raja mengorbankan Ace, tapi Raja sengaja berkata seperti itu untuk menjauhi Ace. Sayangnya Gattan saat itu tidak menyadarinya, lebih tepatnya Gattan cemburu, dan kini dia menyesal.
"Aku harus ketemu Raja!" Ace berdiri dari duduknya dan ingin pergi. Namun, Gattan mencegahnya.
"Nyokapnya larang siapapun buat ketemu dia," jelas Gattan.
"Tapi pindah sekolah mendadak di semester dua itu ... nggak adil!" Ace mulai menangis, kenapa Raja harus pindah sekolah?
"Ace ... mendingan lo pulang. Nenangin diri, besok di sekolah kita omongin lagi, gue anter lo pulang!" Ace mengangguk. Saat ini keduanya memang ada di taman dekat rumah Ace, jadi Gattan bisa langsung mengantar Ace ke rumahnya.
***
Stella saat ini sedang duduk di sofa, menatap Raja yang masih berbaring tak sadarkan diri. Suara pendeteksi jantung selalu membuat Stella takut. Takut akan sebuah kehilangan, bertahun-tahun yang lalu, dia kehilangan banyak orang yang di kasihinya, dan sekarang Stella tak mau lagi kehilangan siapapun di hidupnya.
"Nona, ada telfon," ucap Safa menyodorkan ponsel milik Stella pada Safa.
"Aku nggak mau ngomong sama siapapun, Fa!" Safa mengerti.
"Tapi Nona, ini dari wanita bernama, Anya!" Stella menoleh dan menatap Safa dengan ekspresi yang sulit di artikan. Stella mengambil ponsel itu.
"Jaga Nuca sebentar! Kalo ada apa-apa katakan padaku!" Stella tiba-tiba berubah, dia terlihat begitu marah.
"Anya!" ucap Stella sesaat setelah menempelkan ponselnya di telinga.
'Stella, gue mau ngomong serius sama lo!'
"Jangan bercanda!" Stella terkekeh.
'Gue serius, lo tau gue udah bebas 'kan, dan lo juga tau gue udah berhenti buat bikin masalah, cukup di penjara selama enem tahun, gue nggak mau lagi! Stella gue mau minta tolong sama lo,' ucap panjang Anya tanpa jeda.
"Apa mau lo?"
__ADS_1
'Lo inget, gue udah di angkat anak sama nyokap lo, otomatis kita sodara 'kan?' Stella terkekeh hambar, 'gue serius!' ucap Anya serius.
"To the point!"
'Kalo kita sodara, berarti, adek gue juga jadi adek lo 'kan!' Stella tak ingin mengakuinya, tapi itu kenyataannya, 'dia lagi ada di jalan yang salah, tolong bantu gue keluarin dia dari sana!' Stella tak mengerti.
"Nggak ada urusan sama gue!" Stella ingin menutup panggilannya. Namun, Anya berteriak dengan kencang.
'Ada! Ada Stella, Nuca! Adek gue ngincer dia!' Stella langsung kembali mendekatkan ponselnya.
"Apa maksud lo?"
'Dia benci banget sama keluarga lo. Waktu gue di penjara, rumah bokap gue di rampok, dan bokap gue di bunuh. Adek gue selalu mikir, kalo ada gue pasti semuanya nggak akan kayak gini. Lo yang masukin gue ke penjara, dan dia mau balas dendam, gue udah coba cegah dia, tapi nggak berhasil!' jelas Anya.
"Siapa adek lo?"
"Adinda! Namanya Adinda, dia satu sekolah sama Nuca, dia selalu ngawasin Nuca. Gue udah berusaha Stell, tapi gue nggak bisa. Suami gue juga udah nyerah sama kelakuan Dinda, tolongin gue, cuma lo yang bisa!' Stella melirik Raja yang tampaknya sudah mulai sadar.
"kenapa lo nggak bilang dari dulu?" Anya terdiam. Namun, beberapa saat hening akhirnya Anya menjawab.
"Tapi apa lo nggak akan marah, kalo seandainya adek lo masuk penjara?" Anya kembali diam.
'Kalo itu bikin dia berhenti, gue bakal ngijinin lo?'
"Nuca keracunan, dan semua bukti ngarah ke Adinda, apa yang mau lo bilang!"
'Adinda udah terlalu jauh, gue nggak bisa cegah apa yang bakal terjadi sama dia. Walaupun dia adek gue, tapi semanjak gue di penjara, gue sama sekali nggak kenal sama dia!' Stella menghembuskan nafasnya.
"Besok adek lo di tangkep, cuma itu yang bisa gue lakuin. Sorry!" Stella menutup panggilannya, lalu segera menyerahkan kembali ponsel itu pada Safa. Raja tampak sudah bangun, cowok itu mencari Stella tadi.
"Mama abis dari mana?" tanya Raja lemah.
"Maaf ya, tadi Mama abis telfon sama temen lama, kamu pengen apa?" tanya Stella sambil mengusap kepala Raja.
"Aku pengen keluar Ma." Stella menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
"Tapi di taman aja, ya" Raja mengangguk.
****
"Raja!" Stella menoleh bersamaan dengan Raja yang duduk di kursi rodanya. Dia masih memakai baju pasien, bahkan selang infus juga masih tepasang.
"Ace, Gattan?" Stella yang menyapa sedangkan Raja hanya diam saja. Hanya menatap keduanya sesaat lalu kembali melihat-lihat sekitar.
"Tante apa kabar ...," sapa Ace sopan
"Baik, kamu sendiri? Tante denger kamu di bully ya sama Adinda?"
"Loh, kok tante bisa tau?" Ace bingung. Gattan juga begitu.
"Denger dari Ben." Ace dan Gattan mengangguk bersamaan.
"Gimana keadaan Raja tante?" tanya Gattan kali ini.
"Baik, tapi nggak bisa di tinggal."
"Kenapa?" Stella hanya tersenyum menjawab pertanyaan Ace.
"Kita kesini mau tanya sesuatu sama Raja Tante," ucap Gattan.
"Tanya apa?" Stella sebenarnya tidak ingin seseorang mengajak Raja bicara dulu. Tapi, Gattan dan Ace sudah datang, mana mungkin Stella tega mengusir mereka.
"Raja." Ace berdiri di depan Raja. Cowok itu hanya menatapnya datar, tanpa ingin tau tujuan Ace ataupun Gattan datang kesana, "aku mau minta maaf soal yang kemarin," ucap Ace. Raja masih diam, Gattan berjalan ke arah Ace dan berdiri di sampingnya. Raja yang tadinya menatap Ace kini beralih menatap cowok gondrong yang ada di samping Ace.
"Gimana kabar lo?" tanya Gattan. Raja mengalihkan tatapannya dari Gattan dan memilih menatap rerumputan yang bergoyang tertiup angin, "gue tau lo marah sama gue, tapi gue kesini mau minta maaf!" ucap Gattan.
"Iya Raja, kita cuma mau minta maaf." Ace mengulurkan tangannya lalu menyentuh tangan Raja. Raja masih diam saja, menolehpun tidak, "Raja ..." panggil Ace.
"Ma, aku capek." Raja menarik tangannya dari genggaman tangan Ace, lalu mendorong kursi rodanya kearah Stella yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
"Tapi, Gattan sama Ace mau ngobrol sama kamu," ucap Stella. Raja menoleh lagi menatap Ace dan Gattan bergantian.
__ADS_1
"Aku ... nggak kenal mereka!"